Orang Sakit Kok Aneh-aneh

Cahaya matahari pagi yang menerobos celah jendela paviliun terasa seperti jarum yang menusuk retina.

Sekar mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

Bukan karena dia malas, tapi karena otaknya sedang mengkalibrasi sebuah skenario drama kelas satu.

"Gusti Allah, Mbak Sekar! Srengenge sudah setinggi galah, kok masih ngringkel seperti trenggiling?"

Suara cempreng Bu Sasmi terdengar membahana. Detik berikutnya, tirai jendela disibakkan dengan kasar.

Sret!

Cahaya menyilaukan membanjiri kamar.

Sekar sengaja tidak langsung bangun.

Dia membiarkan tubuhnya bereaksi alami terhadap kurang tidur sisa "insiden" semalam.

Wajahnya memang pucat, efek stres mendadak saat Bu Sasmi memergokinya "mati suri". Kantung matanya tebal.

Sempurna.

"Mbak Sekar!" Bu Sasmi menarik selimutnya.

Sekar membuka mata perlahan, lalu dengan gerakan teatrikal namun terukur, dia memijat pelipisnya dan meringis kesakitan.

"Silau, Bu..." desisnya lirih.

"Tolong tutup tirainya. Kepala saya rasanya mau pecah."

Bu Sasmi berkacak pinggang, menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Halah, alasan. Orang desa kok manja? Di Keraton itu bangun harus sebelum ayam berkokok. Ora ilok gadis perawan bangun siang."

"Ini bukan malas, Bu," Sekar bangun perlahan, memegangi kepalanya seolah bobotnya bertambah lima kilo.

Dalam hati, dia mulai menyusun diagnosis medis palsu. "Saya migrain. Cahaya ini memicu fotofobia."

"Foto-apa?" Bu Sasmi melotot.

"Jangan pakai bahasa planet, Mbak. Bilang saja pusing."

Sekar turun dari ranjang dengan langkah sempoyongan yang disengaja.

Dia tahu, untuk mengusir "CCTV berjalan" ini dari kamarnya nanti malam, dia harus menciptakan kondisi medis yang tidak bisa dibantah oleh tradisi, tapi hanya bisa dipahami oleh sains, dan otoritas yang lebih tinggi.

Dia butuh panggung. Dan panggung itu adalah jam pelajaran etika hari ini.

Pukul sepuluh pagi.

Ruang tengah paviliun.

Sekar sedang melakukan squat isometrik terselubung.

Secara teknis, dia sedang diajari cara "berjalan halus" atau mlaku dodo, berjalan jongkok dengan lutut ditekuk rendah tanpa memutus kontak tumit dengan lantai, sambil membawa nampan berisi seteko teh panas.

Otot quadriceps dan gluteus-nya menjerit, tapi bagi Sekar yang terbiasa kerja lapangan, ini hanya latihan fisik biasa.

Yang menyiksa adalah suara Bu Sasmi.

Wanita paruh baya itu memegang tongkat rotan kecil, mengetukkannya ke lantai kayu setiap kali Sekar melangkah.

Tok. Tok. Tok.

Irama itu tidak teratur.

Mengganggu.

"Punggung tegak! Jangan membungkuk seperti udang!" bentak Bu Sasmi.

Tok!

Sekar memejamkan mata sesaat.

Dia sedang menunggu momen yang tepat.

Dia butuh pemicu eksternal.

"Mbak Sekar, dengar tidak?!"

Bu Sasmi, yang kesal karena Sekar terlihat melamun, memukul meja marmer di sampingnya dengan tongkat rotan itu.

BRAK!

Itu dia.

Sekar melepaskan kendali motorik di tangannya.

PRANG!

Nampan perak itu terlepas.

Teko keramik berisi teh yang untungnya sudah agak hangat pecah berantakan di lantai.

Namun, Sekar tidak mempedulikan pecahan itu.

Dia langsung menjatuhkan diri ke lantai, memegangi kedua telinganya sambil berteriak histeris.

