Bab 4. Fahmi

Di sebuah rumah besar bercat krem, udara terasa lebih berat dari biasanya.

Ruang keluarga yang biasanya dipenuhi suara televisi dan tawa tamu, pagi ini hanya diisi ketegangan yang tak terlihat tapi menyesakkan. Lampu masih menyala meski matahari sudah tinggi. Tirai setengah tertutup, seolah rumah itu sendiri ingin menyembunyikan aib yang baru saja terbuka.

Fahmi berdiri di tengah ruangan. Ia seperti terdakwa.

Di hadapannya, Ayah duduk tegak di kursi utama. Jubahnya rapi, tasbih masih berputar pelan di jemarinya. Wajahnya tetap terlihat tenang.

Ibu berdiri di sisi meja, tangan bersedekap. Di atas meja, ponsel Fahmi tergeletak.

Layar menampilkan foto yang menjadi awal badai itu. Foto Fahmi dan Hanin. Di dalam gambar itu mereka tampak terlalu dekat. Hanin terlihat tanpa hijab.

“Ayah tidak pernah mendidikmu untuk seperti ini,” suara Ayah akhirnya terdengar. Tidak keras. Tapi berat. “Kamu tahu betul siapa kamu. Kamu tahu keluarga kita dikenal seperti apa.”

Fahmi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Maaf, Yah ...," ucap Fahmi pelan. Keluarga terkenal dengan religi. Ayahnya seorang pengusaha di bidang travel umroh. Banyak perusahaannya di berbagai daerah dari desa hingga kota.

“Kesalahan?” Ibu memotong tajam. “Kesalahan itu sekali. Ini berbulan-bulan.”

Sunyi menggantung. Fahmi ingin berkata bahwa ia mencintai Hanin. Bahwa itu bukan main-main. Tapi kalimat itu terasa rapuh di situasi seperti ini. Bahkan ia sendiri tak yakin apakah selama ini ia benar-benar serius atau hanya terlena perasaan.

“Perempuan itu anak siapa?” tanya Ayah.

“Anak Ustaz Rahmat,” jawab Fahmi pelan.

Ayah terdiam beberapa detik. “Ustaz kampung?” Nada itu terdengar datar, tapi sarat makna.

Ibu menggeleng pelan. “Kamu ini tidak tahu diri. Kalau pun ingin menikah, Ayah sudah punya rencana. Anak pemilik pondok besar di desa sebelah. Keluarganya jelas. Terhormat.”

Fahmi mengangkat wajah. “Hanin bukan perempuan sembarangan, Bu.”

Ibu tersenyum tipis. “Perempuan baik-baik tidak membuka hijabnya di depan laki-laki yang bukan mahramnya.”

Kalimat itu menghantam keras. Fahmi terdiam.

Bayangan sore itu terlintas jelas. Hanin yang ragu. Hanin yang berkata takut. Hanin yang berkali-kali memastikan foto itu aman. Dan ia … meyakinkan, menenangkan, bahkan sedikit memaksa dengan rayuan.

“Cuma buat kita,” ucap Fahmi waktu itu.

Sekarang foto itu tersebar. Dan Hanin yang akan paling hancur.

Ayah berdiri perlahan. “Mulai hari ini, kamu tidak keluar rumah tanpa izin. Dan ponselmu Ayah sita.”

Fahmi refleks merogoh sakunya. “Yah—”

“Serahkan!" Perintah itu tak bisa dibantah.

Dengan tangan kaku, Fahmi mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di meja. Layar masih menyala. Nama “Hanin” ada di bar notifikasi. Panggilan tak terjawab.

Dadanya terasa diremas. Ayah mengambil ponsel itu, mematikannya, lalu menyimpannya di saku jubahnya.

Seolah memutus satu-satunya jalur napasnya.

“Bulan depan kamu berangkat ke desa,” lanjut Ayah. “Ke pesantren sahabat Ayah. Kamu tinggal di sana. Belajar lagi. Mengajar. Sampai Ayah yakin kamu mengerti arti tanggung jawab.”

Fahmi tertawa kecil. Terdengar pahit. “Jadi aku diasingkan?”

“Kalau itu yang kamu sebut pendidikan ulang, silakan,” jawab Ayah datar.

Ibu menambahkan, “Dan lupakan perempuan itu. Dia tidak pantas untukmu.”

Tidak pantas. Kata itu menggema di kepala Fahmi. Tidak pantas atau mereka yang merasa terlalu tinggi?

Fahmi ingin membantah. Ingin membela Hanin. Tapi lidahnya kelu. Karena jauh di dalam hati, ia tahu satu hal yang lebih menyakitkan ia yang tidak pantas untuk Hanin. Ia yang tak mampu menjaganya. Ia yang tak berpikir panjang sebelum merusak batas.

Fahmi berbalik dan masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa.

Begitu pintu tertutup, ia bersandar lemah.

Kamar itu luas. AC menyala dingin. Rak buku rapi. Lemari penuh pakaian mahal. Semua tampak normal.

Tapi kepalanya kacau. Pikirannya hanya pada satu nama, Hanin.

Apakah ia baik-baik saja? Apakah ayahnya tahu? Apakah ia juga dimarahi? Apakah ia menangis?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti. Ia mendekat ke meja belajar, refleks mencari ponselnya.

Kosong. Ia baru sadar. Tak ada lagi akses. Tak ada lagi cara menghubungi.

