BAB 4: Analisis 5 Menit

​"Pulang, Zoya! Sekarang!"

​Bentakan Kalandra meledak, memantul di dinding-dinding kontainer gudang yang dingin. Wajahnya merah padam, campuran antara rasa malu dan marah.

Istrinya, yang seharusnya duduk manis di rumah menunggu suami pulang, kini malah berjongkok di depan mayat dengan gaun sutra yang sudah kotor terkena lumpur.

​"Kamu pikir ini wahana rumah hantu? Ini mayat, Zoya! Mayat korban pembunuhan sadis!" Kalandra maju selangkah, hendak menarik bahu istrinya agar berdiri.

"Jangan bikin aku seret kamu di depan anak buahku sendiri. Kamu merusak TKP!"

​Sinta di belakang mendengus keras, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Dengar tuh, Bu. Komandan itu sayang sama Ibu, makanya disuruh pulang. Jangan cari perhatian di sini. Nanti kalau Ibu muntah lihat darah, kita lagi yang repot."

​Zoya tidak bergeming. Dia tidak menoleh, tidak juga merespons teriakan suaminya atau sindiran Sinta.

Tangan berbalut sarung tangan lateks itu bergerak tenang, menyentuh rahang kaku mayat dengan kelembutan yang mengerikan.

​"Dokter Rudi," panggil Zoya. Suaranya tidak keras, tapi anehnya terdengar jelas di tengah deru hujan. "Pinjam senter penamu. Sekarang."

​Dokter Rudi yang masih bengong karena kaget, secara refleks merogoh saku rompinya dan menyodorkan senter kecil itu. "Eh... i-ini, Bu."

​"Rudi! Jangan dikasih!" cegah Kalandra. "Zoya, berdiri! Aku hitung sampai ti—"

​Klik.

​Zoya menyalakan senter, mengarahkannya langsung ke mata mayat yang melotot. Dia membuka kelopak mata itu lebih lebar dengan jempolnya.

​"Lihat ini, Mas," potong Zoya datar.

​Kalandra terdiam, napasnya tertahan di tenggorokan melihat keberanian istrinya. Dia terpaksa menunduk, mengikuti arah telunjuk Zoya.

​"Ada bintik-bintik merah di bagian putih matanya," jelas Zoya, nadanya berubah klinis, seolah dia sedang memberi kuliah umum, bukan berdebat dengan suaminya di gudang pelabuhan. "Dalam istilah medis, ini disebut petechiae. Tanda pecahnya pembuluh darah kapiler karena kekurangan oksigen mendadak."

​"Nah kan!" sambar Sinta, masih berusaha cari muka. "Berarti benar dicekik kan? Itu tadi Dokter Rudi juga tahu!"

​Zoya memutar bola matanya malas. Dia menggeser senter ke leher mayat yang putih mulus.

​"Kalau dicekik, tulang hyoid di leher pasti patah atau minimal ada lebam bekas jari. Leher ini bersih. Mulus. Tidak ada trauma tumpul."

Zoya menoleh ke arah Rudi. "Dokter, coba cium aroma mulut korban. Jangan cuma dilihat dari jauh."

​Rudi ragu-ragu mendekat, lalu mengendus pelan di area mulut mayat yang terbuka sedikit. Dahinya berkerut. Dia mengendus lagi, kali ini lebih dalam.

Matanya membelalak.

​"Baunya... agak pahit," gumam Rudi, wajahnya memucat. "Seperti kacang almond?"

​"Bingo," ucap Zoya dingin. "Sianida."

​Keheningan mencekam menyelimuti tenda itu. Kalandra ternganga. Sianida? Zat beracun mematikan itu?

​"Tapi... tapi nggak mungkin, Bu!" sanggah Rudi panik, merasa otoritasnya diganggu. "Saya sudah periksa seluruh lengan, paha, leher. Tidak ada bekas suntikan! Kalau diminum, pasti ada sisa muntahan atau luka bakar kimia di bibir. Bibirnya utuh!"

