Bab 2: Tameng Debu Semen

Niko melangkah masuk ke dalam kedai dengan ekspresi seolah-olah ia sedang melewati tumpukan sampah. Sepatu pantofelnya yang mengkilap beradu dengan lantai semen kedai yang tidak rata, menciptakan bunyi yang kontras dengan suasana pedesaan di luar. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, lalu menutup hidungnya sejenak.

"Gia, aku sudah mencarimu ke mana-mana, dan ternyata kamu berakhir di sini? Menjadi pelayan di warung reyot yang bahkan tidak punya pendingin ruangan?" Niko tertawa sinis, matanya menyapu seisi kedai dengan hinaan yang nyata.

Gia merasa lidahnya kelu. Rasa sakit hati yang ia kubur dalam-dalam selama tiga bulan terakhir mendadak meluap kembali. Niko bukan hanya menghancurkan hatinya dengan berselingkuh, tapi pria itu juga yang memfitnahnya melakukan penggelapan dana kantor hingga Gia dipecat secara tidak hormat.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Niko? Pergi," suara Gia bergetar, meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar.

"Pergi? Aku ke sini untuk memberimu kesempatan, Gia. Ayolah, aku tahu kamu tidak berbakat hidup miskin. Kembalilah ke Jakarta, aku bisa mengatur agar namamu bersih, asal kamu mau menuruti permintaanku," Niko melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Rian yang masih merangkul bahu Gia.

Baru saja Niko hendak menyentuh tangan Gia, Rian berdeham sangat keras. Ia melepaskan rangkulannya dari bahu Gia, lalu berpindah posisi berdiri tepat di depan gadis itu, menghalangi pandangan Niko.

"Waduh, Tuan Jas Rapi," sela Rian dengan suara berat yang sengaja dibuat ramah namun terdengar menyindir. "Di sini aturannya jelas. Kalau mau bicara sama Neng Gia, harus beli kopi dulu. Dan kalau mau bicara sombong, tarifnya beda lagi, Mas. Harus bayar pajak polusi suara."

Niko mengernyitkan dahi, menatap Rian dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Siapa kamu? Tukang sampah? Singkirkan tangan kotormu itu dari hadapanku. Kamu tidak tahu siapa aku, hah?"

Rian bukannya takut, ia justru terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya yang kasar dan masih ada sedikit sisa debu semen kering, lalu dengan sengaja menepuk-nepuk pundak jas mahal Niko. "Saya? Saya ini nasabah prioritas di sini, Mas. Utang saya banyak, jadi saya punya hak istimewa buat jagain pemilik kedainya dari lalat-lalat besar yang bau minyak wangi mahal tapi hatinya busuk."

"Kamu!" Niko berteriak, wajahnya merah padam saat melihat noda abu-abu samar tertinggal di jas kasmirnya. "Jangan lancang! Jas ini harganya lebih mahal dari seluruh isi warung kumuh ini!"

"Oh ya?" Rian menaikkan sebelah alisnya, wajahnya yang penuh keringat kini tampak sangat provokatif. "Di sini, jas Mas itu nggak berguna. Kalau Mas nggak bisa bantu Neng Gia cuci piring atau angkut karung kopi, mending Mas balik ke kota aja. Kasihan mobilnya, nanti debu desa ini bikin mesinnya batuk-batuk."

Gia terpaku di belakang punggung Rian. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Selama ini, Niko selalu mendominasi hidupnya, menekannya, dan membuatnya merasa kecil. Namun hari ini, seorang pria yang bahkan tidak punya uang untuk membayar secangkir kopi hitam, berdiri dengan kepala tegak membelanya di depan orang paling berkuasa yang pernah ia kenal.

"Gia, kamu lebih memilih dibela oleh gelandangan ini?" Niko menatap Gia melewati bahu Rian. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat. Apa yang bisa diberikan pria ini padamu? Cinta? Rumah dari kardus?"

Gia menarik napas panjang. Ia melangkah maju, berdiri di samping Rian. "Dia punya sesuatu yang tidak pernah kamu miliki, Niko. Dia punya harga diri yang tidak perlu dibeli dengan uang."

"Gia!"

"Pergi, Niko. Sebelum aku memanggil warga desa dan memberitahu mereka kalau ada orang kota yang sedang menghina satu-satunya kedai kopi di kampung ini," ancam Gia dengan nada dingin yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.

Niko mengepalkan tinjunya. Ia tahu, di desa seperti ini, sentimen warga terhadap "orang kota yang sombong" sangat kuat. Dengan geram, ia memutar tubuhnya, melangkah keluar kedai menuju mobil sedannya. Sebelum menutup pintu mobil, ia sempat berteriak, "Kamu akan menyesal, Gia! Kamu akan memohon padaku untuk membawamu pergi dari lumpur ini!"

