Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame

Keesokan hari ....

Pagi di rumah Pak Wijaya datang bersama cahaya lembut yang menyelinap dari sela-sela tirai. Udara masih dingin, bau tanah basah sisa hujan semalam bercampur dengan aroma teh hangat dari dapur.

Krisna sudah bangun sejak subuh.

Ia berdiri di depan cermin kamar, mengancingkan kemeja abu-abu mudanya dengan gerakan rapi dan kaku. Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya kembali ke mode profesional—tenang, dingin, nyaris tanpa cela. Seolah kejadian kemarin hanyalah gangguan kecil yang tidak layak menggores citranya.

Di ranjang kecil dekat jendela, baby Ezio tertidur telentang, tangan mungilnya terangkat ke atas, bibirnya sedikit mengerucut.

Krisna menoleh sekilas.

Ada perasaan asing setiap kali ia melihat anak itu. Campuran tanggung jawab, takut, dan rasa bersalah yang tidak punya nama. Ia mendekat, membetulkan selimut Ezio dengan ujung jarinya—gerakan yang canggung tapi hati-hati.

Tak lama, ibunya masuk sambil membawa segelas susu hangat.

“Kris ... kamu jadi lihat lokasi klinik hari ini?” tanya ibunya pelan.

“Iya, Bu, jadi. Sama Ayah,” jawab Krisna singkat.

Ibunya menaruh gelas di meja, lalu melirik Noval. “Terus Ezio sama siapa?”

Krisna menarik napas sebentar. “Itu yang mau aku bicarakan. Aku kepikiran … mungkin kita perlu pengasuh tetap. Aku nggak bisa bolak-balik ngurus Ezio kalau klinik sudah jalan.”

Ibunya tersenyum tipis, lalu mengibaskan tangan seolah itu perkara kecil. “Iya, iya. Ibu carikan. Nanti Ibu tanya-tanya tetangga. Banyak kok yang butuh pekerjaan. Nanti tinggal kamu wawancara aja."

Ia melangkah ke dekat ranjang, mengangkat Ezio dengan cekatan. Bayi itu langsung menggeliat kecil, mengeluarkan suara protes pelan.

“Lagi pula,” lanjut ibunya sambil mengayun cucunya, “Ibu ini masih kuat. Ngurus cucu sendiri juga bisa.”

Krisna menatap ibunya, ada kerut halus di antara alisnya. “Paham, tapi angan terlalu capek, Bu. Ibu juga harus menjaga kesehatannya.”

Ibunya tertawa kecil. “Capek itu kalau nganggur. Ini mah bahagia kalau ngurus cucu.”

Krisna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil map berisi sketsa kasar dan catatan rencana klinik. Ketika keluar kamar, Pak Wijaya sudah menunggu di ruang tengah, mengenakan kemeja putih dan peci hitam.

“Kamu udah siap berangkat?” tanya Pak Wijaya.

“Siap, Yah. Kita jalan sekarang.”

Mereka berdua keluar rumah, mobil melaju pelan menyusuri jalan desa yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Di waktu yang hampir bersamaan, di rumah kecil tak jauh dari sawah, Raisa sudah berdiri di depan cermin buram, mengikat rambut panjangnya dengan karet hitam. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana kain, membawa tas belanja kain yang warnanya sudah pudar.

“Mak, aku ke pasar sayur dulu,” katanya sambil menyambar dompet kecil.

Bu Rika yang sedang menyapu halaman menoleh. “Jangan lupa beli tempe. Sama cabe rawit dan bawang putih.”

Raisa mengangguk. “Iya, Mak.”

Ia mengayuh sepedanya menuju pasar kecil dekat rumah—tempat yang tak pernah sepi gosip, terutama di pagi hari.

Pasar itu sederhana: deretan lapak kayu, terpal biru, bau sayur segar bercampur aroma ikan asin dan tanah basah. Suara tawar-menawar bercampur tawa dan teriakan khas emak-emak.

