Rahasia Pernikahan Sang Dokter

Rahasia Pernikahan Sang Dokter

Bab 1

"Mas, aku ikut ke rumah sakit ya..." ujar Sekar lirih, menunduk takut menatap Ilham yang sebenarnya ia yakini tidak akan setuju. Tetapi Sekar terpaksa melakukan ini karena akhir-akhir ini perutnya mulai kontraksi walau jarang-jarang. Sebab, yang sudah-sudah suaminya itu tidak mau mengantar ke rumah sakit.

"Tidak usah bareng, naik ojek saja!" Jawab Ilham dingin, matanya tidak berpaling dari handphone. Seolah malu jalan bareng bersama istri.

Sekar emosi lalu menarik handphone dari tangan suaminya yang berprofesi sebagai dokter itu. Di rumah hanya beberapa jam, tapi hanya ia gunakan untuk main hape.

"Lancang kamu!" Ilham berdiri hendak merebut handphone yang Sekar sembunyikan di belakang.

"Kamu dokter kejam, Mas. Bayi ini anak kamu!" Sekar berteriak, tangisnya pecah. "Apa sebenarnya tujuan kamu menikahi aku? Jika hanya kamu sakiti terus? Untuk apa, Mas?!" Sekar berteriak benar-benar tidak kuat lagi menahan emosi.

Praaak!!!

Ilham berhasil merebut handphone miliknya lalu dia banting di depan Sekar hingga hancur berkeping-keping. Dia tinggalkan begitu saja handphone yang sudah menjadi puing-puing, kemudian keluar kamar berakhir dengan pintu yang dibanting dengan keras.

Begitulah rumah tangga Sekar mantan perawat menjadi istri dokter Ilham.

Sekar menangis tergugu ketika mengingat sembilan bulan yang lalu di ranjang ini, mengira dirinya orang yang paling beruntung. Ia raba wajahnya yang kusam berjerawat, betapa bahagianya dinikahi Ilham, dokter spesialis ibu dan anak. Sekar lah sebagai perawat yang selalu mendampingi Ilham di salah satu rumah sakit swasta.

Dokter Ilham bukan hanya tampan, tapi juga ramah dan santun kepada para pasien yang sedang periksa maupun melahirkan, terlihat ikhlas dan tanpa pamrih. Ilham seperti malaikat penolong di mata Sekar dan para ibu hamil yang sedang bertaruh nyawa. Ditangani Ilham suatu kebanggaan ketika pulang dari rumah sakit si ibu sudah sehat dan menggendong bayi mungil yang tak kalah sehat.

Namun, predikat malaikat yang tersemat pada diri Ilham pun luruh di mata Sekar setelah tepat 'malam pertama' berakhir.

Malam itu dokter Ilham memberi haknya sebagai suami, namun tanpa sepatah kata cinta yang terucap dari bibir Ilham. Hanya sebuah pemenuhan kewajiban yang terasa menyakitkan bagi Sekar. Dan setelah fajar menyingsing di hari kedua setelah pernikahan mereka, Ilham berubah menjadi gunung es yang tidak bisa Sekar sentuh.

Bayangan ketika Ilham mengajaknya menikah, Sekar seperti di awang-awang. "Dokter yakin mau menikahi saya?" Sekar yang menyadari wajahnya tidak cantik, merasa timpang bersanding dengan Ilham.

"Saya menikah dengan kamu karena kamu baik Sekar, fisik bukan suatu halangan."

Mengingat ucapan Ilham itu seperti baru kemarin, tapi setelah perlakuan Ilham selama ini, Sekar merasa hidup di neraka bertahun-tahun.

Tiga hari kemudian, setelah pertengkaran.

"Mas baru pulang?" Tanya Sekar saat mendengar pintu kamar terbuka, Sekar menyambutnya dengan senyuman hangat, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki rumah tangganya demi anak yang ia kandung. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.

"Hmm..." hanya itu jawaban sang suami. Ilham masuk ke kamar tanpa menganggap Sekar ada. Ia mulai membuka kancing kemeja paling atas.