Mobil mewah itu melaju kencang, meninggalkan kepulan debu yang tebal di depan kedai. Gia mendesah panjang, bahunya merosot lemas. Seluruh energinya seolah terkuras habis.

"Neng, jangan dipikirin. Orang kayak gitu biasanya cuma berisik di mulut, tapi hatinya kecil kayak kerikil," ujar Rian sambil kembali duduk di kursinya seolah tidak terjadi drama apa pun.

Gia menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Terima kasih, Rian. Tapi... jas dia beneran mahal. Kamu nggak takut dia bakal balas dendam?"

Rian tertawa terbahak-bahak, lalu ia meminum sisa kopinya hingga tandas. "Takut? Saya ini sudah biasa kena reruntuhan bangunan, Neng. Kena gertakan orang pakai jas itu rasanya cuma kayak digigit nyamuk. Lagian, anggap saja tadi itu cicilan buat lunasin utang kopi saya hari ini, ya? Berarti utang saya berkurang seribu?"

Gia tidak tahan untuk tidak tersenyum tipis. "Enak saja! Seribu tetap seribu. Tapi... ya sudah, khusus hari ini, utangmu aku hapus satu baris."

"Nah, gitu dong! Senyum itu bikin kopi jadi manis beneran," Rian mengedipkan sebelah matanya, lalu bangkit berdiri. "Saya balik ke proyek dulu ya. Mandor galak sudah nungguin. Sampai ketemu nanti sore, Barista Cantik!"

Rian melenggang pergi dengan sandal jepitnya yang berbunyi tak-tek-tak-tek, meninggalkan Gia yang kini berdiri sendirian di kedai. Namun kali ini, aroma kopi di sana tidak lagi terasa pahit oleh kegagalan. Ada sedikit rasa hangat yang tersisa di sana, rasa hangat yang tidak berasal dari mesin espresso, melainkan dari punggung lebar seorang pria berkos oblong pudar yang baru saja menjadi tamengnya.

Gia menatap buku catatan utang di atas meja. Ia mengambil pena, lalu mencoret satu baris nama Rian. Namun di bawahnya, ia menuliskan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan ia tulis: Terima kasih, si Tukang Utang.

Terpopuler

Comments

F.Room

F.Room

keliatan kalo Niko sendiri yg nyesel

2026-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2 Bab 2: Tameng Debu Semen
3 Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4 Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5 Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6 Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7 Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8 Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9 Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10 Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11 Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12 Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13 Bab 13: Gema di Hutan Beton
14 Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15 Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16 Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17 Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18 Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19 Bab 19: Puing di Tengah Arus
20 Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21 Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22 Bab 22: Pulang ke Akar
23 Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24 Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25 Bab 25: Adukan yang Mengeras
26 Bab 26: Perebutan Mata Air
27 Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28 Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29 Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30 Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31 Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32 Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33 Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34 Bab 34: Lensa Kebenaran
35 Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36 Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37 Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38 Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39 Bab 39: Fajar Pembalasan
40 Bab 40: Pesta di Atas Bara
41 Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42 Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43 Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44 Bab 44: Bara di Balik Pagar
45 Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46 Bab 46: Pedang Bermata Dua
47 Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48 Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49 Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50 Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51 Bab 51: Bara di Atas Warkah
52 Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53 Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54 Bab 54: Federasi Tanah Karo
55 Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56 Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57 Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58 Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59 Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60 Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61 Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62 Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63 Bab 63: Fondasi yang Menari
64 Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65 Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66 Bab 66: Garis Depan di Muara
67 Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68 Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69 Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70 Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71 Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72 Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73 Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74 Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75 Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76 Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77 Bab 77: Gema di Balik Kedalaman
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2
Bab 2: Tameng Debu Semen
3
Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4
Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5
Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6
Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7
Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8
Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9
Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10
Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11
Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12
Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13
Bab 13: Gema di Hutan Beton
14
Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15
Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16
Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17
Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18
Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19
Bab 19: Puing di Tengah Arus
20
Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21
Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22
Bab 22: Pulang ke Akar
23
Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24
Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25
Bab 25: Adukan yang Mengeras
26
Bab 26: Perebutan Mata Air
27
Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28
Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29
Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30
Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31
Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32
Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33
Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34
Bab 34: Lensa Kebenaran
35
Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36
Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37
Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38
Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39
Bab 39: Fajar Pembalasan
40
Bab 40: Pesta di Atas Bara
41
Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42
Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43
Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44
Bab 44: Bara di Balik Pagar
45
Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46
Bab 46: Pedang Bermata Dua
47
Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48
Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49
Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50
Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51
Bab 51: Bara di Atas Warkah
52
Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53
Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54
Bab 54: Federasi Tanah Karo
55
Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56
Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57
Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58
Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59
Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60
Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61
Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62
Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63
Bab 63: Fondasi yang Menari
64
Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65
Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66
Bab 66: Garis Depan di Muara
67
Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68
Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69
Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70
Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71
Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72
Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73
Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74
Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75
Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76
Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77
Bab 77: Gema di Balik Kedalaman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!