Labirin Angin Merah

Udara di depan mereka mulai bergetar, namun bukan karena panas, melainkan karena densitas energi yang melonjak secara tidak stabil. Langit yang tadinya tenang perlahan ternoda oleh garis-garis kemerahan, seolah-olah ada raksasa yang baru saja menggoreskan luka berdarah di atas kanvas surga.

"Cepat, Tuan! Angin Merah sudah bangun!" teriak Ah-Gou dengan nada panik yang tak dibuat-buat.

Pria kurus itu berlari dengan gerakan aneh—merunduk rendah seolah-olah ia sedang merangkak di udara. Chen Kai mengikuti di belakangnya. Meski tubuhnya terasa seberat timah, ia memaksa setiap inci ototnya untuk selaras dengan ritme pernapasan yang baru saja ia tiru dari Ah-Gou.

WUSH!

Embusan angin pertama menghantam tebing-tebing kristal di sekitar mereka. Suaranya bukan desau, melainkan jeritan logam yang saling bergesekan. Saat angin itu menyentuh pepohonan kaca, daun-daun kristalnya tidak jatuh, melainkan langsung hancur menjadi debu halus.

"Ini bukan angin biasa," gumam Chen Kai. Ia merasakan kulitnya perih, seolah-olah jutaan jarum mikroskopis sedang mencoba menembus pertahanan tubuhnya.

"Tentu saja bukan," suara Kaisar Yao bergema di dalam batin Chen Kai, tajam dan penuh peringatan. "Itu adalah Esensi Korosi yang terlepas dari retakan hampa di bawah benua ini. Di Surga Pertama, hukum alamnya masih rapuh. Angin ini akan memakan Qi dunia bawahmu seolah-olah itu adalah makanan lezat. Jangan biarkan ia menyentuh meridian utamamu!"

Chen Kai segera memadatkan Esensi Dewa yang baru saja ia murnikan sebanyak lima persen itu ke permukaan kulitnya. Cahaya hitam-perak tipis menyelimuti tubuhnya, bertindak sebagai perisai. Setiap kali Angin Merah menghantam perisainya, Chen Kai merasakan guncangan hebat di jiwanya.

Ah-Gou membelok tajam ke arah celah sempit di bawah sebuah bongkahan batu kristal yang menonjol. Di sana, terdapat sebuah lubang yang menuju ke kedalaman bumi, ditutupi oleh tirai yang terbuat dari jalinan akar pohon esensi yang layu.

"Masuk, Tuan! Sekarang!"

Mereka berdua meluncur ke dalam lubang tepat saat gelombang utama Angin Merah menyapu permukaan tanah di atas mereka. Suara gemuruh di luar terdengar seperti ribuan genderang perang yang ditabuh serentak, menggetarkan dinding-dinding lorong bawah tanah yang mereka masuki.

Chen Kai mendarat dengan stabil, sementara Ah-Gou terjatuh berguling-guling sebelum akhirnya merosot lemas di lantai tanah yang dingin.

"Aman... kita aman untuk saat ini," napas Ah-Gou tersengal, dadanya naik turun dengan liar.

Chen Kai mengabaikan rasa lelahnya sendiri dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Lorong ini luas, diterangi oleh jamur-jamur pendar yang tumbuh di sela-sela batu. Aroma udara di sini berbeda; pengap, berbau keringat, namun memiliki kepadatan energi yang lebih stabil dibandingkan permukaan.

Saat mereka berjalan lebih dalam, lorong itu membuka ke arah sebuah ruang raksasa yang menyerupai kawah bawah tanah. Di sana, ratusan gubuk kecil yang dibangun dari sisa-sisa logam dewa dan kulit binatang terbang berjejer tanpa aturan.

Inilah Pasar Debu.

Tempat ini adalah rumah bagi para pelarian, Pendaki yang hancur, dan dewa-dewa kasta rendah yang dibuang oleh kota-kota besar di atas sana. Tidak ada kemegahan Sembilan Surga di sini. Yang ada hanyalah wajah-wajah kuyu yang dipenuhi oleh debu kristal dan mata yang waspada.

