Memutus Sinyal Rasa Sakit

Udara di dalam rumah kayu itu terasa berbeda pagi ini.

Biasanya, aroma tanah basah dan ubi rebus yang mendominasi.

Namun hari ini, aroma itu terusir paksa oleh wewangian ratus, dupa keraton yang manis, berat, dan mencekik.

Sekar Ayu berdiri di tengah ruang tamu sempitnya sendiri.

Ia tidak lagi mengenakan baju katun longgar yang nyaman.

Tubuhnya kini dibalut kain jarik motif Parang Rusak yang dililit begitu ketat hingga membatasi volume pengembangan paru-parunya.

"Napas, Mbak Sekar," suara Bu Sasmi terdengar dari sudut ruangan, setajam irisan silet. "Jangan seperti kerbau membajak sawah. Napas itu tidak boleh terlihat di dada. Simpan di perut."

Sekar menahan keinginan untuk memutar bola matanya.

Diafragma, batin Sekar mengoreksi. Dia ingin aku melakukan pernapasan diafragma murni untuk menyembunyikan pergerakan tulang rusuk.

"Nggih, Bu Sasmi," jawab Sekar pelan.

Bu Sasmi berjalan mengelilingi Sekar. Langkah kakinya di atas lantai tanah yang dipadatkan hampir tidak terdengar.

Wanita paruh baya itu memegang kipas cendana lipat. Sesekali, ujung kipas itu menyentuh bahu Sekar, mengoreksi postur yang menurutnya 'kurang simetris'.

"Hari ini, kita mulai dengan hal paling dasar," ujar Bu Sasmi, berhenti tepat di depan Sekar.

Dia menunjuk ke arah meja rendah di sudut ruangan.

Di sana, seperangkat alat minum teh porselen putih tulang sudah tertata rapi.

Uap panas mengepul dari teko, menandakan air di dalamnya baru saja mendidih 100 derajat Celcius.

"Duduk," perintah Bu Sasmi.

Sekar melangkah mendekat. Dia hendak menekuk lututnya untuk duduk bersila.

"Ah!" Bu Sasmi mendecakkan lidah keras. "Siapa yang mengajari Njenengan duduk seperti preman pasar begitu?"

Mata Bu Sasmi memicing jijik.

"Di hadapan Ngarsa Dalem atau Gusti Ratu, wanita tidak punya tulang punggung yang boleh bersandar. Kaki harus terlipat sempurna di bawah pinggul. Timpuh."

Duduk timpuh. Posisi duduk di mana kaki dilipat ke belakang dan bokong menumpu di atas tumit.

Bagi orang awam, posisi ini adalah siksaan jika dilakukan lebih dari sepuluh menit.

Aliran darah akan terhambat, memicu parestesia, kesemutan, dan nyeri sendi lutut.

Sekar menarik napas panjang. Dia menurunkan tubuhnya perlahan.

Analisis Biomekanika: Aktifkan.

Sekar tidak sekadar menjatuhkan pantatnya ke tumit.

Dalam benaknya, dia memvisualisasikan struktur rangka tubuhnya.

Vertebrae, Tulang belakang harus tegak lurus dari Cervical C1 hingga Lumbar L5.

Pusat gravitasi harus dipusatkan di panggul, bukan dibebankan sepenuhnya ke lutut.

Sekar mengatur sudut kemiringan panggulnya.

Dia mengaktifkan otot inti perut bagian dalam untuk menopang berat badan bagian atas, sehingga beban yang diterima oleh tumit dan lutut berkurang 30%.

Dia duduk dengan gerakan fluida. Halus. Tanpa suara.

Punggungnya tegak lurus seolah ada benang tak kasat mata yang menarik ubun-ubunnya ke langit-langit.

Bu Sasmi, yang sudah siap melontarkan celaan, terdiam sejenak.

Alis tebal wanita itu berkerut. Dia mencari celah.

"Dagu," tegur Bu Sasmi dingin. "Terlalu naik. Njenengan mau menantang langit?"

Sekar menurunkan dagunya dua sentimeter. Presisi.

"Tangan," lanjut Bu Sasmi. "Letakkan di atas paha. Jari-jari harus rapat seperti kuncup bunga melati. Jangan menyebar seperti cakar ayam."

