ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

BAB 1. AIB BERNAMA LIORA

Tidak ada yang lebih sunyi dari pada pagi di rumah Montclair, kecuali kamar di sayap timur, tempat Lady Liora Montclair tinggal.

Kamar itu besar, tetapi dingin. Dindingnya tinggi, jendelanya lebar, namun tirai jarang dibuka. Cahaya pagi hanya menyusup sebagai garis pucat yang jatuh di lantai batu, memantul di kaki ranjang kayu tua yang sudah lama kehilangan kemewahannya.

Di sanalah Liora duduk, punggungnya sedikit membungkuk, napasnya teratur tetapi berat, seolah setiap tarikan udara harus melalui lapisan beban yang tak terlihat.

Gaun tidurnya terlalu sempit di bagian pinggang. Jahitannya menekan kulit gadis tersebut, meninggalkan bekas merah yang tak sempat memudar sebelum hari berganti. Ia tahu gaun itu sengaja dipilihkan, bukan karena tak ada yang lebih longgar, melainkan karena memang tidak ada yang peduli.

"Bangun sudah siang, Nona! Mau sampai kapan kau tidur!"

Suara itu datang tanpa ketukan.

Pintu kamar terbuka kasar, menabrak dinding hingga bergetar.

Seorang pelayan perempuan masuk dengan langkah keras, wajahnya masam, matanya memandang Liora seolah ia sedang melihat noda yang sulit dibersihkan.

"Apa kau pikir ini penginapan murah?" pelayan itu melanjutkan. "Sarapan sudah lewat."

Liora mengangkat kepala perlahan. Rambut merahnya terurai kusut, belum disisir. Matanya tak menantang, tak pula memohon. Hanya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang setiap hari diperlakukan seperti beban.

"Aku akan turun sebentar lagi," jawab Liora pelan.

Pelayan itu mendengus. "Tentu. Seperti biasa. Selalu 'sebentar lagi'. Benar-benar membuang waktu orang."

Pelayan melirik tubuh Liora dari atas ke bawah tanpa menyembunyikan jijiknya. "Mungkin kalau Nona tidak makan sebanyak itu, bangun dari tempat tidur pun tak akan sesulit ini."

Kalimat itu dilempar begitu saja, seperti batu kecil yang sudah terlalu sering mengenai kulit yang sama. Tidak berdarah. Tidak lagi terasa baru. Tapi tetap menyakitkan.

Liora tidak menjawab.

Ia menunggu sampai pelayan itu pergi, sampai langkah kaki menjauh dan pintu ditutup kembali, kali ini dengan hentakan yang sengaja diperkeras.

Barulah napas Liora goyah.

Ia berdiri, berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Di atasnya ada secangkir teh hangat dan sepiring roti manis yang terlihat masih baru. Harumnya lembut, terlalu manis untuk selera pagi. Liora menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Roti itu selalu ada.

Setiap pagi.

Dari tangan yang sama.

Liora memecah roti itu menjadi dua, mengamatinya seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Lalu, dengan ragu, ia menggigit sedikit.

Rasanya ... aneh. Tidak buruk. Tapi ada pahit samar di balik manisnya.

Seperti biasa.

Liora menelan, meski ada perasaan tak nyaman menggelitik di dadanya. Sudah bertahun-tahun ia merasa tubuhnya semakin berat, geraknya melambat, pikirannya sering kabur. Tabib keluarga berkata itu karena ia terlalu banyak makan dan jarang bergerak.

Padahal Liora tidak pernah makan berlebihan.

Ruang makan keluarga Montclair sudah ramai ketika Liora akhirnya turun. Meja panjang dari kayu ek dipenuhi piring perak dan gelas kristal, namun suasananya dingin. Tidak ada tawa. Tidak ada sapaan.

Count Bernard Montclair duduk di ujung meja, posturnya tegak, wajahnya keras seperti pahatan batu. Di sebelahnya, Countess Irene Montclair, istri kedua Count itu mengaduk teh dengan gerakan anggun, matanya hanya sesekali terangkat, bukan ke arah Liora, melainkan ke arah kursi kosong di seberang.

Kursi itu segera terisi.

"Maafkan aku," suara ceria itu memecah keheningan. "Aku terlambat."

Sera Montclair masuk dengan senyum manis. Rambut pirangnya tertata sempurna, gaunnya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuh rampingnya. Ia menunduk hormat pada kedua orang tuanya sebelum duduk, seolah seluruh ruangan diciptakan untuk menyambutnya.

Countess Irene tersenyum. Senyum yang tidak pernah Liora dapatkan.

