Arka Jatuh

Hari Rabu biasanya menjadi hari yang paling tenang di TK Pelangi Bangsa.

Anak-anak biasanya disibukkan dengan kegiatan melukis atau mendengarkan dongeng sebelum tidur siang.

Namun ketenangan itu pecah ketika jeritan kecil terdengar dari arah taman bermain belakang.

Alisa yang saat itu sedang merapikan buku di rak pun langsung berlari dengan jantung berdegup kencang.

Di sana, di dekat perosotan kayu Arka terduduk sambil memegangi lututnya.

Darah segar mengalir dari luka lecet yang cukup lebar, bercampur dengan pasir dan debu tanah.

Wajah Arka memerah dengan air mata mulai membanjiri pipi gembulnya.

“Arka! Sayang tidak apa-apa, bu Alisa di sini.” ucap Alisa selembut mungkin sembari berjongkok di samping anak itu.

Ia segera memeriksa lukanya, meski hanya luka lecet tapi posisi jatuhnya membuat luka itu terlihat cukup dalam dan kotor.

“Sakit, Bu Guru… Om Niko pasti marah kalau Arka luka.” isak Arka sesenggukan dan merasa takut dengan om nya itu.

Alisa merasa hatinya mencelos, mengingat wajah dingin Niko ia bisa membayangkan pria itu akan mengerutkan kening karena keteledoran ini.

Alisa segera membawa Arka ke ruang UKS dan membersihkan lukanya dengan air mengalir, namun ia menyadari bahwa serpihan pasir masuk terlalu dalam ke jaringan kulit, hal itu membuat Arka terus meringis kesakitan.

“Arka lukanya harus dibersihkan dengan benar supaya tidak infeksi, kita ke tempat Om Niko bekerja ya?” tanya Alisa.

Sejujurnya ia sendiri merasa ragu, masuk ke wilayah kekuasaan Niko terasa seperti memasuki gua singa yang dingin, namun keselamatan Arka adalah prioritas utamanya.

Setelah menghubungi kepala sekolah dan meminta izin Alisa membawa Arka menggunakan mobilnya menuju Rumah Sakit Medika Utama.

Sepanjang perjalanan Alisa berusaha menenangkan Arka meski tangannya sendiri sedikit gemetar saat memegang kemudi.

Ini bukan sekadar tentang luka Arka tapi ini tentang menghadapi Dokter Niko di habitat aslinya.

Gedung Rumah Sakit Medika Utama tampak megah dan megah.

Saat memasuki lobi aroma antiseptik yang tajam langsung menyambut indra penciuman Alisa.

Ia merasa asing di tempat yang serba putih dan kaku ini sangat berbeda dengan dunianya yang penuh warna primer dan aroma krayon.

“Permisi saya ingin bertemu Dokter Niko Arkana, ini keponakannya Arka, dia terluka saat di sekolah.” ujar Alisa pada bagian administrasi.

Petugas administrasi menatap Alisa dengan pandangan sedikit heran, lalu beralih ke Arka yang masih menangis pelan.

“Dokter Niko sedang berada di poli bedah lantai tiga, mari saya antarkan melalui lift khusus.” ucap petugas disana.

Lantai tiga terasa jauh lebih sunyi, Alisa melangkah menyusuri lorong yang sepi di mana hanya terdengar suara gesekan sepatunya di atas lantai mengilap.

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu kayu jati yang elegan dengan papan nama perak yaitu dr. Niko Arkana, Sp.B.

Alisa menarik napas panjang sambil merapikan blusnya yang sedikit berantakan karena tadi harus menggendong Arka, iaa mengetuk pintu itu tiga kali.

“Masuk.” suara bariton yang berat terdengar dari dalam.

Alisa membuka pintu perlahan, di sana di balik meja kerja yang sangat rapi Niko duduk dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya.

Ia sedang menatap layar komputer dengan fokus penuh, namun begitu ia mendengar isakan Arka kepalanya langsung mendongak.

Niko berdiri seketika, ekspresinya yang biasanya datar kini menegang.

Ia tidak melihat ke arah Alisa melainkan langsung tertuju pada lutut Arka yang terbalut kasa darurat.

“Apa yang terjadi?” tanya Niko dingin, namun ada nada kepanikan yang tersembunyi di dalamnya.

“Maaf Pak Niko, Arka jatuh di taman bermain tadi dan lukanya kemasukan pasir cukup banyak, saya khawatir jika saya bersihkan sendiri di sekolah akan semakin sakit.” Alisa menjelaskan dengan suara tenang, meski ia bisa merasakan aura intimidasi yang kuat dari pria itu.

Niko tidak menjawab, ia menghampiri Arka lalu dengan gerakan yang sangat efisien namun tak terduga lembut, ia mengangkat tubuh kecil keponakannya itu ke atas tempat tidur periksa di sudut ruangan.

“Jangan menangis Arka, laki-laki tidak boleh cengeng hanya karena lecet kecil.” ucap Niko. Tangannya mulai mengenakan sarung tangan karet tipis.