"Aku bantu buka ya, Mas," Sekar berdiri di depan Ilham, menatap gurat kelelahan di wajah suaminya yang tegas. Tetapi wajah Sekar berubah sedih ketika tangannya di singkirkan oleh Ilham.

"Mau aku buatan kopi, teh, atau susu? Biar aku siapkan," tawar Sekar, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan.

Ilham menghentikan gerakan tangannya, menatap Sekar melalui pantulan cermin rias. "Tidak usah Sekar, tidurlah, jangan membuat dirimu terlihat seperti pelayanan di rumah ini. Aku hanya ingin mandi dan tidur!" Sentak Ilham berlalu ke kamar mandi.

Sekar tidak bisa membendung air matanya. Kata-kata yang terlontar itu terasa sembilu yang menyayat hatinya. Bukan sekali dua kali Ilham menganggap perhatian Sekar sebagai gangguan. Sejak menikah, Sekar merasa hanya seperti pajangan di rumah mewah itu. Ada, tapi hanya dianggap sebutir debu.

"Tenanglah sayang... maafkan Mama jika kamu merasa tidak nyaman dengan kehidupan seperti ini. Mama janji, setelah kamu lahir akan minta cerai, terus kita hidup bahagia hanya berdua," Sekar mengusap perutnya yang sudah hamil besar, bayi di perutnya bergerak cepat seolah protes dan tidak mau berada dalam situasi seperti ini.

Begitulah keberuntungan Sekar, walaupun hanya diberi nafkah batin sekali ketika malam pertama, Allah menghadiahkan janin dalam rahimnya dan menurut pemeriksaan usg, bayi dalam perut berjenis kelamin laki-laki.

Tunggu dulu, selama kehamilan hingga sembilan bulan, jangankan menyentuh perut Sekar, memeriksa bayinya sendiri saja Ilham tidak pernah. Sekar berjalan keluar kamar utama sembari memegangi perut besarnya. Kamar lebih kecil dari kamar Ilham, di situlah Sekar setiap malam tidur seorang diri, walau kadang hingga larut memikirkan rumah tangganya yang kian menyiksa.

Di atas tempat tidur, Sekar mengoreksi diri di mana letak kesalahannya. Apakah masakannya yang tidak pernah di sentuh Ilham itu kurang enak? Atau Ilham ada wanita lain di luar sana? Mungkin jawabannya, karena Sekar bukan wanita cantik, kulit pun tidak putih seperti wanita kota kebanyakan, wajahnya berjerawat ketika kering berubah hitam.

Hingga keesokan paginya setelah membantu bibi memasak, perut Sekar mengalami kontraksi lebih sering. Sekar memberanikan diri untuk menemui suaminya di kamar. Ketika mengetuk pintu tidak dijawab Sekar mendorong pelan tapi tidak di kunci. Di dalam kamar, Sekar melihat Ilham sedang mengenakan kemeja tanpa menoleh ke arahnya.

"Mas, perut aku mulesnya semakin sering, tolong Mas, periksa dulu sebelum berangkat," Sekar menatap Ilham penuh harap. Namun, Ilham tetaplah Ilham, pria yang seolah mematikan insting kedokterannya tepat di depan istrinya sendiri.

"Mas..." lirih Sekar.

Ilham yang sedang merapikan jas kedokterannya hanya melirik sekilas tanpa minat. "Aku lelah Sekar. Di rumah sakit sudah menangani puluhan pasien, jangan manja, kontraksi itu proses alami, kamu akan baik-baik saja," jawabnya dingin, suara yang biasanya menenangkan pasien itu kini terdengar menyayat hati Sekar, wanita yang katanya 'istri'

"Baik, kalau Mas tidak mau, saya akan telepon dokter lain!" Ancam Sekar tidak main-main. Jika selama ini memilih periksa ke bidan karena masih menjaga perasaan suaminya kepada rekan-rekannya. Tetapi Sekar sekarang sudah masa bodo.