"Tidak apa-apa, Sera. Kau selalu tepat waktu dalam hal yang penting," kata Countess Irene.

Liora menunduk, fokus pada piringnya. Roti yang sama, teh yang sama. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat cangkir.

"Liora?"

Suara ayahnya membuatnya berhenti.

"Ya, Ayah?" jawabnya cepat.

"Aku mendengar kau membuat keributan lagi dengan pelayan kemarin," kata Count Bernard.

Liora terdiam. Ia menatap Count Bernard dengan mata membesar sedikit.

"Aku tidak-"

"Kau selalu membuat ulah!" potong sang Count dingin. "Kau membuat pelayan itu menangis. Katanya kau melempar piring ke kepalanya."

Sera menghela napas, penuh kepura-puraan. "Kakak, kau seharusnya lebih sabar. Mereka hanya menjalankan tugas."

Liora menoleh. "Aku tidak melempar apa pun," katanya, kali ini sedikit lebih tegas. "Piring itu jatuh karena tanganku terpeleset."

"Karena terlalu banyak makan," Countess Irene menyela tanpa menatap Liora.

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Count Bernard mengangguk seolah itu sudah cukup sebagai kesimpulan. "Sudah cukup. Aku tidak ingin mendengar alasan. Kau mempermalukan keluarga ini setiap hari, Liora. Kapan kau akan bersikap layaknya putri Count? Contoh adikmu, Sera. Dia menjaga tubuh dan juga citranya di depan bangsawan lain. Tidak sepertimu yang justru menjadi aib keluarga ini."

Liora mengepalkan jarinya di bawah meja. Kukunya menekan telapak tangan sendiri. Ia ingin bicara. Ingin menjelaskan. Ingin sekali saja didengar.

Tapi ia tahu.

Ia selalu tahu.

Di meja ini, suaranya tidak pernah didengar

Sampai sesuai yang besar terjadi ....

Kabar itu datang menjelang siang, dibawa oleh utusan istana dengan pakaian resmi berwarna biru tua dan lambang kekaisaran di dada.

Seluruh keluarga Montclair berkumpul di ruang tamu utama. Pelayan berdiri di sisi ruangan, kepala tertunduk. Udara terasa tegang, seolah dinding-dinding tua itu ikut menahan napas.

"Dengan ini," kata sang utusan lantang, membuka gulungan perkamen, "atas perintah Kaisar Victor Aurelius, diumumkan perjodohan antara Keluarga Montclair dan Keluarga Ravens."

Jantung Liora berdegup keras.

Nama itu ...

tidak mungkin.

"Putri dari keluarga Count Montclair," lanjutnya, "akan dipersunting oleh Duke Alaric Ravens, Jenderal Agung Kekaisaran."

Ruangan mendadak riuh. Countess Irene menutup mulutnya, pura-pura terkejut. Count Bernard berdiri sedikit dari kursinya, wajahnya tegang.

Sera menoleh cepat, ke arah Liora.

Tatapan itu tajam. Bukan terkejut.

Melainkan ... marah.

"Ini kehormatan besar," Count Bernard berkata akhirnya, suaranya bergetar antara bangga dan takut. "Putri kami-"

"Putri yang mana?" sang utusan menyela sopan namun tegas. "Kaisar menunggu jawaban segera."

Sera berdiri lebih dulu.

"Ayah," kata Sera lembut tapi pasti. "Aku tidak bisa."

Semua mata tertuju padanya.

"Apa maksudmu?" Countess Irene berbisik panik.

"Aku tidak akan menikah dengan pria yang dikenal kejam dan dingin," lanjut Sera, suaranya jernih. "Aku masih muda. Aku ... takut. Aku juga sedang naik-naiknya di sosialita bangsawan, aku tidak mau membuang usaha kerasku untuk bisa sampai di sana."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Liora merasa pandangan itu beralih padanya, satu per satu, seperti pisau yang diarahkan tanpa perlu diangkat.

Count Bernard menoleh. Sangat lama untuk berpikir.

"Kalau begitu," kata sang Count akhirnya, suaranya rendah, berat. "Liora."

Nama itu jatuh seperti vonis.

"Kau yang akan menikah dengan Duke Alaric Ravens," kata Count Bernard akhirnya.

Dunia Liora seakan berhenti berputar.

Ia berdiri perlahan. "Ayah?"

"Kau tidak punya pilihan," potong Count Bernard dingin. "Ini perintah Kaisar. Dan kau ... setidaknya buat dirimu berguna kali ini. Bayar apa yang sudah aku berikan untuk membesarkanmu."

