Episode 3

Beberapa menit setelah kejadian itu, Bu Sulastri kembali ke ruang tamu membawa kotak P3K kecil.

“Kiara, naikkan kakimu ke atas sofa,” ucapnya lembut namun tegas.

“Biar Alvar obati dulu. Nanti bisa melepuh kalau dibiarkan.”

Kiara ragu, tatapannya beralih pada Alvar yang duduk di seberangnya. Pria itu tak berkata apa-apa, wajahnya datar, sorot matanya dingin namun penuh kendali tatapan yang membuat Kiara justru tak berani membantah.

Pelan-pelan, Kiara menaikkan kakinya ke atas sofa.

Alvar duduk di hadapannya, membawa kain kompres basah dan salep. Saat pandangannya turun, ia langsung menghela napas pelan dan menelan ludahnya sendiri. Celana pendek Kiara membuat kakinya terlihat jenjang dan putih bersih kontras mencolok dengan suasana desa.

Tangannya bekerja cekatan, profesional. Ia membersihkan area kulit yang memerah, mengompresnya dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, nyaris tanpa tekanan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Keheningan itu justru membuat Kiara gelisah.

Ia mencuri pandang, melihat wajah Alvar dari jarak sedekat itu. Rahangnya tegas, alisnya rapi, ekspresinya terkunci. Tak ada kesan pria kampung dekil seperti yang ia bayangkan. Dan itu entah kenapa membuat dadanya terasa aneh.

“Sudah,” ucap Alvar akhirnya singkat.

“Jangan kena air dulu.”

Kiara mengangguk kecil. “Makasih,” jawabnya pelan, jauh dari nada sinisnya tadi.

Bu Sulastri tersenyum lega. “Bagus, sekarang kamu istirahat saja di kamar. Alvar, antar Kiara, ya. Ibu siapkan makan siang.”

Alvar berdiri. “Ayo.”

Kiara turun dari sofa, berdiri dengan sedikit canggung. Ia mengangkat kopernya, lalu mengikuti Alvar yang berjalan lebih dulu menuju lorong samping rumah.

Langkah mereka berdampingan, namun jaraknya terasa jauh. Tak ada percakapan. Hanya suara langkah kaki dan perasaan asing yang sama-sama mereka pendam.

Di balik ketenangannya, Alvar menahan satu pikiran yang terus mengganggu,

'Wanita kota ini akan menguji kesabaranku.

Alvar berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat muda. Ia membukanya, memberi jalan bagi Kiara untuk masuk lebih dulu.

“Ini kamar kita,” ucapnya singkat.

Kamar itu sederhana tak besar, tak mewah namun bersih dan tertata rapi. Ranjang kayu berukuran sedang dengan seprai bersih, lemari pakaian kecil, meja rias sederhana, dan satu jendela yang menghadap ke kebun belakang. Udara masuk bebas, membawa aroma tanah dan daun basah.

Kiara menatap sekeliling. Tak seburuk yang ia bayangkan., bahkan cukup nyaman. Namun, satu hal membuat dadanya menegang.

“Terus … kamu tidur di mana?” tanyanya akhirnya, menyilangkan tangan di dada.

Alvar menoleh. “Di sini.”

“Apa?” Kiara membelalak.

“Maksud kamu?”

“Kita satu kamar,” jawab Alvar datar.

“Kamu istriku.”

Nada itu membuat darah Kiara langsung naik ke kepala.

“Enak saja!” Kiara membentak. “Kamu pikir aku mau satu kamar sama orang yang bahkan nggak aku kenal? Ini keterlaluan!”

Sikap bar-bar dan arogannya muncul tanpa saringan. Alvar menghela napas, kali ini lebih dalam. Namun suaranya tetap terkendali. “Suka atau tidak, kita satu kamar. Mau atau tidak, kita tinggal satu kamar.”

Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.

“Kamu tukang maksa!” Kiara menunjuk dada Alvar.

“Aku nggak mau tinggal di desa ini! Aku nggak mau hidup kayak gini!”

Alvar menatapnya tajam. “Dan gadis kota seperti kamu memang sulit diatur,” balasnya dingin.

“Manja dan egois.”

Kepala Alvar berdenyut, kesabarannya menipis. Ketukan pintu tiba-tiba terdengar, memotong ketegangan.

