ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Bab 1 Kesalahan Fatal

Anies Fadillah berlari dengan napas tersengal, langkahnya dibuat seringan mungkin, meski jantungnya nyaris meloncat dari wadahnya. Malam sudah larut, ketika ia dan ketiga temannya berhasil melompati pagar pondok pesantren Darulhuda, sepulang mereka dari menonton konser musik di alun-alun kecamatan. Pelarian singkat dari kebosanan yang selama ini mereka pendam.

Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, kilatan cahaya senter menyapu halaman samping, nyaris mengenai wajah ayunya.

"Ya Allah..." desis Anies panik.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Dari kejauhan ia sempat melihat ketiga temannya sudah lebih dulu menyelinap masuk ke kamar asrama. Tinggal dirinya sendiri yang belum selamat, karena ia yang paling terakhir memanjat pagar.

 Langkah Anies terhenti, saat kakinya tak sengaja menginjak ranting kering yang jatuh di bawah pohon mangga.

Krak!

Suara itu terdengar begitu jelas, di keheningan malam.

Pak Diman, satpam pondok pesantren yang terkenal galak tak bisa diajak kompromi, langsung mengarahkan kakinya ke arah sumber suara.

Cahaya senter kembali bergerak semakin dekat. Kepanikan pun semakin menyergap Anisa. Tak ada waktu untuk berlari ke arah kamar asramanya.

Disaat kepanikan itu, matanya tak sengaja menangkap sebuah jendela yang sedikit terbuka, dengan ruangan gelap.

Tanpa pikir panjang, Anisa melompat masuk.

Tubuhnya mendarat di sebuah kamar yang sunyi dan gelap. Ia buru-buru menutup dan mengunci jendela itu dengan cepat dari dalam. Lalu ia bersandar sesaat, mencoba menenangkan napas yang tak beraturan. Dadanya naik turun, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Syukur lah, aku selamat, jika aku ketangkap Pak Diman, aku pasti kena ta'zir, dan Gus Hafiz yang songong itu pasti ngak tanggung-tanggung ngaduin aku ke Papa." batin Anisa sambil mengelus dada.

Sementara itu, di ndalem, Ibu Nyai Laila menerima laporan dari Mudabbiroh bahwa ada santriwati yang kabur keluar pagar malam itu.

Wajah Ibu Nyai langsung menegang. Pelanggaran seperti itu tak bisa dianggap sepele.

Tanpa menunda, malam itu juga. Ibu Nyai Laila melangkah menuju kamar putranya, Gus Hafiz Arsyad, beliau berniat meminta bantuan untuk mengecek keadaan sekitar pondok pesantren. Namun malam itu, Gus Hafiz sedang kurang sehat dan memilih awal.

Dengan langkah cepat Ibu Nyai menuju kamar Gus Hafiz.

Sementara di dalam kamar yang gelap itu. Anisa tengah melangkah perlahan, tangannya meraba-raba ia ingin mencari pegangan ke arah tembok, berniat untuk menyalakan lampu ruangan, namun belum sempat ia menemukan pegangan, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang lembut.

Anisa berhenti sejenak, dan mencoba menerka, apa yang tengah ia pegang.

"Astaghfirullah...apa ini" batinnya.

Dan disaat itu tangan Anisa dicekal oleh tangan yang tak terlihat siapa pemiliknya.

Namun sialnya, saat pemilik kamar itu terbangun dan duduk menatap Anisa dengan wajah terkejut, lampu kamar tiba-tiba menyala.

Dan detik itu juga, Ibu Nyai berdiri mematung.

Bagaimana tidak, dihadapannya seorang santriwati berdiri dengan tubuh merunduk dengan tangan di atas pada putranya, dengan posisi yang sulit diartikan oleh Ibu Nyai itu sendiri.

Wajah Anisa memucat, sementara Gus Hafiz hanya menatap bingung, dan dengan sepintan melepas cekalannya dari pergelangan tangan santrinya.

"Astaghfirullah..." ujarnya.

Ibu Nyai menatap pemandangan itu dengan mata membelalak, napasnya tertahan oleh keterkejutan yang bercampur amarah.

"Innalillahi..." gumamnya lirih, namun serat akan guncangan.

"Apa yang kalian lakukan...?"

Gus Hafiz sentak berdiri.

"Umi...Ini ndak seperti yang Umi lihat."

Ibu Nyai terdiam sejenak, lalu membuka mulutnya kembali.

"Ndak seperti yang Umi lihat gimana, Gus...? ini cukup jelas, kalian berada dalam satu kamar, berdua-duaan dan gelap-gelapan, bahkan Umi lihat dengan jelas apa yang sedang kalian lakukan...!" bentak Umi Laila dengan suara lirih, agar tak ada yang mendengar.

"Umi...ini... ndak seperti..." Gus Hafiz pun sulit untuk menjelaskannya, karena memang dirinya tak tahu, kenapa bisa ada santriwati di dalam kamarnya.

