Episode 2

Kiara melangkah keluar kamar dengan koper kecil di tangannya. Celana jeans hot pants yang begitu pendek membalut kakinya yang jenjang, dipadukan dengan atasan putih bermotif bunga bertali satu. Rambutnya dikuncir tinggi asal, memberi kesan santai sekaligus menantang. Kacamata hitam melekat di wajahnya seolah dunia tak berhak melihat matanya pagi ini.

Baru beberapa langkah menuju mobil, suara ayahnya menghentikan langkah Kiara.

“Kamu mau ke desa, bukan ke mal,” tegur Rahmat dingin.

“Pakaianmu tidak pantas.”

Kiara berhenti, menoleh perlahan, senyum tipis bukan senyum ramah tetapi menggantung di bibirnya.

“Pa, aku pakai apa yang nyaman buat aku,” jawabnya ringan namun menyengat.

“Papa nggak perlu protes. Sekarang aku kan sudah jadi istri orang.” Cibirannya jelas.

Rahmat menghela napas berat, namun tak berkata apa-apa lagi. Melati menatap putrinya dengan raut yang sulit dibaca, ia tahu Kiara masih marah, masih terluka karena dinikah paksa, tapi kali ini, ia memilih diam.

Melati melangkah mendekat, memeluk Kiara sebentar. Pelukan singkat, canggung, namun penuh harap.

“Hati-hati,” ucapnya lembut. “Kalau sudah sampai perbatasan desa, hubungi Alvar. Dia yang akan menjemput kamu.”

Kiara mengangguk kecil, tanpa melepas kacamata hitamnya. Tak ada janji, tak ada kata manis. Ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.

Mesin menyala, mobil bergerak meninggalkan halaman rumah besar itu.

Melati berdiri lama, menatap kepergian anak perempuannya hingga bayangan mobil menghilang di tikungan. Dalam diam, ia berdoa, semoga Kiara bisa belajar, dan semoga Alvar cukup sabar mengurus anaknya yang sulit diatur selama ini.

Di kursi belakang, Kiara menyandarkan kepala ke jendela. Jalanan Jakarta perlahan berganti, gedung-gedung tinggi menghilang satu per satu.

Mobil melaju melewati papan kayu bertuliskan Selamat Datang di Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor. Aspal mulai menyempit, berkelok tajam, naik-turun mengikuti kontur perbukitan. Pepohonan pinus berdiri rapat di kiri-kanan jalan, sebagian tertutup kabut tipis yang menggantung rendah.

“Pak,” ujar Kiara, memecah keheningan. “Antar saya langsung ke rumah Pak Kades saja.”

Sopir melirik lewat kaca spion. “Tuan Alvar bilang akan menjemput, Nona.”

“Saya nggak mau dijemput,” jawab Kiara cepat.

“Saya nggak kenal dia.”

Sopir terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia tak punya alasan untuk membantah.

Perjalanan memakan waktu lebih dari tiga jam. Tikungan demi tikungan membuat perut Kiara mual. Dia memejamkan mata sesaat, menahan rasa tak nyaman yang naik hingga tenggorokan. Namun, perlahan, rasa mual itu bercampur dengan sesuatu yang asing.

Udara di luar terasa begitu sejuk, dingin namun menenangkan. Kiara menurunkan kaca mobil. Angin gunung menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah, dedaunan, dan rumput liar. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap keluar dengan mata yang kini lebih jujur.

Hamparan sawah terbentang luas, hijau dan berundak seperti lukisan. Kebun teh mengular mengikuti bukit, sementara rumah-rumah kayu sederhana berdiri berjajar, berasap tipis dari dapur-dapur pagi. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, suara tawa mereka berpadu dengan kokok ayam dan gemericik air sungai kecil di kejauhan.

Mobil tiba-tiba melambat, lalu berhenti total.

“Kenapa berhenti, pak?” tanya Kiara ketus dari kursi belakang.

Sopir menoleh sedikit. “Ada orang berdiri di tengah jalan, Non.”

Kiara mendengus, dia membuka kaca jendela dan menyembulkan kepalanya ke luar. Di depan sana, tepat di jalan sempit desa, terlihat seorang pria berpakaian sederhana berdiri di samping motor tua. Ia mengenakan kaus polos yang sudah sedikit pudar, celana panjang gelap, dan topi sawah yang menutupi sebagian wajahnya.

Di sisinya, seorang gadis berambut dikuncir dua, mengenakan gaun panjang bermotif bunga, tampak memeluk lengan pria itu dengan manja. Entah kenapa, pemandangan itu membuat dada Kiara panas.

“Woi!” teriak Kiara lantang, suaranya memecah udara desa yang tenang.

“Kalau mau enak-enakan jangan di tengah jalan! Ganggu orang lewat tahu?! Minggir cepat!”

Sopir terkejut, beberapa warga yang berada tak jauh dari situ langsung menoleh.

Pria itu, Alvar yang terdiam sejenak, lalu dengan rahang mengeras meminggirkan motor butut milik Pak Kades Yono ke tepi jalan. Saat mobil mulai bergerak melewati mereka, angin menerpa wajah Kiara, rambutnya sedikit terangkat, menampilkan wajah cantiknya yang dingin dan penuh kesombongan.

Tatapan Kiara dan Alvar bertemu sesaat. Namun, alih-alih memalingkan wajah, Kiara justru mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah ke arah pria itu.

Mobil melaju pergi.