​Kalandra menatap istrinya, mencari keraguan di wajah itu. Tapi yang dia temukan hanya keyakinan mutlak.

"Zoya, jangan asal tebak. Kalau ini sianida, mana jalan masuknya? Rudi benar, badannya bersih."

​Zoya menghela napas panjang, seolah sedang menghadapi sekumpulan murid TK yang lamban belajar. Tanpa bicara, dia meletakkan senter, lalu tangannya bergerak turun ke kaki mayat.

​Dengan satu gerakan sentak, Zoya melepas sepatu hak tinggi yang masih melekat di kaki kanan mayat.

​"Kalian terlalu fokus pada tubuh bagian atas karena si pelaku memanipulasi posisinya seperti boneka," ujar Zoya sambil mengangkat kaki pucat itu tinggi-tinggi. "Pelaku ini cerdas, tapi dia juga arogan. Dia pikir polisi terlalu bodoh untuk memeriksa sampai ke bawah sini."

​Zoya merenggangkan jari kelingking dan jari manis kaki mayat itu.

​"Senter," perintah Zoya.

​Kalandra, tanpa sadar, langsung menyambar senter dari tangan Rudi dan menyorot ke arah yang ditunjuk istrinya.

​Di sana, tersembunyi di antara lipatan kulit jari kaki yang keriput karena lembap, ada sebuah titik merah sangat kecil. Hampir tak kasat mata.

​"Bekas suntikan jarum mikro," bisik Zoya. "Dia menyuntikkan sianida dosis tinggi langsung ke pembuluh vena di kaki. Kematian terjadi kurang dari satu menit. Setelah itu, dia mendandani mayat ini, menaruh es kering di sekitar leher untuk memalsukan lebam mayat, lalu mengikatnya."

​Zoya melepaskan kaki mayat itu, membiarkannya jatuh berdebum pelan ke peti. Dia berdiri, menatap Kalandra yang masih mematung dengan mulut setengah terbuka.

Ekspresi Kalandra campur aduk—antara takjub, malu, dan tidak percaya bahwa wanita yang baru saja membedah kronologi pembunuhan dalam lima menit ini adalah istri yang dia sebut "beban" tadi pagi.

​Sinta mundur perlahan, wajahnya merah padam karena malu. Dokter Rudi sibuk mencatat dengan tangan gemetar, sadar bahwa dia baru saja dipecundangi oleh seorang ibu rumah tangga.

​Zoya melepas sarung tangan lateksnya dengan bunyi plak yang nyaring. Dia melempar sarung tangan kotor itu tepat ke dada bidang Kalandra.

​"Mayatnya sudah bicara, Mas," ucap Zoya datar, merapatkan kembali mantel mahalnya yang basah. "Dia bukan boneka. Dia korban pembunuhan berencana dengan eksekusi level ahli. Sekarang tugas Mas menangkap pelakunya, bukan memarahi aku."

​Tanpa menunggu jawaban, Zoya membalikkan badan. Rambutnya yang basah berkibar pelan saat dia berjalan menembus hujan kembali ke mobil mewahnya, meninggalkan Kalandra yang berdiri kaku seperti patung di tengah badai, menggenggam sarung tangan bekas istrinya seolah itu adalah benda paling berharga sekaligus paling menampar harga dirinya malam ini.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

menampar suami tanpa perlu menyetuh kulitnya.. good job Zoya... definisi menampar harga diri suami arogan dgn gaya elegan...

2026-02-26

0

Syamsiar Samude

Syamsiar Samude

mantap Zoya bikin takjub semua orang ilmumu ternyata diatas tingkat rata2 mbuat bungkam mulut semua di TKP

2026-03-27

0

Paon Nini

Paon Nini

dia ngak nyogok kan pas mau jadi pulici? kenapa opini yang ada di kepalanya aja yang dia pakai dari tadi?

