Langkah Menembus Kabut Emas

Matahari perak Sembilan Surga mulai turun, namun alih-alih menggelap, langit Surga Hampa justru berubah menjadi lautan kabut emas yang bercahaya. Ini bukan kabut air biasa; ini adalah residu Esensi Dewa yang menguap dari sungai-sungai cahaya di kejauhan. Keindahannya mematikan, karena setiap partikel kabut membawa tekanan yang mampu mencekik meridian siapa pun yang tidak memiliki fondasi yang cukup kuat.

Chen Kai berdiri perlahan dari altar batu di tengah Reruntuhan Kuil Hening. Bangkai kadal kristal di depannya mulai memudar, terurai kembali menjadi partikel debu ungu yang segera tertiup angin. Di dunia ini, segala sesuatu yang mati akan segera diklaim kembali oleh hukum alam yang haus.

Ia menggerakkan bahunya, mendengarkan suara gemeretak tulang yang kini terdengar lebih padat, menyerupai dentingan logam yang saling beradu.

"Bagaimana rasanya, Nak?" suara Kaisar Yao bergema dari dalam Mutiara Hitam, nadanya kini lebih tenang namun tetap waspada. "Satu tetes Esensi Dewa memang sedikit, tapi ia telah menjahit kembali keretakan jiwamu akibat beban sepuluh ribu nyawa di gerbang tadi."

"Berat, Guru," jawab Chen Kai dalam batin. "Setiap langkah terasa seperti aku sedang memikul takdir seluruh benua di bawah sana. Tapi... aku merasa lebih 'nyata'. Qi dunia bawah dulu terasa seperti asap, sekarang aku merasa tubuhku terbuat dari gunung."

"Itulah perbedaan antara Fana dan Dewa," Yao terkekeh. "Tapi jangan sombong. Kau baru saja belajar merangkak. Kota Awan Putih yang disebutkan pria misterius itu... perjalanannya tidak akan mudah. Kau harus melewati 'Lembah Angin Mati' sebelum bisa mencapai pemukiman terdekat."

Chen Kai memungut bungkusan pedangnya. Ia menatap ke arah utara, di mana kabut emas tampak lebih tebal, menyembunyikan puncak-pilar kristal yang menjulang ke angkasa.

"Tetua Bayangan itu memberiku tiga hari," gumam Chen Kai, mengingat kembali pertemuannya. "Kristal Penyeimbang ini hanya bantuan sementara. Aku harus mencapai kemandirian sirkulasi sebelum efeknya habis."

Ia mulai melangkah keluar dari pelataran reruntuhan. Setiap kali kakinya menyentuh lantai marmer transparan, muncul riak energi kecil. Ini adalah pemborosan energi yang harus ia tekan; di Sembilan Surga, efisiensi adalah kunci kelangsungan hidup.

Baru beberapa ratus meter meninggalkan kuil, Chen Kai berhenti. Indra spasialnya—yang kini terintegrasi dengan fragmen Ruang dan gravitasi—menangkap gangguan di balik kabut emas di depannya.

Sret... sret...

Bukan suara binatang. Itu adalah suara kain yang terseret di atas rumput cahaya.

Dari balik kabut, muncul sesosok manusia. Pria itu mengenakan jubah abu-abu yang compang-camping, wajahnya pucat dengan garis-garis biru di lehernya—tanda dari keracunan Esensi Dewa yang tidak dimurnikan. Ia membawa keranjang anyaman yang berisi beberapa kepingan kristal kusam.

Pria itu terhenti saat melihat Chen Kai. Matanya yang cekung membelalak ngeri melihat jubah Chen Kai yang, meskipun kotor, masih memancarkan aura kemegahan seorang penguasa dunia bawah.

"P-pendaki...?" pria itu terbata-bata, suaranya parau. "Kau... kau baru saja naik?"

Chen Kai tidak menurunkan kewaspadaannya. "Siapa kau?"

