Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Bab 1: Ratu Saham Tumbang

​​"Jual! Saya bilang jual di angka dua ribu empat ratus! Kalian tuli atau bodoh?!"

​Suara teriakan Alea Ardiman menggelegar di ruang rapat Triple A Capital yang berdinding kaca kedap suara. Wanita muda berusia dua puluh empat tahun itu berdiri di ujung meja, tangannya menggebrak permukaan meja marmer dengan keras hingga gelas kopi americano-nya bergetar.

​Belasan manajer investasi yang rata-rata usianya jauh di atas Alea menunduk takut. Tidak ada yang berani menatap mata tajam wanita itu—mata yang diwarisi dari ayahnya, Gavin Ardiman, namun dengan kilat kecerdasan ibu tirinya, Kiana.

​"Bu Alea, tapi indikator teknikal menunjukkan akan ada rebound..." salah satu manajer senior mencoba menyela dengan suara gemetar.

​"Indikator teknikal nenek moyangmu!" potong Alea pedas. Dia menyambar pointer laser dan menunjuk grafik merah yang terpampang di layar proyektor raksasa. "Lihat volume penjualannya! Itu whale lagi buang barang! Kalau kita nggak keluar sekarang, portofolio nasabah bakal minus tiga puluh persen dalam satu jam! Cut loss sekarang!"

​Napas Alea memburu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya yang tertutup anak rambut. Sudah dua malam dia tidak tidur memantau pergerakan pasar saham Amerika yang sedang fluktuatif, dan pagi ini pasar Asia ikut rontok.

​"Kerjakan! Saya mau laporan likuidasi di meja saya dalam sepuluh menit!" perintah Alea mutlak.

​Ruangan itu langsung sibuk. Suara ketikan keyboard dan telepon berdering bersahutan. Alea kembali duduk di kursi kebesarannya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.

​Tangannya meraba perut bagian atas. Perih. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas lambungnya kuat-kuat.

​"Sshhh..." desis Alea pelan, menekan perutnya dengan kepalan tangan.

​"Bu Alea? Ibu baik-baik saja?" Zahra, sekretaris pribadinya yang merupakan anak didik dari sekretaris ayahnya dulu, mendekat dengan wajah cemas. "Ibu belum makan dari kemarin siang lho. Mau saya pesankan bubur?"

​"Nggak usah. Saya butuh kopi lagi. Yang ini sudah dingin," tolak Alea keras kepala, menunjuk gelas kopinya yang tinggal setengah.

​"Tapi, Bu..."

​"Kopi, Zahra. Triple shot," Alea menatap sekretarisnya dengan tatapan yang tidak menerima bantahan.

Zahra menghela napas pasrah dan berbalik menuju pantry.

​Alea kembali fokus ke layar laptopnya. Angka-angka berwarna merah dan hijau berkedip cepat, menari-nari di matanya. Tapi lama-kelamaan, angka itu mulai kabur. Garis grafik itu bergelombang aneh.

​Rasa perih di lambungnya mendadak naik ke kerongkongan. Panas. Membakar.

​Alea mencoba menelan ludahnya, tapi rasanya asin dan amis.

​"Uhuk!"

​Alea terbatuk keras. Dia menutup mulutnya dengan tisu yang ada di meja.

​Saat dia menarik tisu itu, warna putihnya sudah berubah menjadi merah pekat. Darah segar.

​Mata Alea membelalak. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Suara riuh karyawan di ruang rapat terdengar menjauh, seperti suara radio rusak.

​"Bu Alea! Darah!" teriak salah satu staf yang melihat tisu di tangan Alea.

​Kepanikan meledak.

​"Panggil ambulans!"

"Bu Alea muntah darah!"

"Minggir! Kasih jalan!"

​Alea mencoba berdiri, mencoba mempertahankan wibawanya sebagai CEO yang tak terkalahkan. "Saya... saya nggak apa-apa... cuma..."