Ia bahkan tidak hafal alamat rumah Hanin secara detail. Selama ini mereka lebih sering bertemu di luar. Di kafe kecil. Di taman kota. Tempat yang jauh dari pengawasan.

Ia duduk di tepi ranjang, wajahnya tertunduk.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang bukan tentang dirinya. Tapi tentang Hanin.

Ia membayangkan Hanin berdiri di hadapan ayahnya. Ayah yang dikenal tegas. Terhormat. Seorang ustaz yang dihormati jamaah.

"Bagaimana kalau beliau tahu semuanya? Bagaimana kalau Hanin dipaksa berhenti sekolah? Bagaimana kalau ia membenciku sekarang?"

Dadanya sesak membayangkan semua itu.

“Kenapa aku bodoh sekali,” gumam Fahmi pelan. Ia memejamkan mata.

Terbayang wajah Hanin saat tertawa. Caranya menunduk saat malu. Semangatnya saat bercerita tentang hafalan. Suaranya yang lembut saat menegurnya kalau bercanda berlebihan. Dan hari terakhir mereka bertemu.

Hanin berkata pelan, “Kalau suatu hari orang tua kita tau, kamu akan tetap di sampingku kan?”

Ia menjawab cepat, tanpa berpikir, “Iya.”

Janji itu kini terasa seperti ejekan. Ia bahkan tak bisa menghubungi.

Sore menjelang. Tak ada yang memanggilnya makan. Mungkin memang sengaja dibiarkan merenung.

Di luar, suara adzan ashar terdengar dari masjid dekat rumah. Fahmi bangkit perlahan. Ia mengambil sajadah.

Sudah lama ia salat tanpa benar-benar menghadirkan hati. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia sujud dengan dada bergetar.

“Ya Allah …,” suaranya Fahmi terdengar lirih.

Ia tidak pandai merangkai doa. Ia hanya tahu satu hal. Ia takut kehilangan Hanin. Bukan karena gengsi. Bukan karena ego.Tapi karena baru sekarang ia sadar, perempuan itu tulus. Dan ia telah menyeretnya ke masalah.

Selesai salat, ia duduk lama. Pikirannya tak berhenti pada Hanin.

Apakah Hanin mencoba menghubunginya sekarang? Apakah ia menunggu balasan yang tak pernah datang? Apakah ia merasa ditinggalkan?

Bayangan itu menyiksa. Ia bangkit dan membuka jendela. Angin sore masuk pelan. Langit tampak biasa saja.

Di suatu tempat di kota yang sama, mungkin Hanin juga memandang langit itu. Mungkin menangis dan merasa sendirian.

Fahmi menelan ludah. Ia tidak bisa melakukan apa pun. Tidak bisa menghubungi dan menjelaskan semuanya. Tidak bisa meminta maaf. Ia hanya bisa memikirkan.

Dan penyesalan itu tumbuh pelan, seperti api kecil yang membakar dari dalam. Malam datang lebih cepat dari biasanya.

Rumah terasa sunyi. Fahmi berbaring menatap langit-langit kamar.

Kalimat Ibu terngiang lagi. “Perempuan seperti itu tidak pantas.”

Ia menggeleng pelan. Kalau ada yang tidak pantas, mungkin justru dirinya. Ia yang tidak menjaga.Ia yang terlalu percaya diri bisa mengendalikan segalanya. Ia yang menikmati kedekatan tanpa memikirkan akibat.

Kini ponselnya disita. Kebebasannya dibatasi. Dan sebentar lagi ia akan dikirim ke desa.

Pesantren jauh dari kota. Jauh dari kenyamanan. Dan mungkin jauh dari Hanin selamanya.

Fahmi memejamkan mata. Di antara gelap kamar dan sunyi malam, hanya satu nama yang berputar tanpa henti di kepalanya. Hanin.

"Maafkan aku Hanin, aku tak bisa menepati janji untuk tetap di sampingmu. Aku tak pantas untukmu. Kau bisa dapat pria yang jauh lebih baik dariku," gumam Fahmi dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

juriah mahakam

juriah mahakam

Ternyata ttp bibit bebet bobot yg jd momok cinta mereka biarkan kelak mereka bertemu dgn versi yg terbaik smoga hanin kuat ya smngt up mama

2026-02-21

2

Mardiana

Mardiana

ternyata Fahmi orang baik baik dari keluarga baik dan terpandang, begitupun Hanin. semoga Hanin dan Fahmi bisa di pertemukan dan berjodoh dimasa yg akan datang 😍

2026-02-21

0

Eka ELissa

Eka ELissa

sama aj BP Anin bp Fahmi sama2 egois.... ktimbang buka hijab GK jual diri aj murka nya smpe ke langit ke tuju....🫣🫣🫣

2026-02-21

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Hanin
2 Bab 2. Kecewanya Abi
3 Bab 3. Keputusan Abi
4 Bab 4. Fahmi
5 Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6 Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7 Bab 7. Teman Sekamar
8 Bab 8. Kabar Duka
9 Bab 9. Ke Rumah Sakit
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18 Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19 Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20 Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab 23. Bertemu Fahmi
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Foto Hanin
2
Bab 2. Kecewanya Abi
3
Bab 3. Keputusan Abi
4
Bab 4. Fahmi
5
Bab 5. Pesan Dari Fahmi
6
Bab 6. Ke Pondok Pesantren
7
Bab 7. Teman Sekamar
8
Bab 8. Kabar Duka
9
Bab 9. Ke Rumah Sakit
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
18
Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
19
Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
20
Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab 23. Bertemu Fahmi
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!