"Tuan," Ah-Gou mendekat, suaranya kini kembali menjadi bisikan pelan. "Di sini, aturan utamanya adalah: jangan menonjol. Para penjaga dari klan penguasa jarang turun ke sini, tapi 'Tikus-Tikus Penagih' selalu mencari mangsa baru."

Chen Kai menarik tudung jubahnya lebih dalam, menutupi rambut peraknya. "Bawa aku ke tempat penjual Cincin Penyamar Esensi."

Mereka melewati barisan lapak yang menjual barang-barang aneh: sisa-sisa tulang binatang dewa, botol-botol berisi cairan bercahaya yang tampak keruh, hingga senjata-senjata patah yang masih memancarkan aura tajam.

Tiba-tiba, langkah mereka terhenti oleh sekelompok pria bertubuh kekar yang mengenakan zirah kulit bersisik hitam. Pemimpin mereka, seorang pria dengan parut besar di wajahnya, memegang sebuah gada yang terbuat dari tulang naga tanah.

"Ah-Gou," pria itu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Kau membawa 'ikan' baru dari permukaan? Dan kau melupakan setoran keamanan untuk bulan ini?"

Ah-Gou gemetar hebat, kakinya hampir lemas. "Tuan Kora... hamba baru saja tiba. Hamba berjanji akan membayar besok setelah—"

"Besok?" Kora tertawa kasar, lalu matanya beralih ke arah Chen Kai. "Lihat postur tubuh ini. Tegak, tenang, dan memiliki aura yang murni meskipun terbungkus jubah sampah. Kau pasti seorang penguasa besar di bawah sana, bukan?"

Kora melangkah maju, menekan ujung gadanya ke dada Chen Kai. Tekanan gravitasi dari senjata itu setara dengan sebuah bukit kecil, mencoba memaksa Chen Kai untuk berlutut.

"Selamat datang di lubang kami, Tuan Besar. Berikan cincin penyimpananmu, atau aku akan merobek tanganmu untuk mengambilnya sendiri."

Chen Kai menatap mata Kora dengan ketenangan yang menakutkan. Di mata dengan lingkaran emasnya yang tersembunyi, ia melihat aliran energi Kora—kasar, tidak murni, dan penuh celah. Meskipun Kora memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih besar darinya saat ini, pemahaman tekniknya berada di level yang menyedihkan.

"Hanya seekor anjing penjaga yang menggigit orang cacat," bisik Kaisar Yao di benak Chen Kai. "Gunakan tekanan gravitasinya untuk melancarkan sirkulasi esensimu, Nak. Matikan napasnya tanpa perlu bergerak."

Chen Kai tidak melawan tekanan gada itu. Sebaliknya, ia sedikit merelaksasikan meridiannya, membiarkan energi korosif dari luar masuk dan dikompresi seketika oleh Mutiara Hitam.

"Aku tidak punya cincin untukmu," kata Chen Kai, suaranya rendah dan bergetar dengan resonansi frekuensi tinggi.

"Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga."

Chen Kai mengangkat tangan kanannya, jarinya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata orang yang belum beradaptasi dengan densitas dunia ini. Ia tidak memukul, ia hanya menjentikkan jarinya ke arah udara kosong di samping leher Kora.

"Hukum Ruang: Riak Kecil."

KLAK.

Bukan ledakan yang terjadi, melainkan bunyi patahan halus. Ruang di sekitar Kora tiba-tiba menyusut selama sepersekian detik, menciptakan gaya hisap yang membuat paru-paru Kora seolah-olah dikosongkan dari udara secara paksa.

Kora terhuyung mundur, menjatuhkan gadanya. Ia mencengkeram tenggorokannya sendiri, wajahnya membiru saat ia berjuang untuk menghirup oksigen yang mendadak 'menghilang' di sekelilingnya.

Para anak buahnya terpaku. Mereka tidak melihat ada serangan fisik, namun pemimpin mereka sedang sekarat karena sesak napas.

Chen Kai melangkah melewati Kora yang sedang merangkak di tanah, bahkan tanpa meliriknya sedikit pun.

"Jalan, Ah-Gou," perintah Chen Kai datar.

