Bab 4 Akat Nikah.

Pagi itu udara Malang terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Sebuah bila sederhana milik keluarga Ibu Nyai berdiri sunyi di lereng yang jauh dari keramaian.

Tak ada janur kuning, tak ada tenda mewah, tak ada musik. Bahkan senyum pun terasa asing di tempat itu.

Mobil berhenti satu persatu.

Anisa turun terakhir, dengan mengenakan gamis abu tua. Wajahnya pucat, matanya sembab, jejak tangis bekas semalam tak dapat ia sembunyikan.

Langkahnya ringan tetapi jiwanya terasa berat, seakan setiap pijakan adalah perpisahan dengan hidup yang ia kenal kemarin.

Di ruang tengah Villa, terlihat semua keluarga inti sudah berkumpul.

Romo Yai.

Umi Laila.

Kedua orang tua Anisa yang semalam langsung dari Jakarta, dan beberapa saksi.

Gus Hafiz duduk tenang dengan mengenakan kemeja kemeja dipadu kain sarung gambar wayang. Wajannya tetap teduh, namun mata itu menyimpan lelah yang tak terucap. Bukan karena ragu pada syariat, melainkan karena beratnya amanah yang datang tanpa diminta.

Anisa duduk di ruang terpisah, tangannya dingin, doa-doa berhamburan di kepalanya. Ia terus berdoa agar pernikahan ini batal. Namun tak satu pun do'anya terkabulkan.

Anisa menegang saat Penghulu yang dibawa dari pondok mulai meminta pengantin pria saling berjabat tangan dengan wali nikah dari Anisa.

Suara itu terdengar lantang dan jelas. Membuat bulu kuduk Anisa merinding mendadak. Sungguh ia tak ingin semua ini terjadi.

"Ankaḫtuka wa zawwajtuka makhthûbataka bintî Anisa Fadillah bi mahri isyriina jiraaman minadz-dzahabi haalan." Ucap Fadil ayah Anisa.

Gus Hafiz menarik napas. Dengan satu tarikan satu helaan. Lantang tanpa terputus oleh Gus Hafiz.

"Qabiltu nikaahaha wa tazwiijaha bil mahril madzkuuri haalan."

Detik itu, waktu seolah berhenti.

"Sah.."

Sambut penghulu dan para saksi.

Satu kata yang biasanya membawa bahagia, kini justru menyesakkan dada Anisa.

Air matanya jatuh tanpa suara, ketika lafaz itu sampai ke telinganya. Tak ada pelukan tak ada ucapan selamat, hanya ada kegetiran di dada Anisa.

Umi Laila mendekat menatap Anisa dengan teduh.

"Nak Anisa..." panggilnya pelan.

"Kemari...duduk di sebelah suamimu."

Anisa mengangkat wajahnya, matanya sekilas menatap ke arah Gus Hafiz.

"Ayo.." bisik Umi Laila.

Anisa mengangguk, dan berjalan menggunakan lutut kearah Gus Hafiz.

Tubuhnya terasa gemetar, telapak kaki dan tangannya terasa dingin, jemarinya terasa kaku. Ia duduk berhadapan dengan Gus Hafiz, hanya berjarak satu bentangan sajadah.

Untuk pertama kalinya, mereka duduk saling me atap, bukan sebagai Ustadz dan santri, bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai suami istri.

Namun keduanya sama-sama canggung.

Bahkan keringat telihat mengalir di kening Gus Hafiz. Tanda bahwa ia sangat gugup.

"Cium tangan suamimu, Nduk" ujar Umi Laila.

Anisa memucat menatap Gus Hafiz dengan pipi memerah. Sontak Anisa menelan ludah saat Gus Hafiz mengulurkan tangannya, perlahan tangannya menyentuh tangan Gus Hafiz, ternyata bukan hanya tanga Anisa yang sedingin es, tangan Gus Hafiz bahkan basah oleh keringat dingin.

Perlahan Anisa merundukkan kepalanya, mengecup punggung tangan Gus Hafiz. Lalu dengan gugup yang terkontrol, Gus Hafiz mengangkat tangannya dan meletakkan tepat di atas kepala Anisa, gerakannya pelan, tapi terasa kaku.

"Bismillah..." ucapnya lirih.

Anisa menutup mata, napasnya tertahan di tenggorokan, saat napas Gus Hafiz menabrak wajahnya.

"Allahumma inni as'aluka min khairina..."

suaranya terdengar rendah, namun jelas.

"...wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi wa khairi ma jabaltaha 'alaihi wa a’udzu bika min syarriha…”

Ketika doa itu selesai ia bacakan, dengan lembut Gus Hafiz meniup ubun-ubun Anisa.

