Bab 5. Pesan Dari Fahmi

Di kamar yang sejak kecil ia tempati, Hanin duduk di lantai dengan koper terbuka di depannya. Lemari kayu jati yang biasa ia buka dengan santai, malam itu terasa seperti saksi yang diam-diam menghakimi. Setiap lipatan baju yang ia ambil terasa lebih berat dari kain itu sendiri.

Tangannya gemetar saat melipat pakaian terakhir. Ia berhenti sejenak, menatap sekeliling kamar. Dinding berwarna biru muda. Rak kecil penuh buku tafsir dan novel. Meja belajar dengan lampu kuning hangat. Foto keluarga di sudut meja.

Ini malam terakhirnya di rumah. Besok pagi ia berangkat ke pesantren. Bukan untuk mondok seperti santri pada umumnya. Tapi sebagai bentuk hukuman.

Nomor Fahmi masih belum bisa dihubungi. Sejak sore tadi, ia sudah mencoba berkali-kali. Pesan centang satu. Telepon tak pernah tersambung. Seolah Fahmi menghilang begitu saja.

Hanin menelan ludah. Dadanya terasa sempit. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan Fahmi. Yang ia tahu, semuanya terasa runtuh dalam waktu singkat.

Hanin menutup koper perlahan. Bunyi resleting terdengar panjang dan menyayat. Seperti garis yang memisahkan masa lalu dan masa depan.

Hanin berdiri. Mengambil napas panjang. Lalu membuka pintu kamar.

Ruang keluarga terlihat terang. Lampu menyala penuh. Abi duduk di kursi kayu favoritnya. Tasbih berputar pelan di tangannya.

Umi duduk di sampingnya. Matanya sembap. Tapi ia tidak menangis lagi. Langkah Hanin terasa berat. Namun ia tetap berjalan.

Begitu sampai di depan Abi, ia tak sanggup berdiri lama. Lututnya perlahan turun menyentuh lantai. Ia berlutut.

“Abi .…” Suaranya pecah. Ustaz Rahmat tak langsung menoleh.

Hanin menunduk dalam. Tangannya meraih ujung jubah ayahnya, lalu menciuminya dengan gemetar.

“Maafkan Hanin, Bi … Hanin sudah membuat Abi malu. Hanin tahu Abi dikenal orang sebagai ustaz. Orang datang minta nasihat. Tapi anak Abi sendiri .…”

Kalimatnya terputus oleh tangis yang tertahan. “Maafkan Hanin, Bi. Hanin khilaf. Hanin janji tidak akan mengulanginya lagi. Hanin janji.”

Umi memalingkan wajahnya. Tangannya mengepal di pangkuan.

Ustaz Rahmat akhirnya berhenti memutar tasbih. Ia menatap anak perempuannya itu. Wajah yang sejak kecil ia didik dengan doa. Ia ajari mengaji sejak huruf hijaiyah pertama. Ia banggakan di depan jamaah karena hafalannya. Tapi, satu foto itu telah menampar harga dirinya sebagai seorang ayah dan ustaz.

“Abi tidak marah karena kamu berteman,” ucapnya pelan. “Abi marah karena kamu melanggar batas yang sudah jelas.”

Hanin terisak. Sadar betul dengan semua kesalahannya.

“Perempuan itu kehormatannya mahal, Nin. Sekali kamu sendiri yang membuka pintunya, orang tidak akan bertanya siapa yang menyuruh.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan keras. Tapi justru karena tenang, rasanya lebih menembus.

Hanin mengangguk. Air mata menetes tanpa henti.

Ia lalu bergeser ke arah ibunya. Berlutut lagi. Mencium tangan yang sejak kecil selalu mengusap kepalanya sebelum tidur.

“Ummi … maafkan Hanin.”

Umi akhirnya tak mampu menahan tangis. Ia memeluk kepala Hanin sebentar. Singkat. Lalu melepaskannya kembali.

“Kamu tahu bagaimana orang kampung ini memandang keluarga kita,” bisik ibunya lirih. “Sekarang mereka berbisik. Foto kamu itu bukan saja diterima Abi, tapi juga tetangga lain.”

Hanin menunduk lebih dalam. Hatinya seperti dihantam rasa bersalah yang tak terdefinisi.

Ustaz Rahmat berdiri perlahan. “Besok kamu berangkat ke pesantren sahabat Abi."

Hanin mengangkat wajahnya sedikit.

“Dua tahun kamu tidak boleh pulang. Abi dan Ummi juga tidak akan menjenguk.”

Kalimat itu jatuh seperti vonis. Hanin terdiam. Ia sempat berharap masih bisa pulang saat libur. Masih bisa melihat rumah ini. Masih bisa memeluk ibunya sesekali.

“Ini hukuman?” tanyanya pelan.

“Ini penjagaan,” jawab Abi singkat. “Dan pembelajaran.”

“Abi sebenarnya tidak ingin kamu jauh,” lanjutnya. “Tapi mungkin kamu perlu jauh untuk memahami nilai yang selama ini kamu anggap biasa.”

Tangis Hanin kembali pecah. Tapi ia tidak membantah. Ia tahu semua salahnya.

Meski jauh di dalam hatinya, ada satu luka lain yang belum terjawab. Tentang Fahmi.

