BAB 4. PUTRI BERUANG

Liora terbangun dengan perasaan yang ... asing.

Tidak ada suara pintu dibanting.

Tidak ada teriakan pelayan.

Tidak ada bisikan yang menyebut namanya dengan nada merendahkan.

Yang ada hanyalah cahaya pagi yang jatuh lembut melalui jendela tinggi kamar pengantin di Kastil Ravens, dan keheningan yang tidak menekan dada.

Liora membuka mata perlahan.

Langit-langit kamar itu tinggi, berornamen sederhana namun berkelas. Tidak ada kemewahan berlebihan, tidak ada ukiran yang berusaha pamer kekayaan. Segalanya tampak fungsional, seperti tuannya.

Liora duduk, menyadari sesuatu dengan pelan: tidur semalamnya nyenyak. Tanpa mimpi buruk. Tanpa tangisan tertahan.

Itu ... aneh.

Liora bangkit dari ranjang, berjalan ke jendela, dan membuka tirainya. Dari sana, tampak halaman kastil Ravens yang luas, tertata rapi, dan sunyi. Tidak seperti rumah Montclair yang selalu terasa sesak oleh tatapan dan suara.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

"Masuk," ucap Liora refleks, lalu berhenti sejenak.

Nada suaranya ... tenang.

Seorang pelayan wanita masuk dengan sikap hormat. Usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya ramah, gerakannya tenang.

"Selamat pagi, Yang Mulia Duchess," katanya sambil menunduk. "Apakah Anda sudah bangun?"

Liora tertegun sepersekian detik.

Tidak ada nada sinis.

Tidak ada ejekan terselubung.

"Hmm ... ya," jawab Liora.

"Apakah Anda ingin sarapan di kamar, atau di ruang makan?" tanya pelayan itu lembut. "Kami juga menyiapkan teh herbal jika Anda menginginkannya."

Liora mengerjap.

"Kau ... tidak keberatan?" tanya Liora ragu.

Pelayan itu tampak bingung. "Keberatan ... apa, Yang Mulia?"

Liora menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Sarapan di kamar saja."

"Baik. Apakah ada makanan yang ingin Anda hindari?" tanya pelayan itu lagi dengan sopan. Nada itu serius. Menghormati.

Liora hampir tertawa karena terkejut.

"Tidak ada. Terima kasih," jawab Liora.

Pelayan itu tersenyum sopan, lalu keluar dengan langkah senyap.

Liora berdiri sendirian di tengah kamar.

Dan untuk pertama kali setelah sekian lama, ia merasa ... tidak sedang diadili.

Hari itu berjalan pelan.

Liora berjalan menyusuri lorong kastil Ravens, ditemani seorang pelayan pria muda yang bertugas menunjukkan area yang boleh ia kunjungi.

Tidak ada pandangan mencemooh. Tidak ada bisikan. Para pelayan menunduk hormat, menyapa singkat, lalu melanjutkan pekerjaan mereka.

Seolah ... Liora memang pantas berada di sana.

Dan justru itulah yang membuat Liora gelisah.

Ini tidak sesuai bayangannya.

Liora sudah menyiapkan diri untuk hinaan, untuk tatapan jijik, untuk perlakuan kasar, seperti yang selalu ia dapatkan di Montclair. Terlebih setelah rumor tentang Duke yang meninggalkannya di hari pernikahan menyebar luas.

Namun di kastil ini ... tidak ada apa-apa.

"Yang Mulia tampak kebingungan," kata pelayan yang mungkin beberapa tahun lebih dari Liora bernama, Gideon.

"Sedikit," aku Liora jujur.

"Jika ada yang mengganggu, silakan sampaikan. Perintah Duke jelas, seluruh staf harus memperlakukan Anda dengan hormat," kata Gideon dengan senyum ramah.

Liora berhenti melangkah. "Perintah Duke?" ulangnya pelan.

"Ya, Yang Mulia," jawab Gideon.

Pelayan itu tidak berkata apa pun lagi, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.

Namun di dada Liora, ada sesuatu yang bergetar kecil.

Alaric Ravens, pria yang tidak menatapnya di altar, yang pergi meninggalkannya di hari pernikahan, telah memberi perintah seperti itu?

Aneh.

Sangat aneh.

Menjelang siang, Liora meminta izin berjalan sendiri di taman samping kastil. Taman itu jarang dikunjungi, lebih kecil dibanding taman utama, dan terasa lebih sunyi. Pepohonan tinggi menaungi jalan setapak, bunga-bunga liar tumbuh tanpa banyak sentuhan tangan manusia.

Tempat yang tenang.

Liora menyukainya.