Raisa memarkir sepedanya, langsung menuju lapak langganan. Baru saja ia mengambil kangkung, telinganya sudah menangkap potongan percakapan yang membuatnya refleks melirik.

“Eh, kamu sudah lihat belum anaknya Pak Kades pulang?” suara seorang emak-emak dengan jilbab ungu terdengar heboh.

“Iyaaa! Dokter itu, kan?” sahut yang lain, matanya berbinar. “Tampan banget katanya.”

“Katanya duda lho,” tambah yang lain sambil terkekeh. “Masih muda pula.”

Raisa mendengus pelan, fokus memilih tomat. Tapi suara mereka terlalu keras untuk diabaikan.

“Anak saya tuh dari kemarin nggak berhenti dandan,” kata emak berjilbab ungu. “Katanya mau bantu-bantu ke rumah Pak Kades, siapa tahu ketemu dokternya.”

“Ya Allah, sama dong,” sahut yang lain. “Anak saya juga. Pagi-pagi nanya, ‘Bu, lipstik merah cocok nggak?’”

Mereka tertawa cekikikan, seolah sedang membicarakan artis, bukan manusia sungguhan.

Raisa mencibir dalam hati. Duda kok dikejar sih. Emangnya pada nggak ada kerjaan.

Tangannya menimbang tempe dengan agak kasar. Ia menahan diri agar tidak ikut nimbrung, tapi ekspresinya sudah cukup menunjukkan apa yang ia pikirkan.

“Raisa,” sapa Bu Sumi, pedagang sayur langganannya. “Kamu dengar nggak? Anak Pak Kades sekarang tinggal di sini.”

Raisa mengangkat bahu. “Dengar sih.”

“Katanya dokter. Duda lagi,” Bu Sumi berbisik, nadanya penuh makna.

“Iya, terus?” Raisa menatap lurus.

Bu Sumi terkekeh canggung. “Ya … siapa tahu jodoh. Kali aja kamu pengen ikutan kayak yang lain.”

Raisa hampir tertawa. “Jodoh kok dicari rame-rame, Bu.”

Beberapa emak-emak menoleh ke arah Raisa, ekspresi mereka berubah—antara tersinggung dan penasaran.

“Kamu mah masih muda, Raisa. Belum ngerti,” kata emak berjilbab ungu.

Raisa menoleh, tatapannya tajam tapi malas. “Ngerti apa, Bu? Ngerti ngejar duda karena dia dokter sama anaknya Kades?”

Suasana langsung sedikit canggung.

“Eh, Raisa ini ngomongnya,” gumam seseorang.

Raisa mengambil belanjaannya, memasukkan ke tas. “Saya cuma heran. Kalau laki-laki itu jodoh, ya datang sendiri. Kalau nggak, ya udah. Nggak usah heboh kayak rebutan sembako.”

Beberapa emak-emak tersinggung, yang lain justru terkekeh tertahan.

Raisa beranjak pergi tanpa menunggu reaksi lebih jauh. Ia mengayuh sepedanya keluar pasar, angin pagi menyentuh wajahnya.

Dalam benaknya, bayangan pria dingin dengan tatapan tajam itu muncul lagi—dr. Krisna Wijaya. Anak Pak Kades. Dokter duda.

Raisa mendecih.

“Songong. Arogan. Sok paling benar,” gumamnya.

Ia sama sekali tidak sadar—atau mungkin tidak mau sadar—bahwa di saat yang hampir bersamaan, mobil hitam itu melaju pelan melewati jalan lain di desa.

Krisna duduk di kursi penumpang, menatap bangunan tua bekas balai pengobatan desa yang akan disulap menjadi klinik. Pak Wijaya menjelaskan panjang lebar, menunjuk sana-sini.

“Lokasinya strategis. Dekat pasar. Orang banyak lewat di sini,” kata Pak Wijaya.

Krisna mengangguk, matanya menyapu sekitar. Dekat pasar.

