Keluarga Qing & Kang

Burung berkicau merdu, menyambut pagi baru didunia antah berantah dengan hukum rimba yang kejam.

Qing Lizi terjaga, menggeliat malas melakukan perenggangan.

Sembuh, tubuhnya benar-benar tak lagi nyeri. Malah terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

"Lizi...!" pekik Qing Jia mengagetkan Qing Lizi.

Qing Jia mendekat, memeriksa tubuh putrinya. Menggiring raga anaknya itu kembali keranjang.

"Kenapa bangun..? kau harus istirahat, rusukmu patah." oceh kalut Qing Jia.

"Ibu, aku sudah sembuh."

"Mana mungkin..? tabib mengatakan butuh waktu setidaknya enam bulan bagimu untuk pulih."

Qing Lizi tersenyum, hatinya menghangat mendapat perhatian dari Qing Jia. Ia seolah kembali menemukan kasih sayang ibunya yang sudah lama menghilang.

"Sungguh, lihat ini..!"

Qing Lizi bangkit, lalu melompat, kayang, jungkir balik, menendang udara.

Mata Qing Jia terbelalak, seolah akan merangkak keluar dari cangkangnya. Ia menguliti tubuh sang putri dari ujung kaki hingga kepala.

"Tapi, bagaimana bisa...?" ucap Qing Jia tergagap.

"Mungkin karena obat semalam, bukankah itu dari tabib Gong..?"

Qing Jia mengangguk bodoh.

Tabib Gong, tabib terbaik diseantero jagad. Dijuluki tabib Ilahi karena konon bisa menghidupkan orang mati.

Langkah tergopoh-gopoh terdengar, Qing Mei muncul dengan nafas tersengal cemas.

"Apa yang terjadi pada cucuku..? Lizi kenapa..?"

"Ibu...!"

"Nenek...!"

Reaksi yang ditampilkan Qing Mei tak jauh beda dengan Qing Jia. Panik, takut, meminta cucunya untuk berbaring lagi.

Qing Lizi kembali beraksi akrobatik, bertingkah konyol. Melompat, salto, kayang, menendang udara, menampar angin.

"Ini, ini semua berkat Huang Feng, dia yang sudah membawa tabib Ilahi." ucap bersemangat Qing Mei memeluk erat cucunya dengan netra berkabut haru.

Mereka bersuka cita, saling mendekap sembari menitikan airmata.

"Ibu, aku ingin mandi..!"

"Ya, ya, ibu akan siapkan air hangat untukmu." Qiang Jia berbalik, namun pergerakannya terhenti karena cekalan dilengannya.

"Tidak perlu, biar aku saja yang menyiapkan air mandiku sendiri."

"Lizi, tubuhmu lemah----

"Ibu, percayalah padaku. Sekarang aku harus bisa mandiri, aku wajib belajar menjadi kuat. Aku tidak mau dikalahkan dengan penyakitku."

Ibu dan nenek bertukar tatapan, yang dikatakan Qing Lizi benar adanya.

Meski cemas, namun Qing Jia dan nenek Mei membiarkan Qing Lizi melakukan apa yang diingini.

Qing Lizi keluar kamar, empat gubuk beratap jerapi rapi langsung menyapa. Ia menuju kehalaman belakang, mengikuti ingatan pemilik asli.

Bilik mandi berukuran dua puluh meter lengkap dengan sumur dan kolam penampungan air.

Kerekan sumur diturunkan, air tertampung diember tembaga. Qing Lizi menimba sampai sepuluh kali hingga bak kayu besar penuh.

Lima jari lentiknya terulur kepermukaan bak, dari ujungnya mengalir air roh spiritual.

Dirasa cukup, ia segera berendam.

Didapur, Qing Jia dan nenek Mei sedang memasak. Mereka baru saja menggali sisa kentang dikebun belakang.

Lagi-lagi, cuma mampu membuat bubur kentang hambar dengan campuran jamur dan pakis liar.

Qing Dayan dan Qing Mei memiliki satu putri dan dua putra.

Putri pertama Qing Jia, dua puluh enam tahun status baru menjadi janda yang diceraikan kemarin.

Putra kedua Qing Shun, meninggal diterkam beruang saat berburu diusia delapan belas.

Putra ketiga Qing Jian, seorang prajurit yang bertugas diperbatasan utara. Berusia dua puluh tahun, status belum menikah.

Qing Jian sudah dua tahun tak pulang kerumah, setelah dipindah tugaskan keperbatasan.

Untuk keluarga Kang, mereka bisa dibilang keluarga paling kaya didesa Zitan. Memiliki ladang seluas sepuluh hektare dan peternakan ayam dua ratus ekor.

