BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP

​"Tutup terpalnya! Jangan sampai air hujan ngerusak mayatnya lagi! Kalian ini kerja becus nggak sih?"

​Teriakan Kalandra kalah kencang dengan suara guntur yang membelah langit malam. Hujan deras mengguyur Pelabuhan Tanjung Harapan tanpa ampun, seolah alam semesta bersekongkol untuk menghapus jejak si pembunuh.

Kalandra berdiri di bawah tenda darurat, basah kuyup, rambutnya lepek, dan matanya merah menyala menahan amarah.

​Dia akhirnya kembali ke sini. Persetan dengan makan malam keluarga.

Persetan dengan ancaman ayahnya yang tadi menelepon sampai sepuluh kali. Kalandra memutar balik mobilnya di tengah jalan tol tadi demi kembali ke mayat wanita berbaju merah ini.

Dia tidak bisa makan enak sementara ada korban yang menuntut keadilan di tengah badai begini.

​"Ndan, percuma!" Dokter Rudi berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan. Dia sudah menyerah, duduk lemas di atas peti kayu. "Hujannya terlalu lebat. Residu kimia di tanah pasti sudah hanyut. Kita nggak bakal nemu apa-apa malam ini. Bubar aja dulu, Ndan!"

​"Enak aja lo ngomong bubar!" Kalandra mencengkram kerah baju Rudi, nyaris melayangkan tinju saking frustrasinya. "Kalau kita pulang, si brengsek itu menang! Pikir pakai otak lo, Rud! Pasti ada yang kelewatan!"

​"WOI! BERHENTI!"

​Teriakan Raka mengalihkan perhatian mereka.

​Dari arah gerbang pelabuhan, sorot lampu putih menyilaukan menerobos kegelapan.

Sebuah sedan hitam mewah—bukan mobil dinas, melainkan jenis mobil Eropa yang harganya setara anggaran kepolisian satu tahun—melaju kencang, menabrak genangan air hingga menyiprat ke mana-mana.

​Mobil itu tidak melambat sedikit pun meski Raka dan dua petugas lain melambaikan tangan.

​Ckiiit!

​Ban mobil berdecit ngilu di aspal basah, berhenti tepat tiga meter dari garis polisi, nyaris menyerempet mobil patroli.

​"Gila! Siapa tuh?" Sinta yang sedang berteduh di pos satpam langsung lari keluar, memayungi kepalanya dengan map plastik.

"Woi! Buta ya? Nggak liat ada garis polisi?"

​Kalandra melepas cengkramannya dari kerah Rudi. Tangannya meraba pistol di pinggang secara refleks.

"Siaga satu! Jangan-jangan ini komplotan pelakunya yang mau ngilangin bukti!"

​Semua pistol terarah ke pintu pengemudi sedan hitam itu. Suasana tegang. Hanya suara hujan yang terdengar menghantam atap mobil.

​Pintu pengemudi terbuka perlahan.

​Kalandra menyipitkan mata, siap menembak jika ada gerakan mencurigakan. Namun, yang keluar bukan pria bertopeng atau preman bersenjata.

​Pertama, sebuah kaki jenjang yang putih mulus turun menapak aspal becek.

​Semua mata terbelalak. Kaki itu tidak memakai sepatu bot militer, apalagi sepatu lari. Kaki itu terbungkus sandal rumah berbulu warna pink pastel yang basah kuyup terkena lumpur.

​Seorang wanita keluar dari mobil. Dia memakai gaun tidur sutra panjang yang bagian bawahnya langsung kotor terkena cipratan air, dibalut trench coat cokelat mahal yang jelas bukan untuk dipakai hujan-hujanan di pelabuhan kumuh.

​Rambutnya basah, menempel di pipi pucatnya.

​"Zoya?" Kalandra menurunkan pistolnya, mulutnya menganga tak percaya. "Ngapain kamu di sini?"

​Zoya tidak menjawab. Dia menutup pintu mobilnya dengan satu dorongan pelan tapi pasti.

Wajahnya datar, sama datarnya seperti saat dia di meja makan tadi pagi. Dia berjalan lurus menerobos hujan, melewati Raka yang bengong, menuju tenda tempat mayat berada.

