Penjara Suci

Penjara Suci

Bab 1. Foto Hanin

Langit sore di rumah sederhana itu biasanya terasa teduh. Halaman luas dengan pohon mangga tua di sudut kiri, suara burung gereja, dan angin yang suka membawa aroma tanah basah dari kebun belakang. Rumah Ustaz Rahmat dikenal orang sebagai rumah yang damai. Tempat orang datang mencari nasihat, menumpahkan gelisah, pulang dengan dada lebih lapang.

Ustaz Rahmat sangat terkenal di desa kecil ini. Siapa yang tak tahu dengan namanya.

Hari itu seharusnya tidak berbeda. Namun, damai kadang runtuh bukan oleh badai, tapi oleh satu gambar. Satu foto.

Ponsel itu bergetar di atas meja kayu jati ruang tamu. Getarnya pendek, hanya sekali, lalu diam. Ustaz Rahmat yang baru saja selesai mengajar tafsir sore di serambi masjid mengambilnya sambil melepas peci. Keningnya masih sedikit berkeringat. Notifikasi WhatsApp masuk dari nomor yang tak ia simpan.

Tanpa curiga, ia buka. Pesan pertama hanya satu kalimat. “Mohon maaf, Ustaz. Saya rasa Anda perlu melihat ini.”

Di bawahnya, ada satu foto. Jempolnya menyentuh layar.

Tubuhnya tidak langsung bereaksi. Justru terlalu diam. Seolah semua ototnya lupa cara bergerak.

Foto itu menampilkan seorang gadis tanpa hijab. Rambut panjangnya tergerai, sedikit tertiup angin. Wajahnya terlihat jelas, terlalu jelas untuk bisa disangkal. Di dalam pelukan seorang pemuda. Lengan pria itu melingkar di bahunya. Wajah mereka dekat. Senyum mereka, bukan senyum basa-basi.

Itu bukan foto kebetulan. Foto itu menampilkan wajah anaknya Hanin.

Jari Ustaz Rahmat mengencang di sisi ponsel sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya berhenti di dada. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa cara menarik udara.

“Abi?”

Suara istrinya, Bu Salma, muncul dari arah dapur. “Teh hangatnya sudah ....”

Kalimatnya terpotong saat melihat wajah suaminya. "Ada apa, Abi? Kenapa wajah Abi terlihat pucat?” tanyanya pelan. Pria itu tidak dijawab.

Ustaz Rahmat masih menatap layar, seolah berharap kalau ia menatap cukup lama, gambar itu akan berubah. Menghilang. Menjadi salah kirim. Menjadi orang lain. Menjadi rekayasa.

Tapi tidak. Itu tetap Hanin. Gadis yang setiap pagi mencium tangannya sebelum berangkat sekolah.

Gadis yang hafal tiga juz dan selalu ia banggakan di depan jamaah. Gadis yang ia sebut dalam doa dengan suara bergetar.

“Astaghfirullah …,” ucap Ustaz Rahmat pelan, hampir berbisik.

Bu Salma mendekat. “Abi, ada apa?” Kembali istrinya bertanya.

Tanpa kata, ponsel itu disodorkan. Bu Salma melihat.

Reaksinya berbeda. Tangannya langsung menutup mulut. Bahunya jatuh. Wajahnya pucat seperti kertas.

“Bukan …,” ucapnya cepat. “Ini bukan Hanin. Pasti hanya mirip saja ....”

“Ini Hanin.” Suara Ustaz Rahmat terdengar pelan. “Itu bajunya. Itu jam tangannya. Itu gelang dari Umrah kemarin.”

Bu Salma duduk pelan di kursi. Lututnya lemas.

“Siapa yang kirim?” tanya Bu Salma.

“Nomor tidak dikenal.”

“Bisa jadi editan.”

“Kalau editan kenapa hati saya langsung tahu ini nyata?” tanya Ustaz Rahmat.

Suasana ruang tamu terasa sunyi. Kedua orang tua Hanin tampak terdiam karena syok.