"Namaku Ah-Gou," pria itu segera menjatuhkan keranjangnya dan bersujud di atas tanah kristal yang tajam. "Hamba hanyalah 'Pencari Sisa' di lembah ini. Tolong, Tuan... jangan bunuh hamba. Hamba tidak memiliki apa pun kecuali beberapa keping Pasir Dao ini."

Chen Kai mengernyit. "Berdiri. Aku tidak tertarik pada sampahmu."

Ah-Gou mendongak, gemetar. Ia melihat rambut perak Chen Kai dan mata dengan lingkaran emas yang redup. Ketakutannya berubah menjadi takjub. "Tuan... Anda selamat dari penyeberangan dengan raga utuh? Rambut itu... Anda pasti seorang penguasa di bawah sana."

"Dunia bawah sudah lewat," kata Chen Kai dingin. "Katakan padaku, ke arah mana Kota Awan Putih?"

"Awan Putih?" Ah-Gou menelan ludah. "Tuan, itu adalah kota para bangsawan dewa! Perjalanan ke sana memakan waktu berbulan-bulan bagi orang seperti hamba. Anda harus melewati 'Pos Penjagaan Sayap' jika ingin masuk melalui jalur resmi."

"Tanya dia tentang Jaring Takdir," bisik Yao tiba-tiba.

"Apa kau pernah mendengar tentang 'Jaring Takdir' di langit kota?" tanya Chen Kai.

Ah-Gou gemetar hebat mendengar nama itu. "Tuan... tolong jangan bicara keras-keras tentang itu! Jaring itu adalah mata para Kaisar Agung. Siapa pun yang memiliki aura yang 'salah' akan langsung dijemput oleh Pembersih Langit."

Ia mendekat sedikit, suaranya menjadi bisikan. "Jika Tuan ingin ke Awan Putih tanpa terdeteksi, Tuan harus memiliki Cincin Penyamar Esensi. Para penyelundup di 'Pasar Debu' biasanya menjualnya. Pasar itu terletak di gua-gua di bawah Lembah Angin Mati."

Chen Kai mencatat informasi itu. Sesuai dengan rencana miliknya, ia tidak bisa langsung menyerbu ke pusat kekuatan. Ia harus membangun fondasi di tempat-tempat tersembunyi seperti Pasar Debu tersebut.

"Bawa aku ke arah Lembah Angin Mati," perintah Chen Kai. "Jika kau jujur, aku akan memberimu perlindungan selama perjalanan."

Ah-Gou tampak ragu, menatap tubuh Chen Kai yang tampak kurus. Namun, ia teringat bagaimana para Pendaki baru biasanya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa meskipun meridian mereka hancur.

"Baik, Tuan... tapi kita harus bergerak sebelum 'Angin Merah' bertiup. Di malam hari, esensi di udara menjadi sangat tajam hingga bisa memotong paru-paru manusia."

Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan kaca yang berdenting ditiup angin. Chen Kai memperhatikan bagaimana Ah-Gou berjalan; pria itu tidak melawan gravitasi, melainkan 'menyerah' padanya, membiarkan setiap langkahnya jatuh dengan berat namun stabil.

"Pelajari cara geraknya, Chen Kai," saran Yao. "Manusia ini telah hidup di sini selama bertahun-tahun. Dia mungkin lemah, tapi dia tahu cara bernapas selaras dengan denyut Surga Hampa."

Chen Kai mulai meniru pola napas Ah-Gou. Ia menarik napas dalam tiga hitungan pendek dan menghembuskannya dalam satu hitungan panjang yang lambat.

Perlahan, rasa terbakar di paru-parunya mereda. Tekanan atmosfer yang tadinya terasa seperti musuh, kini mulai terasa seperti pelindung yang membungkus kulitnya.

Langkah sang Raja Hitam kini lebih mantap. Chen Kai tahu, perjalanannya ke Kota Awan Putih bukan sekadar mencari keamanan, melainkan langkah pertama untuk menarik perhatian dunia pada keberadaan takhta yang telah lama hilang.