"Jangan mempermalukan aku Sekar, apa kata rekan-rekan ketika melihat istri seorang spesialis kandungan malah periksa ke dokter lain? Diam saja di rumah, kalau sudah waktunya lahir, telepon bidan terdekat," pungkas Ilham lalu menenteng tas hendak berangkat.

"Tunggu!" Sekar mendelik gusar, tapi Ilham tidak melihatnya. Walaupun berhenti tetap berdiri membelakangi Sekar. "Kamu kejam Mas.Tega!" Sekar berteriak air matanya mengalir deras. Dia guncang tubuh suaminya yang seperti patung.

"Sampai kapan kamu mau menyiksa aku?!" Sekar tergugu pilu. "Jawab, Mas!" Emosi Sekar yang terpendam berbulan-bulan akhirnya meledak akhir-akhir ini.

Ilham berbalik dengan mata memicing. "Selama ini aku sudah memberi kamu kemewahan Sekar, tidur di kasur empuk, makan enak, tinggal di rumah mewah, uang belanja setiap bulan mengalir terus. Apa itu belum cukup?!" Jawabnya tidak punya perasaan, lalu melangkah pergi meninggalkan gema pintu yang Ilham tutup dengan kencang.

"Ya Allah... Hamba tidak kuat lagi!" Sekar duduk di lantai yang dingin, tangisnya meraung-raung. Hingga terasa tangan seseorang membantunya untuk berdiri.

"Sabar Non... Astagfirullah..." Bibi memeluk tubuh Sekar mendekapnya erat.

"Saya tidak kuat Bi, biar saya mati saja... huhuhu..."

"Istigfar, Non. Non Sekar tidak sendiri, ada bayi yang tidak berdosa di dalam sini," Bibi mengusap lembut perut Sekar.

Sekar pun Istigfar, lalu dibantu bibi ke kamarnya.

Malam harinya air ketuban Sekar mengalir ke betis di kamar yang sepi, seakan lomba dengan derasnya air hujan di luar sana. Sekar menatap jam dinding menunjukkan tepat tengah malam.

Dia gigit bibir untuk menahan rasa sakit perutnya yang seakan menghujam. Di dalam kamarnya mungkin saja Ilham sudah tidur, atau belum pulang, Sekar tidak mau mengemis lagi. Dia ambil handphone menghubungi seseorang.

"Hallo,"

"Hallo... Tolong aku," kata Sekar dengan suara bergetar, ia mengatakan air ketubannya sudah pecah lebih dulu.

"Tunggu ya, aku jemput," jawab orang itu bersamaan berakhirnya pembicaraan.

 Dengan sisa tenaganya, Sekar berjalan keluar lalu duduk di kursi menunggu di teras. Wajah pucatnya disorot lampu yang tepat berada di atasnya. Sekar tidak kuat lagi hingga akhirnya jatuh pingsan.

"Tuan... Non Sekar, Tuan..." bibi berlari ke kamar memanggil Ilham.

Dengan wajah dingin dan tak ada kata-kata, Ilham berjalan ke luar. Di depan pintu, dia mendengar rintih Sekar yang berasal dari teras.

...~Bersambung~...

Terpopuler

Comments

Ma Em

Ma Em

Semoga Sekar dan bayinya sehat persalinan nya dimudahkan , Ilham kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Sekar dan darah dagingmu sendiri .

2026-01-26

1

neng ade

neng ade

aku hadir disini thor .. baru baca bab 1 aja udah nyesek banget.. ada apa sebenarnya dengan Ilham hingga dia begitu tega sama istrinya sendiri

2026-02-19

1

Yuliati Soemarlina

Yuliati Soemarlina

ilham ke pasennya ramah..tapi ke istri sendiri kejam..kenapa kamu nikahin istrimu klo hanya menyiksanya saja

2026-05-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 BAB 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Pengumuman
109 Bab pengumuman
110 Karya baru telah hadir.
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
BAB 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Pengumuman
109
Bab pengumuman
110
Karya baru telah hadir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!