Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka

Napas Sekar tertahan di kerongkongan.

Bukan karena gugup.

Melainkan karena lilitan kain stagen sepanjang lima meter yang kini membebat perut dan dadanya bagaikan ular piton yang sedang memangsa buruan.

"Tarik lagi, Bu Sasmi. Sedikit lagi," perintah GKR Dhaning.

Suara wanita itu terdengar lembut, semanis madu hutan, tapi memiliki aftertaste racun arsenik.

"Sendika, Gusti Putri," sahut Bu Sasmi.

Wanita paruh baya itu menarik ujung kain stagen dengan tenaga yang tidak wajar untuk ukuran nenek-nenek.

"Ugh..." Sekar mengerang pelan.

Dia merasakan diafragma-nya tertekan ke atas.

Kapasitas paru-parunya kini berkurang setidaknya 30%.

Secara biologis, ini penyiksaan.

Penurunan asupan oksigen akan memicu hipoksia ringan, membuat otak lebih lambat berpikir.

Sekar melirik pantulan dirinya di cermin besar berbingkai jati ukiran Jepara itu.

Gadis desa di cermin itu tampak asing.

Rambutnya disanggul tekuk gaya Yogyakarta, lengkap dengan tusuk konde penyu yang sederhana.

Dia mengenakan kebaya kutubaru berbahan beludru hitam pekat.

Tanpa payet.

Tanpa bros emas.

Sangat polos.

Terlalu polos untuk undangan minum teh resmi bersama Permaisuri.

"Sempurna," GKR Dhaning tersenyum, berdiri di belakang Sekar.

Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Sekar, menatap pantulan mereka berdua.

Kontras itu menyakitkan mata.

Dhaning mengenakan kebaya sutra berwarna merah marun dengan sulaman benang emas yang rumit, bros berlian tiga susun, dan riasan wajah yang flawless.

Sementara Sekar... dia terlihat seperti pelayan yang kebetulan lewat.

"Kanjeng Ibu tidak suka kemewahan yang berlebihan, Sekar," bisik Dhaning di telinga Sekar.

"Beliau menghargai kesederhanaan. Penampilanmu ini... sangat 'merakyat'. Pas sekali dengan asal-usulmu."

Sekar menangkap kilatan ejekan di mata Dhaning lewat cermin.

Analisis: Dhaning sedang melakukan framing visual. Dia ingin Sekar terlihat kusam, miskin, dan tidak selevel di hadapan Permaisuri.

Jika Sekar protes dan minta perhiasan, dia akan dicap "gadis desa serakah".

Jika dia diam, dia akan terlihat "gadis desa udik".

Skakmat visual.

"Terima kasih atas perhatiannya, Gusti Putri," jawab Sekar tenang.

Dia menegakkan punggungnya, melawan tekanan stagen itu.

"Kesederhanaan adalah fondasi. Semakin sederhana, semakin dekat dengan kebenaran."

Senyum Dhaning menipis sesaat.

"Ayo. Jangan membuat Kanjeng Ibu menunggu. Di Keraton, telat satu menit sama dengan penghinaan seumur hidup."

Perjalanan menuju Bangsal Keputren terasa seperti berjalan menuju ruang eksekusi.

Matahari Yogyakarta sedang terik-teriknya, tapi lorong-lorong batu Keraton terasa dingin.

Setiap langkah Sekar diiringi bunyi srek-srek halus dari kain jarik batiknya yang bergesekan.

Dia menghitung langkahnya.

Mengatur ritme napas agar detak jantungnya tetap di angka 70 bpm.

Dia tidak boleh terlihat berkeringat.

Keringat adalah tanda kelemahan.

Tanda ketakutan.

Mereka tiba di sebuah pendopo terbuka yang menghadap taman bunga teratai.

Di tengah pendopo, duduk seorang wanita yang auranya bisa membekukan air mendidih.

GKR Dyah Kusumawardhani.

Permaisuri Keraton Yogyakarta.

Ibu tiri Pangeran Arya.

Wanita itu sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kulit, ditemani secangkir teh yang uapnya mengepul tipis.

Dia tidak menoleh saat Sekar dan Dhaning masuk.

Dhaning segera melakukan sembah, gerakan menyatukan kedua telapak tangan di depan hidung, lalu berjalan jongkok mendekat.

"Sugeng siang, Kanjeng Ibu," sapa Dhaning halus.

Sekar meniru gerakan itu.