"Aaaargh! Suaranya! Hentikan suaranya!"

Sekar meringkuk di lantai, gemetar hebat.

Dia menyalurkan memori traumatis tubuh masa kecilnya, saat dibentak Nenek Marsinah, untuk memproduksi air mata sungguhan.

"Mbak? Mbak Sekar?" Bu Sasmi panik.

Dia mundur selangkah, takut disalahkan karena membuat calon menantu Sultan terluka.

"Saya cuma pukul meja, bukan pukul Njenengan!"

"Sakit... telinga saya sakit..." Sekar merintih, napasnya memburu.

"Suara itu... seperti ledakan di kepala saya."

Dia menatap Bu Sasmi dengan mata merah berair, pupilnya sengaja dia fokuskan dan defokuskan untuk memberi kesan disorientasi.

"Tolong... matikan lampunya. Tutup jendelanya. Saya nggak kuat..."

Di tengah kekacauan itu, pintu depan terbuka lebar.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

Suara bariton yang tenang namun tegas membelah kepanikan.

Sekar mengintip dari balik rambutnya yang berantakan.

Pangeran Arya berdiri di ambang pintu, wajahnya menegang melihat kekacauan di lantai.

Di belakangnya, berdiri seorang pria berkacamata membawa tas medis kulit,

Dokter Haryo.

Arya segera berlutut di samping Sekar, mengabaikan pecahan keramik di dekat lutut celana bahannya yang mahal.

Aroma sandalwood menguar, sedikit menetralkan bau minyak urut Bu Sasmi.

"Sekar? Kamu kenapa?" Arya menyentuh bahu Sekar. Tangannya merasakan tremor di tubuh gadis itu.

"Gusti Pangeran..." Bu Sasmi tergagap, wajahnya pucat pasi.

"Saya... saya tidak tahu. Tiba-tiba Mbak Sekar histeris waktu saya pukul meja. Padahal pelan saja kok."

Arya menoleh tajam pada Bu Sasmi, lalu memberi isyarat pada Dokter Haryo.

"Dokter, tolong periksa sekarang. Lupakan soal jadwal suntik vitaminnya. Ini darurat."

Bu Sasmi yang tadinya hendak bertanya 'kenapa pangeran bawa dokter?' langsung menelan ludah.

Dokter Haryo mengangguk profesional.

Dia berlutut di sisi lain Sekar, membuka tasnya yang kini beralih fungsi menjadi alat diagnosis darurat.

Sekar, yang mendengar "alibi" cerdas Arya, merasa lega luar biasa.

Sinkronisasi yang bagus, batinnya.

Arya pasti menyadari betapa kerasnya latihan fisik yang dipaksakan padanya, sehingga berinisiatif membawa dokter untuk doping stamina, tapi Sekar akan memanfaatkan momen ini untuk tujuan yang lebih besar.

Sekar menarik napas, lalu saat Dokter Haryo menempelkan stetoskop ke dadanya, dia mencengkeram jas dokter itu.

"Suara..." desis Sekar, matanya terbelalak menatap langit-langit seolah sedang melihat hantu.

"Setiap suara... sakit... seperti jarum di otak..."

Dia menatap mata Arya dalam-dalam, mengirimkan sinyal non-verbal lewat remasan tangannya:

Mainkan peranmu. Dukung diagnosis ini.

Dokter Haryo, dokter senior yang sudah melayani keluarga Arya selama tiga dekade, segera menangkap kejanggalan.

Nadi Sekar cepat, tapi pola napasnya terlalu teratur untuk orang yang benar-benar kehilangan akal.

Dia melirik sekilas ke arah Arya, lalu ke arah Bu Sasmi yang ketakutan.

Dokter tua itu paham.

Ini panggung sandiwara.

Dan tugasnya adalah memberikan validasi medis.

Dokter Haryo menegakkan tubuh, lalu memasang wajah paling serius yang dia miliki.

"Gusti Arya," ucap Dokter Haryo berat.

