BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan

​​"Mundur! Mundur semua! Jangan ada yang injak garis kuning, atau gue jebloskan kalian ke sel malam ini juga!"

​Teriakan Kalandra memecah kebisingan di Gudang Nomor 4 Pelabuhan Tanjung Harapan. Suasana di sana lembap, bau amis laut bercampur dengan aroma karat besi tua.

Kilatan lampu kamera tim dokumentasi menyambar-nyambar, menerangi sudut gelap di mana sesosok tubuh kaku terduduk di atas peti kemas usang.

​Itu adalah pemandangan yang mengerikan sekaligus indah—ciri khas "The Puppeteer".

​Korban adalah wanita muda, gaun merahnya menjuntai rapi. Kedua tangannya diikat ke atas dengan benang pancing transparan, seolah-olah dia adalah boneka marionette yang sedang menari.

Wajahnya didandani, bibirnya tersenyum, tapi matanya melotot kosong menatap langit-langit gudang yang bocor.

​Kalandra menerobos masuk, napasnya memburu. "Rudi! Gimana? Jangan bilang lo nggak nemu apa-apa lagi."

​Dokter Rudi, pria paruh baya dengan kacamata tebal yang sudah berjongkok di dekat mayat selama satu jam, mendongak. Wajahnya putus asa. Dia melepas sarung tangan lateksnya dengan kasar.

​"Nihil, Ndan. Kosong melompong," keluh Rudi sambil menggeleng. "Nggak ada luka tusuk, nggak ada bekas jeratan di leher, nggak ada memar perlawanan. Cewek ini kayak... mati begitu saja. Jantungnya berhenti mendadak."

​"Jangan ngaco lo, Rud!" sembur Kalandra. Dia berkacak pinggang, menatap mayat itu dengan frustrasi. "Mana ada orang muda sehat walafiat mati mendadak sambil didandanin kayak badut sirkus begini? Cek lagi! Racun? Suntikan?"

​"Sudah gue periksa seluruh permukaan kulitnya, Kalan! Nggak ada bekas jarum satu titik pun. Sebersih piring yang baru dicuci." Rudi berdiri, menepuk bahu Kalandra pelan. "Gue harus bawa dia ke lab buat bedah total, tapi gue pesimis. Si Dalang ini... dia hantu. Dia nggak ninggalin jejak DNA, sidik jari, bahkan penyebab kematian pun dia hapus."

​Kalandra menendang ban bekas yang tergeletak di dekatnya. "Sialan! Tiga mayat dalam dua bulan, dan kita masih jalan di tempat. Media bakal goreng kita habis-habisan besok pagi."

​Kalandra menjauh dari kerumunan tim forensik, butuh udara segar. Kepalanya pening. Dia bersandar di tiang beton gudang, merogoh saku celana mencari rokok, tapi teringat dia sudah berhenti merokok demi program kesehatan kepolisian bulan lalu.

​"Ndan? Minum dulu."

​Sebuah gelas kopi kertas dari minimarket Star-Mart terulur ke hadapannya. Kalandra menoleh. Sinta, polwan muda dari divisi administrasi yang entah kenapa bisa ada di TKP, tersenyum manis. Lipstiknya agak terlalu merah untuk situasi pembunuhan, dan seragamnya tampak sengaja dikecilkan di bagian pinggang.

​"Thanks, Sin. Gue butuh kafein biar nggak gila," gumam Kalandra, menerima kopi itu dan langsung meneguknya meski masih panas.

​Sinta tidak beranjak. Dia berdiri di samping Kalandra, ikut menatap kesibukan tim forensik dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Komandan pucat banget. Pasti belum sarapan ya? Padahal sudah jam segini."

​"Biasa. Buru-buru," jawab Kalandra singkat.

​"Duh, sayang banget," Sinta mulai melancarkan serangannya, suaranya direndahkan seolah mereka sedang berbagi rahasia.

"Padahal Komandan kan punya istri di rumah. Masa sih Bu Zoya nggak nyiapin apa-apa? Kalau aku jadi istrinya Komandan, nggak bakal aku biarin suamiku kerja keras dengan perut kosong. Apalagi kerjaan Komandan kan taruhannya nyawa."

