Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan

Pria itu menutup pintu dengan gerakan pelan, terlalu terkontrol untuk orang yang baru saja mobilnya dirusak. Lalu ia menatap kaca belakang yang retak, kemudian menoleh pada Raisa.

Tatapan itu turun-naik, menilai Raisa seperti menilai sesuatu yang mengganggu jalannya.

“Kamu yang lempar?” suaranya rendah, datar, tapi ada tekanan yang membuat udara terasa lebih berat.

Raisa mengusap wajahnya yang penuh lumpur. Gerakan tangannya kasar, jijik. Ia meludah kecil ke samping.

“Iya! Emang kenapa?” Raisa melangkah maju, sepatu sandal jepitnya menciprat air. “Masnya buta ya? Mobil segede gaban lewat genangan kayak raja! Nggak lihat ada orang di jalan?!”

Krisna menyipit. “Kamu merusak properti orang.”

“Dan kamu ngerusak hidup orang!” Raisa menunjuk tubuhnya sendiri yang kotor. “Ini baju satu-satunya yang layak buat ngelamar kerja! Kamu pikir saya punya banyak baju?!”

Krisna menahan napas. Raut wajahnya tidak berubah, tapi otot di rahangnya mengeras. “Berapa harga bajumu? Saya ganti.”

Raisa tertawa pendek—tajam, sinis. “Hah! Enak banget! Duit bisa beresin semua? Mas kira saya anjing disiram air terus dikasih tulang?”

Krisna melangkah mendekat. Aura dinginnya menekan. “Jangan kurang ajar.”

Raisa justru mengangkat dagu, menantang. “Kurang ajar itu kamu, Mas! Mobil mewah, tapi nggak punya sopan santun!”

Krisna mengangkat telunjuk, menunjuk kaca belakang mobil. “Itu retak. Kamu sadar itu tindak pidana?”

Raisa berkedip, tapi bukan karena takut. Karena kesal dengan nada mengancam itu. “Pidana? Ya laporin aja! Sekalian laporin juga Mas yang nyipratin orang!”

Krisna menatapnya beberapa detik, seolah sedang menahan sesuatu di dalam dadanya agar tidak meledak. Di balik ketenangannya, ada lelah yang menumpuk—lelah yang tidak punya tempat untuk tumpah.

Ia baru pulang membawa bayi. Kepala penuh rencana klinik, penuh kekacauan batin. Dan sekarang ada gadis barbar berlumur lumpur yang merusak mobilnya lalu membentak-bentak tanpa rasa takut.

Hari pertama datang di desa, dan semesta sudah menyambutnya dengan keributan.

“Kamu sadar mobil ini bukan mainan?” Krisna berkata perlahan. “Kamu pikir merusak itu bentuk protes yang benar?”

“Setidaknya saya berani!” Raisa membalas cepat. “Daripada orang kaya yang nyakitin orang tapi pura-pura nggak salah.”

Krisna menatap Raisa, dan untuk sesaat, ada sesuatu yang bergerak di matanya—sesuatu yang seperti … tersentuh? Bukan. Tidak mungkin. Tapi kata-kata “nyakitin orang” seperti menabrak luka yang belum kering.

Ia menegang lagi. “Jangan sok tahu.”

Raisa menyibak rambutnya yang basah, memperlihatkan pipinya yang berlumur lumpur. “Saya nggak sok tahu. Saya lihat. Kamu nyiprat saya. Kamu bikin saya gagal hari ini.”

Krisna mendekat satu langkah lagi. Jarak mereka kini hanya beberapa jengkal. Raisa bisa mencium aroma parfum mahal bercampur wangi sabun rumah sakit—bersih, steril, bertolak belakang dengan lumpur di tubuhnya.

“Kalau kamu mau kompensasi, saya bisa ganti lebih dari cukup,” Krisna berkata, suaranya masih datar tapi lebih tajam. “Tapi kaca retak ini, kamu harus tanggung jawab.”

