BAB 2. PENGHINAAN

Liora tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di tengah ruang tamu Montclair, punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya yang selama ini dianggap memalukan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijadikan tumbal.

"Baik. Aku terima," kata Liora akhirnya.

Satu kata itu membuat semua orang terdiam.

Count Bernard mengerutkan kening. Seolah ia mengharapkan tangisan. Protes. Permohonan. Apa pun, selama itu menunjukkan bahwa Liora masih bisa ditekan.

Namun tidak ada.

Liora hanya menunduk sopan ke arah utusan istana. "Sampaikan pada Yang Mulia Kaisar," ucapnya datar, "bahwa keluarga Montclair menerima perintah itu."

Utusan itu tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Upacara pernikahan akan dilaksanakan sebulan dari sekarang."

Satu bulan.

Waktu yang singkat untuk memersiapkan pernikahan, bahkan untuk bangsawan yang biasa bahkan sampai satu tahun persiapan.

Setelah utusan itu pergi, keheningan di ruang tamu tidak lagi terasa resmi. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih pribadi.

"Kenapa kau terlihat begitu pasrah?" Countess Irene memecah suasana, nada suaranya dingin. "Seolah kami melakukan kejahatan besar padamu."

Liora mengangkat wajahnya. Matanya tenang, nyaris kosong. "Bukankah memang begitu?"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Liora.

Kepala gadis itu terhuyung ke samping, rambutnya terurai. Rasa perih menyebar cepat, panas, memalukan. Beberapa pelayan menahan napas. Tak satu pun bergerak.

"Jaga mulutmu," bentak Count Bernard. "Kau akan menikah dengan Duke. Itu kehormatan."

"Kehormatan bagi siapa?" tanya Liora lirih.

Count Bernard menatapnya tajam. "Bagi keluarga ini."

Liora menatap Count dingin ketika mendengar ucapan itu. Tentu saja untuk keluarga dan bukan untuk Liora sendiri. Memang sejak kapan keluarganya ini peduli padanya.

Sera berdiri di dekat tangga, menonton dengan ekspresi cemas palsu. "Kakak, jangan memperburuk keadaan. Ayah dan Ibu juga sedang tertekan."

Liora menoleh ke arah adik tirinya itu. Tatapan mereka bertemu.

Dan di mata Sera, Liora melihatnya ... bukan rasa bersalah, melainkan kelegaan.

Dasar jalang licik, batin Liora.

Kabar pernikahan itu menyebar lebih cepat dari api di musim panas.

Di dapur, para pelayan berbisik tanpa menurunkan suara.

"Duke Ravens itu jenderal perang, kan?"

"Katanya dia membunuh musuh dengan tangannya sendiri."

"Dan Lady Liora yang akan menikah dengannya?"

"Kasihan Duke harus menikahi wanita gendut sepertinya."

Kata kasihan diucapkan sambil tertawa kecil.

Setiap langkah Liora di koridor kastil diiringi pandangan merendahkan.

Gaun yang dipakaikan untuk pengukuran pernikahan terlalu sempit di pinggang dan lengan, seolah sengaja dipilih untuk memerjelas setiap lekuk tubuh Liora.

"Berdirilah lebih lurus," kata pelayan penjahit dengan nada jengkel. "Kalau Nona tidak bisa mengontrol tubuh sendiri, setidaknya jangan menyulitkan kami."

Jarum menusuk kulitnya tanpa permintaan maaf.

Liora tidak mengeluh. Tidak bergerak. Ia hanya menatap bayangannya di cermin tinggi, sosok besar dengan wajah pucat dan mata hijau yang kini terlihat lebih tua dari usianya.

"Gaun ini terlalu polos," komentar Countess Irene dari kursi dekat jendela. "Tapi ya sudahlah. Tubuh seperti itu tidak akan terlihat anggun dengan apa pun."

Sera tertawa kecil. "Setidaknya Duke tidak akan berharap banyak."

Kata-kata itu disambut tawa pelan para pelayan.

Liora menunduk. Bukan karena malu, melainkan karena ia menyadari sesuatu.

Mereka tidak akan berhenti.

Tidak hari ini.

Tidak setelah pernikahan.

Tidak pernah, karena memang seperti itu tabiat menjijikan mereka.

Malam hari membawa bisikan yang lebih gelap.

Di kamar kecil dekat dapur, dua pelayan senior berbicara sambil melipat kain.

