Episode 4

Usai makan siang, Alvar mendapati dapur sudah kembali lengang. Hanya ada ibunya yang berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk mencuci piring-piring bekas makan mereka.

Ayahnya belum pulang dari kantor desa.

Alvar sempat membantu sebentar, lalu berniat keluar. Namun, langkahnya terhenti. Ia menoleh, wajahnya sedikit mengeras.

“Bu … anak kota yang manja itu ke mana?”

Sulastri langsung menoleh tajam. “Husss, kamu bilang apa sih, Alvar?” tegurnya. “Dia itu istrimu, perlakukan dia dengan baik.”

Alvar mendengus pelan. “Dia aja nggak ada sopan-sopannya sama aku, Bu.”

“Kamu yang harus banyak-banyak sabar, Var,” sahut Sulastri tanpa menoleh, suaranya tenang tapi tegas.

Belum sempat Alvar membalas, ponselnya bergetar di saku celana. Ia mengeluarkannya dan melihat layar. Alvar melirik ibunya sekilas sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo, Bu.”

[Alvar?] suara Melati terdengar cemas.

[Kiara sudah sampai, kan? Dari tadi saya telepon dia nggak diangkat.]

“Iya, Bu. Kiara sudah di sini.”

[Nak, Ibu mau bilang … obat alerginya Kiara tertinggal di rumah. Ibu lupa kasih ke dia,] ucap Melati tergesa.

[Dia alergi berat, jadi Ibu khawatir.]

Alvar mengernyit. “Alergi apa, Bu?”

[Alergi ikan tawar. Terutama ikan nila.]

Kalimat itu seperti hantaman keras di kepala Alvar.

Bayangan makan siang tadi terlintas cepat, ikan nila goreng besar di piring Kiara, caranya sempat ragu, lalu tetap makan meski jelas tidak nyaman.

“Bu … saya tutup dulu,” ucap Alvar singkat, lalu langsung memutus panggilan tanpa menunggu jawaban.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Alvar menoleh ke arah ibunya.

“Bu, Kiara ke mana?”

Sulastri terkejut melihat perubahan raut wajah anaknya.

“Tadi katanya mau istirahat. Mungkin di kamar.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvar langsung melangkah cepat meninggalkan dapur. Langkahnya panjang dan tergesa, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak ia akui cemas.

Ia membuka pintu kamar mereka tanpa mengetuk.

“Kiara—” Suara Alvar terhenti di tenggorokan.

Adegan di depan matanya membuat darahnya seolah berhenti mengalir.

Tubuh Kiara terkulai di atas ranjang. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Wajahnya tampak membengkak, terutama di sekitar mata dan bibir. Kulit putihnya kini dipenuhi bercak-bercak merah yang menyebar cepat hingga ke leher dan lengannya.

Alvar langsung masuk ke dalam kamar begitu melihat keadaan itu.

“Kiara!” suaranya meninggi, langkahnya tergesa mendekat.

“Kenapa kamu?”

Kiara membuka mata dengan susah payah. Suaranya lemah, hampir tak terdengar.

“Alergi ku … kambuh.”

Alvar menegang.

“Obatmu?”

Kiara menggeleng pelan, napasnya semakin berat.

“Aku lupa … masukin ke tas waktu berangkat tadi.”

Ucapan itu membuat Alvar terdiam sesaat. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Ingatannya kembali pada ucapan sinisnya saat makan siang, pada caranya mencibir makanan desa, pada tatapan kesal Kiara yang memilih diam dan menelan semuanya sendiri.

Tanpa berpikir panjang, Alvar langsung menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut Kiara dan satu lagi menopang punggungnya. Ia menggendong gadis itu dengan sigap.

“Pegang aku,” ucapnya tegas meski suaranya bergetar.

Pintu kamar terbuka lebar saat Alvar keluar membawa Kiara.

“Ya Allah!” Sulastri langsung menutup mulutnya, panik melihat kondisi menantunya. “Kenapa ini, Var?”

