Bab 3: Pasien Bandel

​​"Sialan. Sinyal di kamar VVIP macam apa ini? Muternya lebih lama dari komedi putar!"

​Alea menggerutu kesal sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel Zahra yang berhasil dia "pinjam paksa" sebelum asistennya itu disuruh pergi membeli makanan. Layar ponsel itu menampilkan lingkaran loading yang tak berujung. Grafik saham yang ingin dia pantau macet total.

​"Ini pasti konspirasi si Dokter Kulkas itu. Dia pasti pasang jammer sinyal di kamar ini biar gue mati bosan," tuduh Alea sembarangan.

​Dia melirik ke arah pintu. Sepi. Suster jaga baru saja keluar lima menit yang lalu. Arka sedang ke kantin cari gorengan. Ini kesempatan emas.

​Alea turun dari ranjang pasien dengan hati-hati. Dia menyambar cardigan panjang miliknya untuk menutupi baju pasien rumah sakit yang kedodoran dan jelek itu. Dengan gerakan pelan tapi pasti, dia menyeret tiang infusnya yang berroda.

​"Oke, Alea. Misi penyelamatan aset dimulai," gumamnya pada diri sendiri.

​Tujuannya jelas: Kafe di lobi rumah sakit. Di sana pasti ada WiFi kencang dan kopi hitam yang dia butuhkan untuk menjernihkan otak. Persetan dengan lambung.

​Alea menyelinap keluar kamar, menunduk menyusuri lorong VIP yang sepi, lalu masuk ke lift barang agar tidak berpapasan dengan dokter. Sesampainya di lobi, aroma biji kopi yang dipanggang langsung menyapa hidungnya. Surga.

​Dia berjalan cepat—secepat orang yang menyeret tiang infus bisa berjalan—menuju konter pemesanan.

​"Mbak, double espresso satu. Sama password WiFi-nya apa?" pesan Alea cepat sambil menoleh ke kanan-kiri, waspada seperti buronan polisi.

​Barista di depannya menatap Alea ragu. Dia melihat wajah pucat Alea, gelang pasien di tangan, dan tiang infus di sebelahnya.

​"Maaf, Kak... yakin mau espresso? Kakak pasien kan?" tanya barista itu sopan.

​"Banyak tanya deh. Saya bayar, bukan minta gratis. Cepetan, saya lagi buru-buru," desak Alea sambil mengeluarkan lembaran uang seratus ribu dari saku cardigan-nya.

​Barista itu menghela napas, akhirnya mulai mengetik pesanan di mesin kasir. Alea tersenyum puas. Kemenangan sudah di depan mata.

​Namun, belum sempat struk keluar, sebuah tangan besar dengan jam tangan chronograph mahal terulur dari belakang bahu Alea, meletakkan kartu akses dokter di atas meja kasir.

​"Batalkan pesanannya," suara bariton yang dingin dan familiar terdengar tepat di telinga Alea. "Ganti dengan air mineral hangat."

​Alea membeku. Bulu kuduknya meremang.

​Dia menoleh patah-patah.

​Rigel Kalandra berdiri menjulang di belakangnya. Wajahnya datar, tapi matanya menyipit tajam di balik kacamata minusnya. Dia tidak memakai jas putih kebesarannya, hanya kemeja biru tua yang lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin.

​"Kamu lagi?!" pekik Alea, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak etalase kue. "Ngapain kamu di sini? Kamu nguntit saya ya?!"

​"Saya dokter, Alea. Ini rumah sakit tempat saya kerja. Wajar saya ada di sini," jawab Rigel tenang, lalu menatap barista yang bengong. "Mbak, jangan kasih kopi. Lambungnya lagi luka. Kalau dia minum itu, Mbak mau tanggung jawab kalau dia muntah darah di sini?"

​Barista itu langsung pucat dan menggeleng panik. "Ehh... nggak, Dok. Maaf, Kak, nggak jadi ya kopinya."

​"Heh! Nggak bisa gitu dong! Hak asasi saya mau minum apa!" protes Alea tak terima. "Rigel! Minggir! Saya butuh WiFi!"

​"WiFi ada di kamar," sahut Rigel singkat.

​"Lemot! Nggak bisa buat load grafik real time!"

​"Bagus. Biar kamu istirahat."

​"Saya nggak butuh istirahat! Saya butuh koneksi!" Alea mencoba berkelit lewat sisi kiri Rigel, tapi Rigel menggeser tubuhnya menghalangi. Alea coba ke kanan, Rigel menghadang lagi.