"Kondisi Mbak Sekar lebih parah dari sekadar kelelahan fisik yang Gusti khawatirkan tadi pagi."

"Apa maksudnya, Dok?" tanya Arya, nadanya mendesak, menyempurnakan drama itu.

"Beliau mengalami Acute Sensory Processing Sensitivity yang dipicu oleh stres berat dan kurang tidur ekstrem. Sistem sarafnya sedang overheating," jelas Dokter Haryo, membumbui diagnosa itu dengan istilah yang terdengar menyeramkan bagi orang awam.

Bu Sasmi melongo.

"Itu... penyakit apa, Dok? Menular?"

"Tidak menular, Bu," jawab Dokter Haryo sabar tapi tajam.

"Tapi ini membuat penderitanya sangat sensitif terhadap rangsangan. Suara sekecil apa pun, langkah kaki, dengkuran, bahkan suara napas orang lain di dekatnya, bisa memicu migrain dahsyat dan serangan panik seperti tadi."

Dokter Haryo menatap Bu Sasmi lurus-lurus.

"Penyebab utamanya adalah gangguan tidur. Mbak Sekar tidak bisa masuk ke fase Deep Sleep karena ada gangguan lingkungan di malam hari."

Sekar menyembunyikan senyum kemenangannya di balik telapak tangan.

Bingo.

Arya langsung menangkap bola yang dilempar Dokter Haryo.

Dia menatap Bu Sasmi.

"Bu Sasmi, Bu Sasmi tidur di mana semalam?"

"Di... di kamar Mbak Sekar, Gusti," jawab Bu Sasmi gugup.

"Perintah Gusti Putri Dhaning, untuk menjaga..."

"Mendengkur?" potong Arya.

Wajah Bu Sasmi memerah padam.

"Sedikit... mungkin, Gusti."

"Nah, itu dia pemicunya," Dokter Haryo menyela cepat.

"Frekuensi rendah dari dengkuran, ditambah gelombang suara napas di ruangan tertutup, menciptakan resonansi yang merusak istirahat otak Nona Sekar. Jika ini diteruskan, Mbak Sekar bisa kolaps. Sarafnya bisa putus."

Ancaman "saraf putus" adalah kalimat sakti untuk menakuti orang tua.

Bu Sasmi pucat pasi.

Jika calon menantu Sultan gila karena dia, tamatlah riwayatnya.

Arya berdiri tegak, aura bangsawannya menguar kuat.

"Mulai malam ini," titah Arya, suaranya tidak menerima bantahan,

"Sekar harus tidur sendiri. Kamarnya harus kedap suara, gelap total, dan terkunci dari dalam agar dia merasa aman secara psikologis."

"Tapi Gusti... perintah Gusti Putri Dhaning..." Bu Sasmi mencoba membela diri.

"Katakan pada Kakak saya," potong Arya dingin.

"Bahwa ini perintah medis dari Dokter Haryo untuk menyelamatkan nyawa calon istri saya. Kalau Mbak Dhaning keberatan, suruh dia bicara langsung dengan saya."

Arya menatap Sekar yang masih terduduk di lantai. Tatapannya melembut drastis.

"Bu Sasmi, pindahkan barang-barang Ibu ke kamar tamu. Sekarang."

Bu Sasmi tidak punya pilihan.

Dengan bahu merosot, dia mengangguk patuh. "Sendika dhawuh, Gusti."

Malam harinya.

Pukul 22.00 WIB.

Suasana sunyi senyap.

Sesuai resep Dokter Haryo, lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur temaram di sudut yang jauh.

Sekar berdiri di depan pintu kamarnya.

Dia baru saja mendengar suara langkah kaki Bu Sasmi menjauh, diiringi gerutuan panjang soal "orang sakit kok aneh-aneh".

Sekar memutar kunci pintu.

Klik.

Lalu dia memasang grendel tambahan yang ada di bagian atas pintu.

Clek.

Suara itu adalah musik terindah yang pernah dia dengar seharian ini.

Privasi.