Sekar menyatukan jari-jarinya.

Bu Sasmi tersenyum miring. Ini baru permulaan. Dia mengambil teko porselen itu.

Air di dalamnya benar-benar mendidih. Uapnya saja sudah cukup membuat kulit wajah terasa lembap.

Bu Sasmi menuangkan teh hijau pekat itu ke dalam cangkir kecil tanpa telinga, cawan.

Dia mengisinya hingga bibir cangkir. Nyaris tumpah.

Tidak ada gula.

"Minum," perintah Bu Sasmi. "Habiskan dalam tiga tegukan. Tidak boleh ditiup. Tidak boleh bersuara. Dan..."

Mata Bu Sasmi berkilat kejam.

"...tidak boleh ada satu tetes pun yang tumpah ke nampan. Jika tumpah, kita ulang dari awal. Dengan air yang baru mendidih lagi."

Ini bukan pelajaran tata krama. Ini penyiksaan fisik.

Cangkir itu terbuat dari porselen tipis. Konduktivitas termal keramik cukup tinggi.

Tanpa gagang, panas dari air 90-100 derajat itu akan langsung merambat ke dinding luar cangkir.

Memegang cangkir itu sama saja memegang bara api.

Sekar menatap cairan hijau pekat itu.

Di kehidupan sebelumnya, sebagai ilmuwan lab, dia terbiasa memegang tabung reaksi panas atau peralatan sterilisasi. Tapi tubuh gadis desa ini...

Tunggu.

Sekar mengingat memori otot tubuh aslinya. Gadis desa ini terbiasa mencabut singkong, membelah kayu bakar, dan mengangkat panci panas dari tungku tanah liat.

Ujung-ujung jari gadis ini memiliki lapisan epidermis yang menebal. Calluses. Kapalan.

Lapisan kulit mati yang tebal adalah isolator panas alami yang cukup baik.

"Kenapa diam?" desak Bu Sasmi. "Menunggu disuapi?"

Sekar mengulurkan tangan kanannya. Gerakannya lambat namun stabil.

Sistem saraf parasimpatik, stabilkan detak jantung, perintah otak Sekar. Jangan biarkan adrenalin memicu tremor pada tangan.

Jari telunjuk dan ibu jari Sekar menyentuh bibir cangkir, bagian yang paling tidak panas karena kontak dengan udara.

Namun, untuk mengangkatnya, dia harus menopang bagian bawah cangkir dengan jari tengah.

Srett.

Panas menyengat langsung menyerang ujung saraf di jari tengahnya.

Rasanya seperti ditempel setrika.

Wajah Bu Sasmi menyiratkan kepuasan sadis.

Dia menunggu Sekar memekik kaget dan menjatuhkan cangkir mahal itu. Itu akan menjadi alasan sempurna untuk melaporkan ketidakbecusan Sekar pada GKR Dhaning.

Tapi Sekar tidak bergeming.

Wajahnya sedingin es batu, kontras dengan panas yang membakar kulitnya.

Di dalam kepalanya, Sekar memutus sinyal rasa sakit dari reseptor saraf tepi menuju otak.

Dia menganggap rasa panas itu hanya sebagai data.

Input termal: Tinggi. Kerusakan jaringan: Minimal. Toleransi: Masih dalam batas aman.

Sekar mengangkat cangkir itu.

Air teh berguncang sedikit, menciptakan gelombang kecil di permukaan, tapi tegangan permukaannya menahan air itu agar tidak tumpah.

Tangan Sekar stabil. Tidak bergetar satu milimeter pun.

Dia mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya. Uap panas menerpa hidung.

Tanpa meniup, karena itu melanggar etika keraton, Sekar memiringkan cangkir.

Cairan panas itu mengalir masuk.

Lidah manusia biasanya terbakar pada suhu di atas 60 derajat. Teh ini setidaknya masih 80 derajat.

Sekar menggunakan teknik aerasi mikro.

Dia membuka sedikit celah di antara bibir dan gigi, membiarkan udara luar ikut terhisap bersama cairan teh.

Udara itu mendinginkan cairan secara instan sebelum menyentuh lidah bagian belakang.