​Mereka berdua malah terlihat seperti sedang berdansa aneh di depan kasir. Beberapa pengunjung kafe dan keluarga pasien mulai menoleh dan berbisik-bisik. Ada yang merekam diam-diam.

​"Alea, balik ke kamar. Sekarang," perintah Rigel, nadanya mulai rendah berbahaya.

​"Nggak mau! Kamu siapa ngatur-ngatur? Suami bukan, pacar bukan!" Alea keras kepala, memeluk tiang infusnya erat-erat seolah itu senjata. "Saya mau duduk di sini, pakai WiFi sini. Kamu pergi sana urusin pasien lain!"

​Rigel memijat pelipisnya. Menghadapi Alea ternyata lebih melelahkan daripada operasi bedah saraf selama sepuluh jam. Wanita ini benar-benar definisi batu karang.

​"Oke. Kamu nggak mau jalan sendiri?" tanya Rigel retoris.

​"Nggak!"

​"Baik."

​Tanpa aba-aba, Rigel maju selangkah, menepis tangan Alea dari tiang infus, lalu menunduk.

​"Eh? Eh? Apaan nih?!" Alea panik saat merasakan tubuhnya melayang.

​Dalam satu gerakan cepat, Rigel mengangkat tubuh Alea. Tangan kanannya menopang punggung, tangan kirinya di bawah lutut. Bridal style.

​"RIGEL! TURUNIN!" jerit Alea histeris, kakinya menendang-nendang udara. "Gila ya?! Banyak orang! Malu!"

​"Makanya diam," Rigel tidak peduli. Dia berjalan santai keluar dari kafe sambil menggendong Alea seolah wanita itu seringan kapas. Tiang infusnya dia seret dengan satu jari tangan kanan yang juga menopang punggung Alea. Multitasking level dewa.

​"Lepasin! Saya bisa jalan sendiri!" Alea memukul dada bidang Rigel dengan kepalan tangannya. Keras. Tapi Rigel bergeming, dadanya sekeras besi.

​"Terlambat. Tawaran jalan kaki sudah hangus," jawab Rigel santai, melewati lobi yang ramai.

​Semua mata tertuju pada mereka. Pasien, suster, satpam, semua menonton adegan drama korea live action itu. Alea merasa wajahnya panas luar biasa. Harga dirinya sebagai CEO yang ditakuti hancur lebur. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Rigel karena malu.

​"Dokter Rigel... itu Bu Alea?" sapa seorang suster yang lewat di lorong lift.

​"Iya. Pasien bandel. Biasa, mau kabur," jawab Rigel santai tanpa berhenti berjalan.

​Alea mencubit lengan Rigel sekuat tenaga. "Diem! Jangan nyebar gosip!"

​Rigel membawa Alea masuk ke dalam lift khusus staf medis. Pintu lift tertutup, mengurung mereka berdua dalam ruang sempit yang sunyi.

​Napas Alea masih memburu karena emosi dan malu. Dia mendongak, menatap rahang tegas Rigel dari jarak sedekat ini.

​Tiba-tiba, Alea menyadari sesuatu.

​Wangi.

​Tubuh Rigel wangi sekali. Bukan wangi parfum menyengat, tapi wangi citrus segar bercampur aroma antiseptik yang samar dan... sesuatu yang maskulin. Wangi yang menenangkan sekaligus memabukkan.

​Jantung Alea yang tadinya berdetak kencang karena marah, kini berdetak dengan ritme yang berbeda. Lebih cepat, tapi aneh. Dia bisa merasakan detak jantung Rigel yang tenang di balik kemejanya.

​Posisi mereka sangat intim. Wajah Alea sejajar dengan leher Rigel.

​Rigel menunduk sedikit, menatap mata Alea yang mendadak diam.

​"Kenapa diam? Baterai ngomelnya habis?" tanya Rigel.

​"Berisik," gumam Alea, memalingkan wajah. "Turunin. Udah di lift."

​"Nanggung. Sampai kasur," tolak Rigel.

​Pintu lift terbuka di lantai VVIP. Rigel melangkah keluar, masuk ke kamar rawat inap Alea, dan berjalan menuju ranjang.

​Dia menurunkan Alea perlahan. Bukan dilempar, tapi diletakkan dengan cukup hati-hati meski wajahnya tetap datar.

​Alea segera mundur ke kepala ranjang, menarik selimut menutupi kakinya, mencoba membangun benteng pertahanan. Jantungnya masih berdegup kencang tak karuan.