​"Eh, eh! Tunggu dulu!" Sinta langsung menghadang langkah Zoya.

Polwan itu merentangkan tangan, matanya menatap sinis penampilan Zoya yang 'salah kostum'.

​"Ibu ini siapa main nyelonong aja?" bentak Sinta, suaranya melengking. "Ini TKP, Bu! Tempat Kejadian Perkara. Bukan tempat arisan sosialita! Liat tuh sandal Ibu, ngerusak jejak kaki di tanah! Pulang sana, jangan ganggu kerjaan polisi!"

​Sinta menoleh ke Kalandra, mencari dukungan. "Ndan, ini istrinya, kan? Suruh pulang dong. Bikin semak aja. Kita lagi pusing, malah diajak main rumah-rumahan."

​Zoya berhenti tepat di depan Sinta. Dia menatap polwan itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu kembali menatap ke depan seolah Sinta hanyalah tiang listrik yang tidak penting.

​"Minggir," ucap Zoya pelan. Suaranya hampir tertelan hujan, tapi dinginnya melebihi angin malam.

​"Dih, kok nyolot?" Sinta makin emosi. "Saya ini petugas berwenang—"

​Tanpa peringatan, Zoya menabrak bahu Sinta begitu saja, membuat polwan itu terhuyung ke samping karena kaget. Zoya terus berjalan, langkahnya anehnya begitu stabil meski memakai sandal licin.

​"Zoya! Pulang!" Kalandra akhirnya sadar dari keterkejutannya dan berlari menyusul istrinya. Amarahnya meledak lagi. "Kamu gila ya? Papa nyuruh aku pulang, bukan kamu yang nyusul ke sini pake baju tidur! Kamu mau bikin aku malu di depan anak buah?"

​Zoya sampai di bawah tenda. Dia tidak menatap Kalandra. Matanya terkunci lurus pada mayat wanita berbaju merah yang duduk kaku di atas peti.

​"Zoya, aku ngomong sama kamu!" Kalandra mencengkram lengan istrinya kasar. "Dengar nggak sih? Ini bukan tempat main-main. Pulang atau aku seret ka—"

​Gerakan Zoya terhenti. Dia merogoh saku mantel mahalnya.

​Kalandra mengira istrinya akan mengeluarkan sapu tangan untuk menangis, atau ponsel untuk menelepon papanya.

​Tapi tidak.

​Zoya mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks bedah berwarna biru.

​Dengan gerakan cepat dan terlatih—sangat terlatih—dia memakai sarung tangan itu.

Sret. Sret.

Bunyi karet yang ditarik kencang terdengar kontras dengan gemuruh hujan.

​Aura wanita itu berubah total. Tatapan kosong dan melamun yang biasa Kalandra lihat di rumah lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata tajam setajam silet yang sedang membedah sasaran.

Bahunya tegap, dagunya terangkat sedikit.

​Zoya menepis tangan Kalandra dari lengannya dengan satu sentakan kuat.

Dia melangkah mendekati mayat, berlutut tanpa peduli gaun sutranya terendam genangan darah campur air hujan.

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan," suara Zoya terdengar jernih, penuh otoritas yang membuat bulu kuduk Kalandra meremang.

​Kalandra ternganga. "Hah?"

​Zoya menoleh sedikit, tatapannya menusuk manik mata Kalandra. "Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di sela kuku jari manisnya, dan lebam mayat ini dimanipulasi pakai es kering."

​Zoya mengarahkan telunjuknya ke lampu sorot yang dipegang salah satu petugas gemetar.

​"Geser lampunya ke kiri. Kamu menghalangi cahaya," perintah Zoya dingin. "Biar aku tunjukkan apa yang kalian lewatkan selama enam jam ini."