Otot pahanya yang kemarin baru saja disiksa latihan fisik, kini protes keras saat harus melakukan gerakan mlaku dodo, tapi Sekar mengatupkan rahangnya.

Permaisuri menutup bukunya perlahan.

Suara blug pelan saat buku itu tertutup terdengar seperti palu hakim.

Beliau menatap Dhaning sekilas, lalu matanya beralih pada Sekar.

Tatapan itu.

Sekar pernah melihat tatapan seperti itu di laboratorium lamanya.

Itu bukan tatapan kebencian.

Itu tatapan seorang peneliti yang sedang melihat bakteri di bawah mikroskop.

Dingin.

Menilai.

Mencari cacat.

"Jadi ini," suara Permaisuri rendah, namun resonansinya kuat.

"Gadis yang membuat Dhimas Arya berani melawan tradisi."

Sekar menunduk dalam, menatap motif lantai tegel kunci di bawahnya.

"Nama saya Sekar, Gusti Ratu," jawabnya pelan.

"Aku tidak tanya namamu," potong Permaisuri datar.

Hening.

Dhaning tersenyum tipis di sampingnya, menikmati pemandangan ini.

"Duduk," perintah Permaisuri.

Sekar duduk bersimpuh di lantai, di posisi yang sudah ditentukan, di bawah level kursi Permaisuri, namun sejajar dengan meja pendek.

Seorang abdi dalem wanita tua menuangkan teh ke cangkir porselen di hadapan Sekar.

Teh itu berwarna cokelat pekat. Aromanya sepet dan melati.

"Minumlah," titah Permaisuri.

Ini jebakan pertama.

Sekar tahu, di Keraton, minum teh bukan sekadar membasahi tenggorokan.

Ada tata caranya.

Kapan harus mengangkat cangkir.

Bagaimana memegang telinganya.

Kapan harus menyeruput.

Jika Sekar salah, dia akan dicap tidak punya tata krama.

Sekar melirik cangkir itu.

Porselen tipis. Panas.

Jika dia memegangnya dengan ragu, tangannya akan gemetar.

Sekar menarik napas.

Dia menggunakan prinsip leverage.

Ibu jari dan telunjuk menjepit bibir cangkir dan dasar cangkir, menahan panas di area kulit yang paling tebal kapalan-nya. Jari manis menahan beban di bawah.

Stabil.

Sekar mengangkat cangkir itu, menutupi bibirnya dengan punggung tangan kiri, sebuah gestur sopan santun klasik, lalu menyesapnya tanpa suara.

Tidak ada bunyi slurp.

Cairan pahit-manis itu mengalir di tenggorokannya.

Dia meletakkan kembali cangkir itu tanpa bunyi denting sedikit pun.

Mata Permaisuri menyipit sedikit.

Tidak menyangka gadis desa bisa sehalus itu.

"Lumayan," komentar Permaisuri singkat.

"Untuk ukuran orang yang biasa minum dari kendi."

Dhaning tertawa kecil.

"Sekar ini cepat belajar, Kanjeng Ibu. Katanya dia jenius di desanya."

Kata "jenius" diucapkan Dhaning dengan nada mencemooh, seolah itu lelucon.

Permaisuri kembali menatap Sekar. Kali ini lebih tajam. "Jenius, ya?"

Permaisuri mengambil buku tebal yang tadi dibacanya.

"Arya itu calon Raja, walau sekarang dia lebih suka main kamera seperti orang kurang kerjaan," ucap Permaisuri sinis.

"Tapi darahnya tetap darah biru. Istrinya kelak, haruslah wanita yang bisa menjadi Pusaka."

Permaisuri mencondongkan tubuhnya.

Tekanan udara di sekitar mereka terasa memberat.

"Pusaka bukan hanya soal cantik atau bisa masak, Nduk. Pusaka itu soal memori. Soal sejarah. Soal filosofi yang menjaga paku pulau Jawa ini tetap menancap di buminya."

Sekar merasakan keringat dingin mulai merembes di punggungnya.

Hormon adrenalin dan kortisol-nya melonjak.

Ini adalah respon fight or flight.

"Saya sadar diri, Gusti Ratu," jawab Sekar hati-hati.

"Saya hanyalah rakyat kecil yang kebetulan..."

"Kebetulan?" potong Permaisuri.

"Di dunia ini tidak ada kebetulan. Yang ada hanya takdir dan konsekuensi."

Permaisuri membuka halaman buku tua itu secara acak.

Kertasnya sudah menguning, rapuh dimakan zaman.

Aksara Jawa Kuno berderet rapat memenuhi halaman.