Dunia dewa mungkin indah, namun di bawah permukaan emasnya, Chen Kai bisa merasakan kegelapan yang sangat akrab—kegelapan yang menantinya untuk ditaklukkan.

Terpopuler

Comments

Agung Nugroho

Agung Nugroho

Perjuangan yang sangat berat dan panjang bagi Kai....

2026-01-26

1

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

perkuat dulu chen fondasi kultivasimu,untuk persiapan menghadapi para dewa....

2026-03-06

0

Sadriyah Yayah

Sadriyah Yayah

mungkin musuhnya sekarang sudah setara otsutsuki

2026-03-10

0

lihat semua
Episodes
1 Gema di Reruntuhan
2 Penempaan Esensi Pertama
3 Langkah Menembus Kabut Emas
4 Labirin Angin Merah
5 Kerakusan di Meja Pertaruhan
6 Gema Kekosongan
7 Jalan Setapak di Atas Awan
8 Gerbang Bayangan
9 Rahasia di Balik Tirai Asap
10 Pusaran Maut
11 Pemetikan di Atas Pusara Bintang
12 Jejak Kaki di Atas Awan
13 Gang Kabut Hitam
14 Keadilan di Ujung Kuali
15 Undangan Berdarah
16 Jejak di Menara Kuali
17 Pil yang Mengguncang Awan
18 Ujian di Balik Tabir Perak
19 Cahaya di Puncak Kuali
20 Pecahnya Segel Tahap Menengah
21 Pelarian di Bawah Sinar Rembulan
22 Prahara di Lembah Purba
23 Resonansi di Lembah Api Purba
24 Bentrokan Hukum di Kedalaman Hampa
25 Fragmen Keenam
26 Dominasi Sang Raja
27 Jantung Awan
28 Jantung Alkimia
29 Badai Bintang
30 Gema Pembalasan
31 Menembus Tirai Langit
32 Badai Perak di Surga Kedua
33 Rahasia Istana Hampa
34 Kavaleri Cahaya
35 Tahta Terlupakan di Jantung Cermin
36 Bentrokan
37 Kehancuran
38 Debu di Wilayah Abu
39 Pemukiman di Bawah Bayang-Bayang
40 Rahasia
41 Gema dari Masa Lalu
42 Kehancuran di Ambang Abu
43 Runtuhnya Menara Takdir
44 Tirai Kabut yang Mengiris Jiwa
45 Penaklukan Bayangan Masa Lalu
46 Alunan Seruling Penggetar Jiwa
47 Bayangan Kaisar
48 Melintasi Cakrawala
49 Kota Karang Abadi
50 Menembus Jaring Cahaya
51 Nyanyian Bawah Laut
52 Tahta Safir dan Jantung yang Bergetar
53 Pemurnian di Kedalaman Safir
54 Jantung Arus
55 Arus yang Menelan Bayangan
56 Penyatuan Sempurna Raga Dewa
57 Aliansi di Kedalaman Biru
58 Hutan Logam
59 Api Dingin
60 Rahasia Penempaan
61 Benteng di Atas Nadir
62 Peleburan Raksasa
63 Kelahiran Kembali Benih Semesta
64 Langit yang Terbakar
65 Gua Kristal Waktu
66 Pertahanan di Mulut Gua
67 Langit Perak yang Retak
68 Abu di Atas Nadir Besi
69 Bahtera Penempa Takdir
70 Di Atas Magma
71 Pasar Budak Api
72 Putri Api yang Terbuang
73 Tantangan di Gerbang Palu Api
74 Cetak Biru Pembunuh Matahari
75 Matahari
76 Duel di Jantung Bintang
77 Sisa Hangus
78 Pasar Malam Teluk Bara
79 Cerita Lama
80 Menyelam ke Dalam Hening
81 Gurun Abu
82 Kota di Bawah Tulang
83 Akar yang Menangis
84 Gema yang Terjebak di Dalam Kristal
85 Lautan Abu yang Bergerak
86 Lembah Api Senyap
87 Kehendak Pedang
88 Guntur di Tanah Hening