Ia berjalan perlahan, menikmati udara segar, sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.

Isak tangis.

Pelan, tertahan, seperti seseorang yang tidak ingin ketahuan menangis.

Liora menoleh.

Di bawah pohon besar, di bangku batu yang dingin, duduk seorang anak kecil. Rambutnya cokelat tua, sedikit berantakan, bahunya kecil, tubuhnya mungil. Tangannya mengepal di pangkuan, wajahnya tertunduk.

Liora ragu sejenak, lalu mendekat.

"Hei," sapa Liora lembut. "Kenapa kau menangis sendirian di sini?"

Anak itu terkejut. Ia mengangkat wajahnya cepat, mata besarnya membulat saat melihat Liora. Tatapannya berhenti, bukan sekadar melihat, melainkan memerhatikan.

Terlalu lama.

Liora hampir ingin mundur, takut bocah itu akan berteriak atau memanggil pelayan.

Namun kemudian, bibir kecil itu bergerak.

"Puteli Beluang," kata sang bocah dengan nada cadel.

Liora terdiam. Ia menatap anak itu, lalu ... tersenyum.

Bukan senyum yang dipaksakan. Melainkan senyum yang lahir begitu saja.

Liora berlutut agar sejajar dengan bocah itu. "Benar," katanya ringan. "Aku Putri Beruang. Rawr."

Anak itu berkedip. Lalu tertawa senang. "Putli Beluang lucu cekali."

"Jadi," lanjut Liora, suaranya hangat, "kenapa anak tampan sepertimu menangis sendirian di sini?"

Anak itu menunduk lagi. Bahunya turun.

"Ibu cama Ayah tidak ada," kata sang bocah cadel. "Meleka pelgi, kata pelayan."

Liora menelan ludah. "Pergi ke mana?"

"Kelja," jawabnya cepat. "Kaical panggil meleka."

Ah. Liora mengerti.

Anak ini ... jelas bukan anak Duke. Alaric Ravens belum pernah menikah, dan terlalu banyak rumor yang menyebut ia menjauh dari wanita. Namun jelas, bocah ini masih bagian dari keluarga Ravens.

Mungkin keponakan.

Mungkin kerabat jauh.

Yang jelas, ia sendirian.

Liora tersenyum lagi. "Kalau begitu ... bagaimana kalau kau main denganku saja?"

Anak itu mengangkat kepala cepat. Matanya berbinar.

"Putli Beluang mau main slcama Lowan?" tanya bocah itu.

"Ya," jawab Liora tanpa ragu. "Aku juga sendirian di sini."

Senyum bocah itu merekah lebar.

"Yeay!" serunya senang.

Liora tertawa gemas. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar suara tawa polos seperti itu. Hatinya yang selama ini berat terasa ringan hanya dengan melihat ekspresi dari Rowan.

"Jadi namamu Rowan?" tanyanya.

Anak itu mengangguk kuat.

"Namaku Liora," Liora memerkenalkan diri.

Rowan memiringkan kepala. "Lilola?"

Liora tertawa lagi, lebih lepas. "Hampir benar."

Mereka duduk di rumput, mengumpulkan daun kering, menghitung awan, dan berlarian kecil di antara pohon. Rowan bercerita dengan bahasa cadelnya tentang hal-hal sederhana, tentang burung, tentang paman yang besar, tentang kastil yang kadang terasa sepi.

"Lilola," kata Rowan tiba-tiba. "Kenapa Lilola ada di sini? Aku belum pelnah lihat Lilola."

"Karena aku baru pindah ke kastil ini semalam," jawab Liora.

Rowan mengangguk, tangannya terlipat di dada, wajahnya serius, seolah benar-benar mengerti, padahal jelas tidak.

Lucu sekali, batin Liora.

"Lilola cendilian? Tidak ada teman?" tanya Rowan.

Liora mengangguk.

Rowan tersenyum. "Kalau gitu jadi teman Lowan caja, ya!"

Liora menatapnya lembut. "Memang Rowan mau berteman denganku yang gendut ini?"

Rowan mengerutkan kening. "Gendut? Apa itu gendut?"

"Tubuh besar seperti aku disebut gendut," jelas Liora.

Rowan tersenyum lebar. "Oh! Maksud Lilola cepelti beluang?"

"Kurang lebih," jawab Liora sambil menahan tawa.

"Tenang," kata Rowan serius. "Lowan belani cama beluang. Kata paman, beluang itu lucu. Jadi Lilola juga lucu."

Pertama kali dalam hidupnya, Liora mendengar tubuhnya disebut tanpa hinaan.