Terpopuler

Comments

Nurlaila Hidayah

Nurlaila Hidayah

mantap kau Zoya, biar dtg pke bju tdur dan sendal bulu tpi analisa mu, beeeuuuh mbtaaaap👍👍

2026-08-27

0

Ariful Khoridah

Ariful Khoridah

dokter pengangguran elit ternyata canggih

2026-03-08

1

✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥

✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥

mantap, gak butuh omong tapi tindakan langsung

2026-02-26

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara
2 BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan
3 BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP
4 BAB 4: Analisis 5 Menit
5 BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
6 BAB 6: Gengsi Sang Komandan
7 BAB 7: Diplomasi Cheesecake
8 BAB 8: Sisi Imut Zoya
9 BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol
10 BAB 10: Diagnosis Mematikan
11 BAB 11: Julukan "The Scalpel"
12 BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
13 BAB 13: Kontrak Setengah Hati
14 BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
15 BAB 15: Jebakan Sinta
16 BAB 16: Pemecatan Sinta
17 BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
18 BAB 18: Tidur Satu Kamar?
19 BAB 19: Investigasi Lapangan
20 BAB 20: Terjebak di Lift
21 BAB 21: Lolos dari Maut
22 ​Bab 22: Dokter Pribadi Suami
23 BAB 23: Cemburu Buta
24 ​BAB 24: Pesta Sosialita
25 BAB 25: Racun di Gelas Crystal
26 BAB 26: Kejar-kejaran Mobil
27 BAB 27: Mayat Palsu & Kalandra yang Paranoid
28 BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
29 BAB 29: Kalandra Si Posesif
30 BAB 30: Kiriman Jantung
31 BAB 31: Jebakan Zoya
32 BAB 32: Mimpi Buruk Zoya
33 BAB 33: Tragedi Meja Operasi
34 BAB 34: Sumpah Sang Komandan
35 BAB 35: Target Paling Lemah
36 BAB 36: Dilema & Strategi
37 BAB 37: Pertukaran Nyawa
38 BAB 38: Kalandra Bangun
39 BAB 39: Obsesi Hanggara
40 BAB 40: Trik Kimia Zoya
41 BAB 41: John Wick Mode
42 BAB 42: Duel Terakhir
43 BAB 43: "Aku Telat Lagi?"
44 ​BAB 44: Akhir The Puppeteer
45 Bab 45: Rumah Sakit VIP
46 BAB 46: Cuti Panjang
47 BAB 46: Trauma Itu Masih Ada
48 BAB 47: Kencan Pertama (Yang Gagal)
49 BAB 48: Kasus-kasus Kecil
50 BAB 49: Skandal Rujak Level 10
51 BAB 50: Sidang Hanggara
52 BAB 51: Hadiah Seharga Mobil
53 BAB 52: Pengakuan Cinta Si Kaku
54 BAB 53: Jawaban Tsundere
55 BAB 54: Malam Pertama (Versi Zoya)
56 BAB 55: Pasangan Kriminal Buster
57 BAB 57: Darurat Tingkat Satu
58 BAB 58: Pamer Cincin Palsu
59 BAB 58: Kalandra Sang Pembela
60 BAB 60: Skandal Baju Plastik
61 BAB 61: Zoya yang Savage
62 BAB 62: Zoya Pingsan
63 BAB 62: Kalandra Mode Overprotektif
64 BAB 63: Ngidam Bau Mayat
65 BAB 64: Drama Keluarga Ravendra
66 BAB 65: Analisis Toksikologi Rumahan
67 BAB 66: Jebakan Kalandra
68 BAB 68: Warisan Berdarah & Keputusan Zoya
69 BAB 68: Tangisan di Ruang USG
70 BAB 70: Sate Gosong Seragam Dinas
71 BAB 71: Cuti Paksa & Rencana Babymoon
72 BAB 72: Villa Mewah & Jejak Berlumpur
73 BAB 72: Bukan Liburan Biasa
74 BAB 73: Detektif Bumil vs Pembunuh Dalam
75 BAB 74: Tamu Tak Diundang
76 BAB 76: Negosiasi Alot
77 BAB 77: Panci Panas Melayang
78 BAB 78: Bantuan Datang & Doorprize
79 BAB 79: Pulang ke Realita & Viral
80 BAB 80: Kontraksi Palsu
81 ​BAB 81: The Real Deal
82 ​BAB 82: Operasi Persalinan: Kode Merah
Episodes

