Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah

Krisna melirik sekilas ke Bu Rika, lalu kembali ke ayahnya. “Dia teriak. Marah. Melempar batu, mengenai kaca mobil belakang hingga retak.”

Pak Wijaya mengangguk pelan. “Dan kamu?”

“Aku berhenti, Yah,” jawab Krisna. “Ribut dengannya. Dan dia itu … sangat kasar dan barbar.”

Bu Rika menunduk lebih dalam. Air mata menetes di punggung tangannya.

“Raisa pasti lagi capek, Pak,” katanya lirih, suaranya bergetar. “Dia lagi cari kerja. Seharian keliling naik sepeda. Kalau hujan, dia paling takut … bajunya cuma itu-itu saja.”

Kata-kata itu meluncur pelan, tapi setiap katanya seperti menekan dada Krisna tanpa izin.

Baju satu-satunya.

Surat lamaran basah.

Ia teringat map plastik buram di keranjang sepeda Raisa.

Pak Wijaya terdiam lama. Tatapannya mengarah ke ayunan bayi yang bergerak pelan. Lalu ia menghela napas.

“Bu Rika,” katanya akhirnya, “saya tahu kamu membesarkan anakmu dengan bekerja setiap hari di sini karena suamimu kerja serabutan. Saya juga tahu Raisa itu anak yang keras … tapi bukan anak sembarangan.”

Krisna mengangkat alis tipis. “Ayah membelanya?”

Pak Wijaya menatap anaknya tajam. “Ayah sedang mencoba adil, Krisna. Bukan membelanya.”

Krisna terdiam.

Bu Rika mengusap wajahnya. “Kalau soal kaca mobil Pak … saya akan ganti. Walaupun dicicil. Walau pun ... mungkin nanti agak lama lunasnya.”

Krisna terkekeh pendek—dingin. “Kaca mobil itu mahal.”

Bu Rika mengangguk cepat. “Saya tahu, Den. Tapi itu tanggung jawab saya sebagai orang tua.”

Pak Wijaya menghela napas lagi, kali ini lebih berat. “Ndak perlu sekarang.”

Bu Rika menatapnya dengan mata merah. “Tapi Pak—”

“Sudah,” potong Pak Wijaya. “Biar saya yang urus.”

Krisna menoleh cepat. “Ayah?”

Pak Wijaya menatap anaknya tanpa gentar.

 “Aku yang beli mobil itu. Atas namaku. Jadi aku juga berhak memutuskan.” Krisna mengatupkan rahang. “Ini urusan aku,” lanjutnya.

“Dan Raisa itu anak karyawan Ayah,” balas Pak Wijaya tenang. “Ibu-nya bekerja di rumah ini bertahun-tahun. Kalau kamu mau jadi dokter di desa, membuka klinik di sini, kamu harus belajar satu hal dulu.”

Krisna menyipit. “Apa?”

“Melihat manusia, bukan statusnya.” Kalimat itu jatuh telak.

Krisna menoleh ke arah jendela, hujan masih turun. Ia mengepalkan tangan di pangkuannya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin membantah—ingin berkata bahwa ia hanya menegakkan aturan, bahwa dunia tidak bisa diselesaikan dengan emosi.

Tapi ada bagian lain yang diam, karena ia tahu: ia juga sedang hidup dalam emosi yang tidak terkelola.

Bu Rika berdiri pelan. “Pak … boleh saya pulang lebih cepat hari ini? Raisa pasti—”

“Pulanglah,” kata Pak Wijaya. “Lihat anakmu.”

Bu Rika mengangguk berkali-kali. Sebelum keluar, ia memberanikan diri menoleh ke Krisna. “Den Krisna … sekali lagi saya minta maaf. Kalau Raisa lancang.”

Krisna menatapnya sebentar. Wajah perempuan itu penuh kekhawatiran seorang ibu—wajah yang mirip, samar, dengan wajah Raisa ketika menantangnya di jalan. Bedanya, Bu Rika menyembunyikan api itu di balik kepatuhan.