Umi Laila menatap Anisa dan Gus Hafiz bergantian. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan ketegasan yang tak bisa dibantah.

"Keluar," ucapnya singkat.

"Umi tunggu kalian di ruang ndalem."

Tanpa menunggu jawaban, Umi Laila melangkah pergi meninggalkan kamar putranya. Suara pintu yang tertutup terdengar pelan, namun Bagi Anisa, bunyinya seperti palu yang menjatuhkan vonis.

Gus Hafiz menatap Anisa. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, namun aura wibawanya membuat Anisa menunduk tanpa sadar.

"Jelaskan," ucapnya dingin.

"Kenapa kamu bisa berada di kamar saya?"

Bibir Anisa bergetar. Kata-kata sudah menumpuk di ujung lidahnya, tentang konser, tentang satpam, tentang kepanikannya, namun belum satu pun terucap suara dari luar menyela, dan suara pintu diketuk terdengar jelas.

"Gus... ngapunten. Panjenengan sudah ditunggu Romo Yai."

Gus Hafiz menghela napas dalam, seolah menahan sesuatu yang lebih berat dari sekedar lelah.

"Nggih... saya segera nyusul," jawabnya singkat dari dalam kamar.

Ia kembali menatap gadis tujuh belas tahun itu. Kali ini lebih dalam. Bukan marah, bukan pula tatapan lembut, melainkan tatapan seorang yang sadar bahwa apa pun penjelasan yang akan keluar dari mulutnya tetaplah dinilai melanggar batasan.

"Ikut Saya," ucap Gus Hafiz singkat.

"Kamu harus mempertanggungjawabkan tindakanmu ini."

Anisa menelan ludah. tangannya gemetar saat ia melangkah mengikuti irama langkah kaki Gus Hafiz.

Terpopuler

Comments

Cah Dangsambuh

Cah Dangsambuh

ada notif lewat aku coba buka eeeeh langsung suka jadi ga hanya mampir walau pelan pasti ku baca

