Pelangi

Niko hanya membaca pesan itu tanpa niat membalas, ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.

"Ibu Guru Alisa." gumamnya pelan, nama itu terasa asing namun anehnya terasa pas di lidahnya.

Untuk mengalihkan pikirannya Niko memutuskan untuk berkeliling bangsal, baginya berinteraksi dengan pasien adalah satu-satunya bentuk komunikasi sosial yang ia toleransi.

Di mata pasien dokter Niko adalah sosok yang sangat kompeten.

Meski ia tidak banyak bicara tapi setiap diagnosisnya akurat dan setiap tindakannya memberikan rasa aman.

Di salah satu kamar dan ia memeriksa seorang pasien lansia yang baru saja menjalani operasi jantung.

“Dokter kapan saya bisa pulang? Saya rindu masakan istri saya.” tanya pasien itu dengan suara lemah.

Niko memeriksa monitor detak jantung.

“Tiga hari lagi jika grafik Anda tetap stabil dan katakan pada istri Anda untuk tidak memasak makanan bersantan dulu, itu bukan permintaan tapi itu perintah medis.” jawab Niko datar, meski terdengar kaku namun pasien itu justru tersenyum karena mereka tahu Dokter Niko peduli dengan cara yang berbeda.

Waktu menunjukkan pukul dua siang yang seharusnya Niko memiliki jadwal pertemuan dengan dewan direksi rumah sakit.

Namun ia melihat jadwal di tabletnya dan menyadari bahwa Arka pulang sekolah pukul tiga sore.

Ada dorongan aneh di dalam dirinya yaitu sesuatu yang ia labeli sebagai "tanggung jawab keluarga" yang membuatnya ingin berangkat lebih awal.

Ia mengganti jubah putihnya dengan jas kasual berwarna abu-abu gelap.

Ia bercermin sejenak kemudian merapikan kerah kemejanya, ia jarang sekali peduli pada penampilan di luar fungsi profesionalnya namun hari ini ia merasa perlu terlihat... pantas.

Saat ia tiba di sekolah "Pelangi Bangsa", suasana jauh lebih cerah dibanding kemarin.

Matahari bersinar terik dengan memantulkan warna-warni cat dinding sekolah yang ceria.

Niko memarkir mobilnya di tempat yang sama, ia keluar dari mobil dan kali ini ia tidak terburu-buru.

Ia berdiri di dekat pilar lobi dan memperhatikan dari jauh, jia melihat Alisa sedang berada di tengah lingkaran anak-anak.

Wanita itu sedang membacakan sebuah buku cerita, dari tempatnya berdiri Niko bisa mendengar suara Alisa yang lembut dan sesekali wanita itu tertawa kecil karena pertanyaan polos salah satu muridnya.

Niko terpaku, ia melihat bagaimana cahaya matahari sore mengenai helai-helai rambut cokelat Alisa, menciptakan aura keemasan di sekelilingnya.

Ia melihat bagaimana tangan Alisa yang lentik bergerak mengikuti alur cerita.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama Dokter Niko Arkana merasakan detak jantungnya meningkat bukan karena adrenalin operasi melainkan karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan secara medis.

'Dia terlihat sangat... damai.' batin Niko.

Kata itu sangat jauh dari dunianya yang penuh dengan bau obat, suara monitor jantung dan ketegangan ruang operasi.

Tiba-tiba, mata mereka bertemu.

Alisa yang sedang bercerita dan menyadari kehadiran sosok tinggi tegap di sudut lobi.

Ia menghentikan ceritanya sejenak dan memberikan senyum kecil ke arah Niko sebagai sapaan sopan.

Niko merasa tertangkap basah, ia segera membuang muka berpura-pura memeriksa jam tangannya dengan kaku.

Sial, ia merasa seperti remaja yang ketahuan mengintip, iaa berdeham dan mencoba mengembalikan kewibawaannya yang biasanya tak tergoyahkan.

Setelah kelas usai Arka berlari menghampiri Niko dengan semangat.

“Om Niko! Om lihat tadi Bu Alisa baca cerita tentang naga? Naganya baik, nggak galak kayak Om!” seru bocah kecil itu.

Niko mengerutkan kening dan mengacak rambut Arka dengan canggung, sebuah gestur kasih sayang yang masih terasa asing baginya.

“Om tidak galak, Arka. Om hanya disiplin.” seru Niko tidak terima dengan ucapan keponakannya itu.

Alisa berjalan mendekati mereka, membawa tas ransel Arka.

“Selamat sore, Pak Niko. Anda datang tepat waktu hari ini.”

Niko menatap Alisa, hari ini Alisa memakai kemeja katun sederhana berwarna biru muda yang senada dengan warna langit.

“Sore, Bu Alisa. Saya tidak suka terlambat, itu tidak efisien.” jawabnya.

Alisa terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng kecil di telinga Niko.

“Hidup tidak selalu tentang efisiensi Pak, kadang kita perlu sedikit santai agar bisa bernapas.” balas Alisa dengan mempertahankan senyum diwajahnya.

