Bab 5

Situasi di ruang resusitasi semakin genting ketika dokter Rayyan menatap layar monitor dengan cemas. "Tekanan darahnya terus turun, dia kehilangan terlalu banyak darah. Kita butuh transfusi segera!" teriak dokter, membuat Sekar panik.

Sekar dengan sigap menghubungi bank darah rumah sakit, namun jawaban di seberang telepon membuatnya lemas. Stok darah golongan A negatif—golongan darah yang cukup langka itu sedang kosong karena kecelakaan beruntun yang terjadi sore tadi. Menunggu kiriman dari Palang Merah Indonesia (PMI) pusat akan memakan waktu setidaknya satu jam, sementara detak jantung bocah itu semakin melemah.

"Bagaimana ini, Dok? Stok golongan darah A negatif kosong," lapor Sekar dengan mata berair.

"Segera temui keluarganya, Sus," titah dokter Rayyan tanpa berpaling dari alat menekan dada si anak.

Tanpa banyak bicara, Sekar keluar dari ruangan menunju ruang tunggu. Tiba di sana, nenek Arka sedang menatap kosong ke arah jendela.

"Nyonya," ucap Sekar, sebisa mungkin menyembunyikan rasa paniknya walaupun sebenarnya jantungnya berpacu begitu cepat mengingat cucu nenek itu sedang tidak baik-baik saja.

Nenek kaget lalu berbalik dari jendela mendekati Sekar. "Saya Sus..." jawab nenek Arka, wajahnya tampak kacau memikirkan tentang Arka yang sedang berjuang di dalam sana. Dengan kehadiran suster, ia lebih takut lagi akan menerima berita buruk mengingat kondisi cucunya yang terluka parah.

"Maaf Nyonya," Sekar pun menceritakan jika Arka membutuhkan donor segera. Tetapi sayangnya, di rumah sakit ini sedang tidak ada stok golongan darah seperti itu.

"Tapi golongan darah saya juga tidak cocok, Sus," jawab nenek 60 tahun itu terduduk lemas. Syok, dugaannya akan mendengar berita buruk benar adanya. Ia tidak menyangka cucunya yang dua jam lalu masih aktif mengendarai sepeda kecil, tapi tubuh mungil itu tiba-tiba tidak berdaya dan butuh bantuan untuk menyambung nyawa, tapi Ia tidak bisa memberi.

"Nyonya..." Sekar mendekat lalu membungkuk mengusap punggung tangan nenek, ia seketika ingat ibunya yang telah tiada. Bukan mendapat solusi, si nenek justru menambah kesedihan Sekar. Karena nenek menangis tergugu.

"Tolong selamatkan cucu saya, Sus," nenek rela membayar berapa pun demi keselamatan cucunya.

"Maaf, Nyonya. Siapa keluarga Arka yang bisa kami hubungi? Memang kedua orang tua Arka ke mana?" Sekar memberanikan diri untuk bertanya demi kelangsungan hidup Arka.

Nenek diam, sedetik kemudian membuang napas kasar. "Orang tua Arka sekarang sedang di luar negeri, Sus, tapi dua-duanya tidak bisa saya hubungi," papar nenek, lantas diam karena tidak kuat lagi untuk melanjutkan ceritanya.

Mengetahui si nenek terasa berat untuk melanjutkan cerita, Sekar tidak berani bertanya lagi. Ia permisi kepada nenek lalu menemui dokter Rayyan. Tanpa Sekar tahu, nenek mengikutinya.

Karena harus mengikuti aturan yang sudah ada, satpam menahan nenek. "Sebaiknya Nyonya menunggu di luar saja," satpam yang sebenarnya tidak tega mendengar tangis nenek yang mengharu biru, membantu nenek duduk di kursi yang berada di luar tembok di mana Arka ditangani.

.

Sementara Sekar menatap wajah pucat Arka dadanya sesak. Genggaman lemah di seragamnya tadi seolah menjadi panggilan jiwa yang tidak bisa ia abaikan. Tanpa ragu, Sekar menoleh ke arah dokter.

"Dok, ambil darah saya. Golongan darah saya A negatif," ucap Sekar tegas.

"Sekar, kamu sedang bertugas. Kamu bisa lemas dan kita kekurangan personel di sini," sanggah dokter tersebut ragu.

"Saya sehat, Dok. Saya tidak akan membiarkan anak ini pergi hanya karena masalah prosedur. Ambil sekarang, atau kita akan kehilangan dia," balas Sekar dengan tatapan mata yang tidak bisa dibantah.

Dokter Rayyan menatap Sekar yang tidak ada keraguan lalu mengangguk. Jika demi pasien anak-anak di rumah sakit ini, Sekar sikapnya di luar nalar. Ia rela berbuat apapun demi kesembuhan pasien. Dokter Rayyan yang tidak tahu sejarah Sekar tiga tahun yang lalu sering kali dibuat tercengang.