Akhirnya.

Sekar menghela napas panjang, melepaskan akting "gadis sakit"-nya.

Tubuhnya tegak kembali.

Tatapan matanya yang sayu berubah tajam dan analitis.

Dia berjalan ke arah jendela, memastikan tirai tertutup rapat tanpa celah sedikitpun.

Sekar duduk di tepi ranjang.

Dia menatap jari manis tangan kirinya.

Tanda lahir berbentuk bulir padi itu tampak sedikit kemerahan, seolah tidak sabar menunggunya.

Dia butuh masuk sekarang juga. Bukan hanya untuk memanen melon yang belum selesai, tapi juga untuk memulai proyek besar berikutnya.

Sekar membaringkan tubuhnya dengan posisi senyaman mungkin.

Dia menarik selimut, menata bantal agar jika ada yang nekat mendobrak pintu, dia hanya terlihat sedang tidur pulas.

"Sistem saraf, standby," perintah batinnya.

Dia memejamkan mata.

"Masuk."

Terpopuler

Comments

gina altira

gina altira

untung Arya itu sudah ngerti bahasa kalbu

2026-02-10

0

gina altira

gina altira

wkwkwkwkkwk ini yg ada Bu Sasmi yg kena metal duluan 🤭🤭

2026-02-10

1

🌸nofa🌸

🌸nofa🌸

beda memang kalau sdh sehati😄

2026-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2 Memutus Sinyal Rasa Sakit
3 Sains Adalah Pedangnya
4 Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5 Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6 Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7 Penindasan Struktural
8 Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9 The Lotus Effect
10 Rahasianya Hampir Terbongkar
11 Pembunuh Karakter
12 Inkuisisi Abad Pertengahan
13 Dia Kalah
14 Hadiahnya Saya Kembalikan
15 Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16 Media Murashige & Skoog
17 Prediksi Terkonfirmasi
18 Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19 Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20 Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21 Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22 Apple To Apple
23 Nikmati Saja Peranmu
24 Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25 Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26 Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27 Itu Mati Raga
28 Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29 Aku Akan Membakarmu dengan Data
30 Satu Musuh Tumbang
31 Badai Akan Datang
32 Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33 Teroris Lingkungan
34 Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35 Dia Punya Kesempatan Kedua
36 Kotak Pandora Beraroma Neraka
37 Kita Hanya Menyediakan Cermin
38 Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39 Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40 Disandera oleh Sekarung Beras
41 Fenomena Layu Geni
42 Misi Penyelamatan Pangan
43 Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44 Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45 Bagaimana Jika
46 Alibi Ilmiah
47 Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48 Post-treatment Monitoring
49 Terlalu Bersih
50 Menikahlah Denganku
51 Kartu As Biologis
52 Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53 Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54 Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55 Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56 Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57 Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58 Tidurlah dengan Tenang Wening
59 Dia Bukan Manusia
60 Sesuatu yang Lain
61 Teror Psikologis Perlahan Merayap
62 Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63 Fenomena Loyalitas Emosional
64 Selamat Datang Kembali, Mawar
65 Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66 Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67 Visualisasi Ketakutan Massal
68 Kau Menantangku di Ranah Sains
69 Jadikan Aku Suamimu
70 Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71 Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72 Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73 Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74 Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75 Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76 Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77 Malam Midodareni
78 The Poisoner's Poison
79 Gending Itu Adalah Pertanda
80 Terlihat Seperti Dongeng
81 Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82 Jatuhnya Sang Raja
83 Arsitektur Kebohongan Rangga
84 Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85 Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86 Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87 Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88 Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89 Satu Gerakan Motorik Terakhir
90 Merobek Batasan Dinding Dimensi
91 Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92 Persetan dengan Sains
93 Aku Bukan Sekar Wening
94 Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95 CPR Spiritual
96 Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97 Ia Diterima
98 Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99 Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100 Menabuh Genderang Perang
101 Sisa-sisa Kehancuran
102 Ia Telah Dibuang
103 Runtuhnya Nyali Mawar
104 Duel Tanpa Sihir
105 Penyesalan Dhaning
106 Pembersihan Istana
107 Penawar Sang Ayah
108 Eksekusi Mati
109 Sang Putri Sulung Pergi
110 Lengser Keprabon
111 Penobatan yang Hampa
112 Sang Ratu Ilmuwan