​Tubuhnya limbung. Kakinya yang jenjang dan terbalut stiletto dua belas senti itu tidak sanggup lagi menopang berat badannya. Kegelapan menyergapnya dengan cepat sebelum tubuhnya menghantam lantai karpet yang dingin.

​Hal terakhir yang Alea ingat adalah jeritan histeris Zahra dan grafik saham yang masih terjun bebas di layar proyektor.

***

​Bunyi bip... bip... bip... yang monoton memaksa Alea membuka matanya.

​Cahaya lampu neon yang terlalu terang menusuk retina, membuatnya mengerjap beberapa kali. Bau alkohol dan antiseptik yang menyengat langsung memberitahunya di mana dia berada.

​Rumah Sakit. Tempat yang paling dia benci di dunia ini.

​"Sial," umpat Alea dengan suara parau.

​Dia mencoba bangun, tapi kepalanya masih pening. Tangannya terasa berat. Saat dia menoleh, dia melihat selang infus menancap di punggung tangan kirinya.

​"Jam berapa ini?" gumam Alea panik.

​Dia meraba saku blazernya. Kosong. Ponselnya tidak ada.

​Alea menoleh ke meja nakas di samping ranjang IGD. Di sana, tas kerjanya tergeletak, dan laptop-nya menyembul sedikit dari dalam tas.

​"Pasar sesi dua..." batin Alea histeris. "Gue harus cek closing market!"

​Alea tidak peduli dengan rasa sakit di perutnya atau jarum infus di tangannya. Otaknya hanya berisi angka, profit, dan reputasi perusahaannya. Kalau dia menghilang saat pasar sedang crash, investor akan panik dan menarik dana mereka. Itu bencana.

​Dengan gerakan kasar, Alea menarik selang infus itu.

​"Aw!" ringis Alea saat plester terlepas paksa. Darah menetes sedikit dari bekas tusukan, tapi dia masa bodoh.

​Dia turun dari ranjang pasien yang tinggi dengan kaki gemetar. Dia tidak memakai sepatu, hanya telanjang kaki di lantai ubin yang dingin.

​Alea menyambar tas kerjanya, mengeluarkan laptopnya dengan tangan gemetar. Dia harus mencari sinyal WiFi. Dia harus login.

​"Ayo nyala... cepetan..." racau Alea sambil menekan tombol power sambil berjalan sempoyongan menuju pintu keluar bilik IGD. Dia harus keluar dari sini. Dia harus kembali ke kantor.

​Namun, baru dua langkah dia mencapai tirai pembatas, sebuah bayangan tinggi besar menghalangi jalannya.

​Alea mendongak. Pandangannya membentur dada bidang yang terbalut kemeja biru tua dan jas putih dokter yang dikancing rapi.

​"Minggir," desis Alea galak, mencoba menerobos. "Saya harus kerja."

​Pria itu tidak bergeming. Dia berdiri kokoh seperti tembok beton.

​"Minggir saya bilang! Kamu tuli?!" bentak Alea lagi, emosinya naik. "Saya bisa tuntut rumah sakit ini kalau menghalangi pasien pul..."

​Belum sempat Alea menyelesaikan kalimat ancamannya, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakitkan. Hanya tegas. Sangat tegas.

​Detik berikutnya, tangan pria itu merampas laptop dari pelukan Alea.

​"Heh! Balikin!" Alea melotot, mencoba melompat meraih laptopnya. "Itu aset miliaran! Jangan sentuh!"

​Pria itu—dr. Rigel Kalandra—menatap Alea dengan tatapan sedingin es kutub. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan kacamata minus tipis yang membingkai mata tajamnya, tapi ekspresinya datar tanpa emosi.

​Tanpa bicara sepatah kata pun, Rigel berjalan dua langkah ke arah sofa tunggu di pojok ruangan, lalu melempar laptop mahal itu begitu saja ke atas bantalan sofa.

​BUGH!

​Alea menjerit tertahan. "Laptop gue!"

​Alea hendak lari menyelamatkan "bayi"-nya, tapi Rigel sudah berbalik badan, mengurung tubuh kecil Alea di antara ranjang pasien dan tubuh tingginya.