“Dia berani,” kata Krisna akhirnya, suaranya datar. “Itu saja.”

Bu Rika tertegun. Tidak tahu apakah itu pujian atau hinaan.

Setelah Bu Rika pergi, keheningan menutup ruang tamu.

Pak Wijaya berdiri, berjalan ke jendela, menatap halaman. “Kamu marah karena kaca mobil, atau karena hidupmu lagi kacau, Krisna?”

Krisna menegang. “Jangan bawa masalah itu  ke sini, Yah.”

Pak Wijaya menoleh. “Kamu itu anak Ayah. Dan, sangat memahami u."

Krisna menunduk. Jari-jarinya mengusap kening. “Aku capek, Yah.”

Pengakuan itu keluar tanpa ia rencanakan.

Pak Wijaya mendekat, duduk di sampingnya. “Ayah tahu.”

Krisna menatap bayi yang terlelap. “Pikiranku lagi ruwet, belum lagi mengurus anak sendiri. Lalu ketemu sama gadis gila—“ Ia berhenti.

Pak Wijaya menunggu.

“Aku malah ngerasa ditantang,” lanjut Krisna pelan. “Dan aku benci perasaan itu.”

Pak Wijaya tersenyum tipis. “Karena ada orang yang berani melawanmu?”

“Atau karena dia mengingatkan aku pada sesuatu yang ingin aku kubur,” jawab Krisna jujur.

Pak Wijaya mengangguk pelan. “Desa ini kecil, Kris. Kamu akan sering bertemu Raisa.”

Krisna mengangkat kepala. “Aku nggak minta itu, Yah.”

“Tapi hidup jarang tanya izin,” balas Pak Wijaya.

Malam turun perlahan. Hujan berhenti, menyisakan bau tanah basah yang kuat.

***

Di rumah kecil tak jauh dari sana, Raisa duduk di lantai, memeras baju yang kotor. Bajunya sudah berganti, tapi matanya masih merah—bukan karena air hujan, melainkan karena perasaan yang belum reda.

Ibunya masuk, wajah lelah, mata sembab.

“Mak?” Raisa menoleh cepat. “Kok pulang cepat?”

Bu Rika memeluk anaknya erat, mendadak. Raisa kaku sesaat, lalu membalas pelukan itu.

“Kamu kenapa, Mak?”

Bu Rika menarik napas, menahan tangis. “Kaca mobil anak Pak Kades retak, gara-gara kelakuan kamu.”

Raisa membeku.

“Anak Pak Kades?” ulangnya pelan.

Bu Rika mengangguk. “Dokter itu … yang kamu ributin.”

Raisa terdiam lama. Dadanya terasa aneh—bukan takut, tapi seperti ditarik dua arah.

“Terus?” tanya Raisa akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

“Pak Wijaya tahu kamu anak Emak."

Raisa mendengus pendek. “Bagus. Sekalian tahu kalau anak pembantu juga bisa marah. Dan tidak bisa diinjak-injak begitu saja."

Bu Rika menatapnya. “Memangnya kamu nggak takut, Nak?”

Raisa menatap lantai. “Sebenarnya ... sedikit takut. Tapi aku juga sedang lelah waktu itu, Mak. Aku gagal melamar kerja. Ngimana aku nggak kesal."

Bu Rika mengusap rambut panjang Raisa, rambut yang tadi disebut Krisna. “Maafkan Ibu ya Nak. Kamu lahir dalam keadaan seperti ini, serba kekurangan. Dan ... membuat pribadimu menjadi keras begini."

Raisa tersenyum tipis, pahit. “Kalau nggak keras, aku udah remuk dari dulu. Meski kita ini bukan orang kaya, tetap harus punya harga diri, Mak. Jangan mau diinjak-injak sama orang kaya. Dan— jangan terlihat lemah, Mak."