Sera tersenyum tipis.

Hampir tak terlihat.

Dan untuk pertama kalinya hari itu ...

Liora Montclair benar-benar merasakan darah mendidih dalam dirinya.

Terpopuler

Comments

Siska Sutartini

Siska Sutartini

baru mulai baca kok jadi pengen naruh racun ya dilluarga itu, edaan kluarga macama apa itu

2026-07-12

1

Rhea Kim

Rhea Kim

baruu baca udah pengen lempar piring k keluarganya liora😭😭 huhu

2026-06-12

1

Nisfu Romadhon

Nisfu Romadhon

keluarga toxic,,, menyebalkan,,,
hai,,,k Othor,,,salken /Smile/

2026-04-13

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. AIB BERNAMA LIORA
2 BAB 2. PENGHINAAN
3 BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN
4 BAB 4. PUTRI BERUANG
5 BAB 5. AKIBAT
6 BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
7 BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
8 BAB 8. SALAH PAHAM?
9 BAB 9. PENASARAN
10 BAB 10. RACUN
11 BAB 11. MARAH
12 BAB 12. PROTEKTIF
13 BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
14 BAB 14. RAHASIA
15 BAB 15. ISTANA
16 BAB 16. GADIS KESAYANGAN
17 BAB 17. PUTRA MAHKOTA
18 BAB 18. DEKAT
19 BAB 19. INTIM
20 BAB 20. PAGI YANG HEBOH
21 BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
22 BAB 22. KEMBALI
23 BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
24 BAB 24. LAPORAN
25 BAB 25. KEPUTUSAN
26 BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
27 BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
28 BAB 28. MARKAS DAN TAMU
29 BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
30 BAB 30. INFORMASI BARU
31 BAB 31. PULANG
32 BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS
33 BAB 33. MALAM PENUH RINDU
34 BAN 34. PESTA MINUM TEH
35 BAB 35. SITUASI BERBALIK
36 BAB 36. LATIH TANDING
37 BAB 37. BERMAIN?
38 BAB 38. PAGI YANG RIUH
39 BAB 39. PESTA DANSA
40 BAB 40. BISIK-BISIK DI LANTAI DANSA
41 BAB 41. RACUN YANG BERBALIK
42 BAB 42. KONFRONTASI
43 BAB 43. MELAWAN SEPERTI AIR
44 BAB 44. KALAH DENGAN MALU
45 BAB 45. MENANG DALAM TAWA
46 BAB 46. PERJALANAN KE BARAT
47 BAB 47. JALAN-JALAN DI KOTA
48 BAB 48. BANDIT
49 BAB 49. TAWA DI DEPAN PERAPIAN
50 BAB 50. API YANG MENYALA
51 BAB 51. API YANG BERKOBAR
52 BAB 52. SUMPAH
53 BAB 53. PAGI YANG HANGAT
54 BAB 54. DAMAI
55 BAB 55. RIBUT
56 BAB 56. PENJAGA KECIL YANG CEREWET
57 BAB 57. DUEL DAN KABAR BURUK
58 BAB 58. PAMIT
59 BAB 59. LAPORAN DI ISTANA
60 BAB 60. TIDAK TERTARIK
61 BAB 61. JEBAKAN
62 BAB 62. TIDAK MUNGKIN!
63 BAB 63. KALAH?
64 BAB 64. SEMANGAT BARU
65 BAB 65. SELESAI
66 BAB 66. MALAM SETELAH PERANG
67 BAB 67. MENANG TELAK
68 BAB 68. PESTA KEMENANGAN
69 BAB 69. TIKUS YANG TERSUDUT
70 BAB 70. HUKUMAN
71 BAB 71. HARI BERDARAH DAN BAHAGIA
72 BAB 72. SUKA CITA
73 BAB 73. PERJALANAN KE UTARA
74 BAB 74. MERTUA
75 BAB 75. DUA DETAK JANTUNG
76 BAB 76. KAKAK KECIL CEREWET
77 BAB 77. NGIDAM
78 BAB 78. MUSIM SEMI MENEGANGKAN
79 BAB 79. KETEGANGAN LAHIRAN
80 BAB 80. TANGIS PERTAMA
81 BAB 81. NAMA DUA BAYI
82 BAB 82. DRAMA KECIL
83 BAB 83. KEUSILAN SI KEMBAR
84 BAB 84. SI KEMBAR KE ISTANA
85 BAB 85. ELARA HILANG?