"Katanya Duke Ravens tidak pernah menyentuh wanita kalau tidak ia kehendaki."

"Lalu bagaimana dengan Nona Liora?"

"Siapa yang mau menyentuh tubuh sebesar itu?"

Tawa pelan kembali terdengar.

"Jangan heran kalau Duke meninggalkannya di malam pernikahan."

"Atau bahkan menceraikannya langsung."

Liora berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tidak masuk. Tidak pergi.

Ia hanya berdiri, mendengarkan.

Setiap kata masuk ke dalam diri Liora dengan rapi, seperti disusun satu per satu, lalu disimpan. Bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diingat.

Karena Liora tidak merasa ingin membela diri. Tidak perlu ... untuk saat ini.

Ia tidak mau menghabiskan energi hanya untuk melabrak para pelayan itu, walau Liora sangat ingin menjambak rambut mereka.

Tentang Duke Alaric Ravens, cerita-cerita itu semakin liar.

Ia disebut The Iron Duke, pria yang tak pernah tersenyum di medan perang, yang memimpin pasukan dari barisan depan, yang tidak ragu memenggal pengkhianat di depan umum.

Ada yang mengatakan ia tidak punya istri karena semua wanita takut padanya.

Ada yang mengatakan ia menolak semua perjodohan karena ia tidak percaya cinta.

Ada pula yang berbisik bahwa ia hanya menikah karena perintah Kaisar, dan akan membenci siapa pun yang menjadi istrinya.

"Wanita malang, tapi itu balasan karena dia hanyalah wanita jahat yang tidak tahu diri," ucap seseorang suatu malam di kediaman Count.

"Wanita gendut, seharusnya mengurung diri saja di dalam kamar," sahut yang lain.

Liora mendengar semuanya.

Dan di tengah semua itu, tidak satu pun yang bertanya bagaimana keadaan dan juga perasaan Liora.

Namun sama seperti mereka, Liora juga tidak peduli.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti hukuman yang diulang.

Pelayan tidak lagi menyembunyikan kekasaran mereka. Makanan Liora sering datang terlambat, atau terlalu banyak. Selalu terlalu banyak.

Dan setiap kali Liora mencoba menolak, seseorang akan berkata, "Bukankah Nona menyukainya? Makan yang banyak agar Anda tidak pingsan saat pernikahan nanti, tapi jangan kebanyakan karena nanti gaun Anda bisa robek."

Ya, penghinaan seperti itu semakin jadi.

Sera sering datang ke kamarnya dengan senyum manis.

"Kakak terlihat pucat," kata Sera suatu pagi, meletakkan sepiring kue di meja. "Makanlah. Kau butuh tenaga untuk pernikahan. Aku sengaja menyuruh koki kita membuatkan makanan manis yang enak."

Liora menatap kue itu lama. Dari aromannya saja Liora tahu betapa manis kue itu, membuatnya mengernyit ngilu membayangkan Liora memakannya.

"Aku tidak lapar," tolak Liora.

Sera mengerutkan kening, lalu tersenyum lagi. "Jangan begitu. Kau akan terlihat semakin buruk kalau tidak makan. Akan sangat baik kalau kau makan banyak."

Sera pergi, meninggalkan aroma manis yang membuat perut Liora mual.

Malam itu, Liora muntah. Karena entah kenapa makanan selalu datang dan Liora sampai dipaksa makan baik oleh pelayan sampai oleh ibu tiri dan adik tiri Liora.

Di hadapan cermin, Liora membuka lengan bajunya dan menatap memar-memar lama yang belum sepenuhnya hilang, bekas cubitan, dorongan, hukuman kecil yang selalu dianggap pantas.

Ia menyentuh luka-luka itu pelan. Lalu mengangkat wajahnya.

Di mata yang menatap balik pada cermin itu, tidak ada air mata.

Hanya satu pemahaman yang akhirnya tumbuh dengan jelas:

Jika dunia ini telah memutuskan untuk menjadikannya korban, maka ia akan belajar bertahan, bahkan jika itu berarti melangkah sendirian ke sisi monster bernama Duke Alaric Ravens.

Namun entah kenapa, Liora tidak sepenuhnya takut.

Terpopuler

Comments

Siti Aisyah

Siti Aisyah

cantik itu datang nya dari hati..inner beauty..tampilan adalah polesan..

