Bab 5 Kehebohan Para Santri

Angin pagi menembus jendela asrama, seolah membawa gosip segar tentang Anisa yang kabur, kini menjadi heboh, apa lagi setelah mereka tahu saat Mudabbiroh dan Abdi ndalem kemarin memindahkan barang-barang Anisa ke ndalem.

"Bil... kasihan ya, Nisa. Kenapa kemaren kita nggak nungguin dia." Ujar Rahma penuh sesal.

"Iya... aku juga nyesal ngikutin arahannya suruh duluan, harusnya kan kita sama-sama dihukum." Sahut Nabila sambil memakai hijabnya.

Sementara di ndalem, setelah sarapan, Anies langsung bangkit dari kursinya, dan membereskan piringnya dengan cekatan, lalu masuk ke kamar.

Gus Hafiz mengangkat wajahnya, menoleh menatap Anisa sekilas, tanpa bertanya dan tak pula menahannya untuk menunggunya hingga selesai makan.

Setelah beberapa menit, Anisa keluar dari kamar dengan menyandang tas ranselnya. Langkahnya cepat, seolah ingin segera kabur dari hadapan Gus Hafiz.

Di ruang tengah Anisa berpapasan dengan Ibu Nyai Laila.

"Sudah mau berangkat, Nduk." Sapa Umi Lail, sambil membawa kitab ditangannya.

"Nggih, Um," ucapnya lirih, kepalanya tertunduk hormat.

"Anisa pamit, Umi."

Umi Laila menatap lekat, sorot matanya lembut tapi tajam, memperhatikan seragam yang Anisa kenakan.

"Nggih..." sahutnya, dengan kening berkerut.

Anisa lalu buru-buru melangkah menuju pintu depan, tanpa menoleh. Yang ada dalam pikirannya satu, ia ingin buru-buru ketemu ketiga sahabatnya. Atu mungkin sengaja melupakan satu orang yang seharusnya ia datangi lebih dulu sebelum keluar rumah.

Tepat saat tangannya meraih sepatu di rak, suara khas itu terdengar dari belakang punggungnya.

"Ada yang kamu lupakan."

Ucapnya.

Langkah Anisa terhenti. Jantungnya mencelos.

Ia menoleh setengah, menatap Gus Hafiz, sekedar tahu siapa yang berdiri dibelakangnya. Anisa kembali menunduk.

"Biasakan izin."

Anisa reflek menggigit bibirnya kaku.

"Saya Pamit, Gus," ucapnya ragu, dengan wajah tertunduk.

Gus Hafiz tak menyahut, pria dewasa di hadapannya malah justru mengulurkan tangannya ke arah Anisa.

Anisa membeku.

Apa maksudnya?

Batin Anisa bergidik, dadanya mendadak panas.Tanpa pikir panjang, ia berbalik badan, pura-pura tak melihat uluran tangan Gus Hafiz.

Namun baru dua langkah suara Gus Hafiz mendadak mengunci langkah Aisah.

"Kamu lupa pentingnya ridho suami?"

Kalimat itu singkat, tapi cukup untuk memakukan kaki Anisa di tempat.

Perlahan dengan tarikan napas berat, Anisa membalikkan badan. Tangannya dingin saat menyentuh jemari Gus Hafiz. Dan dengan gerakan terburu, Anisa mencium punggung tangan Gus Hafiz.

"Pamit, Gus. Assalamu'alaikum,"

"Waalaikumussalam," jawab Gus Hafiz pelan.

Ia melangkah membiarkan Anisa lebih dulu berjalan, di depannya. Jarak mereka dekat, bahkan terlalu dekat untuk sekedar kebetulan.

Anisa menelan ludahnya serat, ia baru ingat, jika hari ini Gus Hafiz ada jadwal mengajar pagi di kelasnya. Anisa melangkahkan kakinya lebih cepat.

Saat Anisa melangkah ke lorong kelas, Gus Hafiz sempat melirik seragam Anisa yang pas badan. Namun pria berwajah kamu itu tak mengatakan apa pun. Beliau melangkah lurus kearah kantor guru.

Begitu Anisa masuk kelas, suasana yang semula riuh mendadak hening. Semua mata tertuju pada Anisa.