Kang Kuyan berusia lima puluh empat dan Hu Shi lima puluh tahun. Mempunyai dua putra dan satu putri serta enam cucu.

Putra pertama Kang Heilan, berusia tiga puluh tahun, istrinya bibi Song dua tahun lebih muda. Putranya Kang Chen dan Kang Bolin.

Putra kedua Kang Cuyan, umur dua puluh delapan. Baru menjadakan istri dan membuang putrinya. Tapi ia masih ada istri dan anak lain.

Selir Kang Cuyan yang sekarang menjadi istri sah satu-satunya bernama Jie Xie, berusia dua puluh lima tahun. Putranya Kang Yance sembilan tahun dan putrinya Kang Muli delapan tahun.

Putri bungsu bernama Kang Tao, berumur dua puluh, menikah dengan Lei Hongli, memiliki satu putra berusia lima tahun bernama Lei Shui.

Tiga puluh menit berlalu, Qing Lizi menyudahi berendamnya. Ia menuju kedapur, diam-diam mencampur minuman bening dikendi dengan air roh spiritual.

"Kau baik-baik saja..? ada yang sakit..?" tanya cemas Qing Jia.

Bukan tanpa alasan ia bertanya begitu, tadi putrinya menimba sumur.

Selama ini Qing Lizi cuma bisa duduk diam tanpa melakukan apu pun. Pasalnya, jika Lizi bekerja walau cuma menyapu halaman saja, pasti langsung sesak nafas.

Qing Lizi menggeleng "ibu lihat sendiri, aku baik-baik saja kan..?"

Qing Jia sekali lagi mengamati tubuh sang putri dengan teliti, lalu mengangguk.

"Ibu, mulai sekarang percayalah padaku. Putrimu ini sudah sembuh dan kedepannya tak akan pernah sakit-sakitan lagi. Apa pun yang aku lakukan, ibu tak perlu khawatir, oke..!"

"Iya..!" lirih Qing Jia parau. Ia bersyukur terharu dan benar-benar berharap jika anak semata wayangnya itu sembuh total.

Mereka makan bersama, Qing Jia dan nenek Mei meneguk habis air didalam kendi.

Qing Lizi tersenyum senang.

"Maafkan nenek ya..? cuma bisa menyediakan makanan seperti ini." ucap sedih nenek Mei mengusap lembut lengan sang cucu.

"Nenek, ini jauh lebih baik dari pada tidak makan sama sekali." balas merdu Lizi.

"Qiao An, tidak bisakah kau berikan aku makanan..?"

"Tidak bisa nona..!"

"Yang aku butuhkan sekarang hanya itu, bukan yang lain."

"Kalau begitu berusahalah nona, agar alam dimensi jiwamu diperluas."

"Cih, sialan...!"

"Nona, ini era lampau, berbeda dengan dunia modern. Tutur kata dan kesopanan seorang gadis itu yang utama."

"Kau pikir didunia modernya bar-bar tak punya aturan sopan santun..?"

"Aku hanya mengingatkan nona saja, agar kelak tidak jauh jodoh."

Qing Lizi mendengus sengit, tak mau lagi meladeni Qiao An.

Usai sarapan, Qing Lizi berjalan-jalan mengelilingi rumah, sembari menghafal isi kitab pengobatan.

Ia juga memeriksa setiap tanaman yang tumbuh disekelilingnya, mengamati apakah itu bisa dijadikan obat atau tidak.

Sesekali Qing Lizi mencoba untuk mengolah Qi dan tenaga dalam, berkomunikasi dengan alam lewat bisikan udara dan gemerisik ranting dedaunan.

Gadis cilik itu berjalan lebih jauh, melihat ibu dan neneknya yang sedang bekerja menggarap kebun.

Lobak, kol, daun bawang, dan sawi. Terlihat tumbuh subur setinggi mata kaki.

Pohon kesemek serta pear, berbuah lebat disudut pekarangan. Satu bulan lagi, keduanya sudah bisa dipanen.

Qing Lizi melipir jauh, mendekat kelereng hutan pegunungan.

Pohon-pohon tak terlalu rindang sebesar pinggang orang dewasa, berjajar rapi membentengi desa.

Sepertinya bagian pinggiran ini pohon yang besar-besar banyak yang sudah ditebang. Oleh sebab itu cuma bersisa yang ukurannya kecil juga sedang.

