Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai

Ruang ndalem terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu temaram menggantung, memantulkan bayangan panjang, di dinding kayu. Anisa berdiri kaku dengan kepala tertunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menahan gemetar.

Romo Yai duduk di kursi utama. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam, bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketegasan seorang penjaga amanah.

Umi Laila duduk tepat di samping beliau, tangan terlipat di atas pangkuan. Sementara Gus Hafiz berdiri tak jauh dari Anisa. Sikapnya tegak, wajahnya tetap tertunduk hormat.

Romo Yai membuka suaranya. Dengan meminta keduanya duduk.

Anisa dan Gus Hafiz pun duduk dengan sopan.

"Nak..." ucapnya pelan, namun tersirat rasa kecewa di dalam nada suaranya.

"Apa kamu sadar di mana kamu berdiri saat ini?"

Anisa mengangguk kecil.

"Nggih, Romo Yai..."

"Ini pondok pesantren," lanjut Romo Yai.

"Tempat orang menitipkan anaknya, agar dijaga akhlaknya, imannya, dan kehormatannya."

Beliau menahan napas perlahan.

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu masuk ke kamar laki-laki yang bukan mahrammu. Bukan siang hari, Tapi malam, disaat, dalam keadaan tersembunyi. Menurutmu, apa arti perbuatanmu itu di mata syariat?"

Anisa hanya mampu menelan ludah. Air matanya jatuh.

"Anisa salah, Anisa khilaf, Yai..." suara gadis itu pecah. "Anisa ndak berniat buruk, Yai."

Romo Yai mengangguk pelan, namun wajahnya tak berubah.

"Niat itu urusan hati," ucapnya tegas.

"Tapi syariat menilai perbuatan. Dan perbuatan kalian sudah melanggar batas."

Romo Yai menatap Anisa lebih lama. Tatapan itu bukan menghakimi, melainkan menunggu kejujuran yang belum juga keluar.

"Katakan, Nak Anisa, kamu ndak perlu takut," ujar Romo Yai pada akhirnya. Suaranya rendah namun tegas,

"Apa alasanmu masuk ke kamar Gus Hafiz?"

Anisa tertunduk. Bibirnya bergetar, dadanya sesak. Ia tahu, satu kalimat jujur akan menyeret tiga nama temannya. Ia tak ingin itu terjadi.

Jika harus dihukum, biarlah ia sendiri.

Keheningan terasa panjang, ruang ndalem seakan menahan napas.

Romo Yai kembali membuka suaranya dengan mengubah pertanyaannya.

Kali ini lebih ke pernyataan.

"Apa Nak Anisa... sengaja menemui Gus Hafiz?"

Jantung Anisa berdegup kencang. Gadis tujuh belas tahun itu melirik sekilas ke arah Gus Hafiz. Tatapan yang singkat, penuh rasa bersalah, lalu wajah ayu itu tertunduk lagi.

"Nggih, Yai..."

Anggukan kecil itu menyertai kebohongan yang terasa begitu berat di dadanya.

Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya mengguncang.

Gus Hafiz terkejut. ia sepintan mengangkat wajahnya, menatap Anisa dengan sorot mata yang tak lagi datar. Ada kaget, ada tanya, ada rasa tak percaya.

"Apa...?" liriknya hampir tak percaya.

Ia tahu, ia bahkan tak pernah memanggil gadis di sebelahnya itu untuk datang ke kamarnya. Bahkan tak pernah berniat. Namun pengakuan Anisa telah membungkam semua pembelaan sebelum sempat terucap.

Romo Yai memejamkan mata sejenak.

"Kalau begitu," ujarnya kemudian,

"Kesalahan ini tak berdiri sendiri."

Umi Laila menghela napas panjang, wajahnya menegang.

Anisa menunduk lebih dalam, air matanya jatuh ke pangkuannya, dalam hatinya ia beristighfar berkali-kali.

Ya Allah ampuni aku...

Maafkan aku Gus... aku sudah menyeret panjenengan ke dalam masalahku.

Kata-kata itu hanya mampu ia ucap dalam hatinya saja. Anisa semakin menundukkan kepala, meremas ujung jilbabnya yang sudah basah karena air mata.

"Hafiz," panggil Romo Yai tenang. Namun membuat jantung Gus Hafiz jatuh ke lantai.

"Nggih, Romo."

"Kamu tahu, kehormatan Gus yang melekat di pundakmu itu, bukan sembarangan, Hafiz."

Gus Hafiz menunduk lebih dalam. Ia tak mungkin menyangkal pernyataan Romo nya, dan ia juga tak mungkin mengatakan Jia apa yang Anisa ucapkan itu tidak benar. Karena nyatanya gadis itu berada di dalam kamarnya.

Gus Hafiz tak ingin menjatuhkan harga diri gadis itu. Hafiz yang ingin jika Anisa punya alasan untuk melakukan hal itu.

