Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Bab 1. Kembali Ke Kampung

Bismillah

❤️❤️❤️

“Mas … kita sudah sampai.”

Kata-kata itu melayang di udara beberapa detik sebelum akhirnya mendarat. Tidak langsung di telinga Krisna—lebih dulu di kaca mobil yang berembun, di suara hujan yang mengetuk atap, di detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu pelan untuk seseorang yang seharusnya hidup.

Pria berwajah rupawan itu tidak menjawab.

Ia duduk diam di kursi belakang. Satu tangannya bertumpu di paha, tangan lain menggenggam ponsel dengan layar gelap. Jempolnya sempat bergerak, refleks, seolah masih ingin membuka chat terakhir. Tapi layar itu sudah lama mati. Tidak ada pesan baru. Tidak akan ada.

Di layar itu, percakapan mereka berhenti begitu saja. Tidak ditutup. Tidak dibereskan. Seperti luka yang dibiarkan terbuka—tidak berdarah, tapi perihnya menetap.

Di sampingnya, seorang bayi berusia enam bulan tertidur di car seat. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Sesekali alisnya berkerut kecil, lalu kembali tenang. Dunia belum sempat mengajarinya kecewa.

Krisna menoleh.

Matanya berhenti terlalu lama di wajah kecil itu.

Enam bulan.

Enam bulan bangun malam, enam bulan memanaskan susu sendirian, enam bulan menyandarkan dahi ke dinding kamar mandi supaya tidak ada yang melihat matanya merah. Enam bulan mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih utuh.

Padahal ia sudah runtuh, hanya rapi dari luar.

Ia menarik napas panjang. Dada terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.

“Enam bulan,” gumamnya, nyaris tanpa suara.

Ia membuka pintu mobil.

Udara desa langsung menyerbu—dingin, basah, membawa aroma tanah hujan, rumput, dan kandang sapi. Bau yang dulu selalu ia keluhkan setiap pulang kampung. Bau yang sekarang membuat bahunya sedikit mengendur, seperti seseorang yang akhirnya boleh berhenti berpura-pura.

Langit Yogyakarta, lebih tepatnya di salah satu desa Kabupaten Kulon Progo menggantung rendah. Awan kelabu menutup rapat, dan hujan jatuh pelan tapi terus-menerus, seakan langit sendiri sedang lelah menahan sesuatu.

Di ujung halaman, Pak Wijaya sudah berdiri.

Kemejanya disetrika rapi. Kain sarungnya lurus. Rambutnya disisir ke belakang seperti biasa. Tapi matanya—mata itu tidak berubah. Tetap mata seorang ayah yang terbiasa membaca diam anaknya.

Tatapannya turun ke mobil. Naik ke Krisna. Lalu berhenti di bayi.

“Ndak memberi kabar dulu kamu,” katanya.

Nada suaranya datar, tapi di sela-selanya ada sesuatu yang tertahan. Seperti pintu yang tidak dibuka penuh.

Krisna meraih car seat. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkatnya, cepat ia sembunyikan dengan mengencangkan rahang.

“Aku nggak mau jadi ramai di sini, Yah.”

Pak Wijaya mendengus kecil. “Orang desa mana bisa ndak ramai. Wong kamu itu anak Kades. Dokter pula. Tampan. Duda kota—”

Ia berhenti.

Kata itu terlanjur melayang, lalu jatuh di antara mereka.

Krisna menegang. Otot di lehernya menonjol. “Jangan bahas, Yah.”

Suara itu tidak tinggi. Justru terlalu terkendali.

Pak Wijaya menatapnya lama. Lama sekali. Seolah ingin mengatakan banyak hal tanpa mengucapkannya. Lalu ia mengangguk pelan. “Ya sudah. Masuk. Ibukmu di dalam.”

Begitu melangkah ke dalam rumah, aroma sayur lodeh langsung menyambut. Hangat. Familiar. Seperti pelukan yang datang terlambat tapi tetap dibutuhkan.

Namun bersamaan dengan itu, ada rasa lain yang menyelinap—rasa bersalah yang menggigit pelan. Krisna pulang membawa bayi, bukan kebahagiaan. Pulang membawa sisa, bukan kemenangan.