Raisa mendengus. “Saya tanggung jawab? Kamu juga!”

Krisna menatapnya tanpa berkedip. “Kamu ini siapa?”

Raisa mengangkat dagu lebih tinggi. “Raisa.”

“Hanya ‘Raisa’?” Krisna mengulang, seolah nama itu terlalu kecil untuk keributan sebesar ini.

Raisa menyeringai. “Iya. Orang miskin biasanya nggak punya gelar. Nggak kayak ‘Dokter, polisi, atau pejabat’.”

Krisna terdiam sejenak.

Ia tidak tahu kenapa kata “dokter” terdengar seperti ejekan dari mulut gadis ini. Padahal ia menghabiskan bertahun-tahun untuk gelar itu. Dulu gelar itu membuatnya bangga. Kini … gelar itu seperti baju yang berat. Menutupinya dari rasa hancur di dalam.

“Kamu pikir gelar bikin hidup gampang?” Krisna bertanya pelan, suaranya kini mengandung bara.

Raisa menatapnya tajam. “Kalau gelar nggak bikin gampang, ya minimal punya otak buat nginjek rem kalau lihat genangan!”

Krisna mendecih, kehilangan sedikit kontrol. “Kamu ini—”

“Saya ini apa? Barbar? Kampungan?” Raisa melangkah maju, hampir menabrak dada Krisna. “Iya! Saya kampungan! Tapi saya punya hati! Saya nggak nyipratin orang terus sok suci!”

Krisna menahan gerakan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia merasa darahnya naik, bukan karena Raisa benar—tapi karena cara Raisa menelanjangi sesuatu yang ia sendiri tidak siap lihat: bahwa ia sedang kehilangan kendali, dan dunia tidak peduli ia dokter atau anak Kades.

Suara bayi tiba-tiba terdengar dari dalam mobil—rengekan kecil, pelan.

Raisa tersentak. Matanya melirik ke mobil, baru sadar ada sesuatu yang hidup di sana.

Krisna langsung menoleh ke arah suara itu, tubuhnya refleks berubah. Wajah dinginnya tetap, tapi langkahnya cepat menuju pintu belakang.

Raisa menatap punggungnya dengan bingung. “Ada … bayi?”

Krisna membuka pintu belakang. Suara tangisan bayi semakin jelas. Ia mengangkat bayi itu dari car seat dengan gerakan yang—anehnya—lebih hati-hati dari sebelumnya. Bayi itu merengek, tangan kecilnya menggenggam udara.

Krisna mengayun pelan, seperti seseorang yang belajar menenangkan dengan terpaksa.

Raisa menatap pemandangan itu, mulutnya terbuka sedikit. Amarahnya tidak langsung hilang, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Orang arogan ini … bawa bayi?

Krisna menoleh lagi pada Raisa, masih menggendong bayi. Tatapannya tetap dingin, tapi kini ada bayang gelap kelelahan.

“Kamu tetap harus tanggung jawab,” katanya, suaranya lebih rendah. “Saya bisa urus ini baik-baik. Tapi jangan pikir dengan marah-marah kamu benar.”

Raisa menggertakkan gigi. “Dan jangan pikir dengan ngomong pelan kamu jadi paling benar.”

Mereka seperti dua api saling menggesek. Hujan rintik-rintik menjadi saksi, jalan kampung menjadi arena.

Beberapa orang mulai melintas—petani pulang dari sawah, ibu-ibu membawa payung, anak sekolah yang menepi karena penasaran.

“Lho, ada apa itu?” terdengar bisik-bisik.

Seorang bapak tua menghampiri, membawa jas hujan tipis. “Heh! Kalian ini kenapa ribut di jalan?”

Raisa menunjuk mobil. “Pak! Mobilnya nyipratin saya! Terus saya—”

“Terus kamu lempar batu?” bapak itu memotong, matanya membesar melihat kaca belakang retak.

Raisa menegang. “Ya … saya emosi, Pak.”