Entah kenapa, kata itu membuat wajah seseorang terlintas di kepalanya—rambut panjang, pipi cubby, mata menyala penuh perlawanan.

Ia mengerutkan kening, seolah kesal pada dirinya sendiri.

“Masalah parkir bisa diatur,” lanjut Pak Wijaya.

“Iya,” jawab Krisna pendek.

Ia tidak mengatakan bahwa pikirannya sedang tidak sepenuhnya di sini.

Di kejauhan, suara pasar terdengar samar. Suara emak-emak. Suara desa yang riuh. Suara kehidupan yang tidak pernah berhenti meski hati seseorang sedang runtuh.

Dan tanpa disadari oleh keduanya—dokter duda yang dingin dan gadis barbar yang keras—jalur hidup mereka perlahan mulai mengarah ke satu titik yang sama.

Pasar.

Klinik.

Dan desa kecil yang terlalu sempit untuk menghindari satu sama lain.

Bersambung ... 💔

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Mungkinkah Raisa akan bekerja di Klinik Krisna, karena klinik perlu tenaga admin utk proses data pasien.

2026-08-11

0

Ila Lee

Ila Lee

wah IBU2 tertinggal bas ni Raisa sudah beretam loh dengan dokter Krisna atau duda ganteng 🤣🤣🤣