"Yai, saya siap menerima ta'zir, dari, Yai. Gus Hafiz tidak salah, saya lah yang mendatangi kamar beliau..." ucap Anisa dengan suara mencicit.

Romo Yai terdiam sejenak. Sunyi menyelimuti ruangan.

"Yai, saya siap menerima ta'zir, jika saya harus dikeluarkan dari pondok pesantren ini." ucapnya lagi. karena memang itu yang ia inginkan. Anisa tak betah hidup terkurung di bawah atap yang penuh dengan aturan.

Gus Hafiz sudah menduga, ia menoleh menatap Anisa sekilas, ia mengerti apa yang ada dalam pikiran gadis itu.

Romo Yai kembali bersuara.

"Ta'zir bisa diberikan, tetapi masalah ini bukan hanya sekedar hukuman."

Beliau menatap Umi Laila, lalu kembali pada Anisa dan Gus Hafiz.

"Yang terjadi malam ini, sudah membuka pintu fitnah, dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan, karena bisa membunuh karakter seseorang."

Suara Romo Yai tenang, tetapi menghantam.

"Jika kebenarannya sulit dibuktikan di mata manusia, maka syariat memberi satu jalan, untuk menutup pintu fitnah dan dosa, agar tetap menjaga marwah."

Romo Yai berdiri pernah.

"Menikah."

Satu kata itu jatuh seperti palu.

Anisa yang terkejut sontak berdiri.

"Apa... menikah?"

kalimat itu tanpa sadar keluar dari bibir Anisa.

Gus Hafiz menoleh, menatap Anisa datar seolah isyarat agar dirinya kembali duduk. Karena tindakannya itu dinilai Gus Hafiz sangat tidak sopan.

