Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu

Malam di desa ternyata tidak sesunyi yang Gia bayangkan. Memang tidak ada deru mesin bus atau klakson mobil yang saling bersahutan seperti di Jakarta, tapi suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyang pepohonan bambu di belakang kedai sanggup membuat bulu kuduknya berdiri.

Gia baru saja selesai menghitung pendapatan hari ini yang tidak seberapa. Ia menguap lebar, bersiap untuk mengunci pintu kayu kedai yang sudah mulai dimakan usia. Namun, saat tangannya baru saja menyentuh palang pintu, sebuah ketukan keras mengejutkannya.

Tok! Tok! Tok!

Jantung Gia berdegup kencang. Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Ayahnya sudah tidur di rumah utama yang terletak beberapa meter di belakang kedai. Tidak biasanya ada orang bertamu selarut ini.

"Siapa?" tanya Gia dengan suara sedikit bergetar.

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara napas berat dari balik pintu. Gia memberanikan diri mengintip dari celah kayu. Di sana, di bawah remang lampu jalan, berdiri dua orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam. Mereka bukan Rian, bukan juga orang desa yang ia kenal.

"Nona Gia? Kami punya pesan dari Tuan Niko," salah satu dari mereka bersuara. Suaranya dingin, seperti mesin.

Gia mundur selangkah. Tangannya mencari-cari apa saja yang bisa dijadikan senjata, dan ia hanya menemukan sebuah tamper kopi—besi berat untuk memadatkan bubuk kopi. "Sampaikan pada tuan kalian, aku tidak mau bicara! Pergi atau aku teriak!"

"Tuan Niko hanya ingin Anda berpikir ulang, Nona. Jangan sampai tempat usaha ayah Anda ini mengalami 'kecelakaan' hanya karena Anda keras kepala," ancam pria itu lagi. Salah satu dari mereka menendang pintu bawah dengan keras, membuat debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit.

Gia memejamkan mata, ketakutan mulai merayap di dadanya. Ia merasa sendirian dan tak berdaya. Di kota dulu, ia punya satpam kantor. Di sini? Ia hanya punya pintu kayu yang hampir lapuk.

"Waduh, waduh... Ada apa ini? Malam-malam kok main tendang pintu orang? Mau pesan kopi atau mau latihan karate, Bang?"

Suara itu! Gia merasa beban di pundaknya mendadak terangkat.

Gia kembali mengintip. Rian berdiri di sana, masih dengan kaus oblongnya—tapi kali ini warnanya putih bersih. Ia membawa sebuah plastik hitam berisi martabak manis. Ekspresinya santai, seolah dua pria berotot di depannya itu hanyalah dua karung semen yang harus ia pindahkan.

"Jangan ikut campur, Gelandangan!" bentak salah satu anak buah Niko. "Pergi sebelum tulangmu kami buat bergeser."

Rian tertawa. Bukan tawa jail yang biasanya Gia dengar, melainkan tawa rendah yang terdengar sangat berbahaya. Ia meletakkan plastik martabaknya di atas pagar tanaman dengan sangat hati-hati.

"Duh, tulang saya sudah sering bergeser karena angkut bata, Bang. Jadi nggak usah repot-repot," Rian melangkah maju. "Begini saja, ini kan daerah saya. Kalau Abang-abang ini pergi sekarang, saya anggap kita nggak pernah ketemu. Tapi kalau masih di sini dalam hitungan ketiga..."

"Kenapa? Mau apa kamu?" tantang pria itu sambil melayangkan pukulan ke arah wajah Rian.

Gia menahan napas, hampir berteriak. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat matanya membelalak.

Rian tidak menghindar jauh. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, menangkap pergelangan tangan pria besar itu dengan satu tangan, lalu dengan satu gerakan cepat—yang tampak sangat terlatih—ia memutar tangan pria itu ke belakang punggungnya. Bunyi krek pelan terdengar, diikuti erangan kesakitan.

