Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca-kaca kedai kopi yang sedikit berdebu. Gia duduk di kursi bar, menopang dagu sambil memperhatikan jalanan desa yang mulai sepi. Ucapan Niko tadi siang masih terngiang-ngiang seperti kaset rusak di kepalanya. “Tempat kumuh,” katanya. Gia menghela napas, matanya beralih ke jemarinya yang kini kasar karena terlalu sering terkena air cucian dan bubuk kopi. Dulu, jemari ini selalu cantik dengan manikur mahal.

"Dunia memang berputar terlalu cepat, ya?" gumamnya pada diri sendiri.

Tiba-tiba, suara tak-tek-tak-tek yang sudah mulai familiar di telinganya terdengar. Tapi kali ini ada yang berbeda. Rian tidak datang sendirian. Ia berjalan bersama seorang pria tua yang memikul cangkul, keduanya tampak tertawa akrab.

"Neng Gia! Masih buka, kan? Ini Pak kades mau nyobain kopi 'amarah' bikinan kamu," seru Rian sambil melambaikan tangan dengan semangat.

Gia buru-buru berdiri dan merapikan celemeknya. "Eh, iya, Pak Kades. Silakan duduk."

Pak Kades duduk dengan tenang, sementara Rian langsung nyelonong ke arah belakang bar—sesuatu yang biasanya akan membuat Gia berteriak marah. Namun entah kenapa, sore ini Gia membiarkannya. Rian mengambil botol air mineral dan membasuh wajahnya di wastafel sudut.

Saat itulah, Gia tertegun.

Ketika Rian membasuh leher dan wajahnya, air mengalir membasahi kaus oblong hitamnya yang tipis, membuatnya menempel ke kulit. Di balik kain pudar itu, Gia melihat sekilas siluet tubuh yang tidak tampak seperti kuli bangunan biasa. Postur tubuhnya tegak, bahunya bidang, dan ada cara berdiri yang sangat... berwibawa. Bukan tipe orang yang tumbuh besar dengan memikul beban semen.

Lebih dari itu, saat Rian menyeka wajah dengan handuk kecil yang ia gantung di bahu, Gia menangkap sesuatu di pergelangan tangan pria itu. Sebuah jam tangan hitam yang sangat kontras dengan penampilannya. Jam itu tidak berkilau seperti milik Niko, tapi Gia yang dulu sering bergaul dengan kalangan atas tahu persis: itu adalah jam tangan taktis militer yang harganya bisa untuk membeli tiga motor baru.

Kenapa seorang tukang bangunan serabutan pakai jam tangan seharga itu? batin Gia.

"Neng? Heii... Neng Gia? Melamun ya lihat kegantengan saya yang alami ini?" celetuk Rian sambil mengibaskan tangan di depan wajah Gia.

Gia tersentak, wajahnya mendadak panas. "Apa sih! Siapa juga yang melamun. Aku cuma... cuma bingung mau kasih Pak Kades kopi apa."

"Kopi yang paling enak dong. Pak Kades ini yang punya lahan di ujung sana, tempat saya lagi ngerjain proyek," kata Rian sambil duduk di samping Pak Kades.

Pak Kades terkekeh. "Rian ini pinter promosi, Gia. Dia bilang kopi buatanmu lebih enak dari kafe manapun di kota. Oh ya, gimana tadi siang? Rian bilang ada tamu jauh dari Jakarta?"

Gia melirik Rian dengan tajam. Tukang gosip! batinnya. Namun Rian hanya mengedipkan sebelah mata sambil asyik mengupil pelan—tingkah yang sangat tidak estetik tapi entah kenapa malah membuat Gia ingin tertawa.

"Cuma teman lama, Pak. Nggak penting," jawab Gia singkat sambil mulai menyeduh kopi.

"Oh, syukurlah kalau nggak penting. Soalnya Rian tadi bilang ke saya, kalau orang itu datang lagi, dia mau minta izin saya buat pasang papan 'Dilarang Masuk' khusus buat mobil mewah itu," Pak Kades tertawa lebar.

Gia hanya bisa tersenyum getir. Setelah Pak Kades pulang, kedai kembali sunyi. Rian masih di sana, asyik membersihkan sisa kopi di meja tanpa diminta.

"Rian," panggil Gia pelan.

"Ya, Neng Bos?"

"Jam tangan kamu... bagus."