Ah-Gou menelan ludah, menatap Chen Kai dengan rasa takut yang kini bercampur dengan pemujaan yang mendalam. Ia segera berlari kecil di depan, memastikan jalan terbuka lebar bagi tuannya yang baru.

Di kegelapan Pasar Debu, mata-mata lain mulai memperhatikan. Sebuah legenda baru tentang "Pendaki Tanpa Nama" telah mulai menenun benang pertamanya di Surga Hampa.

Terpopuler

Comments

Nanik S

Nanik S

Baru menginjak pasar Debu mau di Tindas... yang menindas salah alamat 🤣🤣🤣

2026-02-02

0

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

mencari info di pasar para buangan alam dewa....

2026-03-06

0

Harman Loke

Harman Loke

rasakan akibatnya

2026-04-09

0

lihat semua
Episodes
1 Gema di Reruntuhan
2 Penempaan Esensi Pertama
3 Langkah Menembus Kabut Emas
4 Labirin Angin Merah
5 Kerakusan di Meja Pertaruhan
6 Gema Kekosongan
7 Jalan Setapak di Atas Awan
8 Gerbang Bayangan
9 Rahasia di Balik Tirai Asap
10 Pusaran Maut
11 Pemetikan di Atas Pusara Bintang
12 Jejak Kaki di Atas Awan
13 Gang Kabut Hitam
14 Keadilan di Ujung Kuali
15 Undangan Berdarah
16 Jejak di Menara Kuali
17 Pil yang Mengguncang Awan
18 Ujian di Balik Tabir Perak
19 Cahaya di Puncak Kuali
20 Pecahnya Segel Tahap Menengah
21 Pelarian di Bawah Sinar Rembulan
22 Prahara di Lembah Purba
23 Resonansi di Lembah Api Purba
24 Bentrokan Hukum di Kedalaman Hampa
25 Fragmen Keenam
26 Dominasi Sang Raja
27 Jantung Awan
28 Jantung Alkimia
29 Badai Bintang
30 Gema Pembalasan
31 Menembus Tirai Langit
32 Badai Perak di Surga Kedua
33 Rahasia Istana Hampa
34 Kavaleri Cahaya
35 Tahta Terlupakan di Jantung Cermin
36 Bentrokan
37 Kehancuran
38 Debu di Wilayah Abu
39 Pemukiman di Bawah Bayang-Bayang
40 Rahasia
41 Gema dari Masa Lalu
42 Kehancuran di Ambang Abu
43 Runtuhnya Menara Takdir
44 Tirai Kabut yang Mengiris Jiwa
45 Penaklukan Bayangan Masa Lalu
46 Alunan Seruling Penggetar Jiwa
47 Bayangan Kaisar
48 Melintasi Cakrawala
49 Kota Karang Abadi
50 Menembus Jaring Cahaya
51 Nyanyian Bawah Laut
52 Tahta Safir dan Jantung yang Bergetar
53 Pemurnian di Kedalaman Safir
54 Jantung Arus
55 Arus yang Menelan Bayangan
56 Penyatuan Sempurna Raga Dewa
57 Aliansi di Kedalaman Biru
58 Hutan Logam
59 Api Dingin
60 Rahasia Penempaan
61 Benteng di Atas Nadir
62 Peleburan Raksasa
63 Kelahiran Kembali Benih Semesta
64 Langit yang Terbakar
65 Gua Kristal Waktu
66 Pertahanan di Mulut Gua
67 Langit Perak yang Retak
68 Abu di Atas Nadir Besi
69 Bahtera Penempa Takdir
70 Di Atas Magma
71 Pasar Budak Api
72 Putri Api yang Terbuang
73 Tantangan di Gerbang Palu Api
74 Cetak Biru Pembunuh Matahari
75 Matahari
76 Duel di Jantung Bintang
77 Sisa Hangus
78 Pasar Malam Teluk Bara
79 Cerita Lama
80 Menyelam ke Dalam Hening
81 Gurun Abu
82 Kota di Bawah Tulang
83 Akar yang Menangis
84 Gema yang Terjebak di Dalam Kristal