Sementara itu, di rumah Pak Wijaya, Krisna berdiri di depan jendela kamarnya, menatap gelapnya desa.

Nama itu terlintas lagi di kepalanya.

Raisa.

Gadis barbar. Gadis berani. Anak ART.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Krisna merasa: desa ini tidak akan memberinya ketenangan semudah yang ia bayangkan. Padahal ia kembali ke kampung untuk menenangkan diri, bukan mencari masalah baru.

"Ish, kenapa aku malah kepikiran sama anak pembantu itu. Kayak nggak ada kerjaan saja."

Bersambung ... 💔

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Sudah biasa laki laki kaya meremehkan orang yg ekonomi nya dibawah standar alias miskin, walau pun tidak semua laki laki punya sikap spt itu.Toh bisa di tebak walau nnt banyak drama antara sang Dokter desa dgn anak pembantu Ahir nya yg bucin ya sang dokter itu sendiri.

2026-08-11

0

Ila Lee

Ila Lee

wah Krisna belum lama sudah ada rindu2 gitu dengan Riasa atau jatuh cinta mungkin /Drool/

2026-06-04

0

Lies Atikah

Lies Atikah

tuan arogan dapat lawan setimpal bagus Ris salut sama sipat mu jangan mau di hinakan

2026-06-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kembali Ke Kampung
2 Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3 Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4 Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5 Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6 Bab 6. Malas Ribut
7 Bab 7. Gantiin Emak
8 Bab 8. Coba Minta Tolong
9 Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10 Bab 10. Hanya Kebetulan
11 Bab 11. Minta Maaf
12 Bab 12. Menjaga Ezio
13 Bab 13. Jenguk Bu Rika
14 Bab 14. Upah Kerja
15 Bab 15. Acara Syukuran
16 Bab 16. Baby Ezio Rewel
17 Bab 17. Raisa Datang Lagi
18 Bab 18. Yang Penting Cocok
19 Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20 Bab 20. Bukan Urusanku
21 Bab 21. Mau Cari Kerja
22 Bab 22. Berharap Raisa Datang
23 Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24 Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25 Bab 25. Ezio Sakit
26 Bab 26. Tawaran Bu Lita
27 Bab 27. Perhatian Lena
28 Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29 Bab 29. Reda Seketika
30 Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31 Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32 Bab 32. Segera Undur Diri!
33 Bab 33. Lena Cari Muka
34 Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35 Bab 35. Kembali Bersandiwara
36 Bab 36. Raisa Cerewet
37 Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38 Bab 38. Makan Gaji Buta?
39 Bab 39. Lena Semakin Panas
40 Bab 40. Jangan Salah Paham
41 Bab 41. Perdana Menginap
42 Bab 42. Ada Apa Denganku?
43 Bab 43. Tragedi di Dapur
44 Bab 44. Gincu Merah
45 Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46 Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47 Bab 47. Kedatangan Wirda
48 Bab 48. Balasan Dari Raisa
49 Bab 49. Kepergok Krisna
50 Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51 Bab 51. Gengsi Memuji
52 Bab 52. Kena Setrikaan
53 Bab 53. Mendadak Cerewet
54 Bab 54. Perintah Krisna
55 Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56 Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57 Bab 57. Menemui Wirda
58 Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59 Bab 59. Calon Istri
60 Bab 60. Saran Wirda
61 Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62 Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63 Bab 63. Niat Jahat Lena
64 Bab 64. Menjaga Jarak
65 Bab 65. Beli Untuk Raisa
66 Bab 66. Patung Liberty
67 Bab 67. Mengatur Siasat
68 Bab 68. Rekaman CCTV
69 Bab 69. Menjebak Raisa
70 Bab 70. Lena Dipecat!
71 Bab 71. Wirda Pun Diusir
72 Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73 Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74 Bab 74. Mas Krisna Aneh
75 Bab 75. Tetangga Datang
76 Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77 Bab 77. Duda Manja
78 Bab 78. Raisa Tidak Peka
79 Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80 Bab 80. Calon Istri
81 Bab 81. Nasihat Bu Lita
82 Bab 82. Temani Makan Siang
83 Bab 83. Minta Restu
84 Bab 84. Terluka
85 Bab 85. Tidak Mau Ribut
86 Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87 Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88 Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89 Bab 89. Bintang di Balai Desa
90 Bab 90. Puncak Keputusasaan
91 Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92 Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93 Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94 Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95 Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96 Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97 Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98 Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99 Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100 Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101 Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102 Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103 Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104 Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105 Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106 Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107 Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108 Bab 108. Persiapan Krisna