“Dasar orang kota sombong!” ketus Siti kesal, masih memeluk lengan Alvar.

Alvar menarik napas panjang.

“Siti, jangan begini. Nanti orang-orang salah paham.”

Siti mendongak. “Salah paham apa? Aku cuma—”

“Kamu tahu aku sudah menikah,” potong Alvar tegas.

“Kemarin.” Ucapan itu membuat pelukan Siti mengendur.

“Aku harus menjemput istriku di perbatasan,” lanjut Alvar.

“Tolong lepaskan.”

Siti tampak ingin membantah, namun ia tahu tatapan itu tatapan Alvar saat ia tidak suka dipaksa. Akhirnya, dengan berat hati, Siti melepaskan lengannya.

Alvar segera mengenakan helm, menyalakan mesin motor tuanya. Debu tipis terangkat saat ia melaju pergi, menuju perbatasan desa.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah berdinding krem dengan halaman luas dan rapi. Pagar kayu terbuka, pot bunga berjajar di teras. Sopir mematikan mesin lalu menoleh ke belakang.

“Ini rumah Pak Kades, Non. Kemarin saya antar orang tua Non ke sini,” ucapnya memastikan.

Kiara mengangguk singkat.

Begitu pintu mobil terbuka, Kiara turun dengan kacamata hitam masih melekat. Sopir segera menurunkan koper miliknya. Beberapa pasang mata warga sekitar mulai melirik bukan tanpa alasan. Celana jeans yang terlalu pendek dan atasan bertali satu itu jelas mencolok di tengah suasana desa yang sederhana.

Dari dalam rumah, Sulastri melangkah keluar. Ia terdiam sesaat melihat gadis muda cantik di depannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menebak.

“Kiara Valeska?” tanyanya hati-hati.

Kiara tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, Bu.”

Wajah Sulastri langsung berbinar. “Masya Allah, cantik sekali. Saya Sulastri. Istri Pak Kades Yono,” katanya ramah.

“Ibu Alvar.”

Sopir berpamitan singkat lalu pergi, meninggalkan Kiara berdiri dengan kopernya dan rasa asing yang makin menekan.

“Masuk, Nak,” ajak Sulastri lembut. “Alvar tadi pergi menjemput kamu. Ibu akan telepon supaya dia pulang.”

Kiara mengangguk dan mengikuti Sulastri masuk.

Ruang tamu rumah itu minimalis, bersih, dan tertata rapi. Tak ada kesan kumuh seperti yang Kiara bayangkan. Sofa sederhana tapi empuk, meja kayu mengilap, lantai bersih tanpa debu. Padahal rumah itu hanya dihuni oleh dua orang tua dan satu anak laki-laki.

Sulastri menyodorkan segelas teh. “Minum dulu. Perjalananmu pasti melelahkan.”

Kiara duduk, melepas kacamata hitamnya, lalu menerima gelas itu.

“Terima kasih, Bu.”

Sulastri duduk di seberangnya. “Kamu tahu kan … kemarin Bapak kamu yang jadi wali nikah?”

Kiara mengangguk. “Saya tahu, Bu.” Suaranya datar.

“Saya dipaksa. Tapi saya nggak bisa menolak. Saya menghargai keputusan orang tua saya.”

Sulastri menatap Kiara lama ada iba, ada harap. Belum sempat ia menjawab, terdengar suara motor berhenti di depan teras. Mesin dimatikan.

“Itu Alvar,” ucap Sulastri sambil berdiri. “Suami kamu sudah pulang.”

Satu kata itu membuat jantung Kiara berdegup kencang.

Pikiran Kiara langsung dipenuhi bayangan pria desa yang kumuh, berkulit gelap, berpenampilan dekil dan menjijikkan. Dia menelan ludah, lalu memalingkan wajah ke arah lain. Ia belum siap, belum sanggup melihatnya.

“Assalamu’alaikum.” Suara itu terdengar lembut dan tenang, entah kenapa, jantung Kiara justru berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

Kiara spontan menoleh, seorang pria berdiri tak jauh darinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Kulitnya bersih, bukan hitam seperti yang ia bayangkan. Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat, mata teduh, dan sorot yang tajam namun hangat. Kaus sederhana yang dikenakannya justru membuat kesan maskulin semakin jelas.

Topi sawah sudah dilepas, pria itu pria yang tadi ia maki di jalan.

“Kamu?!” Kiara refleks berdiri terlalu cepat.

Gelas teh di tangannya terguling. Cairan hangat tumpah mengenai kakinya.

“Aduh!” Kiara meringis, menahan perih.

“Kiara!” Sulastri panik.

Alvar terkejut dan langsung melangkah mendekat.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alvar sembari menyentuh kaki Kiara yang tertumpah teh. Bukannya, menjawab Kiara justru terpaku pada tatapan Alvar yang begitu dingin tetapi teduh.

Terpopuler

Comments

Albert Saman

Albert Saman

cerita ini agak unik , tapi mengasikkan. karna kisah yg sering terjadi kita jumpai di sekitar kita
lanjutkan 👍

2026-07-11

2

Nar Sih

Nar Sih

pasti kiara terpesona dgn suami yg bru di lihat nya ,ternyata beda dgn byangn nya 👍👍lanjut kakk🥰

2026-01-17

1

Lisna

Lisna

kaya cerita ftv tapi aku suka 😁😁 imajinasiku langsung bermain😄

2026-07-18

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!