Ibunya muncul dari dapur, tangan masih basah. Begitu melihat bayi, napasnya tertahan.

“Ya Allah ....”

Ia melangkah cepat. Tangannya gemetar saat menyentuh car seat. “Cucuku ....” Matanya berkaca. Bibirnya bergetar, tapi senyumnya dipaksakan tetap ada.

“Assalammualaikum, Bu,” ucap Krisna.

Ibunya tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah anaknya. Lama. Terlalu lama untuk sekadar ibu yang menyambut pulang.

“Waalaikumsalam,” katanya akhirnya. “Kamu kok kurusan. Matamu … kok celong begitu? Kayak orang kurang tidur."

Krisna mengalihkan pandang. Menatap lantai. “Aku baik, Bu.”

Ibunya menghela napas pelan. “Orang yang baik itu ndak perlu ngomong ‘aku baik’.”

Kata-kata itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat dada Krisna terasa sesak. Ia menelan ludah. Tidak membalas.

***

Di luar rumah besar itu, gosip sudah berlari lebih cepat daripada rintik hujan.

Di warung kopi, di teras rumah, di ladang—nama Krisna Wijaya disebut dengan nada beragam. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang berharap.

“Anaknya Pak Kades pulang, lho. Dokter!” bisik Bu Tumini sambil menutup mulut, padahal suaranya cukup keras untuk didengar satu kampung.

“Katanya udah cerai. Bawa bayi pula,” tambah yang lain, matanya berbinar seperti menonton sinetron gratis.

“Lha, kalau cerai, berarti … sendiri dong?” ada yang tertawa kecil, mengusap jilbabnya, membayangkan kesempatan.

Namun di antara semua yang sibuk mengunyah berita, ada satu nama yang tidak ikut disebut-sebut karena pemiliknya sedang sibuk memikirkan hal lain: cara agar besok dapur tetap ngebul.

Raisa.

Usianya 19 tahun, baru dua bulan lulus sekolah. Ia tidak punya waktu untuk kagum pada “dokter tampan anak Kades”. Dunia Raisa lebih sederhana dan lebih keras: uang belanja yang makin menipis, ayah yang penghasilannya tidak menentu, dan ibunya—Bu Rika—yang tiap pagi pergi bekerja sebagai ART di rumah Pak Kades.

Raisa tidak pernah benar-benar masuk ke rumah majikan ibunya. Ia tahu pagar besar itu, tahu halaman luas itu, tahu kabar burung tentang kaya raya. Tapi ia tidak mengenal siapa pun di dalamnya selain ibunya yang pulang dengan lelah dan cerita singkat.

Dan dr. Krisna? Raisa tidak punya alasan untuk mengenalnya. Dokter itu lama tinggal di Jakarta, sejak masa kuliahnya. Nama itu hanya selintas di telinganya, seperti angin lewat.

***

Satu jam sebelumnya ....

Siang itu, hujan rintik-rintik menorehkan titik-titik basah di kepala Raisa. Ia mengayuh sepeda tuanya, ban berderit pelan melewati jalan yang mulai licin.

Kemejanya sederhana, celana kainnya sudah agak pudar. Di keranjang depan, ada map berisi fotokopi ijazah dan surat lamaran yang dibungkus plastik agar tidak basah.

Ia menahan napas setiap kali roda sepedanya melewati genangan, takut terpeleset.

“Bismillah … semoga keterima kerja,” gumamnya, menatap papan toko kecil di ujung jalan desa—toko sembako yang kabarnya butuh pelayan.

Raisa mempercepat kayuhan.

Dan saat itulah sebuah mobil hitam melaju dari arah berlawanan. Mobil itu tidak pelan. Tidak berhenti. Tidak peduli.

Ban mobil menghantam genangan air yang lebar, dan dalam satu detik, air cokelat bercampur lumpur terlempar seperti ombak kecil.

PRAAAK!

Lumpur menyapu tubuh Raisa. Menampar wajahnya, membasahi rambut, merembes ke baju, menodai surat lamaran dalam plastik yang kini tampak buram.

