Bab 4: Investor Misterius

​​"Turun berapa persen?! Jawab yang jelas, Zahra! Jangan gagap!"

​Alea berteriak frustrasi sambil meremas sprei rumah sakit yang putih bersih. Wajahnya yang pucat kini memerah karena emosi.

 Meski tubuhnya terpasang infus dan baru saja diancam akan diborgol oleh dokter gila itu, otaknya tetap bekerja keras memikirkan nasib perusahaannya.

​Zahra, sang asisten, berdiri di samping ranjang dengan tablet di tangan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.

​"Minus enam persen, Bu! Hampir Auto Reject Bawah!" lapor Zahra panik, jarinya gemetar menggeser layar tablet. "Isu Ibu muntah darah dan pingsan sudah bocor ke akun gosip saham. Investor ritel panik. Mereka buang barang massal. Katanya... katanya manajemen Triple A Capital bakal kolaps kalau Ibu sakit keras."

​"Kurang ajar! Siapa yang bocorin?!" Alea memukul kasur dengan kepalan tangannya. "Pasti si Joni dari Sekuritas sebelah. Dia memang sudah lama nunggu momen saya jatuh."

​Alea mencoba bangun, tapi rasa nyeri di ulu hatinya kembali menyengat. Dia meringis, memegangi perutnya.

​"Bu, jangan banyak gerak dulu. Nanti Dokter Rigel marah lagi," Zahra memperingatkan dengan nada takut-takut. Bayangan dokter berwajah datar tadi masih membekas ngeri di ingatan Zahra.

​"Bodo amat sama dokter kulkas itu! Perusahaan saya lagi kebakaran jenggot!" sentak Alea. "Telepon Papa. Minta suntikan dana talangan. Kita harus buyback sahamnya sekarang sebelum harganya nyentuh tanah. Kalau sampai ARB, besok bakal makin susah naik."

​"Pak Gavin nggak bisa dihubungi, Bu! Bapak lagi flight ke Eropa sama Bu Kiana. Ponselnya mati total!"

​Alea memejamkan mata, kepalanya berdenyut hebat. 

Sial. Sialan. Kenapa di saat genting begini ayahnya malah tidak ada?

​"Oke. Pakai dana cadangan pribadi saya. Cairkan deposito di Bank Ardiman. Masukkan order beli sekarang!" perintah Alea nekat.

​"Tapi Bu, proses pencairan butuh waktu dua jam verifikasi. Dalam dua jam, harga saham kita bisa jadi gocap alias lima puluh perak!"

​Alea terdiam. Hening yang mencekam menyelimuti ruang VVIP itu. Hanya suara bip monitor jantung Alea yang terdengar semakin cepat, menandakan stres tingkat dewa. Dia merasa tidak berdaya. Reputasi "Ratu Saham" yang dia bangun bertahun-tahun akan hancur hanya karena sakit lambung sialan ini.

​"Bu! Bu Alea! Liat!"

​Tiba-tiba Zahra berteriak histeris, matanya melotot menatap layar tablet.

​"Apa lagi?! Turun lagi?!" tanya Alea lemas.

​"Bukan! Ada yang HAKA! Ada yang Hajar Kanan!" seru Zahra, menggunakan istilah trading untuk pembelian agresif di harga antrean jual. "Gila... Gila, Bu! Lihat volumenya!"

​Zahra menyodorkan tablet itu ke depan wajah Alea.

​Mata Alea menyipit. Di kolom order book, deretan angka antrean jual yang tebal mendadak lenyap dimakan oleh satu akun misterius.

​Satu juta lot. Dua juta lot. Lima juta lot.

​Angka itu terus bertambah, menyapu bersih semua orang yang panik jualan.

​Grafik yang tadinya menukik tajam ke bawah seperti air terjun, tiba-tiba berhenti, berbelok, dan melesat naik vertikal membentuk tiang hijau raksasa.

​"Siapa..." gumam Alea tak percaya. "Siapa yang punya uang cash segini banyak buat nampung saham gorengan lagi jatuh?"