85 Lautan Abu yang Bergerak
86 Lembah Api Senyap
87 Kehendak Pedang
88 Guntur di Tanah Hening
89 Simfoni Pedang Patah
90 Penghakiman Logam yang Hening
91 Gema Sang Penempa
92 Tembok Darah dan Debu
93 Labirin Pedang
94 Pertaruhan Terakhir
95 Reaksi Balik Inti
96 Penghakiman di Langit Abu
97 Kehancuran yang Melayang
98 Jantung Kapal
99 Kendali di Ambang Kehancuran
100 Unit Penelan Bintang
101 Penyatuan Benteng Langit
102 Guntur di Langit Hampa
103 Penemuan Mengejutkan
104 Menembus Batas Zamrud
105 Badai Serangga
106 Jantung di Balik Akar
107 Tebasan Pemutus Rantai
108 Badai di Langit Zamrud
109 Arus Pemutus Dimensi
110 Ujian Hati yang Jernih
111 Kota Cahaya yang Tenggelam
112 Penyelaman
113 Segel Kematian
114 Gema Takdir di Jantung Safir
115 Perang di Bawah Arus
116 Benturan di Cakrawala Safir
117 Aliran Pemutus Nalar
118 Memori di Balik Darah Emas
119 Badai di Celah Arus Tak Bernyawa
120 Tebasan yang Memakan Takdir
121 Labirin Takdir
122 Cermin Masa Lalu yang Bercabang
123 Jaring Takdir yang Terkoyak
124 Runtuhnya Altar
125 Kota Giok Putih
126 Keributan di Kedai Awan
127 Undangan di Balik Kabut
128 Gemuruh di Arena Cahaya
129 Racun di Balik Niat Pedang
130 Perjamuan di Bawah Cahaya Abadi
131 Darah di Lorong Giok
132 Harga Sebuah Kenaifan
133 Tarian Bayangan di Ujung Maut
134 Belenggu di Balik Sembuh
135 Dialog di Antara Harum dan Hampa
136 Perjamuan Rahasia
137 Final di Bawah Bayang-Bayang
138 Taman Abu
139 Perburuan di Tengah Badai Abu
140 Labirin dari Harapan yang Musnah
141 Nadi Pembuangan Para Dewa
142 Mengukir Jalur Kematian
143 Kedatangan Hakim Agung
144 Mengukir Ulang
145 Hati yang Kosong
146 Api Karma
147 Langit Tanpa Batas
148 Kejatuhan Bintang
149 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Gema di Reruntuhan
2
Penempaan Esensi Pertama
3
Langkah Menembus Kabut Emas
4
Labirin Angin Merah
5
Kerakusan di Meja Pertaruhan
6
Gema Kekosongan
7
Jalan Setapak di Atas Awan
8
Gerbang Bayangan
9
Rahasia di Balik Tirai Asap
10
Pusaran Maut
11
Pemetikan di Atas Pusara Bintang
12
Jejak Kaki di Atas Awan
13
Gang Kabut Hitam
14
Keadilan di Ujung Kuali
15
Undangan Berdarah
16
Jejak di Menara Kuali
17
Pil yang Mengguncang Awan
18
Ujian di Balik Tabir Perak
19
Cahaya di Puncak Kuali
20
Pecahnya Segel Tahap Menengah
21
Pelarian di Bawah Sinar Rembulan
22
Prahara di Lembah Purba
23
Resonansi di Lembah Api Purba
24
Bentrokan Hukum di Kedalaman Hampa
25
Fragmen Keenam
26
Dominasi Sang Raja
27
Jantung Awan
28
Jantung Alkimia
29
Badai Bintang
30
Gema Pembalasan
31
Menembus Tirai Langit
32
Badai Perak di Surga Kedua
33
Rahasia Istana Hampa
34
Kavaleri Cahaya
35
Tahta Terlupakan di Jantung Cermin
36
Bentrokan
37
Kehancuran
38
Debu di Wilayah Abu
39
Pemukiman di Bawah Bayang-Bayang
40
Rahasia
41
Gema dari Masa Lalu
42
Kehancuran di Ambang Abu
43