Slurp (Tanpa suara).

Tegukan pertama.

Panas menjalar di kerongkongan. Tapi wajah Sekar tetap datar.

Dia menurunkan cangkir sejenak, tapi tidak meletakkannya. Jari tengahnya masih menempel pada dasar cangkir yang membara.

Bu Sasmi menahan napasnya sendiri, matanya membelalak tak percaya.

Bagaimana bisa? batin Bu Sasmi. Cangkir itu seharusnya melepuhkan kulit halusnya.

Tegukan kedua.

Sekar meminumnya dengan keanggunan seorang putri raja yang bosan, bukan gadis desa yang kesakitan.

Tegukan ketiga. Habis.

Sekar meletakkan kembali cangkir kosong itu ke atas nampan.

"Ting."

Bunyi sentuhan keramik dengan nampan kayu terdengar sangat pelan. Hampir tidak ada.

Sekar menarik tangannya kembali ke atas paha, menyatukan jari-jarinya kembali seperti kuncup melati.

Ujung jari tengah, telunjuk, dan ibu jarinya memerah parah. Kulitnya sedikit melepuh.

Tapi ekspresi Sekar tetap tenang, seolah dia baru saja minum air es.

Hening.

Hanya suara burung perkutut dari kejauhan yang mengisi kekosongan di ruangan itu.

Bu Sasmi menatap cangkir kosong, lalu menatap wajah Sekar.

Dia mencari tanda-tanda air mata, keringat dingin, atau bibir yang gemetar menahan tangis.

Nihil.

Gadis di depannya ini duduk tegak seperti patung batu.

Keringat memang mengalir di pelipis Sekar, tapi napasnya teratur. Ritmis.

"Apakah... ada yang salah dengan cara minum saya, Bu Sasmi?" tanya Sekar lembut.

Suaranya halus, sopan, namun memiliki getaran dingin yang membuat bulu kuduk Bu Sasmi meremang.

Bu Sasmi berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak runtuh.

"Lumayan," katanya kaku, suaranya sedikit tercekat.

"Untuk pemula, lumayan. Tapi caramu meletakkan cangkir masih terlalu kasar. Bunyinya masih terdengar."

Itu alasan yang dicari-cari. Sekar tahu itu.

"Nggih. Saya akan belajar lebih giat lagi," jawab Sekar, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat palsu.

"Kaki," sergah Bu Sasmi lagi, mencoba menyerang dari sudut lain. "Kakimu pasti sudah kesemutan. Jangan pura-pura kuat. Kalau mau luruskan kaki, bilang. Jangan sampai Njenengan lumpuh dan menyalahkan saya."

Sekar tersenyum tipis.

Sudah lima belas menit dia dalam posisi timpuh.

Asam laktat memang mulai menumpuk di otot quadriceps-nya. Aliran darah di popliteal artery, belakang lutut memang tertekan.

Namun, Sekar secara berkala melakukan kontraksi isometrik, menegangkan dan mengendurkan otot betis secara mikroskopis tanpa mengubah posisi duduk, untuk memompa darah kembali ke jantung.

"Boten, Bu," jawab Sekar santai. "Saya masih nyaman. Di desa, saya biasa jongkok berjam-jam mencari kutu beras. Duduk seperti ini rasanya... mewah."

Jawaban itu menohok logika Bu Sasmi.

Wanita tua itu mendengus kesal. Rencananya untuk membuat Sekar menangis di jam pertama gagal total.

"Baiklah. Kalau begitu, tetap duduk di situ," perintah Bu Sasmi sambil berdiri dan merapikan kain batiknya.

"Saya mau ke kamar kecil sebentar. Jangan ubah posisimu satu inchi pun. Saya akan tahu kalau Njenengan bergerak."

Bu Sasmi membalikkan badan dan berjalan menuju bagian belakang rumah.

Langkah kakinya terdengar lebih berat dari sebelumnya, tanda frustrasi.

Begitu punggung Bu Sasmi menghilang di balik tirai pintu, bahu Sekar turun satu sentimeter.

Dia menghembuskan napas panjang lewat mulut, membuang panas tubuh yang terperangkap.

Matanya melirik jari-jarinya yang memerah.