89 Simfoni Pedang Patah
90 Penghakiman Logam yang Hening
91 Gema Sang Penempa
92 Tembok Darah dan Debu
93 Labirin Pedang
94 Pertaruhan Terakhir
95 Reaksi Balik Inti
96 Penghakiman di Langit Abu
97 Kehancuran yang Melayang
98 Jantung Kapal
99 Kendali di Ambang Kehancuran
100 Unit Penelan Bintang
101 Penyatuan Benteng Langit
102 Guntur di Langit Hampa
103 Penemuan Mengejutkan
104 Menembus Batas Zamrud
105 Badai Serangga
106 Jantung di Balik Akar
107 Tebasan Pemutus Rantai
108 Badai di Langit Zamrud
109 Arus Pemutus Dimensi
110 Ujian Hati yang Jernih
111 Kota Cahaya yang Tenggelam
112 Penyelaman
113 Segel Kematian
114 Gema Takdir di Jantung Safir
115 Perang di Bawah Arus
116 Benturan di Cakrawala Safir
117 Aliran Pemutus Nalar
118 Memori di Balik Darah Emas
119 Badai di Celah Arus Tak Bernyawa
120 Tebasan yang Memakan Takdir
121 Labirin Takdir
122 Cermin Masa Lalu yang Bercabang
123 Jaring Takdir yang Terkoyak
124 Runtuhnya Altar
125 Kota Giok Putih
126 Keributan di Kedai Awan
127 Undangan di Balik Kabut
128 Gemuruh di Arena Cahaya
129 Racun di Balik Niat Pedang
130 Perjamuan di Bawah Cahaya Abadi
131 Darah di Lorong Giok
132 Harga Sebuah Kenaifan
133 Tarian Bayangan di Ujung Maut
134 Belenggu di Balik Sembuh
135 Dialog di Antara Harum dan Hampa
136 Perjamuan Rahasia
137 Final di Bawah Bayang-Bayang
138 Taman Abu
139 Perburuan di Tengah Badai Abu
140 Labirin dari Harapan yang Musnah
141 Nadi Pembuangan Para Dewa
142 Mengukir Jalur Kematian
143 Kedatangan Hakim Agung
144 Mengukir Ulang
145 Hati yang Kosong
146 Api Karma
147 Langit Tanpa Batas
148 Kejatuhan Bintang
149 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Gema di Reruntuhan
2
Penempaan Esensi Pertama
3
Langkah Menembus Kabut Emas
4
Labirin Angin Merah
5
Kerakusan di Meja Pertaruhan
6
Gema Kekosongan
7
Jalan Setapak di Atas Awan
8
Gerbang Bayangan
9
Rahasia di Balik Tirai Asap
10
Pusaran Maut
11
Pemetikan di Atas Pusara Bintang
12
Jejak Kaki di Atas Awan
13
Gang Kabut Hitam
14
Keadilan di Ujung Kuali
15
Undangan Berdarah
16
Jejak di Menara Kuali
17
Pil yang Mengguncang Awan
18
Ujian di Balik Tabir Perak
19
Cahaya di Puncak Kuali
20
Pecahnya Segel Tahap Menengah
21
Pelarian di Bawah Sinar Rembulan
22
Prahara di Lembah Purba
23
Resonansi di Lembah Api Purba
24
Bentrokan Hukum di Kedalaman Hampa
25
Fragmen Keenam
26
Dominasi Sang Raja
27
Jantung Awan
28
Jantung Alkimia
29
Badai Bintang
30
Gema Pembalasan
31
Menembus Tirai Langit
32
Badai Perak di Surga Kedua
33
Rahasia Istana Hampa
34
Kavaleri Cahaya
35
Tahta Terlupakan di Jantung Cermin
36
Bentrokan
37
Kehancuran
38
Debu di Wilayah Abu
39
Pemukiman di Bawah Bayang-Bayang
40
Rahasia
41
Gema dari Masa Lalu
42
Kehancuran di Ambang Abu
43
Runtuhnya Menara Takdir
44
Tirai Kabut yang Mengiris Jiwa