2026-03-01

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara
2 BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan
3 BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP
4 BAB 4: Analisis 5 Menit
5 BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
6 BAB 6: Gengsi Sang Komandan
7 BAB 7: Diplomasi Cheesecake
8 BAB 8: Sisi Imut Zoya
9 BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol
10 BAB 10: Diagnosis Mematikan
11 BAB 11: Julukan "The Scalpel"
12 BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
13 BAB 13: Kontrak Setengah Hati
14 BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
15 BAB 15: Jebakan Sinta
16 BAB 16: Pemecatan Sinta
17 BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
18 BAB 18: Tidur Satu Kamar?
19 BAB 19: Investigasi Lapangan
20 BAB 20: Terjebak di Lift
21 BAB 21: Lolos dari Maut
22 ​Bab 22: Dokter Pribadi Suami
23 BAB 23: Cemburu Buta
24 ​BAB 24: Pesta Sosialita
25 BAB 25: Racun di Gelas Crystal
26 BAB 26: Kejar-kejaran Mobil
27 BAB 27: Mayat Palsu & Kalandra yang Paranoid
28 BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
29 BAB 29: Kalandra Si Posesif
30 BAB 30: Kiriman Jantung
31 BAB 31: Jebakan Zoya
32 BAB 32: Mimpi Buruk Zoya
33 BAB 33: Tragedi Meja Operasi
34 BAB 34: Sumpah Sang Komandan
35 BAB 35: Target Paling Lemah
36 BAB 36: Dilema & Strategi
37 BAB 37: Pertukaran Nyawa
38 BAB 38: Kalandra Bangun
39 BAB 39: Obsesi Hanggara
40 BAB 40: Trik Kimia Zoya
41 BAB 41: John Wick Mode
42 BAB 42: Duel Terakhir
43 BAB 43: "Aku Telat Lagi?"
44 ​BAB 44: Akhir The Puppeteer
45 Bab 45: Rumah Sakit VIP
46 BAB 46: Cuti Panjang
47 BAB 46: Trauma Itu Masih Ada
48 BAB 47: Kencan Pertama (Yang Gagal)
49 BAB 48: Kasus-kasus Kecil
50 BAB 49: Skandal Rujak Level 10
51 BAB 50: Sidang Hanggara
52 BAB 51: Hadiah Seharga Mobil
53 BAB 52: Pengakuan Cinta Si Kaku
54 BAB 53: Jawaban Tsundere
55 BAB 54: Malam Pertama (Versi Zoya)
56 BAB 55: Pasangan Kriminal Buster
57 BAB 57: Darurat Tingkat Satu
58 BAB 58: Pamer Cincin Palsu
59 BAB 58: Kalandra Sang Pembela
60 BAB 60: Skandal Baju Plastik
61 BAB 61: Zoya yang Savage
62 BAB 62: Zoya Pingsan
63 BAB 62: Kalandra Mode Overprotektif
64 BAB 63: Ngidam Bau Mayat
65 BAB 64: Drama Keluarga Ravendra
66 BAB 65: Analisis Toksikologi Rumahan
67 BAB 66: Jebakan Kalandra
68 BAB 68: Warisan Berdarah & Keputusan Zoya
69 BAB 68: Tangisan di Ruang USG
70 BAB 70: Sate Gosong Seragam Dinas
71 BAB 71: Cuti Paksa & Rencana Babymoon
72 BAB 72: Villa Mewah & Jejak Berlumpur
73 BAB 72: Bukan Liburan Biasa
74 BAB 73: Detektif Bumil vs Pembunuh Dalam
75 BAB 74: Tamu Tak Diundang
76 BAB 76: Negosiasi Alot
77 BAB 77: Panci Panas Melayang
78 BAB 78: Bantuan Datang & Doorprize
79 BAB 79: Pulang ke Realita & Viral
80 BAB 80: Kontraksi Palsu
81 ​BAB 81: The Real Deal
82 ​BAB 82: Operasi Persalinan: Kode Merah
Episodes