Liora mengulurkan tangan, mengelus kepala Rowan pelan. Dadanya terasa hangat. Matanya sedikit perih karena kehangatan ini.

Mereka bermain sampai matahari condong ke barat.

Dan di tengah tawa kecil dan langkah-langkah ringan itu, Liora menyadari satu hal dengan sangat jelas:

Kastil Ravens ... mungkin bukan tempat yang kejam.

Walau Liora tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang menatap dirinya dan Rowan sejak tadi dari sudut bayangan.

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

Liora tunjukan kl kamu tangguh dan tegas agar Alaric tdk meremehkan mu 💪💪

2026-05-01

1

Tangsah Jagad

Tangsah Jagad

keren

2026-06-22

0

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

ternyata keluar dari kluarga sendiri yg menganggap qta hina dan memalukan bahkan pelayan pun berani terang terangan menghina... ternyata lebih membahagiakan hidup dgn orang lain...

2026-03-14

8

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. AIB BERNAMA LIORA
2 BAB 2. PENGHINAAN
3 BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN
4 BAB 4. PUTRI BERUANG
5 BAB 5. AKIBAT
6 BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
7 BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
8 BAB 8. SALAH PAHAM?
9 BAB 9. PENASARAN
10 BAB 10. RACUN
11 BAB 11. MARAH
12 BAB 12. PROTEKTIF
13 BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
14 BAB 14. RAHASIA
15 BAB 15. ISTANA
16 BAB 16. GADIS KESAYANGAN
17 BAB 17. PUTRA MAHKOTA
18 BAB 18. DEKAT
19 BAB 19. INTIM
20 BAB 20. PAGI YANG HEBOH
21 BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
22 BAB 22. KEMBALI
23 BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
24 BAB 24. LAPORAN
25 BAB 25. KEPUTUSAN
26 BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
27 BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
28 BAB 28. MARKAS DAN TAMU
29 BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
30 BAB 30. INFORMASI BARU
31 BAB 31. PULANG
32 BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS
33 BAB 33. MALAM PENUH RINDU
34 BAN 34. PESTA MINUM TEH
35 BAB 35. SITUASI BERBALIK
36 BAB 36. LATIH TANDING
37 BAB 37. BERMAIN?
38 BAB 38. PAGI YANG RIUH
39 BAB 39. PESTA DANSA
40 BAB 40. BISIK-BISIK DI LANTAI DANSA
41 BAB 41. RACUN YANG BERBALIK
42 BAB 42. KONFRONTASI
43 BAB 43. MELAWAN SEPERTI AIR
44 BAB 44. KALAH DENGAN MALU
45 BAB 45. MENANG DALAM TAWA
46 BAB 46. PERJALANAN KE BARAT
47 BAB 47. JALAN-JALAN DI KOTA
48 BAB 48. BANDIT
49 BAB 49. TAWA DI DEPAN PERAPIAN
50 BAB 50. API YANG MENYALA
51 BAB 51. API YANG BERKOBAR
52 BAB 52. SUMPAH
53 BAB 53. PAGI YANG HANGAT
54 BAB 54. DAMAI
55 BAB 55. RIBUT
56 BAB 56. PENJAGA KECIL YANG CEREWET
57 BAB 57. DUEL DAN KABAR BURUK
58 BAB 58. PAMIT
59 BAB 59. LAPORAN DI ISTANA
60 BAB 60. TIDAK TERTARIK
61 BAB 61. JEBAKAN
62 BAB 62. TIDAK MUNGKIN!
63 BAB 63. KALAH?
64 BAB 64. SEMANGAT BARU
65 BAB 65. SELESAI
66 BAB 66. MALAM SETELAH PERANG
67 BAB 67. MENANG TELAK
68 BAB 68. PESTA KEMENANGAN
69 BAB 69. TIKUS YANG TERSUDUT
70 BAB 70. HUKUMAN
71 BAB 71. HARI BERDARAH DAN BAHAGIA
72 BAB 72. SUKA CITA
73 BAB 73. PERJALANAN KE UTARA
74 BAB 74. MERTUA
75 BAB 75. DUA DETAK JANTUNG
76 BAB 76. KAKAK KECIL CEREWET
77 BAB 77. NGIDAM
78 BAB 78. MUSIM SEMI MENEGANGKAN