2026-06-04

0

Jansen Ateng

Jansen Ateng

wah ibu ibu terlambat Raisa ajah udah adu mulut sama si dokter ganteng.😍

2026-07-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kembali Ke Kampung
2 Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3 Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4 Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5 Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6 Bab 6. Malas Ribut
7 Bab 7. Gantiin Emak
8 Bab 8. Coba Minta Tolong
9 Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10 Bab 10. Hanya Kebetulan
11 Bab 11. Minta Maaf
12 Bab 12. Menjaga Ezio
13 Bab 13. Jenguk Bu Rika
14 Bab 14. Upah Kerja
15 Bab 15. Acara Syukuran
16 Bab 16. Baby Ezio Rewel
17 Bab 17. Raisa Datang Lagi
18 Bab 18. Yang Penting Cocok
19 Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20 Bab 20. Bukan Urusanku
21 Bab 21. Mau Cari Kerja
22 Bab 22. Berharap Raisa Datang
23 Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24 Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25 Bab 25. Ezio Sakit
26 Bab 26. Tawaran Bu Lita
27 Bab 27. Perhatian Lena
28 Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29 Bab 29. Reda Seketika
30 Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31 Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32 Bab 32. Segera Undur Diri!
33 Bab 33. Lena Cari Muka
34 Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35 Bab 35. Kembali Bersandiwara
36 Bab 36. Raisa Cerewet
37 Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38 Bab 38. Makan Gaji Buta?
39 Bab 39. Lena Semakin Panas
40 Bab 40. Jangan Salah Paham
41 Bab 41. Perdana Menginap
42 Bab 42. Ada Apa Denganku?
43 Bab 43. Tragedi di Dapur
44 Bab 44. Gincu Merah
45 Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46 Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47 Bab 47. Kedatangan Wirda
48 Bab 48. Balasan Dari Raisa
49 Bab 49. Kepergok Krisna
50 Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51 Bab 51. Gengsi Memuji
52 Bab 52. Kena Setrikaan
53 Bab 53. Mendadak Cerewet
54 Bab 54. Perintah Krisna
55 Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56 Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57 Bab 57. Menemui Wirda
58 Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59 Bab 59. Calon Istri
60 Bab 60. Saran Wirda
61 Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62 Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63 Bab 63. Niat Jahat Lena
64 Bab 64. Menjaga Jarak
65 Bab 65. Beli Untuk Raisa
66 Bab 66. Patung Liberty
67 Bab 67. Mengatur Siasat
68 Bab 68. Rekaman CCTV
69 Bab 69. Menjebak Raisa
70 Bab 70. Lena Dipecat!
71 Bab 71. Wirda Pun Diusir
72 Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73 Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74 Bab 74. Mas Krisna Aneh
75 Bab 75. Tetangga Datang
76 Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77 Bab 77. Duda Manja
78 Bab 78. Raisa Tidak Peka
79 Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80 Bab 80. Calon Istri
81 Bab 81. Nasihat Bu Lita
82 Bab 82. Temani Makan Siang
83 Bab 83. Minta Restu
84 Bab 84. Terluka
85 Bab 85. Tidak Mau Ribut
86 Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87 Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88 Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89 Bab 89. Bintang di Balai Desa
90 Bab 90. Puncak Keputusasaan
91 Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92 Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93 Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94 Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95 Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96 Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97 Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98 Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99 Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100 Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101 Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102 Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103 Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104 Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105 Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106 Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107 Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108 Bab 108. Persiapan Krisna
109 Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110 Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111 Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112 Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113 Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114 Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115 Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116 Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1. Kembali Ke Kampung
2
Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3
Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4
Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5
Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6
Bab 6. Malas Ribut
7
Bab 7. Gantiin Emak
8
Bab 8. Coba Minta Tolong
9
Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10
Bab 10. Hanya Kebetulan
11
Bab 11. Minta Maaf
12
Bab 12. Menjaga Ezio
13
Bab 13. Jenguk Bu Rika
14
Bab 14. Upah Kerja
15
Bab 15. Acara Syukuran
16
Bab 16. Baby Ezio Rewel
17
Bab 17. Raisa Datang Lagi
18
Bab 18. Yang Penting Cocok
19
Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20
Bab 20. Bukan Urusanku
21
Bab 21. Mau Cari Kerja
22
Bab 22. Berharap Raisa Datang
23
Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24
Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25
Bab 25. Ezio Sakit
26
Bab 26. Tawaran Bu Lita
27
Bab 27. Perhatian Lena
28
Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29
Bab 29. Reda Seketika
30
Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31
Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32
Bab 32. Segera Undur Diri!
33
Bab 33. Lena Cari Muka
34
Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35
Bab 35. Kembali Bersandiwara
36
Bab 36. Raisa Cerewet
37
Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38
Bab 38. Makan Gaji Buta?
39
Bab 39. Lena Semakin Panas
40
Bab 40. Jangan Salah Paham
41
Bab 41. Perdana Menginap
42
Bab 42. Ada Apa Denganku?
43
Bab 43. Tragedi di Dapur
44
Bab 44. Gincu Merah
45
Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46
Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47
Bab 47. Kedatangan Wirda
48
Bab 48. Balasan Dari Raisa
49
Bab 49. Kepergok Krisna
50
Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51
Bab 51. Gengsi Memuji
52
Bab 52. Kena Setrikaan
53
Bab 53. Mendadak Cerewet
54
Bab 54. Perintah Krisna
55
Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56
Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57
Bab 57. Menemui Wirda
58
Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59
Bab 59. Calon Istri
60
Bab 60. Saran Wirda
61
Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62
Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63
Bab 63. Niat Jahat Lena
64
Bab 64. Menjaga Jarak
65
Bab 65. Beli Untuk Raisa
66
Bab 66. Patung Liberty
67
Bab 67. Mengatur Siasat
68
Bab 68. Rekaman CCTV
69
Bab 69. Menjebak Raisa
70
Bab 70. Lena Dipecat!
71
Bab 71. Wirda Pun Diusir
72
Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73
Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74
Bab 74. Mas Krisna Aneh
75
Bab 75. Tetangga Datang
76
Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77
Bab 77. Duda Manja
78
Bab 78. Raisa Tidak Peka
79
Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80
Bab 80. Calon Istri
81
Bab 81. Nasihat Bu Lita
82
Bab 82. Temani Makan Siang
83
Bab 83. Minta Restu
84
Bab 84. Terluka
85
Bab 85. Tidak Mau Ribut
86
Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87
Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88
Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89
Bab 89. Bintang di Balai Desa
90
Bab 90. Puncak Keputusasaan
91
Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92
Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93
Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94
Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95
Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96
Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97
Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98
Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99
Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100
Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101
Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102
Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103
Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104
Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105
Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106
Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107
Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108
Bab 108. Persiapan Krisna
109
Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110
Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111
Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112
Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113
Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114
Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115
Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116
Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!