​Kalandra terdiam. Ucapan Sinta, meski terdengar seperti perhatian, sebenarnya menyiram bensin ke dalam api kekesalannya pada Zoya.

Bayangan wajah datar istrinya pagi tadi kembali muncul. 'Ada roti di toples,' kata Zoya. Istri macam apa itu?

​"Dia... punya kesibukan sendiri," jawab Kalandra diplomatis, meski hatinya dongkol.

​"Sibuk apa sih, Ndan?" pancing Sinta lagi, kali ini sambil mengibaskan rambut pendeknya. "Setahu anak-anak kantor, Bu Zoya kan cuma di rumah aja. Enak ya, hidupnya santai. Nggak kayak kita yang harus panas-panasan ngejar penjahat. Komandan itu terlalu baik, lho. Laki-laki hebat kayak Komandan harusnya dapat pendamping yang suportif, yang bisa diajak tukar pikiran soal kasus, bukan yang cuma jadi beban pikiran."

​Kalimat itu menohok telak. Beban. Kata yang sama yang diteriakkan Kalandra tadi pagi. Sinta benar. Zoya memang tidak berguna.

​Belum sempat Kalandra menanggapi, ponsel di saku jasnya bergetar panjang. Nama "PAPA" terpampang di layar. Kalandra mendesah berat. Ayahnya—Mantan Jenderal yang kerasnya melebihi baja—menelepon di jam kerja. Ini bukan pertanda baik.

​"Halo, Pa. Kalan lagi di TKP, ada mayat ba—"

​"Pulang sekarang." Suara bariton di seberang sana memotong tanpa ampun.

​Kalandra menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layar dengan tak percaya. "Pa, ini kasus The Puppeteer. Kalan nggak bisa tinggalin tim. Mayatnya baru ditem—"

​"Saya tidak mau dengar alasan!" bentak ayahnya. "Malam ini ada makan malam keluarga besar di rumah utama. Mertuamu, Pak Ravendra, juga datang. Istrimu sudah di jalan ke sana. Jangan bikin malu keluarga dengan datang terlambat atau nggak datang sama sekali. Kamu mau bikin Zoya kelihatan seperti istri yang nggak diurus?"

​Rahang Kalandra mengeras. Zoya lagi.

​"Pa, tapi ini darurat..."

​"Jabatanmu itu titipan, Kalandra. Tapi keluarga itu mutlak. Satu jam lagi kamu harus sudah sampai. Titik."

​Sambungan telepon diputus sepihak.

​Kalandra meremas ponselnya sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya menderu. Di depannya ada mayat yang belum terpecahkan, di belakangnya ada tim yang butuh arahan, tapi dia dipaksa pulang hanya untuk acara makan-makan basa-basi.

​Dan ini pasti gara-gara Zoya.

​Perempuan itu pasti mengadu pada orang tuanya kalau dia kesepian, atau mengeluh pada Papanya Kalandra. Zoya yang diam, Zoya yang penurut, ternyata punya cara licik untuk mengendalikan hidupnya lewat orang tua.

​"Sialan!" umpat Kalandra keras, membuat Sinta terlonjak kaget.

​Dia berbalik menatap Raka yang sedang mencatat bukti. "Raka! Ambil alih komando. Pastikan mayat dibawa ke RS Polri. Gue harus pergi."

​"Lho? Tapi Ndan, ini gimana..."

​"Lakukan saja perintah gue!" bentak Kalandra. Dia berjalan cepat meninggalkan TKP, meninggalkan kasus yang buntu demi sandiwara rumah tangga yang memuakkan. Dalam hatinya, kebencian pada Zoya naik satu level lagi. Istri itu benar-benar pembawa sial.