​Rigel menunduk, menatap manik mata Alea yang menyala karena amarah. Aura dominasi yang keluar dari dokter muda itu begitu kuat hingga membuat nyali Alea—si Ratu Saham yang ditakuti—mendadak menciut.

​"Kamu..." Alea tergagap, napasnya tercekat.

​Rigel mendekatkan wajahnya. Suaranya rendah, berat, dan menusuk langsung ke tulang belakang Alea.

​"Lambung kamu pendarahan hebat. Tensi kamu 80 per 50. Kamu baru saja muntah darah setengah gelas," ucap Rigel datar, menunjuk dada Alea dengan dagunya.

​Alea terdiam, terpaku oleh tatapan mengintimidasi itu.

​"Sekarang pilih," lanjut Rigel dingin. "Masuk ke peti mati atau diam di ranjang?"

​Alea menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak punya kalimat balasan.

​"Mati atau diam?" ulang Rigel, kali ini dengan nada yang lebih menekan.

Terpopuler

Comments

Arix Zhufa

Arix Zhufa

saya merasakan apa yg kamu rasakan Alea....karena sy juga maen meski sekala kecil 😄

2026-01-28

1

Eli Rahma

Eli Rahma

langsung mlipir dimari setelah baca kisah papa Gavin dan mama Kiana..siap marathon lagiiii..🤭🤭

2026-03-16

0

Tarwiyah Nasa

Tarwiyah Nasa

waht Alea mewarisi sifat kiana

2026-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2 Bab 2: Dokter Kulkas
3 Bab 3: Pasien Bandel
4 Bab 4: Investor Misterius
5 Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6 Bab 6: Pulang Paksa
7 Bab 7: Teror Vitamin
8 Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9 Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10 Bab 10: Tumpangan Berharga
11 Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12 Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13 Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14 Bab 14: Guru Saham Dadakan
15 Bab 15: Demam & Sup Ayam
16 Bab 16: Arka si Agen Ganda
17 Bab 17: Cemburu Level CEO
18 Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19 Bab 19: Lembur Berdua
20 Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21 Bab 21: Sidang Dadakan
22 Bab 22: Alea Galau & Kabur
23 ​Bab 23: Undangan Reuni
24 Bab 24: The Hermas Slap
25 Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26 Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27 Bab 27: Gencatan Senjata
28 Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29 Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30 Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31 Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32 Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33 Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34 Bab 34: Laki-Laki Jantan
35 Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36 Bab 36: Tantangan Harga Diri
37 Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38 Bab 38: Serangan Bisnis
39 Bab 39: Konferensi Pers
40 Bab 40: Makan Malam Neraka
41 Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42 Bab 42: Undangan Teh Beracun
43 ​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44 ​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45 ​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46 Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47 Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48 Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49 Bab 49: Restu dan Janji Suci
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2
Bab 2: Dokter Kulkas
3
Bab 3: Pasien Bandel
4
Bab 4: Investor Misterius
5
Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6
Bab 6: Pulang Paksa
7
Bab 7: Teror Vitamin
8
Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9
Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10
Bab 10: Tumpangan Berharga
11
Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12
Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13
Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14
Bab 14: Guru Saham Dadakan
15
Bab 15: Demam & Sup Ayam
16
Bab 16: Arka si Agen Ganda
17
Bab 17: Cemburu Level CEO
18
Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19
Bab 19: Lembur Berdua
20
Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21
Bab 21: Sidang Dadakan
22
Bab 22: Alea Galau & Kabur
23
​Bab 23: Undangan Reuni
24
Bab 24: The Hermas Slap
25
Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26
Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27
Bab 27: Gencatan Senjata
28
Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29
Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30
Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31
Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32
Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33
Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34
Bab 34: Laki-Laki Jantan
35
Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36
Bab 36: Tantangan Harga Diri
37
Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38
Bab 38: Serangan Bisnis
39
Bab 39: Konferensi Pers
40
Bab 40: Makan Malam Neraka
41
Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42
Bab 42: Undangan Teh Beracun
43
​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44
​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45
​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46
Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47
Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48
Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49
Bab 49: Restu dan Janji Suci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!