113 Harga Sebuah Dimensi
114 Bulan Madu di Dimensi Lain
115 Keajaiban Fisiologis
116 Kekhawatiran Sang Profesor
117 Penurunan Ketergantungan
118 Warisan Kertas Sang Ratu
119 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120 119. Titik Nol
121 120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122 121. Hujan di Luar Musim
123 122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124 123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125 124. Sangat Murni
126 125. Rumah Kita - TAMAT
127 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2
Memutus Sinyal Rasa Sakit
3
Sains Adalah Pedangnya
4
Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5
Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6
Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7
Penindasan Struktural
8
Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9
The Lotus Effect
10
Rahasianya Hampir Terbongkar
11
Pembunuh Karakter
12
Inkuisisi Abad Pertengahan
13
Dia Kalah
14
Hadiahnya Saya Kembalikan
15
Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16
Media Murashige & Skoog
17
Prediksi Terkonfirmasi
18
Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19
Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20
Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21
Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22
Apple To Apple
23
Nikmati Saja Peranmu
24
Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25
Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26
Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27
Itu Mati Raga
28
Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29
Aku Akan Membakarmu dengan Data
30
Satu Musuh Tumbang
31
Badai Akan Datang
32
Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33
Teroris Lingkungan
34
Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35
Dia Punya Kesempatan Kedua
36
Kotak Pandora Beraroma Neraka
37
Kita Hanya Menyediakan Cermin
38
Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39
Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40
Disandera oleh Sekarung Beras
41
Fenomena Layu Geni
42
Misi Penyelamatan Pangan
43
Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44
Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45
Bagaimana Jika
46
Alibi Ilmiah
47
Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48
Post-treatment Monitoring
49
Terlalu Bersih
50
Menikahlah Denganku
51
Kartu As Biologis
52
Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53
Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54
Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55
Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56
Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57
Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58
Tidurlah dengan Tenang Wening
59
Dia Bukan Manusia
60
Sesuatu yang Lain
61
Teror Psikologis Perlahan Merayap
62
Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63
Fenomena Loyalitas Emosional
64
Selamat Datang Kembali, Mawar
65
Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66
Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67
Visualisasi Ketakutan Massal
68
Kau Menantangku di Ranah Sains
69
Jadikan Aku Suamimu
70
Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71
Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72
Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73
Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74
Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75
Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76
Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77
Malam Midodareni
78
The Poisoner's Poison
79
Gending Itu Adalah Pertanda
80
Terlihat Seperti Dongeng
81
Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82
Jatuhnya Sang Raja
83
Arsitektur Kebohongan Rangga
84
Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85
Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86
Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87
Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88
Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89
Satu Gerakan Motorik Terakhir
90
Merobek Batasan Dinding Dimensi
91
Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92
Persetan dengan Sains
93
Aku Bukan Sekar Wening
94
Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95
CPR Spiritual
96
Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97
Ia Diterima
98
Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99
Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100
Menabuh Genderang Perang
101
Sisa-sisa Kehancuran
102
Ia Telah Dibuang
103
Runtuhnya Nyali Mawar
104
Duel Tanpa Sihir
105
Penyesalan Dhaning
106
Pembersihan Istana
107
Penawar Sang Ayah
108
Eksekusi Mati
109
Sang Putri Sulung Pergi
110
Lengser Keprabon
111
Penobatan yang Hampa
112
Sang Ratu Ilmuwan
113
Harga Sebuah Dimensi
114
Bulan Madu di Dimensi Lain
115
Keajaiban Fisiologis
116
Kekhawatiran Sang Profesor
117
Penurunan Ketergantungan
118
Warisan Kertas Sang Ratu
119
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120
119. Titik Nol
121
120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122
121. Hujan di Luar Musim
123
122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124
123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125
124. Sangat Murni
126
125. Rumah Kita - TAMAT
127
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!