Beberapa santri berbisik, bahkan sebagian terang-terangan menoleh tanpa malu. Anisa bisa merasakan tatapan itu menempel di punggungnya. Karena gosip Anisa kabur dan diberi hukuman langsung oleh Ibu Nyai itu sudah santer diperbincangkan, di lingkungan pondok.

Anisa pura-pura santai, melangkah menuju bangkunya, seperti tak terjadi apa-apa.

Namun belum sempat ia duduk, tiga sahabatnya, sudah lebih dulu menghampiri.

"Nisa!"

"Nis!"

"Ya Allah, ternyata kamu masih hidu?"

Ujar Nabila dengan hebohnya. Gadis remaja itu langsung memutar tubuh Anisa, menatapnya dari atas sampai bawah, dengan ekspresi dramatis.

"Nis, kamu ndak dihukum cambuk to, sama Gus Hafiz?" tanya Nabila setengah panik.

Anisa mendelik.

"Iya kali aku dicambuk. Emang aku pendosa po?" sahutnya cepat, sambil tergelak.

"Aku hanya santri iseng yang lompat pagar, Nab." ujarnya dengan masang muka santai.

Dan beberapa temannya yang ikut mendengar pun jadi malah ikut tertawa. Ketegangan pagi itu mencair seketika.

"Edan pol, awakmu, Nis" celetuk Sasa dari belakang.

"Jan edan, ndak nyangka, awakmu sekendel itu, Nis. Ngadepin Gus Hafiz."

Anisa diam, ia pun jadi mikir, ia kok dia berani ya ngadepin Gus Hafiz, toh selama ini satu Ustadz itu yang selalu membuat moodnya berantakan di kelas.

Anisa semakin diam, mengingat setiap kejadian. Dan anehnya, kenapa Gus Hafiz bahkan dia ndak pernah menyalahkan Anisa sedikit pun soal pernikahan mereka.

Anisa pun menggeleng.

"Ah nggak mungkin, nggak mungkin, Orang kayak Gus Hafiz nerima pernikahan ini begitu aja, pasti dia punya rencana licik." Batin Anisa mulai waspada, jaga-jaga jika satu Saat nanti dirinya terlena.

"He... kok malah ngelamun." ujar Nabila sambil menepuk bahu Anisa. Anisa menoleh menatap Nabila sejenak lalu duduk di kursinya.

"Terus Nis, awakmu dikasih hukuman apa?"

Satu persatu temannya mendekat, meja Anisa dikerubungi. Bahkan santri yang biasanya cuek ikut menyimak, pura-pura membuka buku, sambil pasang telinga.

"Anisa lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Hukumanku ya?" Anisa menatap langit-langit kelas sepersekian detik.

"Aku harus jadi Abdi ndalem seumur hidup." sahutnya, dengan wajah datar. Kelas mendadak sunyi.

"Kamu nggak bercandakan?"

Anisa menggeleng.

"Papa, Mama udah pasrahkan aku ke keluarga Romo Yai, Aku bisa apa, Nab." Mata Anisa berkaca-kaca, menahan sesak di dadanya.

Tak satu pun diantara mereka tahu, bahwa di balik kalimat santai itu, Anisa sedang menutup rapat status barunya.

Bukan sekedar Abdi ndalem, Melaikan mengabdi untuk seorang suami yang tak ia inginkan.

"Setelah tamat kamu kan bisa keluar dari ndalem, Nis. ndak usah sedih to..." Anisa tersenyum, senyum itu getir di dadanya.

"Aku dipaksa mengabdi, untuk sesuatu yang tak pernah aku inginkan."

Ada jeda panjang setelah kalimat itu. Anisa tanpa sengaja melirik ke samping, matanya sontak membulat.

Siluet itu.

Postur yang terlalu ia kenal.

Sorot matanya, yang tak mungkin salah ia tafsirkan.

Nafas Anisa tercekat. Anisa sepontan berdiri,

saat pandangannya bertemu. Anisa bahkan tak menyadari sejak kapan, Gus Hafiz berdiri di depan pintu.

"Gus..." bisiknya dengan wajah tertunduk.