​Rigel tidak langsung menjauh. Dia menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Alea, mengurung wanita itu lagi di sandaran ranjang. Dia menatap Alea dalam-dalam.

​"Dengar, Nona Alea," bisik Rigel, suaranya serak dan rendah, membuat bulu roma di leher Alea berdiri. "Saya tidak punya banyak kesabaran buat main kucing-kucingan."

​Alea menelan ludah. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti. Dia bisa merasakan napas hangat Rigel menerpa bibirnya.

​"Ka-kamu mau apa?" tanya Alea gugup, keberaniannya menguap entah ke mana.

​Rigel mendekatkan bibirnya ke telinga Alea.

​"Kalau kamu coba kabur sekali lagi..." bisik Rigel penuh penekanan. "Jangan bikin saya borgol kamu di ranjang ini. Paham?"

Terpopuler

Comments

Lucyana H

Lucyana H

suka thor sm jln ceritanya..seru...

2026-05-18

1

Eli Rahma

Eli Rahma

seru..😆

2026-03-16

0

Netiihsan

Netiihsan

si kulkas dn si kpala batu🤭😄😄

2026-03-03

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2 Bab 2: Dokter Kulkas
3 Bab 3: Pasien Bandel
4 Bab 4: Investor Misterius
5 Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6 Bab 6: Pulang Paksa
7 Bab 7: Teror Vitamin
8 Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9 Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10 Bab 10: Tumpangan Berharga
11 Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12 Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13 Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14 Bab 14: Guru Saham Dadakan
15 Bab 15: Demam & Sup Ayam
16 Bab 16: Arka si Agen Ganda
17 Bab 17: Cemburu Level CEO
18 Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19 Bab 19: Lembur Berdua
20 Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21 Bab 21: Sidang Dadakan
22 Bab 22: Alea Galau & Kabur
23 ​Bab 23: Undangan Reuni
24 Bab 24: The Hermas Slap
25 Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26 Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27 Bab 27: Gencatan Senjata
28 Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29 Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30 Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31 Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32 Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33 Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34 Bab 34: Laki-Laki Jantan
35 Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36 Bab 36: Tantangan Harga Diri
37 Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38 Bab 38: Serangan Bisnis
39 Bab 39: Konferensi Pers
40 Bab 40: Makan Malam Neraka
41 Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42 Bab 42: Undangan Teh Beracun
43 ​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44 ​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45 ​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46 Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47 Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48 Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49 Bab 49: Restu dan Janji Suci
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1: Ratu Saham Tumbang
2
Bab 2: Dokter Kulkas
3
Bab 3: Pasien Bandel
4
Bab 4: Investor Misterius
5
Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi
6
Bab 6: Pulang Paksa
7
Bab 7: Teror Vitamin
8
Bab 8: Pertemuan di Luar Dugaan
9
Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
10
Bab 10: Tumpangan Berharga
11
Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
12
Bab 12: Home Visit (Modus Dokter)
13
Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
14
Bab 14: Guru Saham Dadakan
15
Bab 15: Demam & Sup Ayam
16
Bab 16: Arka si Agen Ganda
17
Bab 17: Cemburu Level CEO
18
Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
19
Bab 19: Lembur Berdua
20
Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
21
Bab 21: Sidang Dadakan
22
Bab 22: Alea Galau & Kabur
23
​Bab 23: Undangan Reuni
24
Bab 24: The Hermas Slap
25
Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
26
Bab 26: Alea Merasa Dibohongi
27
Bab 27: Gencatan Senjata
28
Bab 28: Kencan di Ruang Arsip
29
Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi
30
Bab 30: Papa Gavin Mulai Curiga Lagi
31
Bab 31: Penyergapan Tengah Malam
32
Bab 32: Pengakuan Dosa & Pengusiran
33
Bab 33: Alea Si "Gelandangan" Elite
34
Bab 34: Laki-Laki Jantan
35
Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
36
Bab 36: Tantangan Harga Diri
37
Bab 37: Duel Mantu-Mertua
38
Bab 38: Serangan Bisnis
39
Bab 39: Konferensi Pers
40
Bab 40: Makan Malam Neraka
41
Bab 41: Mata-Mata dalam Selimut
42
Bab 42: Undangan Teh Beracun
43
​Bab 43: Sabotase Proyek Tender
44
​Bab 44: Rigel yang Terpecah
45
​Bab 45: Amplop Tebal & Harga Diri
46
Bab 46: Kabur dari Sangkar Emas
47
Bab 47: Papa Gavin Cemburu Berat
48
Bab 48: Skakmat Sang Ratu
49
Bab 49: Restu dan Janji Suci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!