Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin

Sisa martabak semalam masih ada di atas meja bar, tapi selera makan Gia sudah hilang entah ke mana. Ia duduk melamun menatap pintu kayu yang tadi malam hampir saja jebak oleh anak buah Niko. Kejadian semalam bukan sekadar gertakan; Niko benar-benar ingin menghancurkan satu-satunya tempat persembunyian yang Gia miliki.

"Kalau aku terus-terusan takut, dia menang," gumam Gia. Ia mengepalkan tangannya.

Niko selalu berpikir uang bisa membeli segalanya, termasuk martabat orang lain. Gia tahu, cara terbaik untuk membalas pria seperti Niko bukan dengan makian, melainkan dengan membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa bantuan (atau gangguan) dari pria itu.

Tak-tek-tak-tek.

Suara itu datang lebih awal pagi ini. Rian muncul dengan kaus oblong warna biru langit yang sudah tipis di bagian kerah. Wajahnya tampak segar, seolah kejadian baku hantam semalam hanya dianggapnya sebagai olahraga malam biasa.

"Pagi, Neng Bos! Mana kopi janji semalam? Saya sudah siap tempur nih, meskipun perut baru diisi angin," seru Rian sambil langsung duduk di kursi favoritnya.

Gia menatap Rian dalam-dalam. "Rian, kenapa kamu bantuin aku semalam? Kamu bisa saja kena masalah besar gara-gara aku."

Rian terdiam sejenak saat sedang merogoh saku celananya untuk mencari pemantik api—yang kemudian ia simpan lagi saat melihat tanda 'Dilarang Merokok' yang baru dipasang Gia. "Masalah? Neng, di dunia ini nggak ada yang nggak punya masalah. Bedanya, ada masalah yang layak dihadapi, ada yang nggak. Jagain kamu dari orang sombong itu... menurut saya layak-layak saja."

Gia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. "Niko nggak akan berhenti. Dia bakal terus teror kedai ini. Kalau aku nggak buat kedai ini sukses dan punya pengaruh, dia bakal dengan mudah meratakan tempat ini."

Rian menyesap kopi yang baru saja diletakkan Gia di depannya. "Nah, itu dia. Masalahnya, kedai kamu ini... gimana ya ngomongnya... terlalu 'jakarta'."

"Maksud kamu?" Gia mengernyitkan dahi.

"Kamu pakai mesin mahal, biji kopi mahal, tapi suasananya kaku. Orang desa itu nggak butuh latte art bentuk hati, Neng. Mereka butuh tempat yang bikin mereka ngerasa kayak di rumah sendiri, tapi punya rasa yang bikin mereka ngerasa kayak orang kaya," Rian menjelaskan sambil menggerakkan tangannya secara ekspresif.

Gia mulai tertarik. "Terus, ide kamu apa? Aku nggak punya modal lagi buat renovasi."

Rian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat cerdas. "Kita nggak butuh modal uang banyak. Kita butuh modal 'cerita'. Orang kota itu haus sama yang namanya authenticity—keaslian. Gimana kalau kita ubah konsepnya? Jangan cuma kedai kopi. Jadiin tempat ini 'Rumah Cerita'. Setiap orang yang beli kopi, boleh nulis satu kalimat di dinding kayu itu tentang apa saja. Kesedihan, harapan, atau sekadar utang yang belum lunas."

Gia terdiam, otaknya yang terbiasa dengan strategi pemasaran mulai berputar cepat. "Dan kita pakai media sosial? Aku bisa ambil foto yang bagus. Konten yang aesthetic tapi punya jiwa..."

"Tepat!" Rian menjentikkan jarinya. "Dan satu lagi. Menu andalannya jangan cuma espresso. Bikin sesuatu yang cuma ada di sini. Apa ya... kopi dicampur rempah dari kebun belakang Bapakmu, misalnya?"

Gia tersenyum lebar. Ini dia. Ini sisi kemanusiaan yang ia cari. Bukan sekadar bisnis kaku, tapi sesuatu yang menyentuh hati. "Kopi Jahe Gula Aren dengan foam susu yang tebal. Kita sebut saja 'Kopi Semangat Rian'?"

Rian tertawa terbahak-bahak. "Aduh, jangan pakai nama saya, nanti banyak cewek desa yang antre, saya nggak kuat ngeladeninnya."