Niko menatap Alisa dengan tatapan tajamnya yang khas, namun kali ini ada sedikit binar rasa ingin tahu di sana.

“Di rumah sakit sedikit santai bisa berarti nyawa melayang Bu Alisa.” seru Niko.

“Tapi ini sekolah, Pak Niko. Bukan rumah sakit. Di sini tidak apa-apa jika kita sedikit terlambat karena ingin melihat pelangi atau berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita anak-anak.” balas Alisa dengan keberanian yang membuat dirinya sendiri terkejut.

Niko terdiam, ia tidak terbiasa dibantah apalagi dengan argumen yang melibatkan "pelangi".

Namun ia tidak merasa marah justru ia merasa ada sebuah tantangan baru dalam hidupnya yaitu seperti tantangan untuk memahami cara pikir wanita di depannya ini.

“Mungkin.” jawab Niko singkat, ia mengambil tas Arka dari tangan Alisa.

“Terima kasih untuk hari ini.” ucap Niko.

"Bu Alisa, Arka pulang dulu ya." pamit bocah kecil itu kepada Alisa.

"Iya Arka, hati-hati ya. Jangan lupa tugas rumahnya di kerjakan ya." seru Alisa dengan begitu ramah.

Saat Niko berbalik untuk pergi ia sempat melirik kembali ke arah Alisa.

Ia melihat wanita itu masih berdiri di sana melambaikan tangan pada Arka dengan senyum yang tidak pernah pudar.

Di dalam mobil, selama perjalanan pulang Niko tetap diam tidak berbicara sedangkan Arka sibuk berceloteh tentang teman-temannya, namun pikiran Niko masih tertinggal di lobi sekolah tadi.

"Om bu Alisa cantik ya." seru Arka tiba-tiba saat mereka akan sampai di rumah mewah milik keluarga Arkana.

"Hm." jawab Niko singkat namun ucapan Arka tadi begitu dalam menusuk ke hatinya.

Ia adalah seorang dokter yang ahli dalam membedah tubuh manusia mengetahui setiap letak saraf dan pembuluh darah.

Namun saat ini ia merasa ada satu bagian dalam dirinya yang baru saja tersentuh, sebuah bagian yang bahkan ia sendiri tidak tahu keberadaannya.

Niko menghela napas panjang, ia harus kembali ke mode dokternya.

Namun untuk pertama kalinya bayangan tentang masa depan itu tidak lagi hanya berisi koridor rumah sakit yang putih dan dingin, melainkan ada sedikit warna peach dan biru muda yang mulai menyelinap masuk secara perlahan.

Niko belum menyadari bahwa ini baru permulaan dari runtuhnya tembok es yang telah ia bangun setelah sekilan lamanya.

Dan ia juga belum menyadari, bahwa pasien yang paling membutuhkan penyembuhan dalam cerita ini sebenarnya adalah dirinya sendiri.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

pk dr digin seperti nya udah mulai jatuh cinta nih dgn bu guru cantik,sipp kak lanjutt👍