"Dhaning bilang kamu pintar," ujar Permaisuri.

"Kalau begitu, buktikan."

Jantung Sekar berdegup kencang.

Permaisuri memutar buku itu menghadap Sekar.

"Ini adalah salinan Serat Wulangreh pupuh Dhandhanggula. Naskah asli tulisan tangan Sri Susuhunan Paku Buwana IV."

Mata Sekar membelalak menatap deretan huruf keriting yang baginya tampak seperti kode enkripsi alien itu.

Di kehidupan lamanya sebagai Profesor Biologi, dia hafal struktur DNA mitokondria.

Dia bisa membaca hasil MRI dalam hitungan detik.

Tapi Aksara Jawa Kuno?

Ingatan tubuh asli Sekar si gadis desa hanya terbatas pada huruf latin dan hitungan matematika dasar pasar.

"Bacakan bait ketiga," perintah Permaisuri dingin.

"Dan jelaskan tafsir filosofisnya dalam konteks pemerintahan modern."

Dhaning tersenyum lebar sekarang. Kemenangan sudah di depan mata.

Mana mungkin gadis desa yang kerjaannya menanam melon bisa membaca sastra tinggi tingkat keraton, apalagi menafsirkannya?

Ini bukan sekadar tes.

Ini eksekusi publik.

Kanjeng Ratu bersandar nyaman di kursinya, menatap Sekar seperti elang menatap tikus sawah yang tersudut.

"Kenapa diam?" desak Kanjeng Ratu.

"Bukannya kamu jenius?"

"Atau..." Permaisuri menyesap tehnya perlahan.

"Otakmu hanya berisi lumpur sawah?"

Tangan Sekar yang berada di atas pangkuan mengepal erat hingga kukunya memutih.

Dia terpojok.

Secara logika, dia tamat.

Tapi, Sekar merasakan sensasi panas yang familiar di jari manis tangan kirinya.

Tanda lahir bulir padi itu berdenyut.

Ruang spasial merespons lonjakan stres pemiliknya.

Di dalam ruang dimensi lain itu, ada Pohon Kristal Data. Pohon yang menyimpan ribuan arsip kuno.

Sekar memejamkan mata sesaat.

Akses database, batinnya berteriak.

Keyword: Serat Wulangreh.

Seketika, rasa pusing menghantam kepalanya.

Bukan pusing sakit, tapi pusing karena download informasi berkecepatan tinggi yang langsung disuntikkan ke korteks serebralnya.

Sekar membuka matanya.

Tatapan matanya berubah.

Tidak lagi takut. Tidak lagi ragu.

Dia menatap deretan aksara Jawa itu.

Dan tiba-tiba, huruf-huruf itu seolah menyusun diri menjadi kalimat yang bisa dia pahami sejelas ketika ia membaca jurnal ilmiah.

Sekar mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata Permaisuri.

Sesuatu yang tabu, tapi dia lakukan dengan penuh percaya diri.

"Mohon ampun, Gusti Ratu," suara Sekar terdengar berbeda.

Lebih dalam. Lebih berwibawa.

"Bait ketiga Dhandhanggula dalam Serat Wulangreh ini... berbicara tentang Laku Prihatin."

Senyum Dhaning membeku.

Cangkir teh di tangan Permaisuri berhenti di udara.

Terpopuler

Comments

lin sya

lin sya

terguncang gk tuh ratu sm daning melihat sft jenius seorg gadis desa yg diremehin diistananya sendiri, gk tau aj sekar pnya ruang dimensi canggih 🤭

2026-02-09

2

akukaya

akukaya

Istana acah tata krama... diri sendiri serlahkan kesombongan bukan berkelas... Mentang² Orang Istana... konon paling tinggi darjatnya.. penuh kepalsuan.. Isinya Kezaliman hakiki

2026-05-16

0

Betharia Anggita Dominique

Betharia Anggita Dominique

lah iya bener juga👍👍👍👍 penurunan kecerdasan disebabkan estetika wkwk 🤣🤣🤣 bahasa we udah Kya Sekar Lom????🤭