Sepanjang pagi itu, mereka berdua tenggelam dalam rencana. Gia mencatat segala ide di buku utang—yang kini fungsinya berubah menjadi buku strategi. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki kembali di desa, Gia merasa punya tujuan yang nyata.

Namun, di tengah keriuhan rencana itu, Gia tidak sengaja melihat tangan Rian yang sedang menggambar sketsa tata letak meja di atas tisu. Sketsanya sangat rapi, menggunakan perspektif arsitektur yang sangat akurat.

"Rian," panggil Gia pelan.

"Hmm?"

"Tukang bangunan nggak biasanya bisa bikin sketsa arsitektur se-detail itu, lengkap dengan perhitungan bebannya."

Rian mendadak menghentikan goresan penanya. Ia menatap sketsa itu, lalu dengan cepat meremas tisu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Wajahnya kembali santai, namun ada kilat kepedihan yang melintas sangat cepat di matanya.

"Ah, itu... dulu saya sering liatin mandor saya gambar. Jadi cuma asal tiru saja. Sudah ya, saya harus ke proyek. Semennya sudah nunggu," ujar Rian sambil berdiri terburu-buru.

Gia menatap punggung Rian yang menjauh. Satu rahasia lagi terungkap, atau setidaknya, satu petunjuk lagi muncul. Rian bukan sekadar prajurit yang jago berkelahi; dia memiliki otak seorang perancang.

Siapa kamu sebenarnya, Rian? Kenapa pria dengan bakat sehebat itu memilih menjadi tukang bangunan yang bersembunyi di balik kaus oblong pudar?

Gia berjalan menuju tempat sampah, mengambil remasan tisu itu, dan menyimpannya baik-baik. Ia tahu, di balik misi membangun kedai ini, ia juga punya misi lain: mengungkap siapa sebenarnya pria yang telah menyelamatkan hidup dan hatinya semalam.

Episodes
1 Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2 Bab 2: Tameng Debu Semen
3 Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4 Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5 Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6 Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7 Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8 Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9 Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10 Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11 Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12 Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13 Bab 13: Gema di Hutan Beton
14 Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15 Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16 Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17 Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18 Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19 Bab 19: Puing di Tengah Arus
20 Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21 Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22 Bab 22: Pulang ke Akar
23 Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24 Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25 Bab 25: Adukan yang Mengeras
26 Bab 26: Perebutan Mata Air
27 Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28 Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29 Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30 Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31 Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32 Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33 Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34 Bab 34: Lensa Kebenaran
35 Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36 Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37 Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38 Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39 Bab 39: Fajar Pembalasan
40 Bab 40: Pesta di Atas Bara
41 Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42 Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43 Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44 Bab 44: Bara di Balik Pagar
45 Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46 Bab 46: Pedang Bermata Dua
47 Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48 Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49 Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50 Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51 Bab 51: Bara di Atas Warkah
52 Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53 Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54 Bab 54: Federasi Tanah Karo
55 Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56 Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57 Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58 Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59 Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60 Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61 Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62 Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63 Bab 63: Fondasi yang Menari
64 Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65 Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66 Bab 66: Garis Depan di Muara
67 Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68 Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69 Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70 Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71 Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72 Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73 Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74 Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75 Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76 Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77 Bab 77: Gema di Balik Kedalaman
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2
Bab 2: Tameng Debu Semen
3
Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4
Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5
Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6
Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7
Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8
Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9
Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10
Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11
Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12
Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13
Bab 13: Gema di Hutan Beton
14
Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15
Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16
Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17
Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18
Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19
Bab 19: Puing di Tengah Arus
20
Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21
Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22
Bab 22: Pulang ke Akar
23
Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24
Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25
Bab 25: Adukan yang Mengeras
26
Bab 26: Perebutan Mata Air
27
Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28
Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29
Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30
Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31
Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32
Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33
Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34
Bab 34: Lensa Kebenaran
35
Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36
Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37
Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38
Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39
Bab 39: Fajar Pembalasan
40
Bab 40: Pesta di Atas Bara
41
Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42
Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43
Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44
Bab 44: Bara di Balik Pagar
45
Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46
Bab 46: Pedang Bermata Dua
47
Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48
Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49
Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50
Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51
Bab 51: Bara di Atas Warkah
52
Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53
Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54
Bab 54: Federasi Tanah Karo
55
Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56
Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57
Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58
Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59
Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60
Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61
Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62
Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63
Bab 63: Fondasi yang Menari
64
Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65
Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66
Bab 66: Garis Depan di Muara
67
Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68
Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69
Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70
Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71
Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72
Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73
Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74
Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75
Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76
Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77
Bab 77: Gema di Balik Kedalaman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!