Nama Ustaz Rahmat bukan nama kecil di kota itu. Ceramahnya sering diundang ke mana-mana. Suaranya tenang, dalilnya rapi, hidupnya terlihat lurus. Orang-orang menyebut keluarganya sebagai contoh. Rumah tangganya, anaknya, cara mendidiknya.

Ia tidak pernah memamerkan. Tapi reputasi kadang tumbuh sendiri. Dan reputasi bisa hancur oleh satu foto.

Ia menekan tombol panggil. Nama di layar, Hanin. Berdering. Beberapa kali di coba, tak juga diangkat.

Darah di pelipisnya terasa berdenyut. Ia mencoba lagi. Masih tidak diangkat.

Ustaz Rahmat lalu mengirim pesan singkat. “Pulang sekarang.”

Terkirim. Centang dua. Biru. Tapi, tidak dibalas.

“Astaghfirullah .…” Ustaz Rahmat tampak menarik napas berat. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Tangannya di belakang punggung, langkahnya keras. Bu Salma memperhatikan dengan cemas.

“Abi … kita dengar dulu penjelasannya.”

“Penjelasan apa?” Potong Ustaz Rahmat cepat. “Penjelasan foto berpelukan tanpa hijab?”

“Dia anak kita.”

“Karena dia anak kita, maka harusnya dia lebih tahu.”

Nada suaranya masih rendah, tapi tajamnya terasa.

Bu Salma menunduk. Ia kenal suaminya. Jika sudah begini, kemarahan bukan di permukaan, tapi di dalam. Membara tanpa api terlihat.

Sementara itu, di sebuah kafe kecil dekat sebuah pantai, Hanin sedang tertawa.

Tangannya memegang gelas es kopi susu. Di depannya, Fahmi bercerita dengan gaya lebay tentang dosen killer yang salah masuk kelas. Hanin menutup mulut menahan tawa.

“Aku sumpah, itu kelas Teknik Mesin. Aku masuk bawa proposal syariah,” kata Fahmi. “Mereka lihat aku kayak lihat ustaz nyasar.”

Hanin menggeleng. “Kamu memang magnet masalah.”

“Kamu magnetnya aku.”

“Gombal.”

“Bukan gombal, tapi itu kenyataannya."

Hanin memutar mata, tapi senyumnya tidak hilang.

Hari itu ia memang tidak memakai hijab. Sudah direncanakan. Ia bilang di rumah ada tugas kelompok khusus perempuan. Bohong kecil, pikirnya. Sekali-sekali. Ia ingin merasa bebas. Ingin merasa normal seperti gadis lain. Angin sore menyentuh rambutnya, perasaan yang dulu terasa biasa, sekarang terasa seperti rahasia.

“Foto lagi?” tanya Fahmi sambil mengangkat ponsel.

“Jangan aneh-aneh.”

“Biasa aja.”

Hanin mendekat. Bahu mereka bersentuhan. Lalu, tanpa banyak pikir, Fahmi merangkulnya. Refleks. Hanin tidak menolak.

Tidak sadar bahwa beberapa meja di belakang, seseorang juga mengangkat ponsel. Bukan untuk selfie. Untuk mengambil gambarnya dan mengirimkan ke abinya.

Ponselnya Hanin bergetar. Ada pesan masuk dari abinya.

Alis Hanin sedikit mengernyit. Jarang ayahnya mengirim pesan sependek itu. Biasanya panjang, ada salam, ada doa.

“Kenapa?” tanya Fahmi.

“Abi nyuruh pulang sekarang.”

“Ya sudah, nanti balik lagi.”

Hanin mengangguk, tapi ada rasa aneh di hatinya. Seperti firasat kecil yang tidak nyaman.

Ia tidak tahu, dunianya sudah retak, hanya belum mendengar bunyinya.

Maghrib lewat sepuluh menit saat Hanin membuka pintu rumah. Biasanya rumah terasa hangat di jam seperti ini. Ada suara piring, aroma tumisan, lantunan murattal dari ruang tengah. Tapi sekarang terlalu sepi.

“Assalamu’alaikum …,” ucap Hanin.

“Wa’alaikumussalam.” Jawaban abinya datang dari ruang tamu.