Terpopuler

Comments

Nisfu Romadhon

Nisfu Romadhon

seperti apa awal terjadinya pernikahan kalian berdua?🤔

2026-03-08

0

MamDeyh

MamDeyh

Komandan tp emosian sm kasar bgt kata2 nya.. Komandan gadungan yaa kamu/CoolGuy//Smug/

2026-02-21

2

guntur 1609

guntur 1609

dasar orlakor. kalan pun salah gak memahami si zoya. gmna katanya mau perhatian. kalau si kalan banyak komplinya

2026-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara
2 BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan
3 BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP
4 BAB 4: Analisis 5 Menit
5 BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
6 BAB 6: Gengsi Sang Komandan
7 BAB 7: Diplomasi Cheesecake
8 BAB 8: Sisi Imut Zoya
9 BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol
10 BAB 10: Diagnosis Mematikan
11 BAB 11: Julukan "The Scalpel"
12 BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
13 BAB 13: Kontrak Setengah Hati
14 BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
15 BAB 15: Jebakan Sinta
16 BAB 16: Pemecatan Sinta
17 BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
18 BAB 18: Tidur Satu Kamar?
19 BAB 19: Investigasi Lapangan
20 BAB 20: Terjebak di Lift
21 BAB 21: Lolos dari Maut
22 ​Bab 22: Dokter Pribadi Suami
23 BAB 23: Cemburu Buta
24 ​BAB 24: Pesta Sosialita
25 BAB 25: Racun di Gelas Crystal
26 BAB 26: Kejar-kejaran Mobil
27 BAB 27: Mayat Palsu & Kalandra yang Paranoid
28 BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
29 BAB 29: Kalandra Si Posesif
30 BAB 30: Kiriman Jantung
31 BAB 31: Jebakan Zoya
32 BAB 32: Mimpi Buruk Zoya
33 BAB 33: Tragedi Meja Operasi
34 BAB 34: Sumpah Sang Komandan
35 BAB 35: Target Paling Lemah
36 BAB 36: Dilema & Strategi
37 BAB 37: Pertukaran Nyawa
38 BAB 38: Kalandra Bangun
39 BAB 39: Obsesi Hanggara
40 BAB 40: Trik Kimia Zoya
41 BAB 41: John Wick Mode
42 BAB 42: Duel Terakhir
43 BAB 43: "Aku Telat Lagi?"
44 ​BAB 44: Akhir The Puppeteer
45 Bab 45: Rumah Sakit VIP
46 BAB 46: Cuti Panjang
47 BAB 46: Trauma Itu Masih Ada
48 BAB 47: Kencan Pertama (Yang Gagal)
49 BAB 48: Kasus-kasus Kecil
50 BAB 49: Skandal Rujak Level 10
51 BAB 50: Sidang Hanggara
52 BAB 51: Hadiah Seharga Mobil
53 BAB 52: Pengakuan Cinta Si Kaku
54 BAB 53: Jawaban Tsundere
55 BAB 54: Malam Pertama (Versi Zoya)
56 BAB 55: Pasangan Kriminal Buster
57 BAB 57: Darurat Tingkat Satu
58 BAB 58: Pamer Cincin Palsu
59 BAB 58: Kalandra Sang Pembela
60 BAB 60: Skandal Baju Plastik
61 BAB 61: Zoya yang Savage
62 BAB 62: Zoya Pingsan
63 BAB 62: Kalandra Mode Overprotektif
64 BAB 63: Ngidam Bau Mayat
65 BAB 64: Drama Keluarga Ravendra
66 BAB 65: Analisis Toksikologi Rumahan
67 BAB 66: Jebakan Kalandra
68 BAB 68: Warisan Berdarah & Keputusan Zoya
69 BAB 68: Tangisan di Ruang USG
70 BAB 70: Sate Gosong Seragam Dinas
71 BAB 71: Cuti Paksa & Rencana Babymoon
72 BAB 72: Villa Mewah & Jejak Berlumpur
73 BAB 72: Bukan Liburan Biasa
74 BAB 73: Detektif Bumil vs Pembunuh Dalam
75 BAB 74: Tamu Tak Diundang
76 BAB 76: Negosiasi Alot
77 BAB 77: Panci Panas Melayang
78 BAB 78: Bantuan Datang & Doorprize
79 BAB 79: Pulang ke Realita & Viral
80 BAB 80: Kontraksi Palsu
81 ​BAB 81: The Real Deal
82 ​BAB 82: Operasi Persalinan: Kode Merah
Episodes

