Bab 2: Dokter Kulkas

​​"Lepaskan tangan kotor kamu dari saya!"

​Alea menghempaskan tangan Rigel dengan kasar, meski tenaganya tak seberapa dibandingkan cengkeraman dokter itu. Napasnya memburu, matanya nyalang menatap pria berjas putih yang masih berdiri tenang di hadapannya.

​"Saya tidak menyentuh kamu kalau kamu tidak bertingkah seperti anak kecil yang tantrum di playground," balas Rigel datar. Dia sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh tatapan membunuh Alea. "Duduk kembali. Suster akan pasang ulang infusnya."

​"Nggak mau! Saya mau pulang! Rapat saya belum selesai!" Alea bersikeras, kakinya melangkah maju mencoba menerobos lagi. "Minggir atau saya teriak pelecehan!"

​Rigel menghela napas pendek, seolah kesabaran adalah barang mewah yang sedang dia hemat. Tanpa peringatan, dia maju selangkah, membuat Alea mundur refleks hingga betisnya menabrak tepi ranjang.

​Rigel mencondongkan tubuhnya, mengurung Alea.

​"Silakan teriak. CCTV di sudut sana merekam audio dan visual. Semua orang akan lihat CEO Triple A Capital mengamuk karena takut jarum suntik," bisik Rigel dingin.

​Wajah Alea memerah padam karena marah dan malu. "Siapa bilang saya takut jarum?! Saya cuma butuh laptop saya! Pasar saham nggak nunggu saya sembuh, Dokter bodoh!"

​"Dan nyawa kamu juga nggak nunggu pasar saham tutup," potong Rigel tajam.

​Tangan Rigel bergerak cepat. Bukan untuk menyentuh Alea, tapi menyambar pergelangan tangan kiri wanita itu. Dengan gerakan cekatan, dia melepas smartwatch edisi terbatas yang melingkar di sana.

​"Hei! Itu punya saya!" pekik Alea, mencoba merebut kembali jam pintarnya.

​"Disita," ucap Rigel sambil memasukkan jam itu ke saku jas dokternya yang dalam. "Detak jantung kamu sudah seratus dua puluh per menit cuma gara-gara notifikasi margin call. Benda ini racun buat kamu sekarang."

​"Kamu maling ya?! Balikin! Itu harganya lebih mahal dari gaji kamu setahun!" hina Alea tanpa saringan.

​"Wah, seru banget. Ini tiket nontonnya bayar di mana ya?"

​Sebuah suara tawa renyah memecah ketegangan di antara mereka. Rigel dan Alea menoleh bersamaan ke arah pintu bilik IGD yang tirainya sedikit terbuka.

​Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun berdiri di sana sambil bersandar santai di tiang infus nganggur. Dia mengenakan hoodie hitam dan celana jins robek-robek, tangannya memegang sebungkus keripik kentang.

​Arka Adijaya Ardiman. Adik kandung Alea yang paling menyebalkan sedunia. Tapi, tetap saling sayang.

​"Arka! Ngapain kamu cengar-cengir di situ?! Bantuin Kakak!" semprot Alea garang. "Usir dokter gila ini! Dia nyuri jam Kakak!"

​Arka justru melangkah masuk dengan santai, mengunyah keripik kentangnya dengan bunyi kriuk yang nyaring. Dia menatap Rigel dari atas ke bawah, lalu tersenyum lebar dan mengulurkan tangan.

​"Halo, Dok. Saya Arka, adiknya pasien yang lagi cosplay jadi monster ini," sapa Arka ramah. "Sori ya, Kakak saya emang gitu. Kalau lagi laper sama rugi bandar, galaknya ngalahin ibu tiri di sinetron."

​Rigel menyambut uluran tangan Arka sekilas. "Dokter Rigel. Tolong kondisikan kakak kamu. Kalau dia lari lagi, saya terpaksa ikat dia di ranjang."

​"Ikat aja, Dok. Ikhlas saya. Kalau perlu mulutnya dilakban sekalian biar kuping saya adem," sahut Arka enteng.