​"Ini bukan ritel, Bu. Ini Paus! Whale!" Zahra menggeleng takjub. "Total pembeliannya sudah tembus lima puluh miliar dalam tiga menit! Harga saham kita balik ke zona hijau, Bu! Malah mau Auto Reject Atas!"

​Alea terpaku. Dadanya bergemuruh. Lima puluh miliar rupiah tunai digelontorkan begitu saja tanpa negosiasi? Ini gila. Bahkan ayahnya, Gavin Ardiman, biasanya akan mikir dua kali dan minta diskon kalau mau akuisisi.

​"Cek kode brokernya! Siapa itu? Asing atau Lokal?" desak Alea.

​"Brokernya pakai kode 'YP' alias Yolo Pialang, tapi akunnya nominee, Bu. Anonim. Nggak ada namanya," jawab Zahra kecewa. "Tapi siapapun dia, dia baru saja nyelamatin Triple A dari kebangkrutan."

​Alea menyandarkan punggungnya ke bantal, menghela napas panjang yang lega. Rasa sakit di perutnya sedikit berkurang melihat warna hijau di layar.

​"Mungkin Papa pakai akun rahasia," gumam Alea mencoba melogika. "Atau mungkin musuh bisnis yang mau nyaplok perusahaan gue dengan cara kasar? Ah, nggak mungkin. Kalau mau nyaplok, dia bakal tunggu harganya hancur dulu biar murah. Ini dia beli di harga mahal."

​"Mungkin penggemar rahasia Ibu?" celetuk Zahra asal.

​"Ngaco kamu. Penggemar saya isinya cuma om-om genit yang mau numpang kaya," cibir Alea. "Sudah, pantau terus. Kalau dia mulai jual, kabari saya."

​Sementara itu, di lantai yang sama, tepatnya di ruang istirahat dokter.

​Suasana di ruangan itu tenang, dingin, dan beraroma kopi. Jauh berbeda dengan kepanikan di kamar Alea.

​Rigel Kalandra duduk santai di kursi kerjanya yang ergonomis. Dia baru saja melepas stetoskopnya dan meletakkannya di atas meja. Jas putihnya masih melekat pas di tubuh tegapnya.

​Tangan kanan Rigel memegang sebuah ponsel hitam polos—bukan ponsel dinas rumah sakit, melainkan ponsel khusus dengan enkripsi tingkat tinggi. Layar ponsel itu menampilkan aplikasi trading dengan saldo rekening yang digit nol-nya terlalu panjang untuk dibaca orang awam.

​"Sudah beres, Tuan Muda?" suara seorang pria terdengar dari loudspeaker ponsel yang diletakkan di meja. Itu suara Pak Hadi, manajer investasi kepercayaan keluarga Kalandra.

​Rigel menyesap kopi hitamnya perlahan, matanya menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang gelap.

​"Sudah. Saya lihat grafiknya sudah hijau," jawab Rigel datar.

​"Total dana yang terpakai lima puluh lima miliar, Tuan. Kita sudah menyapu bersih semua panic selling. Sekarang kita jadi pemegang saham mayoritas kedua setelah Nona Alea di Triple A Capital," lapor Pak Hadi. "Tapi Tuan, analisis tim kita bilang fundamental perusahaan ini agak goyah karena ketergantungan pada sosok Alea. Ini investasi yang sangat berisiko."

​Rigel tersenyum tipis. Sangat tipis.

​Dia teringat wajah pucat Alea yang tadi menantangnya di IGD. Wajah wanita keras kepala yang lebih peduli pada laptop daripada nyawanya sendiri. Wanita yang berani membentaknya, tapi tubuhnya seringan kapas saat digendong.

​"Saya tidak peduli soal fundamental atau risiko," ucap Rigel tenang.

​"Lalu kenapa Tuan membeli sebanyak itu? Tuan bahkan tidak pernah main di sektor ini sebelumnya."

​Rigel meletakkan cangkir kopinya. Dia melihat ke arah pintu ruangannya, membayangkan kamar VVIP 1 di ujung lorong sana.

​"Anggap saja ini biaya pengobatan mental," jawab Rigel.

​"Maksud Tuan?"