Updated 82 Episodes

1
BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara
2
BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan
3
BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP
4
BAB 4: Analisis 5 Menit
5
BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
6
BAB 6: Gengsi Sang Komandan
7
BAB 7: Diplomasi Cheesecake
8
BAB 8: Sisi Imut Zoya
9
BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol
10
BAB 10: Diagnosis Mematikan
11
BAB 11: Julukan "The Scalpel"
12
BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
13
BAB 13: Kontrak Setengah Hati
14
BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
15
BAB 15: Jebakan Sinta
16
BAB 16: Pemecatan Sinta
17
BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
18
BAB 18: Tidur Satu Kamar?
19
BAB 19: Investigasi Lapangan
20
BAB 20: Terjebak di Lift
21
BAB 21: Lolos dari Maut
22
​Bab 22: Dokter Pribadi Suami
23
BAB 23: Cemburu Buta
24
​BAB 24: Pesta Sosialita
25
BAB 25: Racun di Gelas Crystal
26
BAB 26: Kejar-kejaran Mobil
27
BAB 27: Mayat Palsu & Kalandra yang Paranoid
28
BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
29
BAB 29: Kalandra Si Posesif
30
BAB 30: Kiriman Jantung
31
BAB 31: Jebakan Zoya
32
BAB 32: Mimpi Buruk Zoya
33
BAB 33: Tragedi Meja Operasi
34
BAB 34: Sumpah Sang Komandan
35
BAB 35: Target Paling Lemah
36
BAB 36: Dilema & Strategi
37
BAB 37: Pertukaran Nyawa
38
BAB 38: Kalandra Bangun
39
BAB 39: Obsesi Hanggara
40
BAB 40: Trik Kimia Zoya
41
BAB 41: John Wick Mode
42
BAB 42: Duel Terakhir
43
BAB 43: "Aku Telat Lagi?"
44
​BAB 44: Akhir The Puppeteer
45
Bab 45: Rumah Sakit VIP
46
BAB 46: Cuti Panjang
47
BAB 46: Trauma Itu Masih Ada
48
BAB 47: Kencan Pertama (Yang Gagal)
49
BAB 48: Kasus-kasus Kecil
50
BAB 49: Skandal Rujak Level 10
51
BAB 50: Sidang Hanggara
52
BAB 51: Hadiah Seharga Mobil
53
BAB 52: Pengakuan Cinta Si Kaku
54
BAB 53: Jawaban Tsundere
55
BAB 54: Malam Pertama (Versi Zoya)
56
BAB 55: Pasangan Kriminal Buster
57
BAB 57: Darurat Tingkat Satu
58
BAB 58: Pamer Cincin Palsu
59
BAB 58: Kalandra Sang Pembela
60
BAB 60: Skandal Baju Plastik
61
BAB 61: Zoya yang Savage
62
BAB 62: Zoya Pingsan
63
BAB 62: Kalandra Mode Overprotektif
64
BAB 63: Ngidam Bau Mayat
65
BAB 64: Drama Keluarga Ravendra
66
BAB 65: Analisis Toksikologi Rumahan
67
BAB 66: Jebakan Kalandra
68
BAB 68: Warisan Berdarah & Keputusan Zoya
69
BAB 68: Tangisan di Ruang USG
70
BAB 70: Sate Gosong Seragam Dinas
71
BAB 71: Cuti Paksa & Rencana Babymoon
72
BAB 72: Villa Mewah & Jejak Berlumpur
73
BAB 72: Bukan Liburan Biasa
74
BAB 73: Detektif Bumil vs Pembunuh Dalam
75
BAB 74: Tamu Tak Diundang
76
BAB 76: Negosiasi Alot
77
BAB 77: Panci Panas Melayang
78
BAB 78: Bantuan Datang & Doorprize
79
BAB 79: Pulang ke Realita & Viral
80
BAB 80: Kontraksi Palsu
81
​BAB 81: The Real Deal
82
​BAB 82: Operasi Persalinan: Kode Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!