Luka bakar derajat satu. Epidermis rusak ringan. Butuh pendinginan segera.

Sekar tidak bisa masuk ke Ruang Spasial sekarang. Terlalu berisiko. Bu Sasmi bisa kembali kapan saja.

Dia hanya memejamkan mata sejenak, memfokuskan pikirannya.

Dia membayangkan air dingin dari sungai di dalam Ruang Spasialnya mengalir membungkus jari-jarinya.

Sugesti psikologis untuk meredam nyeri. Placebo effect.

Ketika dia membuka mata kembali, tatapannya bukan lagi tatapan gadis desa yang pasrah.

Itu tatapan seorang predator yang sedang mempelajari pola perilaku mangsanya.

"Data diperoleh," gumam Sekar nyaris tanpa suara.

"Subjek: Bu Sasmi. Metode: Intimidasi fisik berkedok tradisi. Kelemahan: Tidak siap menghadapi anomali data."

Sekar menyeringai tipis. Jari-jarinya memang sakit, tapi mentalnya justru semakin tajam.

Jika GKR Dhaning berpikir secangkir teh panas bisa meluluhkan seorang Profesor Bio-hayati yang pernah menghabiskan 48 jam non-stop berdiri di lab isolasi virus...

Maka sang Putri salah besar memilih lawan.

Terpopuler

Comments

fredai

fredai

boleh sirem aja ga sih ke mukanya bu sasmi ini 😭💦
babu tolong dong pls
kok bisa sih ngeselin bgt astagaa

2026-02-09

1

fredai

fredai

WKWK mantap 😭👌
sekarang dijelasin langsung, otak nggak perlu kerja keras. Tinggal baca aja 🤣🔥