Anisa yang gugup tak sadar menarik kepalanya dengan cepat.

Gus Hafiz terkejut, ia pun buru-buru menarik tangannya dari atas kepala Anisa. Namun gerakannya tetap sopan.

Seketika ruangan akad sunyi, tak ada senyum manis dari kedua pengantin. Umi Laila yang mengerti akan situasi canggung itu, mengangguk seakan memberi isyarat cukup.

***

Acara akad nikah telah usai. Doa pun sudah dipanjatkan. Tak ada acara setelahnya. Tepat pukul dia siang mereka kembali ke Ponorogo, sedangkan keluarga Anisa langsung bertolak ke Jakarta, perpisahan itu menyisakan kesedihan di hati Anisa, namun ia tak ingin memperlihatkannya.

Mobil melaju meninggalkan Vila, dengan kecepatan sedang. Jalanan Malang yang berkabut menyambut sunyi yang panjang. Tak ada suara radio dinyalakan, dan tak ada suara percakapan dibuka.

Anies duduk di kursi belakang, tepat di belakang sopir. Pandangannya lurus ke jendela, mengikuti pepohonan yang berlaku, tanpa benar-benar ia lihat. Tangannya terlipat di pangkuan, jemarinya saling meremas, menahan sesuatu di dadanya.

Sementara Gus Hafiz yang duduk di depan sesekali melirik kaca sepion yang ada di atas kepalanya, menangkap pantulan wajah Anisa. Mata itu sembab, dan tiap kali tatapan mata itu tak sengaja bertemu, Gus Hafiz segera memalingkan pandangannya kembali ke jalan.

Mobil terus melaju.

Di persimpangan kecil, mobil yang ditumpanginya melambat. Gus Hafiz akhirnya membuka suara, ia menatap Anisa dari sepion.

"Kalau capek... istirahat aja."

Anisa tersentak kaget.

"Nggih, Gus..." jawabannya pelan.

Itu saja. Tak ada lanjutan. Tak ada jawaban lain.

Anisa kembali menatap ke luar jendela.

Matanya berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi perasaan yang saling bertabrakan, rasa takut, rasa bersalah, rasa asing pada peran yang ia sandang.

Ketika gerbang pondok pesantren terlihat dari kejauhan, napas Anisa justru semakin terasa berat, tempat itu bukan lagi sekedar asrama.

Itu rumah suaminya.

Namun belum terasa seperti rumahnya sendiri.

Mobil mulai melambat, dan berhenti di halaman ndalem yang mulai menggelap, Gus Hafiz turun lebih dulu, ia berdiri sejenak memberi ruang, Anisa turun setelahnya, tetap menjaga jarak, tak ada tangan yang terulur. Tak ada tatapan yang ditahan. Dan Anisa melangkah masuk meninggalkan Gus Hafiz yang mematung.

***

Pagi di pondok pesantren Darul Huda terasa sejuk menusuk tulang. Di dapur ndalem, sudah mulai sibuk, andi ndalem mulai sibuk meracik bumbu.

Anisa yang baru keluar kamar seusai subuhan dari masjid langsung ikut ke dapur. Ia belajar membuat teh dari Ibu Nyai langsung.

"Nduk, Masmu ndak suka teh celup, biasa Umi buatkan teh tubruk melati." jelas Umi Laila.

"Nggih, Umi." Anisa pun dengan cepat mengganti tehnya. Baru mau menyendok gula, suara Umi Laila kembali memutus geraknya.

"Gulanya satu pucuk saja, Masmu ndak suka manis-manis." Anisa mengangguk.

"Nggih, Umi."

Umi Laila tersenyum, sambil menyimpan bubuk kopi kedalam rak.

Setelah tehnya selesai. Anisa berjalan menuju meja makan.

Gus Hafiz sudah duduk rapi, sarungnya jatuh sempurna, kemeja putih bersih, ia gulung sepertiga lengan, wajahnya teduh, terlalu tenang untuk situasi yang sebenarnya tak sederhana.

Anisa meletakkan cangkir teh tepat di hadapan Gus Hafiz, wajahnya tertunduk dalam-dalam. Matanya menatap lantai, seolah lantai lebih pantas ia pandang daripada suaminya sendiri.

"Tehnya Gus..."

Gus Hafiz mengangguk. lalu menarik cangkir berisi teh melati lebih dekat.

Anisa buru-buru membalik badan, ingin kembali ke dapur, ia tak ingin berlama-lama di dekat Gus Hafiz. Tapi tiba-tiba terdengar suara datar itu.