Raisa terdiam sepersekian detik—otaknya seperti perlu waktu untuk memahami penghinaan itu.

Lalu suara dari mulutnya meledak.

“Hai!!”

Sepedanya oleng. Ia mengerem mendadak sampai ban berdecit. Matanya merah, bukan karena hujan, tapi karena amarah yang naik dari perut seperti api.

Mobil itu terus melaju.

Raisa menatap punggung mobil mewah itu seperti menatap musuh hidup-mati.

“Kurang ajar!” Ia melempar sepeda ke pinggir jalan begitu saja.

Tangannya menyapu tanah, mencari apa saja. Jari-jarinya menemukan batu—besar, berat, kasar.

Darah di pelipisnya serasa mendidih.

“Kalau kaya nggak berarti boleh semena-mena!” ia menggeram, lalu mengangkat batu itu dengan kedua tangan.

Raisa berlari beberapa langkah dan ....

DUAARR!

Batu menghantam kaca belakang mobil. Suara retakan terdengar jelas bahkan di tengah rintik hujan.

Mobil itu langsung mengerem keras dan berhenti beberapa meter di depan. Lampu rem menyala merah seperti mata marah.

Raisa terengah, dada naik turun. Tangannya gemetar bukan karena takut—tapi karena adrenaline.

Pintu mobil terbuka.

Bukan dari sisi sopir. Dari sisi penumpang.

Seorang pria keluar.

Tinggi. Tegap. Jaket hitam yang mahal. Rambutnya rapi tapi tampak seperti baru diacak stres. Wajahnya tampan dengan garis tegas yang membuat orang mudah terpikat—tapi tatapannya dingin, tajam, seperti pisau bedah.

Dr. Krisna Wijaya.

 

Bersambung .... 💕

Assalammualaikum, siapa nih yang kaget sama Mommy Ghina di sini? 😁 Ah, pasti nggak kangen ya 😭.

Mommy Ghina kembali lagi nih dengan cerita barunya. Seperti biasanya nih, minta kerja samanya agar retensi aman ya. No skip bab, ikuti terus ceritanya, jangan nabung bab, jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. Pokoknya minta dukungannya agar bisa stay di sini ya. Khusus buat yang suka tabung bab sebaiknya baca saat karya sudah tamat saja ya, Say.

Sebelumnya terima kasih banyak 🤗

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

walaupun telat hadir tapi aku mampir... kirain othor liburan dr NT dulu ternyata banyak banget novel barunya, biar ngk bingung aku baca yg end dulu deh..

2026-07-26

0

Tamirah

Tamirah

Visual dari alur cerita nya keren, awal dari perkenalan yg gak sengaja' tapi akan berlanjut menjadi drama yg mengasyikkan... lanjut Thor.

2026-08-11

0

Ila Lee

Ila Lee

lama menunggu mami ghina novelnya aku hadir Thor dari melaysia pasti best cerita nya ya mantap❤️❤️❤️❤️❤️ hebat Raisa berani kerana benar💪💪💪💪