“Alvar?” suara Sulastri terdengar dari luar. “Makan siang sudah siap.”

Alvar mengalihkan pandangan dari Kiara. “Keluar, kita makan,” katanya singkat dan dingin, lalu melangkah pergi lebih dulu tanpa menunggu jawaban.

Begitu sampai di ruang makan, Sulastri langsung menyadari wajah anaknya yang kusut.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Alvar menarik kursi, duduk, lalu menghela napas.

“Aku nggak yakin bisa tinggal serumah dengan Kiara, Bu. Dia sulit diatur. Gadis kota … pasti nggak akan betah di desa.”

Sulastri menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Sabar, Var. Sekarang dia istrimu. Bukan tamu.”

Belum sempat Alvar menjawab, Kiara keluar dari kamar. Langkahnya anggun, wajahnya tenang berbeda jauh dari sikapnya tadi.

Alvar dan Sulastri sama-sama terdiam.

Sulastri segera berdiri.

“Ayo, Kiara. Duduk sini, ibu masak sayur asem dan ikan goreng.”

Kiara tersenyum manis. “Terima kasih, Bu.”

Ia duduk, membantu Sulastri menata piring, bahkan bertanya kecil soal masakan. Nada suaranya lembut, sikapnya sopan dan nyaris tak tersisa jejak gadis bar-bar tadi.

Alvar memperhatikan dari kejauhan, diam-diam terkejut. Rumah ini sudah lama sepi. Dan baru setengah hari Kiara ada di sini, ibunya sudah terlihat begitu menyukainya.

Sudut bibir Alvar terangkat tipis.

Kiara menatap piring di depannya. Seekor ikan nila goreng berukuran besar terletak rapi di atas nasi hangat, sambal dan lalapan di sampingnya. Aromanya gurih, menggoda namun justru membuat dada Kiara menegang.

Dadanya terasa tidak nyaman hanya dengan mengingatnya. Sejak kecil, ia alergi ikan tawar, terutama nila. Kulitnya bisa gatal, tenggorokannya terasa sesak jika tak segera minum obat.

“Kenapa, Sayang?” tanya Sulastri lembut, menyadari Kiara hanya diam menatap piringnya.

“Kurang selera?”

Belum sempat Kiara menjawab, Alvar menyandarkan punggungnya ke kursi, suaranya terdengar datar namun menusuk.

“Masakan Ibu pasti nggak cocok di lidahnya,” ucapnya.

“Biasanya makan burger sama pizza. Mana cocok makanan desa.” Ucapan itu seperti tamparan halus.

Kiara menoleh tajam ke arah Alvar. Matanya menyala kesal. Ada banyak hal yang ingin ia bantah namun gengsinya lebih dulu berbicara.

Tanpa berkata apa-apa, Kiara mengambil sendok dan garpu. Ia menyobek sedikit daging ikan nila itu, lalu memasukkannya ke mulut.

'Tidak apa-apa,' gumamnya dalam hati.

'Nanti minum obat saja.'

Ia teringat obat alerginya yang selalu ia bawa di tas.

Sulastri tersenyum lega melihat Kiara mulai makan.

“Enak, kan?”

Kiara mengangguk pelan, memaksakan senyum.

“Enak, Bu.”

Alvar memperhatikannya sekilas sekadar sekilas lalu kembali fokus pada makanannya. Ia tak tahu, dan Kiara tak berniat memberi tahu. Karena bagi Kiara Valeska, mengakui kelemahan di depan pria itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

Terpopuler

Comments

Naufal Affiq

Naufal Affiq

banyak - banyak istigfar alvaro menghadapi istrimu,karena dia belum terbiasa tinggal di desa dan dia juga alergi makan air tawar,jadi kamu harus paham di situ

2026-01-18

2

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Kiara sok iyes, padahal apa salahnya Ngaku kalau punya alergi dengan makanan tertentu... karna kalau terjadi yang di salahin maka sang tuan rumah sama keluargaMu, itu beda sama dengan mengakui lemah.

2026-08-02

0

Deera__

Deera__

wlau memang iya kenyataannya.. tapi kenalan dulu, pendekatan ngobrol ringan ma istri barumu dulu.. tak kenal makanya tak sayang, tak sayang makanya tak cinta.. tak tak botak .. boleh kah aku menjitak .. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2026-08-07

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!