Updated 82 Episodes

1
BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara
2
BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan
3
BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP
4
BAB 4: Analisis 5 Menit
5
BAB 5: Pulang ke Rumah & Ruang Rahasia
6
BAB 6: Gengsi Sang Komandan
7
BAB 7: Diplomasi Cheesecake
8
BAB 8: Sisi Imut Zoya
9
BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol
10
BAB 10: Diagnosis Mematikan
11
BAB 11: Julukan "The Scalpel"
12
BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
13
BAB 13: Kontrak Setengah Hati
14
BAB 14: Rapat Perdana & Tatapan Maut
15
BAB 15: Jebakan Sinta
16
BAB 16: Pemecatan Sinta
17
BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
18
BAB 18: Tidur Satu Kamar?
19
BAB 19: Investigasi Lapangan
20
BAB 20: Terjebak di Lift
21
BAB 21: Lolos dari Maut
22
​Bab 22: Dokter Pribadi Suami
23
BAB 23: Cemburu Buta
24
​BAB 24: Pesta Sosialita
25
BAB 25: Racun di Gelas Crystal
26
BAB 26: Kejar-kejaran Mobil
27
BAB 27: Mayat Palsu & Kalandra yang Paranoid
28
BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
29
BAB 29: Kalandra Si Posesif
30
BAB 30: Kiriman Jantung
31
BAB 31: Jebakan Zoya
32
BAB 32: Mimpi Buruk Zoya
33
BAB 33: Tragedi Meja Operasi
34
BAB 34: Sumpah Sang Komandan
35
BAB 35: Target Paling Lemah
36
BAB 36: Dilema & Strategi
37
BAB 37: Pertukaran Nyawa
38
BAB 38: Kalandra Bangun
39
BAB 39: Obsesi Hanggara
40
BAB 40: Trik Kimia Zoya
41
BAB 41: John Wick Mode
42
BAB 42: Duel Terakhir
43
BAB 43: "Aku Telat Lagi?"
44
​BAB 44: Akhir The Puppeteer
45
Bab 45: Rumah Sakit VIP
46
BAB 46: Cuti Panjang
47
BAB 46: Trauma Itu Masih Ada
48
BAB 47: Kencan Pertama (Yang Gagal)
49
BAB 48: Kasus-kasus Kecil
50
BAB 49: Skandal Rujak Level 10
51
BAB 50: Sidang Hanggara
52
BAB 51: Hadiah Seharga Mobil
53
BAB 52: Pengakuan Cinta Si Kaku
54
BAB 53: Jawaban Tsundere
55
BAB 54: Malam Pertama (Versi Zoya)
56
BAB 55: Pasangan Kriminal Buster
57
BAB 57: Darurat Tingkat Satu
58
BAB 58: Pamer Cincin Palsu
59
BAB 58: Kalandra Sang Pembela
60
BAB 60: Skandal Baju Plastik
61
BAB 61: Zoya yang Savage
62
BAB 62: Zoya Pingsan
63
BAB 62: Kalandra Mode Overprotektif
64
BAB 63: Ngidam Bau Mayat
65
BAB 64: Drama Keluarga Ravendra
66
BAB 65: Analisis Toksikologi Rumahan
67
BAB 66: Jebakan Kalandra
68
BAB 68: Warisan Berdarah & Keputusan Zoya
69
BAB 68: Tangisan di Ruang USG
70
BAB 70: Sate Gosong Seragam Dinas
71
BAB 71: Cuti Paksa & Rencana Babymoon
72
BAB 72: Villa Mewah & Jejak Berlumpur
73
BAB 72: Bukan Liburan Biasa
74
BAB 73: Detektif Bumil vs Pembunuh Dalam
75
BAB 74: Tamu Tak Diundang
76
BAB 76: Negosiasi Alot
77
BAB 77: Panci Panas Melayang
78
BAB 78: Bantuan Datang & Doorprize
79
BAB 79: Pulang ke Realita & Viral
80
BAB 80: Kontraksi Palsu
81
​BAB 81: The Real Deal
82
​BAB 82: Operasi Persalinan: Kode Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!