​"Arka Adijaya!" teriak Alea frustasi. "Kamu di pihak siapa sih?! Aku ini kakak kamu! Aku yang bayar uang jajan kamu!"

​"Justru karena Kakak sumber uang jajan, Kakak nggak boleh mati muda," balas Arka logis, lalu mendorong bahu Alea pelan agar duduk kembali di ranjang. "Udah nurut aja napa sih, Kak? Liat tuh muka Kakak pucet kayak mayat hidup. Jelek banget."

​Alea menepis tangan adiknya. Dia menatap Rigel yang kini sedang menulis sesuatu di papan jalan medis dengan wajah tanpa ekspresi, seolah keributan ini hanyalah angin lalu. Sikap acuh tak acuh Rigel itu yang paling membuat darah Alea mendidih. Biasanya, semua laki-laki akan berlutut atau gugup di depannya. Tapi dokter ini? Dia memperlakukan Alea seperti pasien BPJS yang antre sembako.

​"Oke. Kamu mau main keras ya?" Alea mendesis, menatap name tag di dada Rigel. "Dr. Rigel Kalandra. Oke, saya ingat nama kamu."

​Alea menegakkan punggungnya, mengeluarkan aura boss lady-nya yang biasa membuat lawan bisnis gemetar.

​"Dengar baik-baik, Dokter Kulkas. Saya nggak suka cara kamu ngatur-ngatur saya. Saya kasih kamu waktu lima menit buat balikin laptop dan jam saya, terus minta maaf. Kalau nggak..." Alea menggantung kalimatnya dengan senyum sinis. "...saya beli rumah sakit ini sekarang juga, dan nama kamu bakal jadi nama pertama yang saya coret dari daftar karyawan."

​Arka tersedak keripiknya. "Uhuk! Anjir, mainnya beli RS. Sultan mah bebas."

​Suasana hening sejenak. Para perawat yang mengintip di balik tirai menahan napas. Ancaman Alea Adijaya bukan omong kosong. Semua orang tahu kekayaan keluarga Ardiman tidak berseri.

​Rigel berhenti menulis. Dia mengangkat wajahnya, menatap Alea lurus-lurus. Tidak ada rasa takut sedikitpun di mata cokelat gelap itu. Malah, ada kilatan geli yang tersembunyi.

​"Sudah selesai bicaranya?" tanya Rigel tenang.

​"Kamu pikir saya bercanda?" tantang Alea.

​Rigel menutup papan jalannya dengan bunyi klik yang tegas. Dia melangkah mendekat, mencondongkan wajahnya ke arah Alea lagi hingga Alea bisa mencium aroma mint dan musk yang maskulin dari tubuh dokter itu.

​"Silakan dibeli, Nona Alea. Kasirnya ada di lobi depan," ucap Rigel datar, tapi nadanya penuh sarkasme. "Tapi perlu kamu tahu, sertifikat kepemilikan rumah sakit nggak bisa dipakai buat nyogok malaikat maut. Di ruangan ini, hukum saya yang berlaku, bukan hukum uang kamu."

​Rigel menegakkan tubuhnya kembali, lalu menoleh pada perawat yang berdiri ketakutan di pojok.

​"Suster, pasang ulang infusnya. Kasih obat lambung dosis tinggi injeksi. Dan pastikan pasien ini puasa bicara selama satu jam. Kalau dia ngomel lagi, suntik obat tidur."

​"Baik... Baik, Dok," cicit suster itu.

​Rigel berbalik badan, melangkah pergi dengan jas putihnya yang berkibar, meninggalkan Alea yang melongo dengan mulut terbuka lebar karena shock.

​"Dia... dia barusan nyuruh suntik obat tidur ke gue?" tanya Alea tak percaya pada Arka.

​"Keren. Asli keren banget," Arka bertepuk tangan pelan. "Baru kali ini ada cowok yang berani nyeramahin Kak Alea dan masih hidup. Gue ngefans sama tuh dokter."

​Alea mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Harga dirinya serasa diinjak-injak, dilindas, lalu dibuang ke tempat sampah medis. Tidak ada yang boleh memperlakukannya seperti ini. Tidak ada!