109 Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110 Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111 Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112 Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113 Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114 Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115 Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116 Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1. Kembali Ke Kampung
2
Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3
Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4
Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5
Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6
Bab 6. Malas Ribut
7
Bab 7. Gantiin Emak
8
Bab 8. Coba Minta Tolong
9
Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10
Bab 10. Hanya Kebetulan
11
Bab 11. Minta Maaf
12
Bab 12. Menjaga Ezio
13
Bab 13. Jenguk Bu Rika
14
Bab 14. Upah Kerja
15
Bab 15. Acara Syukuran
16
Bab 16. Baby Ezio Rewel
17
Bab 17. Raisa Datang Lagi
18
Bab 18. Yang Penting Cocok
19
Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20
Bab 20. Bukan Urusanku
21
Bab 21. Mau Cari Kerja
22
Bab 22. Berharap Raisa Datang
23
Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24
Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25
Bab 25. Ezio Sakit
26
Bab 26. Tawaran Bu Lita
27
Bab 27. Perhatian Lena
28
Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29
Bab 29. Reda Seketika
30
Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31
Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32
Bab 32. Segera Undur Diri!
33
Bab 33. Lena Cari Muka
34
Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35
Bab 35. Kembali Bersandiwara
36
Bab 36. Raisa Cerewet
37
Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38
Bab 38. Makan Gaji Buta?
39
Bab 39. Lena Semakin Panas
40
Bab 40. Jangan Salah Paham
41
Bab 41. Perdana Menginap
42
Bab 42. Ada Apa Denganku?
43
Bab 43. Tragedi di Dapur
44
Bab 44. Gincu Merah
45
Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46
Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47
Bab 47. Kedatangan Wirda
48
Bab 48. Balasan Dari Raisa
49
Bab 49. Kepergok Krisna
50
Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51
Bab 51. Gengsi Memuji
52
Bab 52. Kena Setrikaan
53
Bab 53. Mendadak Cerewet
54
Bab 54. Perintah Krisna
55
Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56
Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57
Bab 57. Menemui Wirda
58
Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59
Bab 59. Calon Istri
60
Bab 60. Saran Wirda
61
Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62
Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63
Bab 63. Niat Jahat Lena
64
Bab 64. Menjaga Jarak
65
Bab 65. Beli Untuk Raisa
66
Bab 66. Patung Liberty
67
Bab 67. Mengatur Siasat
68
Bab 68. Rekaman CCTV
69
Bab 69. Menjebak Raisa
70
Bab 70. Lena Dipecat!
71
Bab 71. Wirda Pun Diusir
72
Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73
Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74
Bab 74. Mas Krisna Aneh
75
Bab 75. Tetangga Datang
76
Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77
Bab 77. Duda Manja
78
Bab 78. Raisa Tidak Peka
79
Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80
Bab 80. Calon Istri
81
Bab 81. Nasihat Bu Lita
82
Bab 82. Temani Makan Siang
83
Bab 83. Minta Restu
84
Bab 84. Terluka
85
Bab 85. Tidak Mau Ribut
86
Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87
Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88
Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89
Bab 89. Bintang di Balai Desa
90
Bab 90. Puncak Keputusasaan
91
Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92
Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93
Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94
Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95
Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96
Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97
Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98
Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99
Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100
Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101
Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102
Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103
Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104
Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105
Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106
Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107
Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108
Bab 108. Persiapan Krisna
109
Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110
Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111
Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112
Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113
Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114
Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115
Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116
Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!