Terpopuler

Comments

Nor Azlin

Nor Azlin

bukan kah sudah di hapuskan dari memakai nama kang kan😂😂😂jadi pasti lah tidak menggunakan nya lagian ibu ayah nya sudah pun bercerai ...surat sudah di tanda tangan ibu Lizi surat pemutusan keluarga berarti marga kang tidak boleh lagi di guna lagi😂😂 lanjutkan thor

2026-03-20

0

Rai Gojess

Rai Gojess

baru saya baca Thor dan hadiahmu sudah diberikan

2026-04-12

0

The Way

The Way

nama anaknya gak ikut marga bapaknya?

2026-01-31

5

lihat semua
Episodes
1 Hanya Nama Yang Sama
2 Qing Lizi & Qiao An
3 Keluarga Qing & Kang
4 Hutan Pegunungan
5 Cuma 60%
6 Berlatih & Berpetualang
7 Mendapat banyak keuntungan
8 Menghasilkan Uang
9 Menolong Kepala Desa
10 Mulai diincar
11 Gula jagung
12 Menghasilkan uang banyak
13 Ngeborong lagi
14 Teman Baru
15 Kehebohan diDesa Zitan
16 Qing Jian Kembali
17 Masih mendalami
18 Operasi Perdana
19 Menteri Hukum Bai Yong
20 Skincare & Masker kolagen
21 Peluang Datang
22 Kebakaran Jenggot
23 Bisnis Bersama
24 Menghasilkan Uang
25 Menyusun Rencana
26 Mulai memproduksi
27 Munculnya empat varian gula
28 Bai Rong beraksi
29 Perencanaan toko kosmetik
30 Memperkaya diri
31 Beroperasinya toko kosmetik
32 Kaya-raya sungguhan
33 Memetik hasil
34 Gang Shoheng
35 Kerjasama Dengan Jiao Tong
36 Transaksi diPaviliun Nuwa
37 Kemakmuran mengundang Dengki
38 Sesuai Harapan
39 Membagi dua senjata pusaka
40 Kaya tanpa kerja keras
41 Dua kubu dua rasa
42 Membangun perubahan
43 Semua sesuai rencana
44 Desa Shinji
45 Bertemu Mantan
46 Progres desa Shinji
47 Klan Earl Zhang
48 Nona muda Zhang Ling
49 Desa Hutong
50 Operasi Zhang Ling
51 Shennong & Yen Tjien & Jingyiwei
52 Desa Fujian
53 Lain Desa Beda Cerita
54 Melebarkan sayap bisnis
55 Perkembangan Shinji dan Hutong
56 Hasil operasi
57 Tiga peluru satu terget
58 Adipati Wei & Marquis Yang
59 Sesuai Jalur
60 Grand Opening
61 Pertemuan Dua Temen
62 Transaksi & Terimakasih
63 Situasi diperbatasan selatan
64 Balasan tanpa campur tangan
65 Hakim Daerah Yuan
66 Pewaris utama Yuan Chou
67 Beban harapan berdatangan
68 Ma Shi & Ma Gui
69 Tiga belas nyawa
70 Kesibukan yang menguntungkan
71 Berburu bersama warga desa
72 Rencana Bisnis Baru
73 Undangan dari Istana
74 Uang dan Senyuman
75 Kunjungan keIstana
76 Kunjungan keIstana 2
77 Berkelana dari desa ke desa
78 Perayaan Desa Zitan
79 Desa Anhui & Anlong
80 Rencana Dibalik Kegelapan
81 Strategi Qing Lizi
82 Kebenaran dari Yoning
83 Semua punya cerita
84 Raungan dipenghujung senja
85 Kerja bagus kawan..!
86 Pesan dibalik rencana
87 Tugas Dan Rencana
88 Desa Longyi
89 Paket Tengah Malam
90 Bayang-Bayang Kematian
91 Xu-Qi Restoran
92 Mengembalikan senyum & harapan
93 Mulai Bereaksi
94 Desa Yongle & Mengjia
95 Dimulainya Mega Proyek
96 Rencana Penyerangan
97 Mencari Sarang Musuh
98 Hutan Xiong
99 Menghilang Selamanya
100 Wujud Tanpa Bayangan
101 Perampokan Massal
102 Desa Seribu Bunga
103 Finish & Sekarat
104 Musnahnya 9 Markas Cabang
105 Pembersihan Hingga Keakar
106 Berkumpul Dengan Sekutu
107 Hongcu Membara
108 Hubei Punya Cerita
109 Keakraban di Hubei
110 Kisah Heilan dan Hongli
111 Berkumpul
112 Perkembangan Mega Proyek Negara
113 Luka terpendam yang berakar