Gus Hafiz melangkah menuju meja, dengan wajah datar, langkahnya tenang, para santri sontak bubar tergolong kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Terpopuler

Comments

Lalu Awan

Lalu Awan

palingan ntar bucin juga si anisa

2026-04-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Kesalahan Fatal
2 Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3 Bab 3 Perjannian
4 Bab 4 Akat Nikah.
5 Bab 5 Kehebohan Para Santri
6 Bab 6 Masuk Angin
7 Bab 7 Terlur Dadar
8 Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9 Bab 9 Hujan Badai
10 Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11 Bab 11 Keputusan Romo Yai
12 Bab 12 Tangisan Anisa
13 Bab 13 Jawa Tengah
14 Bab 14 Sambangan
15 Bab 15 Cincin di Jari Manis
16 Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17 Bab 17 Fakta Mengejutkan
18 Bab 18 Hati Yang Patah
19 Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20 Bab 20 Kesepakatan
21 Bab 21 Kejujuran
22 Bab 22
23 Bab 23 Tidur Seranjang
24 Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25 Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26 Bab 26 Pelukan Kerinduan
27 Bab 27 Kotak Merah
28 Bab 28 Gigitan Serangga.
29 Bab 29 Kebimbangan.
30 Bab 30 Pilihan
31 Bab 31 Pilihan Sang Suami
32 Bab 32 Pelukan Manja
33 Bab 33 Keceplosan
34 Bab 34 Kenyataan
35 Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36 Bab 36 Tangis Kerinduan
37 Bab 37 Keputusan Anisa
38 Bab 38 Buah Apel
39 Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40 Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41 Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42 Bab 42 Tamu Tak Diundang
43 Bab 43 Video Call
44 Bab 44 Video 5 Detik
45 Bab 45 Ponsel Anisa
46 Bab 46 Bidadari Surga
47 Bab 47 Izin Romo Yai
48 Bab 48 Kehangatan
49 Bab 49 Fans Gus Hafiz
50 Bab 50 Cinta Dalam Diam
51 Bab 51 Tangisan Manja
52 Bab 52 Rudal Balistik
53 Bab 53 Kebablasan
54 Bab 54 Teguran Keras
55 Bab 55 Kalimat Penghancur
56 Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57 Bab 57 Bentakan
58 Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59 Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60 Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61 Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62 Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63 Bab 63 Rasa Kecewa
64 Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65 Bab 65 Cubitan Maut
66 Bab 66 Kejutan Manis
67 Bab 67 Langit Kairo
68 Bab 68 Pagi Manis
69 Bab 69 Cemburu Manja
70 Bab 70 Hanya Hiburan
71 Bab 71 Foto
72 Bab 72 Cemburu
73 Bab 73 Pencuri
74 Bab 74 Dia Termanis
75 Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76 Bab 76 Kecupan Manis
77 Bab 77 Wanita Dalam Doa
78 Bab 78 Senyum Getir
79 Bab 79 Teman Tapi Mesra
80 Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81 Bab 81 Sifa
82 Bab 82 Ketika Kalah Telak
83 Bab 83 Tangisan Sunyi
84 Bab 84 Sering Ponsel
85 Bab 85 Sebuah Ketulusan
86 Bab 86 Tangis Permohonan
87 Bab 87 Syal
88 Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89 Bab 89 Pelukan Cinta
90 Bab 90 Hangatnya Cinta
91 Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92 Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93 Bab 93 Kebangkitan
94 Bab 94 Cinta
95 Bab 95 Tangis
96 Bab 96 Pelukan
97 Bab 97 Pelukan Cinta
98 Bab 98 Waktu
99 Bab 99 Jodoh
100 Bab 100 Tiket
101 Bab 101 Cincin
102 Bab 102 Kejutan manis
