Bab 2. Kecewanya Abi

"Sudah berapa lama kamu dan dia berhubungan?” Ustaz Rahmat bertanya dengan suara tertahan.

Hanin diam. Tak berani menjawab.

“Sudah berapa lama?” ulangnya.

“Beberapa bulan, Bi .…”

Kursi kayu berderit saat Ustaz Rahmat berdiri. Beberapa bulan. Bukan khilaf satu kali. Bukan hanya terpeleset sesaat. Tak menyangka anak yang selalu dia banggakan karena Tahfiz Qur'an di usia muda sangat mengecewakannya.

“Namanya?”

“Fahmi ....” Hanin menjawab dengan pelan. Dia sadar dengan kesalahan yang diperbuat.

“Dia tahu kamu siapa?”

“Iya, Bi.”

“Dia tahu kamu anak siapa?”

“Iya, Bi .…”

“Dan dia tetap memelukmu di tempat umum tanpa hijab.”

Tidak ada yang bisa Hanin jawab. Karena semua benar. Semua memang salahnya. Bukan hanya salah Fahmi. Dia juga tak berpikir akan jadi begini.

Tamparan tidak datang. Bentakan tidak meledak. Justru itu yang membuat Hanin makin takut. Ayahnya berjalan ke jendela, membelakangi mereka.

“Abi gagal menjadi seorang ayah,” ucap Ustaz Rahmat dengan suara pelan. Sepertinya mencoba menahan emosi.

“Jangan bilang begitu, Bi. Abi tak salah!” Bu Salma terisak.

“Saya ceramah ke mana-mana soal menjaga anak. Menjaga kehormatan. Menjaga pandangan.” Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar pahit. “Ternyata rumah sendiri bocor.”

“Abi ….” Hanin menangis. “Maaf .…”

“Maaf tidak menghapus jejak. Maafmu pada Abi tak juga menghapus dosa mu. Dosa Abi juga, karena gagal mendidik anak.”

Langkah Ustaz Rahmat terdengar berat saat menuju kamar. Tidak ada lagi kalimat yang keluar dari lisannya. Tidak ada nasihat. Tidak ada dalil. Hanya punggung yang terlihat semakin tegang sebelum akhirnya pintu kamar tertutup pelan.

Bukan dibanting. Justru terlalu pelan. Itu yang membuat suasana terasa lebih menyakitkan.

Hanin berdiri terpaku beberapa detik. Rasanya seperti baru saja dihantam ombak besar, tapi ia masih dipaksa berdiri di pasir yang sama. Dadanya sesak. Tangannya dingin. Air mata terus jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia menoleh pada ibunya.

Bu Salma masih duduk di kursi yang sama. Kedua tangannya menggenggam ujung mukena yang masih ia pakai sejak Maghrib. Tatapannya kosong, tidak marah, tidak juga lembut. Lebih seperti seseorang yang kehilangan pegangan.

“Umi …,” suara Hanin serak.

Tidak ada jawaban.

Hanin melangkah pelan, lalu berlutut di depan ibunya. Ia menunduk, seperti anak kecil yang sedang menunggu hukuman.

“Maafkan Hanin, Mi ….”

Bu Salma menarik napas panjang. Seolah sedang menahan sesuatu yang berat di dadanya.

“Umi tak tahu harus berkata apa, Hanin,” ucapnya akhirnya, suaranya lelah. “Umi sangat kecewa denganmu.”

Kalimat itu tidak keras. Tidak ada nada tinggi. Tapi justru itulah yang membuat Hanin merasa lebih hancur.

“Pukul saja Hanin, Mi!” Tangisnya pecah. “Semua salah Hanin. Hanin yang bodoh. Hanin yang khilaf. Pukul saja .…”

Bu Salma menatap anaknya lama. Mata yang biasanya penuh kasih itu kini dipenuhi luka.

“Apakah dengan memukul kamu semua akan kembali?” tanyanya pelan. “Apakah malu kami akan hilang? Apakah dosa kami sebagai orang tua yang gagal akan terhapus?”

Hanin tersentak. Apa yang uminya ucapkan seperti palu menghantam dadanya.

“Abi dan Umi tidak gagal ….” Ia menggeleng cepat, air matanya makin deras. “Aku yang salah. Semua itu dosaku. Aku yang bohong. Aku yang ingin merasa bebas. Aku yang sengaja melepas hijab hari. Abi dan Umi tak salah .…”

Bu Salma memejamkan mata. Air matanya jatuh juga akhirnya.

“Kamu tahu, Nak ….” Suara Umi terdengar bergetar, “Yang paling sakit itu bukan fotonya.”

Hanin menahan napas. “Yang paling sakit adalah bohongnya. Umi percaya kamu, tapi ternyata kamu tega membohongi kami.”

Kata “percaya” terasa seperti belati yang pelan-pelan diputar di dada Hanin.

Ia teringat bagaimana setiap pagi ia mencium tangan orang tuanya. Bagaimana ia menghafal Qur’an di ruang tengah. Bagaimana ayahnya selalu menyebut namanya dalam doa setelah tahajud. Semua itu kini terasa seperti ironi yang kejam.

“Maafkan Hanin, Mi.”

Bu Salma berdiri pelan. “Umi lelah.”

Tidak ada lagi kalimat penghiburan. Tidak ada pelukan.

Tanpa menunggu balasan Hanin, Bu Salma berjalan menuju kamar menyusul suaminya. Pintu kamar kembali tertutup.

Kini ruang tamu itu benar-benar sepi. Hanya ada Hanin. Dan penyesalan yang terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri.

Ia duduk di lantai. Tangisnya tidak lagi keras. Hanya isak pelan yang terputus-putus. Jam dinding berdetak pelan, seolah sengaja memperjelas kesunyian.