"Temani saya sarapan." pintanya.

Sontak langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya membeku.

"Tapi Gus..."

"Duduk..." suaranya tak keras, tapi justru itu yang membuatnya tak bisa membantah.

Anisa menelan ludah, lalu mengangguk kecil.

"Nggih Gus..."

Anisa terpaksa duduk di seberang, punggungnya tegak, tangannya terlipat di pangkuan.

Tanpa berkata apa pun, Gus Hafiz menyendok nasi dan mengarahkan ke piring Anisa.

Anisa terkejut. Reflek ia berdiri.

"Mboten, Gus. Saya ambil sendiri, ini ndak sopan" ucapnya gugup.

Tangannya hendak merebut centong nasi dari tangan Gus Hafiz.

Namun belum sempat tersentuh, Gus Hafiz menatapnya tanpa berbicara. Anisa seketika menarik kembali tangannya.

Sendok nasi di tangan Gus Hafiz berhenti di udara. Namun detik berikutnya, ia tetap menuangkan nasi ke piring Anisa. Tenang, seolah itu hal wajar di dunia.

"Cepat sarapan, sebentar lagi lonceng,"

Ujarnya tanpa ekspresi.

Anisa kembali duduk, kali ini lebih kaku dari sebelumnya.

Terpopuler

Comments

Lalu Awan

Lalu Awan

kebanyakan typo Thor

2026-04-26

0

Ayu

Ayu

Saya mampir baca Akak, di bab ke 4 memutuskan untuk komen novelnya bagus dsn Saya akan lanjut baca insyaallah smpai tamat😍