2026-07-13

1

❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ 🇮🇩

❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ 🇮🇩

siapa bilang gendut itu jelekkkķ
lihat saja si duke nanti pasti suka liora gendut itu empuk gemoy😁

ada yang salah dengan makanan liora.
makanannya itu ditaburin apa bisa buat gedut liora

2026-08-12

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

emang kenapa dngn tubuh gemuk kan gak ganggu kalian dasar pelayan rendahan liat aja nanti balas dendam Liora ke kalian 😏😏

2026-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. AIB BERNAMA LIORA
2 BAB 2. PENGHINAAN
3 BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN
4 BAB 4. PUTRI BERUANG
5 BAB 5. AKIBAT
6 BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
7 BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
8 BAB 8. SALAH PAHAM?
9 BAB 9. PENASARAN
10 BAB 10. RACUN
11 BAB 11. MARAH
12 BAB 12. PROTEKTIF
13 BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
14 BAB 14. RAHASIA
15 BAB 15. ISTANA
16 BAB 16. GADIS KESAYANGAN
17 BAB 17. PUTRA MAHKOTA
18 BAB 18. DEKAT
19 BAB 19. INTIM
20 BAB 20. PAGI YANG HEBOH
21 BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
22 BAB 22. KEMBALI
23 BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
24 BAB 24. LAPORAN
25 BAB 25. KEPUTUSAN
26 BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
27 BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
28 BAB 28. MARKAS DAN TAMU
29 BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
30 BAB 30. INFORMASI BARU
31 BAB 31. PULANG
32 BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS
33 BAB 33. MALAM PENUH RINDU
34 BAN 34. PESTA MINUM TEH
35 BAB 35. SITUASI BERBALIK
36 BAB 36. LATIH TANDING
37 BAB 37. BERMAIN?
38 BAB 38. PAGI YANG RIUH
39 BAB 39. PESTA DANSA
40 BAB 40. BISIK-BISIK DI LANTAI DANSA
41 BAB 41. RACUN YANG BERBALIK
42 BAB 42. KONFRONTASI
43 BAB 43. MELAWAN SEPERTI AIR
44 BAB 44. KALAH DENGAN MALU
45 BAB 45. MENANG DALAM TAWA
46 BAB 46. PERJALANAN KE BARAT
47 BAB 47. JALAN-JALAN DI KOTA
48 BAB 48. BANDIT
49 BAB 49. TAWA DI DEPAN PERAPIAN
50 BAB 50. API YANG MENYALA
51 BAB 51. API YANG BERKOBAR
52 BAB 52. SUMPAH
53 BAB 53. PAGI YANG HANGAT
54 BAB 54. DAMAI
55 BAB 55. RIBUT
56 BAB 56. PENJAGA KECIL YANG CEREWET
57 BAB 57. DUEL DAN KABAR BURUK
58 BAB 58. PAMIT
59 BAB 59. LAPORAN DI ISTANA
60 BAB 60. TIDAK TERTARIK
61 BAB 61. JEBAKAN
62 BAB 62. TIDAK MUNGKIN!
63 BAB 63. KALAH?
64 BAB 64. SEMANGAT BARU
65 BAB 65. SELESAI
66 BAB 66. MALAM SETELAH PERANG
67 BAB 67. MENANG TELAK
68 BAB 68. PESTA KEMENANGAN
69 BAB 69. TIKUS YANG TERSUDUT
70 BAB 70. HUKUMAN
71 BAB 71. HARI BERDARAH DAN BAHAGIA
72 BAB 72. SUKA CITA
73 BAB 73. PERJALANAN KE UTARA
74 BAB 74. MERTUA
75 BAB 75. DUA DETAK JANTUNG
76 BAB 76. KAKAK KECIL CEREWET
77 BAB 77. NGIDAM
78 BAB 78. MUSIM SEMI MENEGANGKAN
79 BAB 79. KETEGANGAN LAHIRAN
80 BAB 80. TANGIS PERTAMA
81 BAB 81. NAMA DUA BAYI
82 BAB 82. DRAMA KECIL
83 BAB 83. KEUSILAN SI KEMBAR
84 BAB 84. SI KEMBAR KE ISTANA
85 BAB 85. ELARA HILANG?