“Alerginya kambuh, Bu. Parah,” jawab Alvar singkat, wajahnya tegang.

Saat mereka sampai di ruang tengah, pintu depan terbuka. Yono baru saja masuk, tubuhnya sedikit pincang, bertumpu pada tongkat karena kakinya belum pulih sepenuhnya.

“Ada apa ini?” tanya Yono kaget melihat Alvar menggendong Kiara yang tampak semakin lemah.

“Kita harus ke puskesmas sekarang, Pak,” ujar Alvar cepat.

“Kiara butuh pertolongan.”

Tanpa menunggu respon lebih lama, Alvar menoleh tajam ke arah ayahnya.

“Pak, kunci mobil.”

Yono tak banyak bicara. Ia segera merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci mobil ke tangan Alvar.

“Bawa pelan-pelan, Var. Hati-hati,” pesan Yono.

Alvar mengangguk singkat, lalu melangkah cepat menuju halaman. Tangannya mencengkeram tubuh Kiara lebih erat, seolah takut gadis itu semakin menjauh darinya.

Di dalam dadanya, hanya ada satu pikiran yang berputar tanpa henti, Kiara tidak boleh kenapa-kenapa.

Begitu mobil berhenti di depan puskesmas Desa Tugu Utara, Alvar langsung membuka pintu dan turun lebih dulu. Tanpa menunggu siapa pun, ia menggendong Kiara keluar dari mobil. Wajah gadis itu semakin pucat, bibirnya tampak membiru, sementara bercak merah di kulitnya belum juga memudar.

“Dok!” teriak salah satu perawat begitu melihat kondisi Kiara.

Beberapa perawat dan seorang dokter umum segera keluar. Tatapan mereka serempak tertuju pada Alvar. Hampir semua orang di puskesmas itu mengenalnya, anak Pak Kades Yono, sekaligus dokter obgyn yang sempat menghebohkan desa karena menolak bekerja di puskesmas sendiri.

“Mas Alvar?” salah satu perawat terkejut.

“Ini kenapa?”

“Alergi berat,” jawab Alvar cepat, langkahnya tidak berhenti.

“Butuh penanganan sekarang.”

Tanpa banyak tanya, perawat itu langsung membuka pintu ruang pemeriksaan.

“Bawa ke sini, Mas.”

Alvar masuk dan meletakkan Kiara perlahan di atas ranjang periksa. Tangannya masih gemetar, dadanya naik turun tak teratur.

Dokter umum mendekat, mulai memeriksa tekanan darah dan pernapasan Kiara.

“Alergi apa?”

“Ikan tawar, nila,” jawab Alvar tanpa ragu.

Perawat menoleh cepat.

“Kami siapkan injeksi antihistamin dan oksigen.”

Alvar mengangguk. “Cepat.”

Saat masker oksigen dipasang di wajah Kiara, Alvar berdiri di sisi ranjang, matanya tak lepas dari wajah pucat itu. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras menahan emosi.

“Bertahan, Kiara,” gumamnya pelan, nyaris seperti doa.

“Jangan berani-berani kenapa-kenapa.”

Di luar ruang pemeriksaan, suara langkah kaki terdengar ramai. Beberapa warga berbisik-bisik, penasaran. Bagi mereka, ini pemandangan langka, melihat Alvar yang selalu tenang, kini tampak begitu panik dan kehilangan kendali.

'Bodoh, kamu Var!' gumam Alvar dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Nah kan, gara² nekad makan Ikannya Kamu jadi ngerasain sakitnya dan yang repot dan khawatir Alvar dan keluarganya juga Kiara.. lain kali bilang jangan gedein ego.

2026-08-02

0

Nar Sih

Nar Sih

semoga alergi mu sgra sembuh y kiara ,dan tenang kan hti mu suami mu pasti bantu atasi alergi mu

2026-01-18

0

Eskael Evol

Eskael Evol

bang Alvar juga gak punya kesabaran lihatlah bu Sulastri yg sabar bikin Kiara hormat

2026-04-29

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!