79 BAB 79. KETEGANGAN LAHIRAN
80 BAB 80. TANGIS PERTAMA
81 BAB 81. NAMA DUA BAYI
82 BAB 82. DRAMA KECIL
83 BAB 83. KEUSILAN SI KEMBAR
84 BAB 84. SI KEMBAR KE ISTANA
85 BAB 85. ELARA HILANG?
86 BAB 86. MALAM YANG BERISIK
87 BAB 87. FESTIVAL
88 BAB 88. LEDAKAN ENERGI
89 BAB 89. EVAKUASI
90 BAB 90. PORAK PORANDA
91 BAB 91. SEGEL
92 BAB 92. AKHIR BAHAGIA
93 SEQUEL PARA BOCIL CADEL LAUNCHING!
94 SEQEUL ROWAN LAUNCHING!!
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAB 1. AIB BERNAMA LIORA
2
BAB 2. PENGHINAAN
3
BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN
4
BAB 4. PUTRI BERUANG
5
BAB 5. AKIBAT
6
BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
7
BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
8
BAB 8. SALAH PAHAM?
9
BAB 9. PENASARAN
10
BAB 10. RACUN
11
BAB 11. MARAH
12
BAB 12. PROTEKTIF
13
BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
14
BAB 14. RAHASIA
15
BAB 15. ISTANA
16
BAB 16. GADIS KESAYANGAN
17
BAB 17. PUTRA MAHKOTA
18
BAB 18. DEKAT
19
BAB 19. INTIM
20
BAB 20. PAGI YANG HEBOH
21
BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
22
BAB 22. KEMBALI
23
BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
24
BAB 24. LAPORAN
25
BAB 25. KEPUTUSAN
26
BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
27
BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
28
BAB 28. MARKAS DAN TAMU
29
BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
30
BAB 30. INFORMASI BARU
31
BAB 31. PULANG
32
BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS
33
BAB 33. MALAM PENUH RINDU
34
BAN 34. PESTA MINUM TEH
35
BAB 35. SITUASI BERBALIK
36
BAB 36. LATIH TANDING
37
BAB 37. BERMAIN?
38
BAB 38. PAGI YANG RIUH
39
BAB 39. PESTA DANSA
40
BAB 40. BISIK-BISIK DI LANTAI DANSA
41
BAB 41. RACUN YANG BERBALIK
42
BAB 42. KONFRONTASI
43
BAB 43. MELAWAN SEPERTI AIR
44
BAB 44. KALAH DENGAN MALU
45
BAB 45. MENANG DALAM TAWA
46
BAB 46. PERJALANAN KE BARAT
47
BAB 47. JALAN-JALAN DI KOTA
48
BAB 48. BANDIT
49
BAB 49. TAWA DI DEPAN PERAPIAN
50
BAB 50. API YANG MENYALA
51
BAB 51. API YANG BERKOBAR
52
BAB 52. SUMPAH
53
BAB 53. PAGI YANG HANGAT
54
BAB 54. DAMAI
55
BAB 55. RIBUT
56
BAB 56. PENJAGA KECIL YANG CEREWET
57
BAB 57. DUEL DAN KABAR BURUK
58
BAB 58. PAMIT
59
BAB 59. LAPORAN DI ISTANA
60
BAB 60. TIDAK TERTARIK
61
BAB 61. JEBAKAN
62
BAB 62. TIDAK MUNGKIN!
63
BAB 63. KALAH?
64
BAB 64. SEMANGAT BARU
65
BAB 65. SELESAI
66
BAB 66. MALAM SETELAH PERANG
67
BAB 67. MENANG TELAK
68
BAB 68. PESTA KEMENANGAN
69
BAB 69. TIKUS YANG TERSUDUT
70
BAB 70. HUKUMAN
71
BAB 71. HARI BERDARAH DAN BAHAGIA
72
BAB 72. SUKA CITA
73
BAB 73. PERJALANAN KE UTARA
74
BAB 74. MERTUA
75
BAB 75. DUA DETAK JANTUNG
76
BAB 76. KAKAK KECIL CEREWET
77
BAB 77. NGIDAM
78
BAB 78. MUSIM SEMI MENEGANGKAN
79
BAB 79. KETEGANGAN LAHIRAN
80
BAB 80. TANGIS PERTAMA
81
BAB 81. NAMA DUA BAYI
82
BAB 82. DRAMA KECIL
83
BAB 83. KEUSILAN SI KEMBAR
84
BAB 84. SI KEMBAR KE ISTANA
85
BAB 85. ELARA HILANG?
86
BAB 86. MALAM YANG BERISIK
87
BAB 87. FESTIVAL
88
BAB 88. LEDAKAN ENERGI
89
BAB 89. EVAKUASI
90
BAB 90. PORAK PORANDA
91
BAB 91. SEGEL
92
BAB 92. AKHIR BAHAGIA
93
SEQUEL PARA BOCIL CADEL LAUNCHING!
94
SEQEUL ROWAN LAUNCHING!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!