2026-02-09

1

fredai

fredai

ya amplop 😭
kapalan aja ada bahasa canggihnya
otakku ga kuat pls

2026-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2 Memutus Sinyal Rasa Sakit
3 Sains Adalah Pedangnya
4 Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5 Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6 Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7 Penindasan Struktural
8 Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9 The Lotus Effect
10 Rahasianya Hampir Terbongkar
11 Pembunuh Karakter
12 Inkuisisi Abad Pertengahan
13 Dia Kalah
14 Hadiahnya Saya Kembalikan
15 Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16 Media Murashige & Skoog
17 Prediksi Terkonfirmasi
18 Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19 Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20 Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21 Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22 Apple To Apple
23 Nikmati Saja Peranmu
24 Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25 Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26 Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27 Itu Mati Raga
28 Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29 Aku Akan Membakarmu dengan Data
30 Satu Musuh Tumbang
31 Badai Akan Datang
32 Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33 Teroris Lingkungan
34 Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35 Dia Punya Kesempatan Kedua
36 Kotak Pandora Beraroma Neraka
37 Kita Hanya Menyediakan Cermin
38 Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39 Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40 Disandera oleh Sekarung Beras
41 Fenomena Layu Geni
42 Misi Penyelamatan Pangan
43 Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44 Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45 Bagaimana Jika
46 Alibi Ilmiah
47 Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48 Post-treatment Monitoring
49 Terlalu Bersih
50 Menikahlah Denganku
51 Kartu As Biologis
52 Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53 Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54 Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55 Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56 Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57 Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58 Tidurlah dengan Tenang Wening
59 Dia Bukan Manusia
60 Sesuatu yang Lain
61 Teror Psikologis Perlahan Merayap
62 Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63 Fenomena Loyalitas Emosional
64 Selamat Datang Kembali, Mawar
65 Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66 Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67 Visualisasi Ketakutan Massal
68 Kau Menantangku di Ranah Sains
69 Jadikan Aku Suamimu
70 Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71 Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72 Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73 Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74 Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75 Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76 Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77 Malam Midodareni
78 The Poisoner's Poison
79 Gending Itu Adalah Pertanda
80 Terlihat Seperti Dongeng
81 Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82 Jatuhnya Sang Raja
83 Arsitektur Kebohongan Rangga
84 Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85 Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86 Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87 Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88 Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89 Satu Gerakan Motorik Terakhir
90 Merobek Batasan Dinding Dimensi
91 Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92 Persetan dengan Sains
93 Aku Bukan Sekar Wening
94 Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95 CPR Spiritual
96 Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97 Ia Diterima
98 Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99 Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100 Menabuh Genderang Perang
101 Sisa-sisa Kehancuran
102 Ia Telah Dibuang
103 Runtuhnya Nyali Mawar
104 Duel Tanpa Sihir
105 Penyesalan Dhaning
106 Pembersihan Istana
107 Penawar Sang Ayah
108 Eksekusi Mati
109 Sang Putri Sulung Pergi
110 Lengser Keprabon
111 Penobatan yang Hampa
112 Sang Ratu Ilmuwan
113 Harga Sebuah Dimensi
114 Bulan Madu di Dimensi Lain
115 Keajaiban Fisiologis
116 Kekhawatiran Sang Profesor
117 Penurunan Ketergantungan
118 Warisan Kertas Sang Ratu
119 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120 119. Titik Nol
121 120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122 121. Hujan di Luar Musim
123 122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124 123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125 124. Sangat Murni
126 125. Rumah Kita - TAMAT
127 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2
Memutus Sinyal Rasa Sakit
3
Sains Adalah Pedangnya
4
Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5
Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6
Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7
Penindasan Struktural
8
Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9
The Lotus Effect
10
Rahasianya Hampir Terbongkar
11
Pembunuh Karakter
12
Inkuisisi Abad Pertengahan
13
Dia Kalah
14
Hadiahnya Saya Kembalikan
15
Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16
Media Murashige & Skoog
17
Prediksi Terkonfirmasi
18
Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19
Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20
Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21
Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22
Apple To Apple
23
Nikmati Saja Peranmu
24
Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25
Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26
Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27
Itu Mati Raga
28
Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29
Aku Akan Membakarmu dengan Data
30
Satu Musuh Tumbang
31
Badai Akan Datang
32
Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33
Teroris Lingkungan
34
Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35
Dia Punya Kesempatan Kedua
36
Kotak Pandora Beraroma Neraka
37
Kita Hanya Menyediakan Cermin
38
Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39
Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40
Disandera oleh Sekarung Beras
41
Fenomena Layu Geni
42
Misi Penyelamatan Pangan
43
Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44
Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45
Bagaimana Jika
46
Alibi Ilmiah
47
Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48
Post-treatment Monitoring
49
Terlalu Bersih
50
Menikahlah Denganku
51
Kartu As Biologis
52
Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53
Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54
Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55
Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56
Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57
Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58
Tidurlah dengan Tenang Wening
59
Dia Bukan Manusia
60
Sesuatu yang Lain
61
Teror Psikologis Perlahan Merayap
62
Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63
Fenomena Loyalitas Emosional
64
Selamat Datang Kembali, Mawar
65
Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66
Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67
Visualisasi Ketakutan Massal
68
Kau Menantangku di Ranah Sains
69
Jadikan Aku Suamimu
70
Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71
Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72
Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73
Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74
Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75
Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76
Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77
Malam Midodareni
78
The Poisoner's Poison
79
Gending Itu Adalah Pertanda
80
Terlihat Seperti Dongeng
81
Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82
Jatuhnya Sang Raja
83
Arsitektur Kebohongan Rangga
84
Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85
Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86
Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87
Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88
Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89
Satu Gerakan Motorik Terakhir
90
Merobek Batasan Dinding Dimensi
91
Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92
Persetan dengan Sains
93
Aku Bukan Sekar Wening
94
Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95
CPR Spiritual
96
Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97
Ia Diterima
98
Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99
Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100
Menabuh Genderang Perang
101
Sisa-sisa Kehancuran
102
Ia Telah Dibuang
103
Runtuhnya Nyali Mawar
104
Duel Tanpa Sihir
105
Penyesalan Dhaning
106
Pembersihan Istana
107
Penawar Sang Ayah
108
Eksekusi Mati
109
Sang Putri Sulung Pergi
110
Lengser Keprabon
111
Penobatan yang Hampa
112
Sang Ratu Ilmuwan
113
Harga Sebuah Dimensi
114
Bulan Madu di Dimensi Lain
115
Keajaiban Fisiologis
116
Kekhawatiran Sang Profesor
117
Penurunan Ketergantungan
118
Warisan Kertas Sang Ratu
119
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120
119. Titik Nol
121
120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122
121. Hujan di Luar Musim
123
122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124
123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125
124. Sangat Murni
126
125. Rumah Kita - TAMAT
127
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!