2026-05-15

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

mampir di sini thor😁

2026-04-01

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

mampir di sini thor😁

2026-04-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Kesalahan Fatal
2 Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3 Bab 3 Perjannian
4 Bab 4 Akat Nikah.
5 Bab 5 Kehebohan Para Santri
6 Bab 6 Masuk Angin
7 Bab 7 Terlur Dadar
8 Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9 Bab 9 Hujan Badai
10 Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11 Bab 11 Keputusan Romo Yai
12 Bab 12 Tangisan Anisa
13 Bab 13 Jawa Tengah
14 Bab 14 Sambangan
15 Bab 15 Cincin di Jari Manis
16 Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17 Bab 17 Fakta Mengejutkan
18 Bab 18 Hati Yang Patah
19 Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20 Bab 20 Kesepakatan
21 Bab 21 Kejujuran
22 Bab 22
23 Bab 23 Tidur Seranjang
24 Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25 Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26 Bab 26 Pelukan Kerinduan
27 Bab 27 Kotak Merah
28 Bab 28 Gigitan Serangga.
29 Bab 29 Kebimbangan.
30 Bab 30 Pilihan
31 Bab 31 Pilihan Sang Suami
32 Bab 32 Pelukan Manja
33 Bab 33 Keceplosan
34 Bab 34 Kenyataan
35 Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36 Bab 36 Tangis Kerinduan
37 Bab 37 Keputusan Anisa
38 Bab 38 Buah Apel
39 Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40 Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41 Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42 Bab 42 Tamu Tak Diundang
43 Bab 43 Video Call
44 Bab 44 Video 5 Detik
45 Bab 45 Ponsel Anisa
46 Bab 46 Bidadari Surga
47 Bab 47 Izin Romo Yai
48 Bab 48 Kehangatan
49 Bab 49 Fans Gus Hafiz
50 Bab 50 Cinta Dalam Diam
51 Bab 51 Tangisan Manja
52 Bab 52 Rudal Balistik
53 Bab 53 Kebablasan
54 Bab 54 Teguran Keras
55 Bab 55 Kalimat Penghancur
56 Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57 Bab 57 Bentakan
58 Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59 Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60 Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61 Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62 Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63 Bab 63 Rasa Kecewa
64 Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65 Bab 65 Cubitan Maut
66 Bab 66 Kejutan Manis
67 Bab 67 Langit Kairo
68 Bab 68 Pagi Manis
69 Bab 69 Cemburu Manja
70 Bab 70 Hanya Hiburan
71 Bab 71 Foto
72 Bab 72 Cemburu
73 Bab 73 Pencuri
74 Bab 74 Dia Termanis
75 Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76 Bab 76 Kecupan Manis
77 Bab 77 Wanita Dalam Doa
78 Bab 78 Senyum Getir
79 Bab 79 Teman Tapi Mesra
80 Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81 Bab 81 Sifa
82 Bab 82 Ketika Kalah Telak
83 Bab 83 Tangisan Sunyi
84 Bab 84 Sering Ponsel
85 Bab 85 Sebuah Ketulusan
86 Bab 86 Tangis Permohonan
87 Bab 87 Syal
88 Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89 Bab 89 Pelukan Cinta
90 Bab 90 Hangatnya Cinta
91 Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92 Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93 Bab 93 Kebangkitan
94 Bab 94 Cinta
95 Bab 95 Tangis
96 Bab 96 Pelukan
97 Bab 97 Pelukan Cinta
98 Bab 98 Waktu
99 Bab 99 Jodoh
100 Bab 100 Tiket
101 Bab 101 Cincin
102 Bab 102 Kejutan manis
103 Bab 103 Langit Senja
104 Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105 Bab 105 Akad
106 Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107 Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108 Bab 108 Kisah Manis
109 Bab 109 Rintik Hujan
110 Bab 110 Garis Dua
111 Bab 111 Kecewa
112 Bab 112 Tangisan lega
113 Bab 113 Tangis Umi Laila
114 114 Kebahagiaan Sempurna
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1 Kesalahan Fatal
2
Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3
Bab 3 Perjannian
4
Bab 4 Akat Nikah.
5
Bab 5 Kehebohan Para Santri
6
Bab 6 Masuk Angin
7
Bab 7 Terlur Dadar
8
Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9
Bab 9 Hujan Badai
10
Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11
Bab 11 Keputusan Romo Yai
12
Bab 12 Tangisan Anisa
13
Bab 13 Jawa Tengah
14
Bab 14 Sambangan
15
Bab 15 Cincin di Jari Manis
16
Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17
Bab 17 Fakta Mengejutkan
18
Bab 18 Hati Yang Patah
19
Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20
Bab 20 Kesepakatan
21
Bab 21 Kejujuran
22
Bab 22
23
Bab 23 Tidur Seranjang
24
Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25
Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26
Bab 26 Pelukan Kerinduan
27
Bab 27 Kotak Merah
28
Bab 28 Gigitan Serangga.
29
Bab 29 Kebimbangan.
30
Bab 30 Pilihan
31
Bab 31 Pilihan Sang Suami
32
Bab 32 Pelukan Manja
33
Bab 33 Keceplosan
34
Bab 34 Kenyataan
35
Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36
Bab 36 Tangis Kerinduan
37
Bab 37 Keputusan Anisa
38
Bab 38 Buah Apel
39
Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40
Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41
Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42
Bab 42 Tamu Tak Diundang
43
Bab 43 Video Call
44
Bab 44 Video 5 Detik
45
Bab 45 Ponsel Anisa
46
Bab 46 Bidadari Surga
47
Bab 47 Izin Romo Yai
48
Bab 48 Kehangatan
49
Bab 49 Fans Gus Hafiz
50
Bab 50 Cinta Dalam Diam
51
Bab 51 Tangisan Manja
52
Bab 52 Rudal Balistik
53
Bab 53 Kebablasan
54
Bab 54 Teguran Keras
55
Bab 55 Kalimat Penghancur
56
Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57
Bab 57 Bentakan
58
Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59
Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60
Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61
Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62
Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63
Bab 63 Rasa Kecewa
64
Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65
Bab 65 Cubitan Maut
66
Bab 66 Kejutan Manis
67
Bab 67 Langit Kairo
68
Bab 68 Pagi Manis
69
Bab 69 Cemburu Manja
70
Bab 70 Hanya Hiburan
71
Bab 71 Foto
72
Bab 72 Cemburu
73
Bab 73 Pencuri
74
Bab 74 Dia Termanis
75
Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76
Bab 76 Kecupan Manis
77
Bab 77 Wanita Dalam Doa
78
Bab 78 Senyum Getir
79
Bab 79 Teman Tapi Mesra
80
Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81
Bab 81 Sifa
82
Bab 82 Ketika Kalah Telak
83
Bab 83 Tangisan Sunyi
84
Bab 84 Sering Ponsel
85
Bab 85 Sebuah Ketulusan
86
Bab 86 Tangis Permohonan
87
Bab 87 Syal
88
Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89
Bab 89 Pelukan Cinta
90
Bab 90 Hangatnya Cinta
91
Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92
Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93
Bab 93 Kebangkitan
94
Bab 94 Cinta
95
Bab 95 Tangis
96
Bab 96 Pelukan
97
Bab 97 Pelukan Cinta
98
Bab 98 Waktu
99
Bab 99 Jodoh
100
Bab 100 Tiket
101
Bab 101 Cincin
102
Bab 102 Kejutan manis
103
Bab 103 Langit Senja
104
Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105
Bab 105 Akad
106
Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107
Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108
Bab 108 Kisah Manis
109
Bab 109 Rintik Hujan
110
Bab 110 Garis Dua
111
Bab 111 Kecewa
112
Bab 112 Tangisan lega
113
Bab 113 Tangis Umi Laila
114
114 Kebahagiaan Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!