86 BAB 86. MALAM YANG BERISIK
87 BAB 87. FESTIVAL
88 BAB 88. LEDAKAN ENERGI
89 BAB 89. EVAKUASI
90 BAB 90. PORAK PORANDA
91 BAB 91. SEGEL
92 BAB 92. AKHIR BAHAGIA
93 SEQUEL PARA BOCIL CADEL LAUNCHING!
94 SEQEUL ROWAN LAUNCHING!!
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAB 1. AIB BERNAMA LIORA
2
BAB 2. PENGHINAAN
3
BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN
4
BAB 4. PUTRI BERUANG
5
BAB 5. AKIBAT
6
BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
7
BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
8
BAB 8. SALAH PAHAM?
9
BAB 9. PENASARAN
10
BAB 10. RACUN
11
BAB 11. MARAH
12
BAB 12. PROTEKTIF
13
BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
14
BAB 14. RAHASIA
15
BAB 15. ISTANA
16
BAB 16. GADIS KESAYANGAN
17
BAB 17. PUTRA MAHKOTA
18
BAB 18. DEKAT
19
BAB 19. INTIM
20
BAB 20. PAGI YANG HEBOH
21
BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
22
BAB 22. KEMBALI
23
BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
24
BAB 24. LAPORAN
25
BAB 25. KEPUTUSAN
26
BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
27
BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
28
BAB 28. MARKAS DAN TAMU
29
BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
30
BAB 30. INFORMASI BARU
31
BAB 31. PULANG
32
BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS
33
BAB 33. MALAM PENUH RINDU
34
BAN 34. PESTA MINUM TEH
35
BAB 35. SITUASI BERBALIK
36
BAB 36. LATIH TANDING
37
BAB 37. BERMAIN?
38
BAB 38. PAGI YANG RIUH
39
BAB 39. PESTA DANSA
40
BAB 40. BISIK-BISIK DI LANTAI DANSA
41
BAB 41. RACUN YANG BERBALIK
42
BAB 42. KONFRONTASI
43
BAB 43. MELAWAN SEPERTI AIR
44
BAB 44. KALAH DENGAN MALU
45
BAB 45. MENANG DALAM TAWA
46
BAB 46. PERJALANAN KE BARAT
47
BAB 47. JALAN-JALAN DI KOTA
48
BAB 48. BANDIT
49
BAB 49. TAWA DI DEPAN PERAPIAN
50
BAB 50. API YANG MENYALA
51
BAB 51. API YANG BERKOBAR
52
BAB 52. SUMPAH
53
BAB 53. PAGI YANG HANGAT
54
BAB 54. DAMAI
55
BAB 55. RIBUT
56
BAB 56. PENJAGA KECIL YANG CEREWET
57
BAB 57. DUEL DAN KABAR BURUK
58
BAB 58. PAMIT
59
BAB 59. LAPORAN DI ISTANA
60
BAB 60. TIDAK TERTARIK
61
BAB 61. JEBAKAN
62
BAB 62. TIDAK MUNGKIN!
63
BAB 63. KALAH?
64
BAB 64. SEMANGAT BARU
65
BAB 65. SELESAI
66
BAB 66. MALAM SETELAH PERANG
67
BAB 67. MENANG TELAK
68
BAB 68. PESTA KEMENANGAN
69
BAB 69. TIKUS YANG TERSUDUT
70
BAB 70. HUKUMAN
71
BAB 71. HARI BERDARAH DAN BAHAGIA
72
BAB 72. SUKA CITA
73
BAB 73. PERJALANAN KE UTARA
74
BAB 74. MERTUA
75
BAB 75. DUA DETAK JANTUNG
76
BAB 76. KAKAK KECIL CEREWET
77
BAB 77. NGIDAM
78
BAB 78. MUSIM SEMI MENEGANGKAN
79
BAB 79. KETEGANGAN LAHIRAN
80
BAB 80. TANGIS PERTAMA
81
BAB 81. NAMA DUA BAYI
82
BAB 82. DRAMA KECIL
83
BAB 83. KEUSILAN SI KEMBAR
84
BAB 84. SI KEMBAR KE ISTANA
85
BAB 85. ELARA HILANG?
86
BAB 86. MALAM YANG BERISIK
87
BAB 87. FESTIVAL
88
BAB 88. LEDAKAN ENERGI
89
BAB 89. EVAKUASI
90
BAB 90. PORAK PORANDA
91
BAB 91. SEGEL
92
BAB 92. AKHIR BAHAGIA
93
SEQUEL PARA BOCIL CADEL LAUNCHING!
94
SEQEUL ROWAN LAUNCHING!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!