"Satu," ucap Rian tenang.

Pria satunya lagi mencoba menyerang dengan tendangan, tapi Rian dengan cekatan menggunakan tubuh rekannya sebagai tameng, lalu memberikan satu tendangan telak ke arah perut lawan hingga pria itu terjungkal ke semak-semak.

"Dua," lanjut Rian. Matanya kini berkilat tajam di bawah cahaya lampu jalan. "Mau lanjut ke angka tiga?"

Kedua pria itu saling pandang. Mereka menyadari bahwa pria berbaju lusuh ini bukan lawan sembarangan. Dengan langkah seribu dan napas tersengal, mereka lari menuju mobil yang terparkir agak jauh di kegelapan.

Suasana kembali hening. Rian menghela napas, lalu mengambil kembali martabak manisnya. Ia mengetuk pintu kedai dengan lembut. "Neng Gia? Sudah aman. Buka pintunya, martabaknya nanti dingin."

Gia membuka pintu dengan tangan gemetar. Ia menatap Rian seolah pria itu adalah alien. "Kamu... kamu tadi itu apa? Kamu bisa bela diri?"

Rian kembali ke mode "tukang utang" yang menyebalkan. Ia nyengir lebar. "Ah, cuma keberuntungan, Neng. Tadi saya cuma asal gerak, eh mereka yang terlalu lemah. Makanya, jangan cuma makan nasi kotak, sekali-kali makan singkong rebus biar kuat."

"Rian, aku serius!" Gia menarik lengan Rian. "Kamu bukan tukang bangunan biasa, kan? Gerakanmu tadi... itu bukan gerakan orang yang cuma angkut bata."

Rian terdiam sejenak, menatap Gia yang wajahnya pucat pasi. Ia mengulurkan tangan, lalu tanpa sadar mengusap kepala Gia dengan lembut—sebuah gerakan yang sangat manusiawi hingga membuat Gia tertegun.

"Neng Gia, di dunia ini ada orang yang memilih jadi 'kecil' supaya nggak perlu lihat hal-hal yang 'besar' dan kotor," bisik Rian. "Sudah, jangan dipikirkan. Nih, martabak kacang cokelat. Bayar pakai kopi besok pagi ya? Jangan dimasukkan catatan utang."

Gia menerima martabak itu, masih dengan sejuta tanya. Rian berbalik, berjalan pulang menembus kegelapan malam dengan santai.

Gia menutup pintu dan menguncinya. Malam ini, ia tahu satu hal pasti: Niko telah memulai perang, tapi ia juga baru menyadari bahwa pria yang berutang seribu rupiah di kedainya adalah seorang prajurit yang siap berdiri di garis depan untuk menjaganya.

Terpopuler

Comments

F.Room

F.Room

calon pacarnya juga tuh si tukang bangunan

2026-04-20

0

F.Room

F.Room

bukan bener2 gelandangan..