2026-02-02

0

🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉

🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉

niko disamain sama naga🤣

2026-02-04

0

Asyatun 1

Asyatun 1

lanjut

2026-02-01

0

lihat semua
Episodes
1 Mengantar Sekolah
2 Dokter Es
3 Pelangi
4 Arka Jatuh
5 LArtisan Bakery
6 Es Krim
7 Pingsan
8 Buket Bunga Lili Putih
9 Pride and Prejudice
10 Datanglah Ke Sekolah
11 Investasi Keluarga
12 Terlalu Banyak Madu
13 Tanaman Succulent
14 Kamu Cemburu?
15 Nutrisi Keluarga?
16 Tanggung Jawabku
17 Dunia Kita Berbeda
18 Rahasia Orang Dewasa
19 Siap, Dokter Protektif
20 Berlebihan
21 Cerewet Sekali!
22 Panjat Sosial
23 Pilihan Yang Cerdas
24 Kegagalan Sistem
25 Janji Temu
26 Diagnosa Kebenaran
27 Itu Memalukan
28 Sentimental Yang Tidak Produktif
29 Ikan Paus
30 Observasi Objektif Atau Cemburu?
31 Cek Kesehatan Gratis
32 Standar Kepantasan Paling Tinggi
33 Alisa Maafkan Aku
34 Diagnosa Baru
35 Typical Niko
36 Over-Confidence
37 Tidak Akan Menyerah
38 Ini Perintah Bukan Saran
39 Membawa Beban Berat
40 Pasien Prioritas
41 Terapi Relaksasi
42 The Aesthetic of Anatomy
43 Alasan Kehilangan Segalanya
44 Dokter Yang Sangat Cerewet
45 Jangan Membentakku
46 Pasien Yang Tidak Disiplin
47 Memanfaatkan Fasilitas VIP
48 New Story Edisi Spesial Ramadhan: Munajat Cinta
49 Resep Cinta
50 Terapi Luar Ruangan
51 Pengingat Dimana Tempatnya
52 Dua Kutub Arkana
53 Tertular Virus Ketelitian
54 Surat Mutasi
55 Undangan Gala Yayasan
56 Penjara Berlapis Emas
57 Prioritas Medis Utama
58 Sesuatu Yang Lebih Personal
59 Termos Resep
60 Ketergantungan
61 Proyek Eksperimen
62 Nutrisi Dengan Afeksi
63 Perisai Digital
64 Jurnal Kesehatan
65 Malpraktik Dalam Hidupmu
66 Kehilangan Alasan Untuk Tetap Sehat
67 Calon Istriku
68 Pasangkan Cincinnya Dokter
69 Apa Kamu Yakin Alisa?
70 Sebuah Kesepakatan Suci
71 Toko Buku Antiquariat
72 Suamiku Ini Sangat Aneh
73 Romantisme Paling Logis
74 Dokter Protektif
75 Pengingat Minum Obat
76 Dokter Gila
77 Jangan Pernah Sakit Lagi
78 Terlalu Otoriter
79 Agak Berlebihan
80 Prosedur Keamanan
81 Area Terlarang
82 Zoom Resolusi Tinggi
83 Radius Dua Meter
84 Calon Istri Pilihan Keluarga
85 Memutus Akses Finansial
86 Akses Diblokir
87 Isolasi Total
88 Aturan Itu Sudah Kadaluwarsa
89 Sudah Kuduga
90 Menghitung Probabilitas
91 Aku Tidak Takut Lagi
92 Kemenangan Terbesar
93 Kehidupan Baru (END)
94 New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
95 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
96 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
97 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Mengantar Sekolah
2
Dokter Es
3
Pelangi
4
Arka Jatuh
5
LArtisan Bakery
6
Es Krim
7
Pingsan
8
Buket Bunga Lili Putih
9
Pride and Prejudice
10
Datanglah Ke Sekolah
11
Investasi Keluarga
12
Terlalu Banyak Madu
13
Tanaman Succulent
14
Kamu Cemburu?
15
Nutrisi Keluarga?
16
Tanggung Jawabku
17
Dunia Kita Berbeda
18
Rahasia Orang Dewasa
19
Siap, Dokter Protektif
20
Berlebihan
21
Cerewet Sekali!
22
Panjat Sosial
23
Pilihan Yang Cerdas
24
Kegagalan Sistem
25
Janji Temu
26
Diagnosa Kebenaran
27
Itu Memalukan
28
Sentimental Yang Tidak Produktif
29
Ikan Paus
30
Observasi Objektif Atau Cemburu?
31
Cek Kesehatan Gratis
32
Standar Kepantasan Paling Tinggi
33
Alisa Maafkan Aku
34
Diagnosa Baru
35
Typical Niko
36
Over-Confidence
37
Tidak Akan Menyerah
38
Ini Perintah Bukan Saran
39
Membawa Beban Berat
40
Pasien Prioritas
41
Terapi Relaksasi
42
The Aesthetic of Anatomy
43
Alasan Kehilangan Segalanya
44
Dokter Yang Sangat Cerewet
45
Jangan Membentakku
46
Pasien Yang Tidak Disiplin
47
Memanfaatkan Fasilitas VIP
48
New Story Edisi Spesial Ramadhan: Munajat Cinta
49
Resep Cinta
50
Terapi Luar Ruangan
51
Pengingat Dimana Tempatnya
52
Dua Kutub Arkana
53
Tertular Virus Ketelitian
54
Surat Mutasi
55
Undangan Gala Yayasan
56
Penjara Berlapis Emas
57
Prioritas Medis Utama
58
Sesuatu Yang Lebih Personal
59
Termos Resep
60
Ketergantungan
61
Proyek Eksperimen
62
Nutrisi Dengan Afeksi
63
Perisai Digital
64
Jurnal Kesehatan
65
Malpraktik Dalam Hidupmu
66
Kehilangan Alasan Untuk Tetap Sehat
67
Calon Istriku
68
Pasangkan Cincinnya Dokter
69
Apa Kamu Yakin Alisa?
70
Sebuah Kesepakatan Suci
71
Toko Buku Antiquariat
72
Suamiku Ini Sangat Aneh
73
Romantisme Paling Logis
74
Dokter Protektif
75
Pengingat Minum Obat
76
Dokter Gila
77
Jangan Pernah Sakit Lagi
78
Terlalu Otoriter
79
Agak Berlebihan
80
Prosedur Keamanan
81
Area Terlarang
82
Zoom Resolusi Tinggi
83
Radius Dua Meter
84
Calon Istri Pilihan Keluarga
85
Memutus Akses Finansial
86
Akses Diblokir
87
Isolasi Total
88
Aturan Itu Sudah Kadaluwarsa
89
Sudah Kuduga
90
Menghitung Probabilitas
91
Aku Tidak Takut Lagi
92
Kemenangan Terbesar
93
Kehidupan Baru (END)
94
New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
95
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
96
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
97
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!