Runtuhnya Menara Takdir
44
Tirai Kabut yang Mengiris Jiwa
45
Penaklukan Bayangan Masa Lalu
46
Alunan Seruling Penggetar Jiwa
47
Bayangan Kaisar
48
Melintasi Cakrawala
49
Kota Karang Abadi
50
Menembus Jaring Cahaya
51
Nyanyian Bawah Laut
52
Tahta Safir dan Jantung yang Bergetar
53
Pemurnian di Kedalaman Safir
54
Jantung Arus
55
Arus yang Menelan Bayangan
56
Penyatuan Sempurna Raga Dewa
57
Aliansi di Kedalaman Biru
58
Hutan Logam
59
Api Dingin
60
Rahasia Penempaan
61
Benteng di Atas Nadir
62
Peleburan Raksasa
63
Kelahiran Kembali Benih Semesta
64
Langit yang Terbakar
65
Gua Kristal Waktu
66
Pertahanan di Mulut Gua
67
Langit Perak yang Retak
68
Abu di Atas Nadir Besi
69
Bahtera Penempa Takdir
70
Di Atas Magma
71
Pasar Budak Api
72
Putri Api yang Terbuang
73
Tantangan di Gerbang Palu Api
74
Cetak Biru Pembunuh Matahari
75
Matahari
76
Duel di Jantung Bintang
77
Sisa Hangus
78
Pasar Malam Teluk Bara
79
Cerita Lama
80
Menyelam ke Dalam Hening
81
Gurun Abu
82
Kota di Bawah Tulang
83
Akar yang Menangis
84
Gema yang Terjebak di Dalam Kristal
85
Lautan Abu yang Bergerak
86
Lembah Api Senyap
87
Kehendak Pedang
88
Guntur di Tanah Hening
89
Simfoni Pedang Patah
90
Penghakiman Logam yang Hening
91
Gema Sang Penempa
92
Tembok Darah dan Debu
93
Labirin Pedang
94
Pertaruhan Terakhir
95
Reaksi Balik Inti
96
Penghakiman di Langit Abu
97
Kehancuran yang Melayang
98
Jantung Kapal
99
Kendali di Ambang Kehancuran
100
Unit Penelan Bintang
101
Penyatuan Benteng Langit
102
Guntur di Langit Hampa
103
Penemuan Mengejutkan
104
Menembus Batas Zamrud
105
Badai Serangga
106
Jantung di Balik Akar
107
Tebasan Pemutus Rantai
108
Badai di Langit Zamrud
109
Arus Pemutus Dimensi
110
Ujian Hati yang Jernih
111
Kota Cahaya yang Tenggelam
112
Penyelaman
113
Segel Kematian
114
Gema Takdir di Jantung Safir
115
Perang di Bawah Arus
116
Benturan di Cakrawala Safir
117
Aliran Pemutus Nalar
118
Memori di Balik Darah Emas
119
Badai di Celah Arus Tak Bernyawa
120
Tebasan yang Memakan Takdir
121
Labirin Takdir
122
Cermin Masa Lalu yang Bercabang
123
Jaring Takdir yang Terkoyak
124
Runtuhnya Altar
125
Kota Giok Putih
126
Keributan di Kedai Awan
127
Undangan di Balik Kabut
128
Gemuruh di Arena Cahaya
129
Racun di Balik Niat Pedang
130
Perjamuan di Bawah Cahaya Abadi
131
Darah di Lorong Giok
132
Harga Sebuah Kenaifan
133
Tarian Bayangan di Ujung Maut
134
Belenggu di Balik Sembuh
135
Dialog di Antara Harum dan Hampa
136
Perjamuan Rahasia
137
Final di Bawah Bayang-Bayang
138
Taman Abu
139
Perburuan di Tengah Badai Abu
140
Labirin dari Harapan yang Musnah
141
Nadi Pembuangan Para Dewa
142
Mengukir Jalur Kematian
143
Kedatangan Hakim Agung
144
Mengukir Ulang
145
Hati yang Kosong
146
Api Karma
147
Langit Tanpa Batas
148
Kejatuhan Bintang
149
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!