Krisna berbicara datar. “Dia merusak mobil saya.”

Bapak itu menghela napas, menatap bergantian, lalu menatap bayi di gendongan Krisna. “Lho … kamu ini … Krisna?”

Krisna menatap bapak itu sebentar, lalu mengangguk singkat. “Pakde Suyat.”

Pakde Suyat melongo. “Ya Allah … anak Pak Kades pulang beneran.”

"Eh, ada dokter duda ganteng," salah satu Ibu-ibu ikut menyahut.

Ia menoleh cepat ke warga yang mulai berkumpul, seolah ingin menyuruh mereka menelan gosip mereka sendiri.

Raisa menelan ludah. Anak Pak Kades?

Ibunya bekerja di rumah Pak Kades. Jadi pria ini … majikan ibunya? Atau anak majikannya?

Dadanya mendadak sesak, tapi bukan karena takut. Karena rasa jengkel yang makin dalam.

Bersambung .... 💕

Terpopuler

Comments

Hearty💕💕

Hearty💕💕

Raisa bilang dong kesempatan kerja saya jadi gagal.....

2026-03-14

1

Sweet Girl

Sweet Girl

Weeee sadis Nok.... luar biasa keberanian si Eneng Raisa.

2026-06-11

0

Ila Lee

Ila Lee

wah kira berjodoh ni awal2 sudah beretam 🤣🤣

2026-06-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kembali Ke Kampung
2 Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3 Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4 Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5 Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6 Bab 6. Malas Ribut
7 Bab 7. Gantiin Emak
8 Bab 8. Coba Minta Tolong
9 Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10 Bab 10. Hanya Kebetulan
11 Bab 11. Minta Maaf
12 Bab 12. Menjaga Ezio
13 Bab 13. Jenguk Bu Rika
14 Bab 14. Upah Kerja
15 Bab 15. Acara Syukuran
16 Bab 16. Baby Ezio Rewel
17 Bab 17. Raisa Datang Lagi
18 Bab 18. Yang Penting Cocok
19 Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20 Bab 20. Bukan Urusanku
21 Bab 21. Mau Cari Kerja
22 Bab 22. Berharap Raisa Datang
23 Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24 Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25 Bab 25. Ezio Sakit
26 Bab 26. Tawaran Bu Lita
27 Bab 27. Perhatian Lena
28 Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29 Bab 29. Reda Seketika
30 Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31 Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32 Bab 32. Segera Undur Diri!
33 Bab 33. Lena Cari Muka
34 Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35 Bab 35. Kembali Bersandiwara
36 Bab 36. Raisa Cerewet
37 Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38 Bab 38. Makan Gaji Buta?
39 Bab 39. Lena Semakin Panas
40 Bab 40. Jangan Salah Paham
41 Bab 41. Perdana Menginap
42 Bab 42. Ada Apa Denganku?
43 Bab 43. Tragedi di Dapur
44 Bab 44. Gincu Merah
45 Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46 Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47 Bab 47. Kedatangan Wirda
48 Bab 48. Balasan Dari Raisa
49 Bab 49. Kepergok Krisna
50 Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51 Bab 51. Gengsi Memuji
52 Bab 52. Kena Setrikaan
53 Bab 53. Mendadak Cerewet
54 Bab 54. Perintah Krisna
55 Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56 Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57 Bab 57. Menemui Wirda
58 Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59 Bab 59. Calon Istri
60 Bab 60. Saran Wirda
61 Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62 Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63 Bab 63. Niat Jahat Lena
64 Bab 64. Menjaga Jarak
65 Bab 65. Beli Untuk Raisa
66 Bab 66. Patung Liberty
67 Bab 67. Mengatur Siasat
68 Bab 68. Rekaman CCTV
69 Bab 69. Menjebak Raisa
70 Bab 70. Lena Dipecat!
71 Bab 71. Wirda Pun Diusir
72 Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73 Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74 Bab 74. Mas Krisna Aneh
75 Bab 75. Tetangga Datang
76 Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77 Bab 77. Duda Manja
78 Bab 78. Raisa Tidak Peka
79 Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80 Bab 80. Calon Istri
81 Bab 81. Nasihat Bu Lita
82 Bab 82. Temani Makan Siang
83 Bab 83. Minta Restu
84 Bab 84. Terluka
85 Bab 85. Tidak Mau Ribut
86 Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87 Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88 Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89 Bab 89. Bintang di Balai Desa
90 Bab 90. Puncak Keputusasaan
91 Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92 Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93 Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94 Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95 Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96 Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97 Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98 Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99 Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100 Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101 Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102 Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103 Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104 Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105 Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106 Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107 Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108 Bab 108. Persiapan Krisna