45
Penaklukan Bayangan Masa Lalu
46
Alunan Seruling Penggetar Jiwa
47
Bayangan Kaisar
48
Melintasi Cakrawala
49
Kota Karang Abadi
50
Menembus Jaring Cahaya
51
Nyanyian Bawah Laut
52
Tahta Safir dan Jantung yang Bergetar
53
Pemurnian di Kedalaman Safir
54
Jantung Arus
55
Arus yang Menelan Bayangan
56
Penyatuan Sempurna Raga Dewa
57
Aliansi di Kedalaman Biru
58
Hutan Logam
59
Api Dingin
60
Rahasia Penempaan
61
Benteng di Atas Nadir
62
Peleburan Raksasa
63
Kelahiran Kembali Benih Semesta
64
Langit yang Terbakar
65
Gua Kristal Waktu
66
Pertahanan di Mulut Gua
67
Langit Perak yang Retak
68
Abu di Atas Nadir Besi
69
Bahtera Penempa Takdir
70
Di Atas Magma
71
Pasar Budak Api
72
Putri Api yang Terbuang
73
Tantangan di Gerbang Palu Api
74
Cetak Biru Pembunuh Matahari
75
Matahari
76
Duel di Jantung Bintang
77
Sisa Hangus
78
Pasar Malam Teluk Bara
79
Cerita Lama
80
Menyelam ke Dalam Hening
81
Gurun Abu
82
Kota di Bawah Tulang
83
Akar yang Menangis
84
Gema yang Terjebak di Dalam Kristal
85
Lautan Abu yang Bergerak
86
Lembah Api Senyap
87
Kehendak Pedang
88
Guntur di Tanah Hening
89
Simfoni Pedang Patah
90
Penghakiman Logam yang Hening
91
Gema Sang Penempa
92
Tembok Darah dan Debu
93
Labirin Pedang
94
Pertaruhan Terakhir
95
Reaksi Balik Inti
96
Penghakiman di Langit Abu
97
Kehancuran yang Melayang
98
Jantung Kapal
99
Kendali di Ambang Kehancuran
100
Unit Penelan Bintang
101
Penyatuan Benteng Langit
102
Guntur di Langit Hampa
103
Penemuan Mengejutkan
104
Menembus Batas Zamrud
105
Badai Serangga
106
Jantung di Balik Akar
107
Tebasan Pemutus Rantai
108
Badai di Langit Zamrud
109
Arus Pemutus Dimensi
110
Ujian Hati yang Jernih
111
Kota Cahaya yang Tenggelam
112
Penyelaman
113
Segel Kematian
114
Gema Takdir di Jantung Safir
115
Perang di Bawah Arus
116
Benturan di Cakrawala Safir
117
Aliran Pemutus Nalar
118
Memori di Balik Darah Emas
119
Badai di Celah Arus Tak Bernyawa
120
Tebasan yang Memakan Takdir
121
Labirin Takdir
122
Cermin Masa Lalu yang Bercabang
123
Jaring Takdir yang Terkoyak
124
Runtuhnya Altar
125
Kota Giok Putih
126
Keributan di Kedai Awan
127
Undangan di Balik Kabut
128
Gemuruh di Arena Cahaya
129
Racun di Balik Niat Pedang
130
Perjamuan di Bawah Cahaya Abadi
131
Darah di Lorong Giok
132
Harga Sebuah Kenaifan
133
Tarian Bayangan di Ujung Maut
134
Belenggu di Balik Sembuh
135
Dialog di Antara Harum dan Hampa
136
Perjamuan Rahasia
137
Final di Bawah Bayang-Bayang
138
Taman Abu
139
Perburuan di Tengah Badai Abu
140
Labirin dari Harapan yang Musnah
141
Nadi Pembuangan Para Dewa
142
Mengukir Jalur Kematian
143
Kedatangan Hakim Agung
144
Mengukir Ulang
145
Hati yang Kosong
146
Api Karma
147
Langit Tanpa Batas
148
Kejatuhan Bintang
149
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!