2026-06-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kembali Ke Kampung
2 Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3 Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4 Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5 Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6 Bab 6. Malas Ribut
7 Bab 7. Gantiin Emak
8 Bab 8. Coba Minta Tolong
9 Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10 Bab 10. Hanya Kebetulan
11 Bab 11. Minta Maaf
12 Bab 12. Menjaga Ezio
13 Bab 13. Jenguk Bu Rika
14 Bab 14. Upah Kerja
15 Bab 15. Acara Syukuran
16 Bab 16. Baby Ezio Rewel
17 Bab 17. Raisa Datang Lagi
18 Bab 18. Yang Penting Cocok
19 Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20 Bab 20. Bukan Urusanku
21 Bab 21. Mau Cari Kerja
22 Bab 22. Berharap Raisa Datang
23 Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24 Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25 Bab 25. Ezio Sakit
26 Bab 26. Tawaran Bu Lita
27 Bab 27. Perhatian Lena
28 Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29 Bab 29. Reda Seketika
30 Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31 Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32 Bab 32. Segera Undur Diri!
33 Bab 33. Lena Cari Muka
34 Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35 Bab 35. Kembali Bersandiwara
36 Bab 36. Raisa Cerewet
37 Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38 Bab 38. Makan Gaji Buta?
39 Bab 39. Lena Semakin Panas
40 Bab 40. Jangan Salah Paham
41 Bab 41. Perdana Menginap
42 Bab 42. Ada Apa Denganku?
43 Bab 43. Tragedi di Dapur
44 Bab 44. Gincu Merah
45 Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46 Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47 Bab 47. Kedatangan Wirda
48 Bab 48. Balasan Dari Raisa
49 Bab 49. Kepergok Krisna
50 Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51 Bab 51. Gengsi Memuji
52 Bab 52. Kena Setrikaan
53 Bab 53. Mendadak Cerewet
54 Bab 54. Perintah Krisna
55 Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56 Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57 Bab 57. Menemui Wirda
58 Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59 Bab 59. Calon Istri
60 Bab 60. Saran Wirda
61 Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62 Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63 Bab 63. Niat Jahat Lena
64 Bab 64. Menjaga Jarak
65 Bab 65. Beli Untuk Raisa
66 Bab 66. Patung Liberty
67 Bab 67. Mengatur Siasat
68 Bab 68. Rekaman CCTV
69 Bab 69. Menjebak Raisa
70 Bab 70. Lena Dipecat!
71 Bab 71. Wirda Pun Diusir
72 Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73 Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74 Bab 74. Mas Krisna Aneh
75 Bab 75. Tetangga Datang
76 Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77 Bab 77. Duda Manja
78 Bab 78. Raisa Tidak Peka
79 Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80 Bab 80. Calon Istri
81 Bab 81. Nasihat Bu Lita
82 Bab 82. Temani Makan Siang
83 Bab 83. Minta Restu
84 Bab 84. Terluka
85 Bab 85. Tidak Mau Ribut
86 Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87 Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88 Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89 Bab 89. Bintang di Balai Desa
90 Bab 90. Puncak Keputusasaan
91 Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92 Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93 Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94 Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95 Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96 Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97 Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98 Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99 Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100 Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101 Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102 Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103 Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104 Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105 Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106 Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107 Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108 Bab 108. Persiapan Krisna