Rumah yang biasanya hangat kini terasa asing.

Hanin memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya sejak berhubungan dengan Fahmi, ia benar-benar merasakan konsekuensi. Bukan sekadar rasa bersalah kecil yang bisa ditepis dengan tawa atau alasan. Ini nyata. Ini menyentuh orang tuanya. Ini melukai kepercayaan.

Dan yang lebih menyakitkan, ia tahu semua ini berawal dari satu kebohongan kecil.

“Aku cuma ingin merasa biasa. Aku hanya ingin seperti gadis desa lainnya,” gumamnya lirih.

Biasa seperti gadis lain yang bisa duduk santai di kafe tanpa merasa diawasi. Biasa seperti yang bisa tertawa tanpa memikirkan reputasi ayahnya. Biasa seperti yang bisa punya pacar tanpa bayang-bayang ceramah.

Tapi ia lupa satu hal. Ia bukan hanya dirinya sendiri. Ia adalah anak dari seorang ustaz yang dikenal banyak orang. Setiap langkahnya membawa nama keluarganya.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin setengah jam. Hanin tidak tahu pasti.

Akhirnya ia berdiri dengan kaki lemas. Ia melangkah menuju kamarnya.

Kamar itu masih sama. Rak buku tafsir di sudut. Al-Qur’an yang terbuka di meja belajar. Jadwal murajaah yang ditempel di dinding. Semua terlihat suci dan rapi.

Kontras dengan hatinya yang terasa kotor. Ia duduk di tepi tempat tidur dan meraih ponselnya. Satu nama langsung muncul di pikirannya, Fahmi.

Tangannya gemetar saat membuka kontak. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.

Sekali. Dua kali. Lalu terdengar suara operator. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Hanin mengernyit. Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama.

“Tidak mungkin …,” bisiknya.

Beberapa jam lalu Fahmi masih tertawa di hadapannya. Masih menggombal. Masih merangkulnya tanpa beban. Tidak mungkin sekarang nomornya tidak aktif.

Ia membuka WhatsApp.

Pesan terakhir dari Fahmi masih ada. Stiker tertawa. Foto kopi susu. Kalimat manja yang tadi terasa menyenangkan, kini terasa memuakkan.

Hanin mengetik cepat. “Kamu di mana? Abi tahu semuanya.”

Terkirim. Centang satu. Hatinya berdegup.Ia menunggu beberapa saat. Masih centang satu. Hanin menelan ludah. Ia mencoba menelepon lagi. Tetap tidak aktif.

Keringat dingin mulai terasa di punggungnya.

“Fahmi, jangan begini …,” gumam pada diri sendiri.

Ia membuka Instagram. Mencari akun Fahmi. Tapi sudah tidak ditemukan. Ia mencoba mengetik ulang. Masih tidak ada.

Dadanya mulai sesak. Ia membuka akun kedua. Kosong juga.

Seolah nama itu menghilang dari dunia maya. “Tidak … tidak mungkin,” bisiknya panik.

Ia mencoba mengingat. Tadi sore, setelah foto itu diambil, Fahmi sempat memegang ponsel cukup lama. Apakah dia sadar ada yang memotret? Apakah dia melihat seseorang?

Atau ... atau justru dia yang mengirim? Pikiran itu membuat Hanin merinding.

Tidak. Tidak mungkin Fahmi melakukan itu. Dia selalu bilang sayang. Dia selalu bilang ingin serius. Tapi kalau bukan dia, kenapa sekarang ia menghilang?

Hanin memeluk dirinya sendiri.Ia teringat ucapan abinya tadi. “Sudah berapa lama?”

“Beberapa bulan.”

Beberapa bulan kebohongan. Beberapa bulan pertemuan diam-diam. Beberapa bulan merasa bahagia di atas rasa bersalah.

Ia baru sadar, selama ini ia terlalu fokus pada perasaan sendiri. Pada kebutuhannya merasa dicintai. Pada sensasi diperhatikan.

Ia tidak pernah benar-benar memikirkan risiko. Air matanya kembali mengalir.

Terpopuler

Comments

Ainal Fitri

Ainal Fitri

rasa nyaman nya cuma sesat cuma beberapa bulan tp rasa kecewa yg kamu toreh kan d hati Abi dan umi mu tidak akn mudah untuk d hapus apnlg rasa malu yg pasti nya sangat menyakitkan 😭

2026-02-22

0

Anonim

Anonim

Jiwa muda kadang ingin coba"
Hanin terbiasa hidup dlm lingkup kenyamana dan tanpa beban Sehingga mudah percaya pada orang asing yang pandai mengambil simpatik

2026-02-20

1

ken darsihk

ken darsihk

Koq seperti nya mencurigakan ??
Dan kenapa Fahmi menghilang , apa sebenarnya yng sedang terjadi mungkin kah ada seseorang yng tidak suka dngn pak ustadz abi nya Hanin

2026-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Hanin
2 Bab 2. Kecewanya Abi
3 Bab 3. Keputusan Abi
4 Bab 4. Fahmi
5 Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6 Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7 Bab 7. Teman Sekamar
8 Bab 8. Kabar Duka
9 Bab 9. Ke Rumah Sakit
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18 Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19 Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20 Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab 23. Bertemu Fahmi
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Foto Hanin
2
Bab 2. Kecewanya Abi
3
Bab 3. Keputusan Abi
4
Bab 4. Fahmi
5
Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6
Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7
Bab 7. Teman Sekamar
8
Bab 8. Kabar Duka
9
Bab 9. Ke Rumah Sakit
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18
Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19
Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20
Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab 23. Bertemu Fahmi
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!