Terpopuler

Comments

Yasinta Niken

Yasinta Niken

nah lo makanya jangan berulah Nissa wkwkwk

2026-05-29

0

Yasinta Niken

Yasinta Niken

nah lo makanya jangan berulah Nissa wkwkwk

2026-05-29

0

Ambar

Ambar

egois banget anisa

2026-04-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Kesalahan Fatal
2 Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3 Bab 3 Perjannian
4 Bab 4 Akat Nikah.
5 Bab 5 Kehebohan Para Santri
6 Bab 6 Masuk Angin
7 Bab 7 Terlur Dadar
8 Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9 Bab 9 Hujan Badai
10 Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11 Bab 11 Keputusan Romo Yai
12 Bab 12 Tangisan Anisa
13 Bab 13 Jawa Tengah
14 Bab 14 Sambangan
15 Bab 15 Cincin di Jari Manis
16 Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17 Bab 17 Fakta Mengejutkan
18 Bab 18 Hati Yang Patah
19 Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20 Bab 20 Kesepakatan
21 Bab 21 Kejujuran
22 Bab 22
23 Bab 23 Tidur Seranjang
24 Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25 Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26 Bab 26 Pelukan Kerinduan
27 Bab 27 Kotak Merah
28 Bab 28 Gigitan Serangga.
29 Bab 29 Kebimbangan.
30 Bab 30 Pilihan
31 Bab 31 Pilihan Sang Suami
32 Bab 32 Pelukan Manja
33 Bab 33 Keceplosan
34 Bab 34 Kenyataan
35 Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36 Bab 36 Tangis Kerinduan
37 Bab 37 Keputusan Anisa
38 Bab 38 Buah Apel
39 Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40 Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41 Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42 Bab 42 Tamu Tak Diundang
43 Bab 43 Video Call
44 Bab 44 Video 5 Detik
45 Bab 45 Ponsel Anisa
46 Bab 46 Bidadari Surga
47 Bab 47 Izin Romo Yai
48 Bab 48 Kehangatan
49 Bab 49 Fans Gus Hafiz
50 Bab 50 Cinta Dalam Diam
51 Bab 51 Tangisan Manja
52 Bab 52 Rudal Balistik
53 Bab 53 Kebablasan
54 Bab 54 Teguran Keras
55 Bab 55 Kalimat Penghancur
56 Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57 Bab 57 Bentakan
58 Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59 Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60 Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61 Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62 Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63 Bab 63 Rasa Kecewa
64 Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65 Bab 65 Cubitan Maut
66 Bab 66 Kejutan Manis
67 Bab 67 Langit Kairo
68 Bab 68 Pagi Manis
69 Bab 69 Cemburu Manja
70 Bab 70 Hanya Hiburan
71 Bab 71 Foto
72 Bab 72 Cemburu
73 Bab 73 Pencuri
74 Bab 74 Dia Termanis
75 Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76 Bab 76 Kecupan Manis
77 Bab 77 Wanita Dalam Doa
78 Bab 78 Senyum Getir
79 Bab 79 Teman Tapi Mesra
80 Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81 Bab 81 Sifa
82 Bab 82 Ketika Kalah Telak
83 Bab 83 Tangisan Sunyi
84 Bab 84 Sering Ponsel
85 Bab 85 Sebuah Ketulusan
86 Bab 86 Tangis Permohonan
87 Bab 87 Syal
88 Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89 Bab 89 Pelukan Cinta
90 Bab 90 Hangatnya Cinta
91 Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92 Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93 Bab 93 Kebangkitan
94 Bab 94 Cinta
95 Bab 95 Tangis
96 Bab 96 Pelukan
97 Bab 97 Pelukan Cinta
98 Bab 98 Waktu
99 Bab 99 Jodoh
100 Bab 100 Tiket
101 Bab 101 Cincin
102 Bab 102 Kejutan manis
103 Bab 103 Langit Senja
104 Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105 Bab 105 Akad
106 Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107 Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108 Bab 108 Kisah Manis
109 Bab 109 Rintik Hujan
110 Bab 110 Garis Dua
111 Bab 111 Kecewa
112 Bab 112 Tangisan lega
113 Bab 113 Tangis Umi Laila
114 114 Kebahagiaan Sempurna
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1 Kesalahan Fatal
2
Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3
Bab 3 Perjannian
4
Bab 4 Akat Nikah.
5
Bab 5 Kehebohan Para Santri
6
Bab 6 Masuk Angin
7
Bab 7 Terlur Dadar
8
Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9
Bab 9 Hujan Badai
10
Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11
Bab 11 Keputusan Romo Yai
12
Bab 12 Tangisan Anisa
13
Bab 13 Jawa Tengah
14
Bab 14 Sambangan
15
Bab 15 Cincin di Jari Manis
16
Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17
Bab 17 Fakta Mengejutkan
18
Bab 18 Hati Yang Patah
19
Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20
Bab 20 Kesepakatan
21
Bab 21 Kejujuran
22
Bab 22
23
Bab 23 Tidur Seranjang
24
Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25
Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26
Bab 26 Pelukan Kerinduan
27
Bab 27 Kotak Merah
28
Bab 28 Gigitan Serangga.
29
Bab 29 Kebimbangan.
30
Bab 30 Pilihan
31
Bab 31 Pilihan Sang Suami
32
Bab 32 Pelukan Manja
33
Bab 33 Keceplosan
34
Bab 34 Kenyataan
35
Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36
Bab 36 Tangis Kerinduan
37
Bab 37 Keputusan Anisa
38
Bab 38 Buah Apel
39
Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40
Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41
Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42
Bab 42 Tamu Tak Diundang
43
Bab 43 Video Call
44
Bab 44 Video 5 Detik
45
Bab 45 Ponsel Anisa
46
Bab 46 Bidadari Surga
47
Bab 47 Izin Romo Yai
48
Bab 48 Kehangatan
49
Bab 49 Fans Gus Hafiz
50
Bab 50 Cinta Dalam Diam
51
Bab 51 Tangisan Manja
52
Bab 52 Rudal Balistik
53
Bab 53 Kebablasan
54
Bab 54 Teguran Keras
55
Bab 55 Kalimat Penghancur
56
Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57
Bab 57 Bentakan
58
Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59
Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60
Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61
Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62
Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63
Bab 63 Rasa Kecewa
64
Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65
Bab 65 Cubitan Maut
66
Bab 66 Kejutan Manis
67
Bab 67 Langit Kairo
68
Bab 68 Pagi Manis
69
Bab 69 Cemburu Manja
70
Bab 70 Hanya Hiburan
71
Bab 71 Foto
72
Bab 72 Cemburu
73
Bab 73 Pencuri
74
Bab 74 Dia Termanis
75
Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76
Bab 76 Kecupan Manis
77
Bab 77 Wanita Dalam Doa
78
Bab 78 Senyum Getir
79
Bab 79 Teman Tapi Mesra
80
Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81
Bab 81 Sifa
82
Bab 82 Ketika Kalah Telak
83
Bab 83 Tangisan Sunyi
84
Bab 84 Sering Ponsel
85
Bab 85 Sebuah Ketulusan
86
Bab 86 Tangis Permohonan
87
Bab 87 Syal
88
Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89
Bab 89 Pelukan Cinta
90
Bab 90 Hangatnya Cinta
91
Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92
Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93
Bab 93 Kebangkitan
94
Bab 94 Cinta
95
Bab 95 Tangis
96
Bab 96 Pelukan
97
Bab 97 Pelukan Cinta
98
Bab 98 Waktu
99
Bab 99 Jodoh
100
Bab 100 Tiket
101
Bab 101 Cincin
102
Bab 102 Kejutan manis
103
Bab 103 Langit Senja
104
Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105
Bab 105 Akad
106
Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107
Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108
Bab 108 Kisah Manis
109
Bab 109 Rintik Hujan
110
Bab 110 Garis Dua
111
Bab 111 Kecewa
112
Bab 112 Tangisan lega
113
Bab 113 Tangis Umi Laila
114
114 Kebahagiaan Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!