Rian sempat terhenti sejenak. Gerakannya sedikit kaku, namun hanya sepersekian detik sebelum ia kembali santai. Ia melirik pergelangan tangannya, lalu terkekeh. "Oh, ini? Ini mah barang loakan, Neng. Saya beli di pasar loak deket terminal. Kelihatan keren ya? Ya iyalah, yang pakai kan emang sudah keren dari lahir."

"Jangan bohong. Aku tahu itu jam mahal," desak Gia, melangkah mendekat.

Rian berdiri, tingginya yang hampir kepala lebih tinggi dari Gia membuat gadis itu harus mendongak. Tatapan jail yang biasanya ada di mata Rian mendadak hilang, digantikan oleh tatapan dalam yang membuat jantung Gia berdegup sedikit lebih kencang.

"Neng Gia," suara Rian merendah, terdengar jauh lebih serius dan "mahal" dari biasanya. "Ada alasan kenapa orang lebih suka pakai kaus oblong daripada jas. Jas itu panas, kaku, dan seringkali dipakai buat nutupin borok di dalam hati. Kaus oblong ini... meski bolong, dia jujur. Sama kayak saya."

Rian kemudian tersenyum lagi, senyum miring yang menyebalkan itu kembali. "Sudah ah, jangan diinterogasi terus. Saya belum mau daftar jadi menantu Bapak kamu kok. Belum sanggup bayar maharnya pakai utang kopi."

Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Gia yang masih mematung dengan beribu pertanyaan. Rian bukan sekadar tukang bangunan yang berutang seribu rupiah. Cara dia bicara, cara dia menatap, dan jam tangan itu... semuanya tidak masuk akal.

Gia kembali menatap catatan utang. Nama 'Rian' di sana kini terasa memiliki misteri yang lebih besar daripada angka-angka yang tertulis.

Siapa kamu sebenarnya, Rian?

Terpopuler

Comments

tinie

tinie

si bos menyamar ya jadi kuli bangunan🤔

2026-03-09

0

F.Room

F.Room

kayanya rian bukan kuli biasa

2026-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2 Bab 2: Tameng Debu Semen
3 Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4 Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5 Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6 Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7 Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8 Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9 Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10 Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11 Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12 Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13 Bab 13: Gema di Hutan Beton
14 Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15 Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16 Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17 Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18 Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19 Bab 19: Puing di Tengah Arus
20 Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21 Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22 Bab 22: Pulang ke Akar
23 Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24 Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25 Bab 25: Adukan yang Mengeras
26 Bab 26: Perebutan Mata Air
27 Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28 Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29 Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30 Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31 Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32 Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33 Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34 Bab 34: Lensa Kebenaran
35 Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36 Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37 Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38 Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39 Bab 39: Fajar Pembalasan
40 Bab 40: Pesta di Atas Bara
41 Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42 Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43 Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44 Bab 44: Bara di Balik Pagar
45 Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46 Bab 46: Pedang Bermata Dua
47 Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48 Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49 Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50 Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51 Bab 51: Bara di Atas Warkah
52 Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53 Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54 Bab 54: Federasi Tanah Karo
55 Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56 Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57 Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58 Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59 Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60 Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61 Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62 Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63 Bab 63: Fondasi yang Menari
64 Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65 Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66 Bab 66: Garis Depan di Muara
67 Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68 Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69 Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70 Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71 Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72 Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73 Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74 Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75 Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76 Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77 Bab 77: Gema di Balik Kedalaman
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2
Bab 2: Tameng Debu Semen
3
Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4
Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5
Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6
Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7
Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8
Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9
Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10
Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11
Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12
Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13
Bab 13: Gema di Hutan Beton
14
Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15
Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16
Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17
Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18
Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19
Bab 19: Puing di Tengah Arus
20
Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21
Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22
Bab 22: Pulang ke Akar
23
Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24
Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25
Bab 25: Adukan yang Mengeras
26
Bab 26: Perebutan Mata Air
27
Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28
Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29
Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30
Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31
Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32
Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33
Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34
Bab 34: Lensa Kebenaran
35
Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36
Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37
Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38
Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39
Bab 39: Fajar Pembalasan
40
Bab 40: Pesta di Atas Bara
41
Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42
Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43
Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44
Bab 44: Bara di Balik Pagar
45
Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46
Bab 46: Pedang Bermata Dua
47
Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48
Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49
Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50
Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51
Bab 51: Bara di Atas Warkah
52
Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53
Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54
Bab 54: Federasi Tanah Karo
55
Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56
Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57
Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58
Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59
Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60
Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61
Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62
Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63
Bab 63: Fondasi yang Menari
64
Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65
Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66
Bab 66: Garis Depan di Muara
67
Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68
Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69
Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70
Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71
Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72
Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73
Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74
Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75
Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76
Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77
Bab 77: Gema di Balik Kedalaman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!