109 Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110 Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111 Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112 Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113 Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114 Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115 Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116 Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1. Kembali Ke Kampung
2
Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
3
Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades
4
Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
5
Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
6
Bab 6. Malas Ribut
7
Bab 7. Gantiin Emak
8
Bab 8. Coba Minta Tolong
9
Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh
10
Bab 10. Hanya Kebetulan
11
Bab 11. Minta Maaf
12
Bab 12. Menjaga Ezio
13
Bab 13. Jenguk Bu Rika
14
Bab 14. Upah Kerja
15
Bab 15. Acara Syukuran
16
Bab 16. Baby Ezio Rewel
17
Bab 17. Raisa Datang Lagi
18
Bab 18. Yang Penting Cocok
19
Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
20
Bab 20. Bukan Urusanku
21
Bab 21. Mau Cari Kerja
22
Bab 22. Berharap Raisa Datang
23
Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?
24
Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa
25
Bab 25. Ezio Sakit
26
Bab 26. Tawaran Bu Lita
27
Bab 27. Perhatian Lena
28
Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
29
Bab 29. Reda Seketika
30
Bab 30. Apakah Saya Dipecat?
31
Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
32
Bab 32. Segera Undur Diri!
33
Bab 33. Lena Cari Muka
34
Bab 34. Serigala Berbulu Domba
35
Bab 35. Kembali Bersandiwara
36
Bab 36. Raisa Cerewet
37
Bab 37. Raisa Kerja, Lena Diam Saja
38
Bab 38. Makan Gaji Buta?
39
Bab 39. Lena Semakin Panas
40
Bab 40. Jangan Salah Paham
41
Bab 41. Perdana Menginap
42
Bab 42. Ada Apa Denganku?
43
Bab 43. Tragedi di Dapur
44
Bab 44. Gincu Merah
45
Bab 45. Cie, Ada Yang Kepikiran
46
Bab 46. Main Nyonya Nyonyaan
47
Bab 47. Kedatangan Wirda
48
Bab 48. Balasan Dari Raisa
49
Bab 49. Kepergok Krisna
50
Bab 50. Ada Yang Bisa Saya Bantu, Mas?
51
Bab 51. Gengsi Memuji
52
Bab 52. Kena Setrikaan
53
Bab 53. Mendadak Cerewet
54
Bab 54. Perintah Krisna
55
Bab 55. Nasi Goreng Buatan Raisa
56
Bab 56. Tamu di Pagi Hari
57
Bab 57. Menemui Wirda
58
Bab 58. Mencoba Mendekati Ezio
59
Bab 59. Calon Istri
60
Bab 60. Saran Wirda
61
Bab 61. Interogasi Raisa - 1
62
Bab 62. Interogasi Raisa - 2
63
Bab 63. Niat Jahat Lena
64
Bab 64. Menjaga Jarak
65
Bab 65. Beli Untuk Raisa
66
Bab 66. Patung Liberty
67
Bab 67. Mengatur Siasat
68
Bab 68. Rekaman CCTV
69
Bab 69. Menjebak Raisa
70
Bab 70. Lena Dipecat!
71
Bab 71. Wirda Pun Diusir
72
Bab 72. Waktunya Raisa Libur
73
Bab 73. Mau Ke Mana, Mas?
74
Bab 74. Mas Krisna Aneh
75
Bab 75. Tetangga Datang
76
Bab 76. Mas Dokter Kayak Orang Cemburu
77
Bab 77. Duda Manja
78
Bab 78. Raisa Tidak Peka
79
Bab 79. Kedatangan Tamu Yang Tak Diundang
80
Bab 80. Calon Istri
81
Bab 81. Nasihat Bu Lita
82
Bab 82. Temani Makan Siang
83
Bab 83. Minta Restu
84
Bab 84. Terluka
85
Bab 85. Tidak Mau Ribut
86
Bab 86. Prahara di Gerbang Megah
87
Bab 87. Getir dan Restu di Balik Gunjingan
88
Bab 88. Kilau Lamaran dan Fitnah yang Terhempas
89
Bab 89. Bintang di Balai Desa
90
Bab 90. Puncak Keputusasaan
91
Bab 91. Senja Penawar Lara di Yogyakarta
92
Bab 92. Di Bawah Langit Malioboro dan Jeruji Keadilan
93
Bab 93. Benang Takdir di Lembaran Batik
94
Bab 94. Benteng Martabat dan Suara Sumbang
95
Bab 95. Ruang Teduh di Balik Putihnya Klinik
96
Bab. 96. Rahasia di Balik Kabut Masa Lalu
97
Bab 97. Janji di Atas Awan Menoreh
98
Bab 98. Istana di Balik Pagar Bambu
99
Bab 99. Pesan Cinta dari Seberang Rindu
100
Bab 100. Sinyal Rindu Dan Percikan Air Suci
101
Bab 101. Satu Napas Menuju Jannah
102
Bab 102. Pesta Rakyat dan Bayang-Bayang Jakarta
103
Bab 103. Malam Pertama yang "Ramai"
104
Bab 104. Si Pengganggu Malam Pertama
105
Bab 105. Diplomasi Meja Makan
106
Bab 106. Tiket Ke Bali dan Suara dari Masa Lalu
107
Bab 107. Semesta yang Ikut Bertaut
108
Bab 108. Persiapan Krisna
109
Bab 109. Simfoni Lilin dan Saksi Kecil yang Menggemaskan
110
Bab 110. Antara Debar Jantung dan Kode-Kode Rahasia
111
Bab 111. Drama Sarapan Hanyut dan Butiran Pasir Ajaib
112
Bab 112. Antara Tradisi, Cinta, dan Penjaga Kecil
113
Bab 113. Semburat Cinta di Bawah Langit Ubud
114
Bab 114. Sisa Pertempuran dan Dokter yang Siaga
115
Bab 115. Aroma Minyak Urut dan Diplomasi "Jalan Penguin"
116
Promosi Karya Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!