2026-04-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2 Bab 2: Tameng Debu Semen
3 Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4 Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5 Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6 Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7 Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8 Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9 Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10 Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11 Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12 Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13 Bab 13: Gema di Hutan Beton
14 Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15 Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16 Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17 Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18 Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19 Bab 19: Puing di Tengah Arus
20 Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21 Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22 Bab 22: Pulang ke Akar
23 Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24 Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25 Bab 25: Adukan yang Mengeras
26 Bab 26: Perebutan Mata Air
27 Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28 Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29 Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30 Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31 Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32 Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33 Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34 Bab 34: Lensa Kebenaran
35 Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36 Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37 Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38 Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39 Bab 39: Fajar Pembalasan
40 Bab 40: Pesta di Atas Bara
41 Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42 Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43 Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44 Bab 44: Bara di Balik Pagar
45 Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46 Bab 46: Pedang Bermata Dua
47 Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48 Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49 Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50 Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51 Bab 51: Bara di Atas Warkah
52 Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53 Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54 Bab 54: Federasi Tanah Karo
55 Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56 Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57 Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58 Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59 Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60 Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61 Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62 Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63 Bab 63: Fondasi yang Menari
64 Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65 Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66 Bab 66: Garis Depan di Muara
67 Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68 Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69 Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70 Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71 Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72 Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73 Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74 Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75 Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76 Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77 Bab 77: Gema di Balik Kedalaman
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan
2
Bab 2: Tameng Debu Semen
3
Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong
4
Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu
5
Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin
6
Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal
7
Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
8
Bab 8: Badai di Balik Layar Ponsel
9
Bab 9: Strategi di Balik Aroma Arabika
10
Bab 10: Api yang Salah Sasaran
11
Bab 11: Roda Nasib yang Berderit
12
Bab 12: Kembali ke Hutan Beton
13
Bab 13: Gema di Hutan Beton
14
Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis
15
Bab 15: Retakan di Tanah Harapan
16
Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
17
Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
18
Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
19
Bab 19: Puing di Tengah Arus
20
Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
21
Bab 21: Jejak di Tanah Karo
22
Bab 22: Pulang ke Akar
23
Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta
24
Bab 24: Tawaran di Meja Kayu
25
Bab 25: Adukan yang Mengeras
26
Bab 26: Perebutan Mata Air
27
Bab 27: Penjaga Urat Nadi
28
Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
29
Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan
30
Bab 30: Labirin Kaca dan Beton
31
Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
32
Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
33
Bab 33: Barikade di Jalur Naga
34
Bab 34: Lensa Kebenaran
35
Bab 35: Gelombang di Cangkir Porselen
36
Bab 36: Kabut di Balik Masa Lalu
37
Bab 37: Detak Jantung di Ujung Tebing
38
Bab 38: Bayang-Bayang Sang Pengkhianat
39
Bab 39: Fajar Pembalasan
40
Bab 40: Pesta di Atas Bara
41
Bab 41: Mahkota yang Berdarah
42
Bab 42: Perangkap di Balik Cangkir
43
Bab 43: Sumpah di Tanah Wakaf
44
Bab 44: Bara di Balik Pagar
45
Bab 45: Cahaya dan Perpisahan
46
Bab 46: Pedang Bermata Dua
47
Bab 47: Kemarau dan Prahara Air
48
Bab 48: Labirin di Bawah Akar
49
Bab 49: Lingkaran Api di Lereng Barat
50
Bab 50: Warkah Tua dan Bayang-Bayang Raksasa
51
Bab 51: Bara di Atas Warkah
52
Bab 52: Cahaya Yang Menyilaukan Tetangga
53
Bab 53: Jembatan di Atas Arus Deras
54
Bab 54: Federasi Tanah Karo
55
Bab 55: Konvoi Kopi dan Pengkhianatan di Balik Kabut
56
Bab 56: Labirin dan Pengadilan Rasa
57
Bab 57: Perang di Meja Makan Dunia
58
Bab 58: Palu Hakim dan Tanah yang Bergetar
59
Bab 59: Kampus Bambu dan Skenario Hijau
60
Bab 60: Sabuk Hijau dan Perang Harga
61
Bab 61: Jaring Awan dan Diplomasi Haus
62
Bab 62: Getaran dari Kedalaman
63
Bab 63: Fondasi yang Menari
64
Bab 64: Benih dari Masa Lalu
65
Bab 65: Diplomasi Dingin di Jenewa
66
Bab 66: Garis Depan di Muara
67
Bab 67: Palu Hakim dan Barikade Perahu
68
Bab 68: Peta Merah di Atas Meja
69
Bab 69: Perburuan Gelombang Hantu
70
Bab 70: Arsitektur Air dan Amuk Api
71
Bab 71: Perisai Karbon dan Boikot Global
72
Bab 72: Debu London dan Akar yang Menguat
73
Bab 73: Badai di Gerbang Muara
74
Bab 74: Arsitektur Kedaulatan
75
Bab 75: Wabah Hitam di Pucuk Ungu
76
Bab 76: Perisai Faraday dan Ancaman dari Langit
77
Bab 77: Gema di Balik Kedalaman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!