​Zahra, asisten Alea, muncul tergopoh-gopoh dari balik tirai dengan wajah pucat. "Bu Alea! Maaf saya baru dari administrasi. Ibu nggak apa-apa? Kok mukanya merah banget?"

​Alea menatap Zahra dengan nyalang. Napasnya masih memburu menahan amarah yang meledak-ledak.

​"Zahra!" panggil Alea dingin.

​"I-iya, Bu?"

​"Kamu lihat dokter sok ganteng yang baru keluar tadi?"

​"Dokter Rigel maksud Ibu?"

​"Iya, si Dokter Kulkas sialan itu!" Alea menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuk yang gemetar. "Cari tahu siapa dia. Cari tahu latar belakangnya, lulusan mana, tinggal di mana, dan berapa gajinya. Cari tahu harganya!"

​"Maksud Ibu?" Zahra bingung.

​"Saya mau beli harga dirinya!" desis Alea penuh dendam. "Saya mau bikin dia berlutut minta maaf karena udah lancang sama saya. Cari info busuknya, saya mau pecat dia dari dunia kedokteran!"

Terpopuler

Comments

Amabel Skincare Denok

Amabel Skincare Denok

Rigel kalandra apakah ini anaknya the scalep dan komandan galak kalandra komandan polisi yg bucin ?😄

2026-04-28

0

Debbie Teguh

Debbie Teguh

eeh ada anaknya komandan👍😄

2026-05-11

0

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

jangan terlalu sombong Alea karna kesombonganmu akan runtuh di hadapan dr. Rigel.🤭

2026-03-15

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2 Bab 2: Dokter Kulkas
3 Bab 3: Pasien Bandel
4 Bab 4: Investor Misterius
5 Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6 Bab 6: Pulang Paksa
7 Bab 7: Teror Vitamin
8 Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9 Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10 Bab 10: Tumpangan Berharga
11 Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12 Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13 Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14 Bab 14: Guru Saham Dadakan
15 Bab 15: Demam & Sup Ayam
16 Bab 16: Arka si Agen Ganda
17 Bab 17: Cemburu Level CEO
18 Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19 Bab 19: Lembur Berdua
20 Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21 Bab 21: Sidang Dadakan
22 Bab 22: Alea Galau & Kabur
23 ​Bab 23: Undangan Reuni
24 Bab 24: The Hermas Slap
25 Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26 Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27 Bab 27: Gencatan Senjata
28 Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29 Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30 Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31 Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32 Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33 Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34 Bab 34: Laki-Laki Jantan
35 Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36 Bab 36: Tantangan Harga Diri
37 Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38 Bab 38: Serangan Bisnis
39 Bab 39: Konferensi Pers
40 Bab 40: Makan Malam Neraka
41 Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42 Bab 42: Undangan Teh Beracun
43 ​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44 ​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45 ​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46 Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47 Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48 Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49 Bab 49: Restu dan Janji Suci
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2
Bab 2: Dokter Kulkas
3
Bab 3: Pasien Bandel
4
Bab 4: Investor Misterius
5
Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6
Bab 6: Pulang Paksa
7
Bab 7: Teror Vitamin
8
Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9
Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10
Bab 10: Tumpangan Berharga
11
Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12
Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13
Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14
Bab 14: Guru Saham Dadakan
15
Bab 15: Demam & Sup Ayam
16
Bab 16: Arka si Agen Ganda
17
Bab 17: Cemburu Level CEO
18
Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19
Bab 19: Lembur Berdua
20
Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21
Bab 21: Sidang Dadakan
22
Bab 22: Alea Galau & Kabur
23
​Bab 23: Undangan Reuni
24
Bab 24: The Hermas Slap
25
Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26
Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27
Bab 27: Gencatan Senjata
28
Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29
Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30
Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31
Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32
Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33
Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34
Bab 34: Laki-Laki Jantan
35
Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36
Bab 36: Tantangan Harga Diri
37
Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38
Bab 38: Serangan Bisnis
39
Bab 39: Konferensi Pers
40
Bab 40: Makan Malam Neraka
41
Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42
Bab 42: Undangan Teh Beracun
43
​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44
​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45
​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46
Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47
Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48
Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49
Bab 49: Restu dan Janji Suci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!