Alisa berdiri di samping tempat tidur dan memegang tangan Arka untuk memberikan dukungan moral, ia memperhatikan bagaimana Niko bekerja.

Di sekolah Niko tampak seperti pria sombong yang kaku, namun di sini, di bawah lampu periksa yang terang Niko adalah personifikasi dari profesionalisme.

Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan sangat presisi, ia mengambil pinset kemudian membersihkan serpihan pasir satu per satu dengan ketenangan yang luar biasa.

Meski Arka sesekali memekik kesakitan tapi Niko tetap fokus, ia tidak membentak namun ia juga tidak memberikan kata-kata manis yang kosong, ia hanya fokus pada penyembuhan.

“Sakit Om… pelan-pelan.” rintih Arka.

Niko berhenti sejenak lalu ia melirik ke arah Alisa.

“Pegang bahunya Bu Alisa, pastikan dia tidak banyak bergerak.” seru dokter Niko kepada Alisa.

Alisa mengangguk cepat, ia mendekatkan wajahnya ke Arka membisikkan kata-kata penenang sementara matanya tanpa sengaja terus memperhatikan profil samping wajah Niko.

Dalam jarak sedekat ini Alisa bisa melihat bulu mata Niko yang lentik namun tegas, serta konsentrasi yang mendalam di matanya.

Ada sesuatu yang sangat menarik dari pria yang sangat ahli dalam bidangnya, Alisa merasakannya yaitu sebuah rasa kagum yang mulai tumbuh tanpa permisi.

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, Niko akhirnya selesai membalut luka Arka dengan sangat rapi, ia melepaskan sarung tangan karetnya dengan bunyi plak yang khas.

PLAK

“Selesai. Besok kau sudah bisa lari lagi tapi jangan di dekat perosotan yang rusak itu.” kata Niko sambil menatap Arka.

Ia kemudian menoleh ke arah Alisa, tatapannya kini kembali tajam dan menusuk.

“Terima kasih sudah membawanya ke sini Bu Alisa, anda melakukan hal yang benar dengan tidak mencoba mengorek pasirnya sendiri.” tutur Niko.

Alisa mengembuskan napas lega.

“Sama-sama Pak Niko, saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Ini adalah tanggung jawab saya sebagai gurunya.” seru Alisa merasa begitu bersalah.

Niko terdiam sejenak, matanya menatap Alisa yang tampak kelelahan namun tetap berusaha tersenyum.

Ia melihat ada noda darah kecil di lengan blus Alisa yaitu darah Arka.

Tanpa sadar Niko merasa dadanya berdesir, seorang wanita yang begitu tulus mengurus anak orang lain hingga bajunya kotor... itu adalah konsep yang asing baginya.

“Anda tidak perlu minta maaf, anak kecil memang begitu, sebaiknya Anda membersihkan baju Anda karena ada noda darah di sana.” Niko menunjuk lengan Alisa.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

Terpopuler

Comments

Oding Ijah

Oding Ijah

penasaran,semoga cerita nya tetap berlanjut

2026-02-02

0

Diana

Diana

dingin kayak freezer tuh si Niko ya!