Updated 82 Episodes

1
BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara
2
BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan
3
BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP
4
BAB 4: Analisis 5 Menit
5
BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
6
BAB 6: Gengsi Sang Komandan
7
BAB 7: Diplomasi Cheesecake
8
BAB 8: Sisi Imut Zoya
9
BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol
10
BAB 10: Diagnosis Mematikan
11
BAB 11: Julukan "The Scalpel"
12
BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
13
BAB 13: Kontrak Setengah Hati
14
BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
15
BAB 15: Jebakan Sinta
16
BAB 16: Pemecatan Sinta
17
BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
18
BAB 18: Tidur Satu Kamar?
19
BAB 19: Investigasi Lapangan
20
BAB 20: Terjebak di Lift
21
BAB 21: Lolos dari Maut
22
​Bab 22: Dokter Pribadi Suami
23
BAB 23: Cemburu Buta
24
​BAB 24: Pesta Sosialita
25
BAB 25: Racun di Gelas Crystal
26
BAB 26: Kejar-kejaran Mobil
27
BAB 27: Mayat Palsu & Kalandra yang Paranoid
28
BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
29
BAB 29: Kalandra Si Posesif
30
BAB 30: Kiriman Jantung
31
BAB 31: Jebakan Zoya
32
BAB 32: Mimpi Buruk Zoya
33
BAB 33: Tragedi Meja Operasi
34
BAB 34: Sumpah Sang Komandan
35
BAB 35: Target Paling Lemah
36
BAB 36: Dilema & Strategi
37
BAB 37: Pertukaran Nyawa
38
BAB 38: Kalandra Bangun
39
BAB 39: Obsesi Hanggara
40
BAB 40: Trik Kimia Zoya
41
BAB 41: John Wick Mode
42
BAB 42: Duel Terakhir
43
BAB 43: "Aku Telat Lagi?"
44
​BAB 44: Akhir The Puppeteer
45
Bab 45: Rumah Sakit VIP
46
BAB 46: Cuti Panjang
47
BAB 46: Trauma Itu Masih Ada
48
BAB 47: Kencan Pertama (Yang Gagal)
49
BAB 48: Kasus-kasus Kecil
50
BAB 49: Skandal Rujak Level 10
51
BAB 50: Sidang Hanggara
52
BAB 51: Hadiah Seharga Mobil
53
BAB 52: Pengakuan Cinta Si Kaku
54
BAB 53: Jawaban Tsundere
55
BAB 54: Malam Pertama (Versi Zoya)
56
BAB 55: Pasangan Kriminal Buster
57
BAB 57: Darurat Tingkat Satu
58
BAB 58: Pamer Cincin Palsu
59
BAB 58: Kalandra Sang Pembela
60
BAB 60: Skandal Baju Plastik
61
BAB 61: Zoya yang Savage
62
BAB 62: Zoya Pingsan
63
BAB 62: Kalandra Mode Overprotektif
64
BAB 63: Ngidam Bau Mayat
65
BAB 64: Drama Keluarga Ravendra
66
BAB 65: Analisis Toksikologi Rumahan
67
BAB 66: Jebakan Kalandra
68
BAB 68: Warisan Berdarah & Keputusan Zoya
69
BAB 68: Tangisan di Ruang USG
70
BAB 70: Sate Gosong Seragam Dinas
71
BAB 71: Cuti Paksa & Rencana Babymoon
72
BAB 72: Villa Mewah & Jejak Berlumpur
73
BAB 72: Bukan Liburan Biasa
74
BAB 73: Detektif Bumil vs Pembunuh Dalam
75
BAB 74: Tamu Tak Diundang
76
BAB 76: Negosiasi Alot
77
BAB 77: Panci Panas Melayang
78
BAB 78: Bantuan Datang & Doorprize
79
BAB 79: Pulang ke Realita & Viral
80
BAB 80: Kontraksi Palsu
81
​BAB 81: The Real Deal
82
​BAB 82: Operasi Persalinan: Kode Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!