​"Pasien saya yang satu itu keras kepala. Kalau dia lihat sahamnya merah, tensi darahnya naik, asam lambungnya naik, dan dia bakal susah sembuh. Kalau dia susah sembuh, dia bakal lama di rumah sakit ini dan bikin saya pusing."

​Rigel mengambil ponselnya, bersiap memutus sambungan.

​"Terus, instruksi selanjutnya apa, Tuan? Kapan kita jual lagi buat ambil profit?" tanya Pak Hadi di ujung telepon.

​"Tahan," perintah Rigel tegas. "Jangan dijual satu lot pun. Beli lagi kalau ada yang buang barang."

​"Beli lagi? Sampai kapan?"

​Rigel menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan.

​"Ya, beli saja semua saham Triple A Capital kalau perlu. Jangan sampai CEO bodoh itu bangkrut dan makin sakit," ucap Rigel datar namun mutlak, lalu mematikan sambungan telepon sepihak.

​Dia bangkit berdiri, merapikan jas dokternya, dan mengambil clipboard medis. Waktunya mengecek pasien bandel itu lagi. Dia harus memastikan "investasi"-nya tidak kabur ke kafe lagi.

Terpopuler

Comments

Mini Amora

Mini Amora

kog rigel mau bantu alea yaa
kira² karena apa/ada apa yaa

2026-03-14

0

Lucyana H

Lucyana H

ada udah di balik rempeyek nih🤭

2026-05-18

0

Arix Zhufa

Arix Zhufa

gak mgkn Rigel jatuh cinta tiba2

2026-01-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2 Bab 2: Dokter Kulkas
3 Bab 3: Pasien Bandel
4 Bab 4: Investor Misterius
5 Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6 Bab 6: Pulang Paksa
7 Bab 7: Teror Vitamin
8 Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9 Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10 Bab 10: Tumpangan Berharga
11 Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12 Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13 Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14 Bab 14: Guru Saham Dadakan
15 Bab 15: Demam & Sup Ayam
16 Bab 16: Arka si Agen Ganda
17 Bab 17: Cemburu Level CEO
18 Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19 Bab 19: Lembur Berdua
20 Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21 Bab 21: Sidang Dadakan
22 Bab 22: Alea Galau & Kabur
23 ​Bab 23: Undangan Reuni
24 Bab 24: The Hermas Slap
25 Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26 Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27 Bab 27: Gencatan Senjata
28 Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29 Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30 Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31 Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32 Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33 Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34 Bab 34: Laki-Laki Jantan
35 Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36 Bab 36: Tantangan Harga Diri
37 Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38 Bab 38: Serangan Bisnis
39 Bab 39: Konferensi Pers
40 Bab 40: Makan Malam Neraka
41 Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42 Bab 42: Undangan Teh Beracun
43 ​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44 ​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45 ​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46 Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47 Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48 Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49 Bab 49: Restu dan Janji Suci
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2
Bab 2: Dokter Kulkas
3
Bab 3: Pasien Bandel
4
Bab 4: Investor Misterius
5
Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6
Bab 6: Pulang Paksa
7
Bab 7: Teror Vitamin
8
Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9
Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10
Bab 10: Tumpangan Berharga
11
Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12
Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13
Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14
Bab 14: Guru Saham Dadakan
15
Bab 15: Demam & Sup Ayam
16
Bab 16: Arka si Agen Ganda
17
Bab 17: Cemburu Level CEO
18
Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19
Bab 19: Lembur Berdua
20
Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21
Bab 21: Sidang Dadakan
22
Bab 22: Alea Galau & Kabur
23
​Bab 23: Undangan Reuni
24
Bab 24: The Hermas Slap
25
Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26
Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27
Bab 27: Gencatan Senjata
28
Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29
Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30
Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31
Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32
Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33
Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34
Bab 34: Laki-Laki Jantan
35
Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36
Bab 36: Tantangan Harga Diri
37
Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38
Bab 38: Serangan Bisnis
39
Bab 39: Konferensi Pers
40
Bab 40: Makan Malam Neraka
41
Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42
Bab 42: Undangan Teh Beracun
43
​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44
​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45
​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46
Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47
Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48
Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49
Bab 49: Restu dan Janji Suci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!