114 Memberi peringatan
115 Lawatan ke Negara Dongcu
116 Lawatan Kenegeei Dongcu 2
117 Lawatan kenegeri Dongcu 3
118 Dua Sisi Mata Uang
119 Menyerahkan Diri
120 Hotpot & Bakery
121 Penghargaan & Status
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Hanya Nama Yang Sama
2
Qing Lizi & Qiao An
3
Keluarga Qing & Kang
4
Hutan Pegunungan
5
Cuma 60%
6
Berlatih & Berpetualang
7
Mendapat banyak keuntungan
8
Menghasilkan Uang
9
Menolong Kepala Desa
10
Mulai diincar
11
Gula jagung
12
Menghasilkan uang banyak
13
Ngeborong lagi
14
Teman Baru
15
Kehebohan diDesa Zitan
16
Qing Jian Kembali
17
Masih mendalami
18
Operasi Perdana
19
Menteri Hukum Bai Yong
20
Skincare & Masker kolagen
21
Peluang Datang
22
Kebakaran Jenggot
23
Bisnis Bersama
24
Menghasilkan Uang
25
Menyusun Rencana
26
Mulai memproduksi
27
Munculnya empat varian gula
28
Bai Rong beraksi
29
Perencanaan toko kosmetik
30
Memperkaya diri
31
Beroperasinya toko kosmetik
32
Kaya-raya sungguhan
33
Memetik hasil
34
Gang Shoheng
35
Kerjasama Dengan Jiao Tong
36
Transaksi diPaviliun Nuwa
37
Kemakmuran mengundang Dengki
38
Sesuai Harapan
39
Membagi dua senjata pusaka
40
Kaya tanpa kerja keras
41
Dua kubu dua rasa
42
Membangun perubahan
43
Semua sesuai rencana
44
Desa Shinji
45
Bertemu Mantan
46
Progres desa Shinji
47
Klan Earl Zhang
48
Nona muda Zhang Ling
49
Desa Hutong
50
Operasi Zhang Ling
51
Shennong & Yen Tjien & Jingyiwei
52
Desa Fujian
53
Lain Desa Beda Cerita
54
Melebarkan sayap bisnis
55
Perkembangan Shinji dan Hutong
56
Hasil operasi
57
Tiga peluru satu terget
58
Adipati Wei & Marquis Yang
59
Sesuai Jalur
60
Grand Opening
61
Pertemuan Dua Temen
62
Transaksi & Terimakasih
63
Situasi diperbatasan selatan
64
Balasan tanpa campur tangan
65
Hakim Daerah Yuan
66
Pewaris utama Yuan Chou
67
Beban harapan berdatangan
68
Ma Shi & Ma Gui
69
Tiga belas nyawa
70
Kesibukan yang menguntungkan
71
Berburu bersama warga desa
72
Rencana Bisnis Baru
73
Undangan dari Istana
74
Uang dan Senyuman
75
Kunjungan keIstana
76
Kunjungan keIstana 2
77
Berkelana dari desa ke desa
78
Perayaan Desa Zitan
79
Desa Anhui & Anlong
80
Rencana Dibalik Kegelapan
81
Strategi Qing Lizi
82
Kebenaran dari Yoning
83
Semua punya cerita
84
Raungan dipenghujung senja
85
Kerja bagus kawan..!
86
Pesan dibalik rencana
87
Tugas Dan Rencana
88
Desa Longyi
89
Paket Tengah Malam
90
Bayang-Bayang Kematian
91
Xu-Qi Restoran
92
Mengembalikan senyum & harapan
93
Mulai Bereaksi
94
Desa Yongle & Mengjia
95
Dimulainya Mega Proyek
96
Rencana Penyerangan
97
Mencari Sarang Musuh
98
Hutan Xiong
99
Menghilang Selamanya
100
Wujud Tanpa Bayangan
101
Perampokan Massal
102
Desa Seribu Bunga
103
Finish & Sekarat
104
Musnahnya 9 Markas Cabang
105
Pembersihan Hingga Keakar
106
Berkumpul Dengan Sekutu
107
Hongcu Membara
108
Hubei Punya Cerita
109
Keakraban di Hubei
110
Kisah Heilan dan Hongli
111
Berkumpul
112
Perkembangan Mega Proyek Negara
113
Luka terpendam yang berakar
114
Memberi peringatan
115
Lawatan ke Negara Dongcu
116
Lawatan Kenegeei Dongcu 2
117
Lawatan kenegeri Dongcu 3
118
Dua Sisi Mata Uang
119
Menyerahkan Diri
120
Hotpot & Bakery
121
Penghargaan & Status

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!