“Abi .…” suaranya lirih. “Fahmi .…”

Nama itu membuat ruang kembali hening.

“Lupakan,” potong Abi tegas.

Hanin terdiam.

“Kalau laki-laki itu benar-benar menjaga kamu, dia tidak akan membiarkan foto itu ada.”

Kalimat itu menusuk tepat di titik yang paling sakit. Hanin menunduk. Tak bisa membela. Tak bisa membantah.

Karena memang benar, ia yang ragu. Ia yang takut. Ia yang berkali-kali berkata tidak yakin. Dan Fahmi yang meyakinkan.

“Cuma buat kita.”

Sekarang semuanya bukan lagi “buat kita”.

Hanin menarik napas panjang. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia mengangguk.

“Baik, Bi. Hanin terima.”

Tangisnya tak lagi keras. Hanya sisa-sisa sesak yang tertahan di dada.

Setelah mencium tangan orang tuanya sekali lagi, ia berdiri perlahan dan kembali ke kamar.

Pintu tertutup. Hanin bersandar di baliknya. Kakinya lemas. Ia meluncur pelan hingga duduk di lantai.

Dua tahun. Tanpa pulang. Tanpa dijenguk. Dan tanpa kepastian tentang Fahmi.

Ia merangkak ke ranjang. Duduk. Menghapus air mata dengan ujung jilbabnya.

Di meja belajar, ponselnya tergeletak. Ponsel itu tak juga menyala, Hanin lalu meraihnya.

Belum ada balasan. Nomor Fahmi tetap tak bisa dihubungi. Ia menggigit bibirnya, menahan kecewa. Mungkin ponselnya disita. Mungkin ia juga dihukum.

Atau mungkin ... Hanin menggeleng cepat. Jangan berpikir yang aneh-aneh.

Ia meletakkan ponsel itu kembali. Berbaring memandang langit-langit kamar.

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Hanin refleks bangkit. Jantungnya berdetak keras. Tangan gemetar meraih ponsel. Nama Fahmi muncul di layar.

Dadanya seakan berhenti sesaat. Air mata yang tadi hampir kering kembali memenuhi mata. Ia membuka pesan itu dengan tangan yang gemetar.

Isinya singkat. "Lupakan aku. Kita akhiri saja hubungan ini. Orang tuaku tak merestuinya. Kita jalan masing-masing."

Dunia seperti berhenti berputar. Hanin membaca ulang. Huruf-huruf itu tetap sama.

Tak ada penjelasan. Tak ada permintaan maaf. Tak ada perjuangan. Tak ada janji. Hanya perpisahan.

Hanin terduduk lemas di tepi ranjang. Ponsel masih di tangannya. Tatapannya kosong.

Tadi sore ia masih bertanya-tanya apakah Fahmi baik-baik saja. Sekarang ia tahu jawabannya. Fahmi memilih menyerah.

Tangannya mulai gemetar hebat. Napasnya memburu. Air mata jatuh tanpa suara.

Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Dihukum dua tahun. Atau ditinggalkan dalam satu pesan singkat.

Hanin menutup mulutnya agar tak terdengar menangis. Ia tak ingin Abi dan Ummi mendengar. Ia tak ingin dianggap masih memikirkan laki-laki itu.

Terpopuler

Comments

juriah mahakam

juriah mahakam

Yg kuat hanin buktikan bahwa qm msh anak abi umi qm akan ttp membanggakan mereka dgn didikan n akhlak yg ditanamkan biarlah sang waktu yg akan membuktikan bahwa tdk berslh n biarkan fahmi mencoba menata hati atas apa yg diperbuat tnp meninggalkan pesan yg bs menguatkan dirimu biarlah kesalahpahaman ni menjadi awal perpisahan tp kelak bertemu kembali smoga fahmi bs membersihkan nama mu sbgai anak yg hny ingin mencari bhgia dgn cr yg slh smngt up mama nyessekkk jd hanin

2026-02-22

0

ken darsihk

ken darsihk

Sabar Hanin itu yng menulis pesan bukan Fahmi tapi itu orang tua nya Fahmi
Tapi sebaik nya mulai sekarang lupakan saja Fahmi , lelaki itu tidak ada nyali nya dia tidak berusaha untuk membela atau pun menghubungi kamu Hanin
Lupakan lelaki tidak gentle itu 😠😠😠

2026-02-22

0

Eka ELissa

Eka ELissa

hp di rampas bp nya nin jdi Fahmi juga GK bisa berbuat apa-apa...
mklum ank Soleh....nin.....jdi ya gtu GK bisa berontak ataupun bela dirinya percuma juga

2026-02-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Hanin
2 Bab 2. Kecewanya Abi
3 Bab 3. Keputusan Abi
4 Bab 4. Fahmi
5 Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6 Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7 Bab 7. Teman Sekamar
8 Bab 8. Kabar Duka
9 Bab 9. Ke Rumah Sakit
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18 Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19 Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20 Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab 23. Bertemu Fahmi
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Foto Hanin
2
Bab 2. Kecewanya Abi
3
Bab 3. Keputusan Abi
4
Bab 4. Fahmi
5
Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6
Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7
Bab 7. Teman Sekamar
8
Bab 8. Kabar Duka
9
Bab 9. Ke Rumah Sakit
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18
Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19
Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20
Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab 23. Bertemu Fahmi
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!