109 Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110 Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111 Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112 Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113 Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114 Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115 Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116 Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1. Kembali Ke Kampung
2
Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3
Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4
Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5
Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6
Bab 6. Malas Ribut
7
Bab 7. Gantiin Emak
8
Bab 8. Coba Minta Tolong
9
Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10
Bab 10. Hanya Kebetulan
11
Bab 11. Minta Maaf
12
Bab 12. Menjaga Ezio
13
Bab 13. Jenguk Bu Rika
14
Bab 14. Upah Kerja
15
Bab 15. Acara Syukuran
16
Bab 16. Baby Ezio Rewel
17
Bab 17. Raisa Datang Lagi
18
Bab 18. Yang Penting Cocok
19
Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20
Bab 20. Bukan Urusanku
21
Bab 21. Mau Cari Kerja
22
Bab 22. Berharap Raisa Datang
23
Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24
Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25
Bab 25. Ezio Sakit
26
Bab 26. Tawaran Bu Lita
27
Bab 27. Perhatian Lena
28
Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29
Bab 29. Reda Seketika
30
Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31
Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32
Bab 32. Segera Undur Diri!
33
Bab 33. Lena Cari Muka
34
Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35
Bab 35. Kembali Bersandiwara
36
Bab 36. Raisa Cerewet
37
Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38
Bab 38. Makan Gaji Buta?
39
Bab 39. Lena Semakin Panas
40
Bab 40. Jangan Salah Paham
41
Bab 41. Perdana Menginap
42
Bab 42. Ada Apa Denganku?
43
Bab 43. Tragedi di Dapur
44
Bab 44. Gincu Merah
45
Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46
Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47
Bab 47. Kedatangan Wirda
48
Bab 48. Balasan Dari Raisa
49
Bab 49. Kepergok Krisna
50
Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51
Bab 51. Gengsi Memuji
52
Bab 52. Kena Setrikaan
53
Bab 53. Mendadak Cerewet
54
Bab 54. Perintah Krisna
55
Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56
Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57
Bab 57. Menemui Wirda
58
Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59
Bab 59. Calon Istri
60
Bab 60. Saran Wirda
61
Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62
Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63
Bab 63. Niat Jahat Lena
64
Bab 64. Menjaga Jarak
65
Bab 65. Beli Untuk Raisa
66
Bab 66. Patung Liberty
67
Bab 67. Mengatur Siasat
68
Bab 68. Rekaman CCTV
69
Bab 69. Menjebak Raisa
70
Bab 70. Lena Dipecat!
71
Bab 71. Wirda Pun Diusir
72
Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73
Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74
Bab 74. Mas Krisna Aneh
75
Bab 75. Tetangga Datang
76
Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77
Bab 77. Duda Manja
78
Bab 78. Raisa Tidak Peka
79
Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80
Bab 80. Calon Istri
81
Bab 81. Nasihat Bu Lita
82
Bab 82. Temani Makan Siang
83
Bab 83. Minta Restu
84
Bab 84. Terluka
85
Bab 85. Tidak Mau Ribut
86
Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87
Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88
Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89
Bab 89. Bintang di Balai Desa
90
Bab 90. Puncak Keputusasaan
91
Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92
Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93
Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94
Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95
Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96
Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97
Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98
Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99
Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100
Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101
Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102
Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103
Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104
Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105
Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106
Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107
Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108
Bab 108. Persiapan Krisna
109
Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110
Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111
Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112
Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113
Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114
Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115
Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116
Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!