2026-04-01

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Kesalahan Fatal
2 Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3 Bab 3 Perjannian
4 Bab 4 Akat Nikah.
5 Bab 5 Kehebohan Para Santri
6 Bab 6 Masuk Angin
7 Bab 7 Terlur Dadar
8 Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9 Bab 9 Hujan Badai
10 Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11 Bab 11 Keputusan Romo Yai
12 Bab 12 Tangisan Anisa
13 Bab 13 Jawa Tengah
14 Bab 14 Sambangan
15 Bab 15 Cincin di Jari Manis
16 Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17 Bab 17 Fakta Mengejutkan
18 Bab 18 Hati Yang Patah
19 Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20 Bab 20 Kesepakatan
21 Bab 21 Kejujuran
22 Bab 22
23 Bab 23 Tidur Seranjang
24 Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25 Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26 Bab 26 Pelukan Kerinduan
27 Bab 27 Kotak Merah
28 Bab 28 Gigitan Serangga.
29 Bab 29 Kebimbangan.
30 Bab 30 Pilihan
31 Bab 31 Pilihan Sang Suami
32 Bab 32 Pelukan Manja
33 Bab 33 Keceplosan
34 Bab 34 Kenyataan
35 Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36 Bab 36 Tangis Kerinduan
37 Bab 37 Keputusan Anisa
38 Bab 38 Buah Apel
39 Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40 Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41 Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42 Bab 42 Tamu Tak Diundang
43 Bab 43 Video Call
44 Bab 44 Video 5 Detik
45 Bab 45 Ponsel Anisa
46 Bab 46 Bidadari Surga
47 Bab 47 Izin Romo Yai
48 Bab 48 Kehangatan
49 Bab 49 Fans Gus Hafiz
50 Bab 50 Cinta Dalam Diam
51 Bab 51 Tangisan Manja
52 Bab 52 Rudal Balistik
53 Bab 53 Kebablasan
54 Bab 54 Teguran Keras
55 Bab 55 Kalimat Penghancur
56 Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57 Bab 57 Bentakan
58 Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59 Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60 Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61 Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62 Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63 Bab 63 Rasa Kecewa
64 Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65 Bab 65 Cubitan Maut
66 Bab 66 Kejutan Manis
67 Bab 67 Langit Kairo
68 Bab 68 Pagi Manis
69 Bab 69 Cemburu Manja
70 Bab 70 Hanya Hiburan
71 Bab 71 Foto
72 Bab 72 Cemburu
73 Bab 73 Pencuri
74 Bab 74 Dia Termanis
75 Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76 Bab 76 Kecupan Manis
77 Bab 77 Wanita Dalam Doa
78 Bab 78 Senyum Getir
79 Bab 79 Teman Tapi Mesra
80 Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81 Bab 81 Sifa
82 Bab 82 Ketika Kalah Telak
83 Bab 83 Tangisan Sunyi
84 Bab 84 Sering Ponsel
85 Bab 85 Sebuah Ketulusan
86 Bab 86 Tangis Permohonan
87 Bab 87 Syal
88 Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89 Bab 89 Pelukan Cinta
90 Bab 90 Hangatnya Cinta
91 Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92 Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93 Bab 93 Kebangkitan
94 Bab 94 Cinta
95 Bab 95 Tangis
96 Bab 96 Pelukan
97 Bab 97 Pelukan Cinta
98 Bab 98 Waktu
99 Bab 99 Jodoh
100 Bab 100 Tiket
101 Bab 101 Cincin
102 Bab 102 Kejutan manis
103 Bab 103 Langit Senja
104 Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105 Bab 105 Akad
106 Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107 Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108 Bab 108 Kisah Manis
109 Bab 109 Rintik Hujan
110 Bab 110 Garis Dua
111 Bab 111 Kecewa
112 Bab 112 Tangisan lega
113 Bab 113 Tangis Umi Laila
114 114 Kebahagiaan Sempurna
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1 Kesalahan Fatal
2
Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3
Bab 3 Perjannian
4
Bab 4 Akat Nikah.
5
Bab 5 Kehebohan Para Santri
6
Bab 6 Masuk Angin
7
Bab 7 Terlur Dadar
8
Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9
Bab 9 Hujan Badai
10
Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11
Bab 11 Keputusan Romo Yai
12
Bab 12 Tangisan Anisa
13
Bab 13 Jawa Tengah
14
Bab 14 Sambangan
15
Bab 15 Cincin di Jari Manis
16
Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17
Bab 17 Fakta Mengejutkan
18
Bab 18 Hati Yang Patah
19
Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20
Bab 20 Kesepakatan
21
Bab 21 Kejujuran
22
Bab 22
23
Bab 23 Tidur Seranjang
24
Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25
Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26
Bab 26 Pelukan Kerinduan
27
Bab 27 Kotak Merah
28
Bab 28 Gigitan Serangga.
29
Bab 29 Kebimbangan.
30
Bab 30 Pilihan
31
Bab 31 Pilihan Sang Suami
32
Bab 32 Pelukan Manja
33
Bab 33 Keceplosan
34
Bab 34 Kenyataan
35
Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36
Bab 36 Tangis Kerinduan
37
Bab 37 Keputusan Anisa
38
Bab 38 Buah Apel
39
Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40
Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41
Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42
Bab 42 Tamu Tak Diundang
43
Bab 43 Video Call
44
Bab 44 Video 5 Detik
45
Bab 45 Ponsel Anisa
46
Bab 46 Bidadari Surga
47
Bab 47 Izin Romo Yai
48
Bab 48 Kehangatan
49
Bab 49 Fans Gus Hafiz
50
Bab 50 Cinta Dalam Diam
51
Bab 51 Tangisan Manja
52
Bab 52 Rudal Balistik
53
Bab 53 Kebablasan
54
Bab 54 Teguran Keras
55
Bab 55 Kalimat Penghancur
56
Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57
Bab 57 Bentakan
58
Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59
Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60
Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61
Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62
Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63
Bab 63 Rasa Kecewa
64
Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65
Bab 65 Cubitan Maut
66
Bab 66 Kejutan Manis
67
Bab 67 Langit Kairo
68
Bab 68 Pagi Manis
69
Bab 69 Cemburu Manja
70
Bab 70 Hanya Hiburan
71
Bab 71 Foto
72
Bab 72 Cemburu
73
Bab 73 Pencuri
74
Bab 74 Dia Termanis
75
Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76
Bab 76 Kecupan Manis
77
Bab 77 Wanita Dalam Doa
78
Bab 78 Senyum Getir
79
Bab 79 Teman Tapi Mesra
80
Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81
Bab 81 Sifa
82
Bab 82 Ketika Kalah Telak
83
Bab 83 Tangisan Sunyi
84
Bab 84 Sering Ponsel
85
Bab 85 Sebuah Ketulusan
86
Bab 86 Tangis Permohonan
87
Bab 87 Syal
88
Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89
Bab 89 Pelukan Cinta
90
Bab 90 Hangatnya Cinta
91
Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92
Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93
Bab 93 Kebangkitan
94
Bab 94 Cinta
95
Bab 95 Tangis
96
Bab 96 Pelukan
97
Bab 97 Pelukan Cinta
98
Bab 98 Waktu
99
Bab 99 Jodoh
100
Bab 100 Tiket
101
Bab 101 Cincin
102
Bab 102 Kejutan manis
103
Bab 103 Langit Senja
104
Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105
Bab 105 Akad
106
Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107
Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108
Bab 108 Kisah Manis
109
Bab 109 Rintik Hujan
110
Bab 110 Garis Dua
111
Bab 111 Kecewa
112
Bab 112 Tangisan lega
113
Bab 113 Tangis Umi Laila
114
114 Kebahagiaan Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!