2026-02-26

0

Rahma Inayah

Rahma Inayah

lanjut Thor mkn seru ceritanya

2026-02-07

0

lihat semua
Episodes
1 Mengantar Sekolah
2 Dokter Es
3 Pelangi
4 Arka Jatuh
5 LArtisan Bakery
6 Es Krim
7 Pingsan
8 Buket Bunga Lili Putih
9 Pride and Prejudice
10 Datanglah Ke Sekolah
11 Investasi Keluarga
12 Terlalu Banyak Madu
13 Tanaman Succulent
14 Kamu Cemburu?
15 Nutrisi Keluarga?
16 Tanggung Jawabku
17 Dunia Kita Berbeda
18 Rahasia Orang Dewasa
19 Siap, Dokter Protektif
20 Berlebihan
21 Cerewet Sekali!
22 Panjat Sosial
23 Pilihan Yang Cerdas
24 Kegagalan Sistem
25 Janji Temu
26 Diagnosa Kebenaran
27 Itu Memalukan
28 Sentimental Yang Tidak Produktif
29 Ikan Paus
30 Observasi Objektif Atau Cemburu?
31 Cek Kesehatan Gratis
32 Standar Kepantasan Paling Tinggi
33 Alisa Maafkan Aku
34 Diagnosa Baru
35 Typical Niko
36 Over-Confidence
37 Tidak Akan Menyerah
38 Ini Perintah Bukan Saran
39 Membawa Beban Berat
40 Pasien Prioritas
41 Terapi Relaksasi
42 The Aesthetic of Anatomy
43 Alasan Kehilangan Segalanya
44 Dokter Yang Sangat Cerewet
45 Jangan Membentakku
46 Pasien Yang Tidak Disiplin
47 Memanfaatkan Fasilitas VIP
48 New Story Edisi Spesial Ramadhan: Munajat Cinta
49 Resep Cinta
50 Terapi Luar Ruangan
51 Pengingat Dimana Tempatnya
52 Dua Kutub Arkana
53 Tertular Virus Ketelitian
54 Surat Mutasi
55 Undangan Gala Yayasan
56 Penjara Berlapis Emas
57 Prioritas Medis Utama
58 Sesuatu Yang Lebih Personal
59 Termos Resep
60 Ketergantungan
61 Proyek Eksperimen
62 Nutrisi Dengan Afeksi
63 Perisai Digital
64 Jurnal Kesehatan
65 Malpraktik Dalam Hidupmu
66 Kehilangan Alasan Untuk Tetap Sehat
67 Calon Istriku
68 Pasangkan Cincinnya Dokter
69 Apa Kamu Yakin Alisa?
70 Sebuah Kesepakatan Suci
71 Toko Buku Antiquariat
72 Suamiku Ini Sangat Aneh
73 Romantisme Paling Logis
74 Dokter Protektif
75 Pengingat Minum Obat
76 Dokter Gila
77 Jangan Pernah Sakit Lagi
78 Terlalu Otoriter
79 Agak Berlebihan
80 Prosedur Keamanan
81 Area Terlarang
82 Zoom Resolusi Tinggi
83 Radius Dua Meter
84 Calon Istri Pilihan Keluarga
85 Memutus Akses Finansial
86 Akses Diblokir
87 Isolasi Total
88 Aturan Itu Sudah Kadaluwarsa
89 Sudah Kuduga
90 Menghitung Probabilitas
91 Aku Tidak Takut Lagi
92 Kemenangan Terbesar
93 Kehidupan Baru (END)
94 New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
95 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
96 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
97 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Mengantar Sekolah
2
Dokter Es
3
Pelangi
4
Arka Jatuh
5
LArtisan Bakery
6
Es Krim
7
Pingsan
8
Buket Bunga Lili Putih
9
Pride and Prejudice
10
Datanglah Ke Sekolah
11
Investasi Keluarga
12
Terlalu Banyak Madu
13
Tanaman Succulent
14
Kamu Cemburu?
15
Nutrisi Keluarga?
16
Tanggung Jawabku
17
Dunia Kita Berbeda
18
Rahasia Orang Dewasa
19
Siap, Dokter Protektif
20
Berlebihan
21
Cerewet Sekali!
22
Panjat Sosial
23
Pilihan Yang Cerdas
24
Kegagalan Sistem
25
Janji Temu
26
Diagnosa Kebenaran
27
Itu Memalukan
28
Sentimental Yang Tidak Produktif
29
Ikan Paus
30
Observasi Objektif Atau Cemburu?
31
Cek Kesehatan Gratis
32
Standar Kepantasan Paling Tinggi
33
Alisa Maafkan Aku
34
Diagnosa Baru
35
Typical Niko
36
Over-Confidence
37
Tidak Akan Menyerah
38
Ini Perintah Bukan Saran
39
Membawa Beban Berat
40
Pasien Prioritas
41
Terapi Relaksasi
42
The Aesthetic of Anatomy
43
Alasan Kehilangan Segalanya
44
Dokter Yang Sangat Cerewet
45
Jangan Membentakku
46
Pasien Yang Tidak Disiplin
47
Memanfaatkan Fasilitas VIP
48
New Story Edisi Spesial Ramadhan: Munajat Cinta
49
Resep Cinta
50
Terapi Luar Ruangan
51
Pengingat Dimana Tempatnya
52
Dua Kutub Arkana
53
Tertular Virus Ketelitian
54
Surat Mutasi
55
Undangan Gala Yayasan
56
Penjara Berlapis Emas
57
Prioritas Medis Utama
58
Sesuatu Yang Lebih Personal
59
Termos Resep
60
Ketergantungan
61
Proyek Eksperimen
62
Nutrisi Dengan Afeksi
63
Perisai Digital
64
Jurnal Kesehatan
65
Malpraktik Dalam Hidupmu
66
Kehilangan Alasan Untuk Tetap Sehat
67
Calon Istriku
68
Pasangkan Cincinnya Dokter
69
Apa Kamu Yakin Alisa?
70
Sebuah Kesepakatan Suci
71
Toko Buku Antiquariat
72
Suamiku Ini Sangat Aneh
73
Romantisme Paling Logis
74
Dokter Protektif
75
Pengingat Minum Obat
76
Dokter Gila
77
Jangan Pernah Sakit Lagi
78
Terlalu Otoriter
79
Agak Berlebihan
80
Prosedur Keamanan
81
Area Terlarang
82
Zoom Resolusi Tinggi
83
Radius Dua Meter
84
Calon Istri Pilihan Keluarga
85
Memutus Akses Finansial
86
Akses Diblokir
87
Isolasi Total
88
Aturan Itu Sudah Kadaluwarsa
89
Sudah Kuduga
90
Menghitung Probabilitas
91
Aku Tidak Takut Lagi
92
Kemenangan Terbesar
93
Kehidupan Baru (END)
94
New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
95
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
96
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
97
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!