Prosedur darurat segera dilakukan. Sekar berbaring di brankar tepat di sebelah anak laki-laki itu. Sebuah pemandangan yang menyentuh hati, selang merah mengalirkan kehidupan dari lengan Sekar menuju tubuh kecil yang sedang berjuang melawan maut.

Sambil merasakan darahnya berpindah, Sekar terus menggumamkan doa. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan napas kepada putranya sendiri yang dulu tak tertolong. Rasa pening mulai menyerang kepalanya, namun setiap kali ia melihat dada anak itu naik-turun meski perlahan, kekuatannya kembali pulih.

"Jangan menyerah, sayang..." bisiknya lirih, sementara air mata jatuh di sudut matanya. Ingat bayi yang belum pernah ia lihat selain batu nisan tanpa nama yang ditunjukkan dokter Siska setelah seminggu ia melahirkan.

Beberapa saat kemudian, monitor mulai menunjukkan angka yang lebih stabil. Warna merah muda perlahan kembali ke bibir mungil anak itu. Sekar tersenyum tipis di tengah rasa lemasnya, menyadari bahwa takdir membawanya menjadi perawat bukan sekadar pekerjaan, melainkan misi untuk menyambung nyawa yang hampir terputus, atas izin Allah.

"Alhamdulillah..." ucap dokter Rayyan. "Sebaiknya kamu istirahat dulu sampai dua puluh empat jam Sekar, biar Intan yang menggantikan kamu," titah dokter Rayyan lalu meninggalkan ruangan setelah Sekar mengangguk.

Sekar melirik anak di sebelahnya walaupun sudah dinyatakan membaik, tetapi masih belum lega sebelum melihat Arka bangun. Sekar khawatir jika Arka mengalami gangguan kognitif akibat gegar otak.

"Ya Allah... Sembuhkan Arka," doanya kemudian tidur. Namun, hanya beberapa menit terdengar anak kecil memanggil 'mama'

Sekar segera bangun duduk di samping tempat tidur Arka. Anak itu sudah sadar dan menatap Sekar sayu. "Kamu sudah bangun sayang..." Sekar memandangi pipi yang sebenarnya montok tapi banyak luka-luka.

"Mama... sakit..." ucapnya lirih, ternyata anak itu masih cadel.

"Tahan sayang... ada Suster di sini," Sekar mengusap punggung tangan anak itu.

Arka lagi-lagi menatap Sekar, kali ini lebih intens. "Mama... bukan Sustel..." lirihnya.

"Mama sedang dalam perjalanan sayang... Suster panggilkan Nenek ya..." ucap Sekar lembut, tapi sebelum berdiri, Arka justru menangis kencang.

"Sayang..." Sekar mengusap pundak Arka, hingga beberapa detik kemudian tangis anak itu berhenti.

"Sultel Mama aku..." ucapnya serak.

"Oke, Suster Mama Arka," Sekar mencoba untuk mengikuti kemauan Arka dengan perasaan campur aduk. Ia khawatir dugaannya Arka mengalami gangguan kognitif benar. Sebab, Arka menganggapnya mama.

"Sebentar ya, Suster telepon dokter," kata Sekar, lalu menekan tombol telepon menghubungi dokter Rayyan.

"Mama... Bukan Sustel," lagi-lagi mata Arka berair.

"Iya... anak Mama..." Sekar terkikik, menyentuh hidung anak itu.

Senyum kecil muncul dari bibir Arka. "Gendong..." Arkan mengulurkan tangan dengan wajah yang sedikit cerah.

Tidak peduli dengan tubuhnya yang masih lemas, dan mengoreksi panggilan Arka, Sekar mengangkat tubuh Arka menidurkan di pangkuannya. Sekar tahu di saat kritis seperti ini, seharusnya sentuhan kasih sayang mama Arka sangat dibutuhkan dan menjadi obat. Sekar tidak habis pikir, sesibuk apapun orang tua seharusnya cepat pulang ketika tahu kondisi anaknya seperti ini.

 "Sekarang Arka bobo..." Sekar mengusap pundak Arka. Di saat momen itu terjalin dengan hangat, dua orang masuk ke ruangan.

...~Bersambung~...

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Menebak lagi mungkin pasien kecil itu memang anak kandung nya Sekar karena darah nya cocok , biasanya ada ikatan kedekatan spt rasa sayang yg tiba tiba datang tentu untuk membuka rahasia siapa pasien kecil itu jalan satu satunya tes DNA.

2026-05-09

4

Joey Joey

Joey Joey

OPO KWI anak e , orang e gak ada , d luar negeri, kok janggal Yo , OPO Ilham Pengan anak sedangkan wanita yang dia cintai gak bisa hamil , dengan nikah sama sekar hanya mau anak e saja

2026-05-28

1

Bu Kus

Bu Kus

apa jangan jangan arka anak Sekar dan llham bohong sama Sekar ya jadi penasaran aja thro lanjut thro

2026-01-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 BAB 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Pengumuman
109 Bab pengumuman
110 Karya baru telah hadir.
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
BAB 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Pengumuman
109
Bab pengumuman
110
Karya baru telah hadir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!