86 BAB 86. MALAM YANG BERISIK
87 BAB 87. FESTIVAL
88 BAB 88. LEDAKAN ENERGI
89 BAB 89. EVAKUASI
90 BAB 90. PORAK PORANDA
91 BAB 91. SEGEL
92 BAB 92. AKHIR BAHAGIA
93 SEQUEL PARA BOCIL CADEL LAUNCHING!
94 SEQEUL ROWAN LAUNCHING!!
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAB 1. AIB BERNAMA LIORA
2
BAB 2. PENGHINAAN
3
BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN
4
BAB 4. PUTRI BERUANG
5
BAB 5. AKIBAT
6
BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
7
BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
8
BAB 8. SALAH PAHAM?
9
BAB 9. PENASARAN
10
BAB 10. RACUN
11
BAB 11. MARAH
12
BAB 12. PROTEKTIF
13
BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
14
BAB 14. RAHASIA
15
BAB 15. ISTANA
16
BAB 16. GADIS KESAYANGAN
17
BAB 17. PUTRA MAHKOTA
18
BAB 18. DEKAT
19
BAB 19. INTIM
20
BAB 20. PAGI YANG HEBOH
21
BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
22
BAB 22. KEMBALI
23
BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
24
BAB 24. LAPORAN
25
BAB 25. KEPUTUSAN
26
BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
27
BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
28
BAB 28. MARKAS DAN TAMU
29
BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
30
BAB 30. INFORMASI BARU
31
BAB 31. PULANG
32
BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS
33
BAB 33. MALAM PENUH RINDU
34
BAN 34. PESTA MINUM TEH
35
BAB 35. SITUASI BERBALIK
36
BAB 36. LATIH TANDING
37
BAB 37. BERMAIN?
38
BAB 38. PAGI YANG RIUH
39
BAB 39. PESTA DANSA
40
BAB 40. BISIK-BISIK DI LANTAI DANSA
41
BAB 41. RACUN YANG BERBALIK
42
BAB 42. KONFRONTASI
43
BAB 43. MELAWAN SEPERTI AIR
44
BAB 44. KALAH DENGAN MALU
45
BAB 45. MENANG DALAM TAWA
46
BAB 46. PERJALANAN KE BARAT
47
BAB 47. JALAN-JALAN DI KOTA
48
BAB 48. BANDIT
49
BAB 49. TAWA DI DEPAN PERAPIAN
50
BAB 50. API YANG MENYALA
51
BAB 51. API YANG BERKOBAR
52
BAB 52. SUMPAH
53
BAB 53. PAGI YANG HANGAT
54
BAB 54. DAMAI
55
BAB 55. RIBUT
56
BAB 56. PENJAGA KECIL YANG CEREWET
57
BAB 57. DUEL DAN KABAR BURUK
58
BAB 58. PAMIT
59
BAB 59. LAPORAN DI ISTANA
60
BAB 60. TIDAK TERTARIK
61
BAB 61. JEBAKAN
62
BAB 62. TIDAK MUNGKIN!
63
BAB 63. KALAH?
64
BAB 64. SEMANGAT BARU
65
BAB 65. SELESAI
66
BAB 66. MALAM SETELAH PERANG
67
BAB 67. MENANG TELAK
68
BAB 68. PESTA KEMENANGAN
69
BAB 69. TIKUS YANG TERSUDUT
70
BAB 70. HUKUMAN
71
BAB 71. HARI BERDARAH DAN BAHAGIA
72
BAB 72. SUKA CITA
73
BAB 73. PERJALANAN KE UTARA
74
BAB 74. MERTUA
75
BAB 75. DUA DETAK JANTUNG
76
BAB 76. KAKAK KECIL CEREWET
77
BAB 77. NGIDAM
78
BAB 78. MUSIM SEMI MENEGANGKAN
79
BAB 79. KETEGANGAN LAHIRAN
80
BAB 80. TANGIS PERTAMA
81
BAB 81. NAMA DUA BAYI
82
BAB 82. DRAMA KECIL
83
BAB 83. KEUSILAN SI KEMBAR
84
BAB 84. SI KEMBAR KE ISTANA
85
BAB 85. ELARA HILANG?
86
BAB 86. MALAM YANG BERISIK
87
BAB 87. FESTIVAL
88
BAB 88. LEDAKAN ENERGI
89
BAB 89. EVAKUASI
90
BAB 90. PORAK PORANDA
91
BAB 91. SEGEL
92
BAB 92. AKHIR BAHAGIA
93
SEQUEL PARA BOCIL CADEL LAUNCHING!
94
SEQEUL ROWAN LAUNCHING!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!