Hanin melepas sepatu. Langkahnya melambat. Ada sesuatu berbeda. Terasa tegang dan kaku. Ia melihat ibunya duduk dengan tangan saling menggenggam. Wajahnya cemas.

Ayahnya duduk tegak di kursi. Tidak bersandar. Ponsel berada di tangannya.

“Hanin,” ucap abinya dengan nada datar.

“Iya, Bi.”

“Mendekatlah!”

Nada suara abinya tak seperti biasa. Hanin merasa sesuatu pasti telah terjadi.

Hanin duduk di tepi kursi seberang. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

“Apa ada yang mau kamu jelaskan?” tanya abinya.

Tentang apa? Hampir itu terucap dari bibirnya, tapi ia tahan. Naluri menyuruhnya diam dulu.

“Tidak ada, Abi."

Ponsel itu diletakkan di meja. Lalu didorong pelan ke arahnya. “Kamu lihat sendiri!"

Hanin meraih ponsel abinya. Dia melihat foto itu. Sangat jelas, potret dirinya dan Fahmi.

Wajahnya kehilangan warna. Tenggorokannya jadi kering. Tangannya dingin. Ia merasa seperti jatuh dari ketinggian tanpa bergerak.

Foto itu, foto yang barusan diambil. Foto yang seharusnya hanya ada di ponsel Fahmi.

“Ab ... Abi .…” Suaranya terdengar terbata.

“Siapa pria itu?” tanya Abi masih dengan suara datar. Tapi bagi Hanin sudah seperti petir menyambar.

Hanin tidak langsung menjawab. Otaknya mencoba mencerna foto itu. Bagaimana foto ini sampai ke ayahnya? Siapa yang kirim? Kenapa? Apa maksud mereka? Banyak pertanyaan bermain di pikirannya.

“Jawab!" Suara abinya sedikit lebih keras.

“Teman kampus, Bi .…”

“Teman kampus yang bisa merangkulmu seperti itu?”

Air mata langsung memenuhi mata Hanin. Refleks tanpa bisa ditahan.

“Abi, dengar dulu ....”

“Tanpa hijab.” Potong abinya. “Bahu dipeluk dengan wajah begitu dekat? Apakah itu yang kamu sebut teman?”

Bu Salma menunduk, ikut menangis pelan. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya.

“Aku … aku salah, Bi …,” bisik Hanin.

Pengakuan paling jujur, kadang sering paling mematikan. Ustaz Rahmat menutup mata sebentar. Bukan lega. Tapi seperti ditusuk lebih dalam.

Terpopuler

Comments

Mardiana

Mardiana

seorang ustadz memang gak mudah mendidik anak untuk sesuai dengan ekspektasi nya yah walaupun bukan ustadz juga sama tapi secara akhlak dan yg sesuai dg ilmunya pastinya lebih berat'. jadinya wajar beliau kecewa berat 🤭

2026-02-21

0

Ainal Fitri

Ainal Fitri

assalamualaikum mama Reni...
baru bc bab pertama. nampak nya bakalan seru ni..
salam kenal ya. aku pendatang baru d karya mu.. 🤗

2026-02-22

0

Ayu Ayuningtiyas

Ayu Ayuningtiyas

dari baca sinopsisnya saja sdh langsung tertarik sama ceritanya yang mungkin berliku-liku dan penuh rintangan .

2026-02-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Hanin
2 Bab 2. Kecewanya Abi
3 Bab 3. Keputusan Abi
4 Bab 4. Fahmi
5 Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6 Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7 Bab 7. Teman Sekamar
8 Bab 8. Kabar Duka
9 Bab 9. Ke Rumah Sakit
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18 Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19 Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20 Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab 23. Bertemu Fahmi
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Foto Hanin
2
Bab 2. Kecewanya Abi
3
Bab 3. Keputusan Abi
4
Bab 4. Fahmi
5
Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6
Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7
Bab 7. Teman Sekamar
8
Bab 8. Kabar Duka
9
Bab 9. Ke Rumah Sakit
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18
Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19
Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20
Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab 23. Bertemu Fahmi
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!