103 Bab 103 Langit Senja
104 Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105 Bab 105 Akad
106 Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107 Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108 Bab 108 Kisah Manis
109 Bab 109 Rintik Hujan
110 Bab 110 Garis Dua
111 Bab 111 Kecewa
112 Bab 112 Tangisan lega
113 Bab 113 Tangis Umi Laila
114 114 Kebahagiaan Sempurna
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1 Kesalahan Fatal
2
Bab 2 Ta'zir dari Sang Kiai
3
Bab 3 Perjannian
4
Bab 4 Akat Nikah.
5
Bab 5 Kehebohan Para Santri
6
Bab 6 Masuk Angin
7
Bab 7 Terlur Dadar
8
Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz
9
Bab 9 Hujan Badai
10
Bab 10 Tenda Gus Hafiz
11
Bab 11 Keputusan Romo Yai
12
Bab 12 Tangisan Anisa
13
Bab 13 Jawa Tengah
14
Bab 14 Sambangan
15
Bab 15 Cincin di Jari Manis
16
Bab 16 Kegelisahan Gus Hafiz
17
Bab 17 Fakta Mengejutkan
18
Bab 18 Hati Yang Patah
19
Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
20
Bab 20 Kesepakatan
21
Bab 21 Kejujuran
22
Bab 22
23
Bab 23 Tidur Seranjang
24
Bab 24 Ketika Iman Setipis Tisu
25
Baab 25 Keinginan Gus Hafiz
26
Bab 26 Pelukan Kerinduan
27
Bab 27 Kotak Merah
28
Bab 28 Gigitan Serangga.
29
Bab 29 Kebimbangan.
30
Bab 30 Pilihan
31
Bab 31 Pilihan Sang Suami
32
Bab 32 Pelukan Manja
33
Bab 33 Keceplosan
34
Bab 34 Kenyataan
35
Bab 35 Tangis Dalam Sujud
36
Bab 36 Tangis Kerinduan
37
Bab 37 Keputusan Anisa
38
Bab 38 Buah Apel
39
Bab 39 Godaan Gus Hafiz
40
Bab 40 Permintaan Gus Hafiz
41
Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
42
Bab 42 Tamu Tak Diundang
43
Bab 43 Video Call
44
Bab 44 Video 5 Detik
45
Bab 45 Ponsel Anisa
46
Bab 46 Bidadari Surga
47
Bab 47 Izin Romo Yai
48
Bab 48 Kehangatan
49
Bab 49 Fans Gus Hafiz
50
Bab 50 Cinta Dalam Diam
51
Bab 51 Tangisan Manja
52
Bab 52 Rudal Balistik
53
Bab 53 Kebablasan
54
Bab 54 Teguran Keras
55
Bab 55 Kalimat Penghancur
56
Bab 56 Tangisan Di Atas Sajadah
57
Bab 57 Bentakan
58
Bab 58 Keputusan Sang Kiai
59
Bab 59 Tangis Di Atas Panggung
60
Bab 60 Tagis Dalam Pelukan
61
Bab 61 Tangis Yang Terpendam
62
Bab Bab 62 Rindu Tapi Kesal
63
Bab 63 Rasa Kecewa
64
Bab 64 Penawaran Yang Ditolak
65
Bab 65 Cubitan Maut
66
Bab 66 Kejutan Manis
67
Bab 67 Langit Kairo
68
Bab 68 Pagi Manis
69
Bab 69 Cemburu Manja
70
Bab 70 Hanya Hiburan
71
Bab 71 Foto
72
Bab 72 Cemburu
73
Bab 73 Pencuri
74
Bab 74 Dia Termanis
75
Bab 75 Cemburu Di Balik Tugas
76
Bab 76 Kecupan Manis
77
Bab 77 Wanita Dalam Doa
78
Bab 78 Senyum Getir
79
Bab 79 Teman Tapi Mesra
80
Bab 80 Obrolan Para Lelaki
81
Bab 81 Sifa
82
Bab 82 Ketika Kalah Telak
83
Bab 83 Tangisan Sunyi
84
Bab 84 Sering Ponsel
85
Bab 85 Sebuah Ketulusan
86
Bab 86 Tangis Permohonan
87
Bab 87 Syal
88
Bab 88 Jawaban Sang Menantu
89
Bab 89 Pelukan Cinta
90
Bab 90 Hangatnya Cinta
91
Bab 91 Di bawah lagit Jawa
92
Bab 92 Kabar Dari Mbok Yem
93
Bab 93 Kebangkitan
94
Bab 94 Cinta
95
Bab 95 Tangis
96
Bab 96 Pelukan
97
Bab 97 Pelukan Cinta
98
Bab 98 Waktu
99
Bab 99 Jodoh
100
Bab 100 Tiket
101
Bab 101 Cincin
102
Bab 102 Kejutan manis
103
Bab 103 Langit Senja
104
Bab 104 Wejangan Sang Ayah
105
Bab 105 Akad
106
Bab 6 Nama Yang Di langitkan
107
Bab 107 Cerita Di Atas Awan
108
Bab 108 Kisah Manis
109
Bab 109 Rintik Hujan
110
Bab 110 Garis Dua
111
Bab 111 Kecewa
112
Bab 112 Tangisan lega
113
Bab 113 Tangis Umi Laila
114
114 Kebahagiaan Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!