2026-02-10

0

lihat semua
Episodes
1 Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2 Memutus Sinyal Rasa Sakit
3 Sains Adalah Pedangnya
4 Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5 Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6 Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7 Penindasan Struktural
8 Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9 The Lotus Effect
10 Rahasianya Hampir Terbongkar
11 Pembunuh Karakter
12 Inkuisisi Abad Pertengahan
13 Dia Kalah
14 Hadiahnya Saya Kembalikan
15 Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16 Media Murashige & Skoog
17 Prediksi Terkonfirmasi
18 Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19 Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20 Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21 Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22 Apple To Apple
23 Nikmati Saja Peranmu
24 Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25 Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26 Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27 Itu Mati Raga
28 Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29 Aku Akan Membakarmu dengan Data
30 Satu Musuh Tumbang
31 Badai Akan Datang
32 Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33 Teroris Lingkungan
34 Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35 Dia Punya Kesempatan Kedua
36 Kotak Pandora Beraroma Neraka
37 Kita Hanya Menyediakan Cermin
38 Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39 Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40 Disandera oleh Sekarung Beras
41 Fenomena Layu Geni
42 Misi Penyelamatan Pangan
43 Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44 Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45 Bagaimana Jika
46 Alibi Ilmiah
47 Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48 Post-treatment Monitoring
49 Terlalu Bersih
50 Menikahlah Denganku
51 Kartu As Biologis
52 Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53 Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54 Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55 Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56 Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57 Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58 Tidurlah dengan Tenang Wening
59 Dia Bukan Manusia
60 Sesuatu yang Lain
61 Teror Psikologis Perlahan Merayap
62 Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63 Fenomena Loyalitas Emosional
64 Selamat Datang Kembali, Mawar
65 Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66 Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67 Visualisasi Ketakutan Massal
68 Kau Menantangku di Ranah Sains
69 Jadikan Aku Suamimu
70 Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71 Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72 Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73 Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74 Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75 Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76 Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77 Malam Midodareni
78 The Poisoner's Poison
79 Gending Itu Adalah Pertanda
80 Terlihat Seperti Dongeng
81 Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82 Jatuhnya Sang Raja
83 Arsitektur Kebohongan Rangga
84 Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85 Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86 Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87 Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88 Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89 Satu Gerakan Motorik Terakhir
90 Merobek Batasan Dinding Dimensi
91 Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92 Persetan dengan Sains
93 Aku Bukan Sekar Wening
94 Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95 CPR Spiritual
96 Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97 Ia Diterima
98 Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99 Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100 Menabuh Genderang Perang
101 Sisa-sisa Kehancuran
102 Ia Telah Dibuang
103 Runtuhnya Nyali Mawar
104 Duel Tanpa Sihir
105 Penyesalan Dhaning
106 Pembersihan Istana
107 Penawar Sang Ayah
108 Eksekusi Mati
109 Sang Putri Sulung Pergi
110 Lengser Keprabon
111 Penobatan yang Hampa
112 Sang Ratu Ilmuwan
113 Harga Sebuah Dimensi
114 Bulan Madu di Dimensi Lain
115 Keajaiban Fisiologis
116 Kekhawatiran Sang Profesor
117 Penurunan Ketergantungan
118 Warisan Kertas Sang Ratu
119 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120 119. Titik Nol
121 120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122 121. Hujan di Luar Musim
123 122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124 123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125 124. Sangat Murni
126 125. Rumah Kita - TAMAT
127 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2
Memutus Sinyal Rasa Sakit
3
Sains Adalah Pedangnya
4
Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5
Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6
Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7
Penindasan Struktural
8
Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9
The Lotus Effect
10
Rahasianya Hampir Terbongkar
11
Pembunuh Karakter
12
Inkuisisi Abad Pertengahan
13
Dia Kalah
14
Hadiahnya Saya Kembalikan
15
Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16
Media Murashige & Skoog
17
Prediksi Terkonfirmasi
18
Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19
Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20
Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21
Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22
Apple To Apple
23
Nikmati Saja Peranmu
24
Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25
Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26
Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27
Itu Mati Raga
28
Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29
Aku Akan Membakarmu dengan Data
30
Satu Musuh Tumbang
31
Badai Akan Datang
32
Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33
Teroris Lingkungan
34
Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35
Dia Punya Kesempatan Kedua
36
Kotak Pandora Beraroma Neraka
37
Kita Hanya Menyediakan Cermin
38
Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39
Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40
Disandera oleh Sekarung Beras
41
Fenomena Layu Geni
42
Misi Penyelamatan Pangan
43
Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44
Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45
Bagaimana Jika
46
Alibi Ilmiah
47
Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48
Post-treatment Monitoring
49
Terlalu Bersih
50
Menikahlah Denganku
51
Kartu As Biologis
52
Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53
Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54
Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55
Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56
Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57
Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58
Tidurlah dengan Tenang Wening
59
Dia Bukan Manusia
60
Sesuatu yang Lain
61
Teror Psikologis Perlahan Merayap
62
Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63
Fenomena Loyalitas Emosional
64
Selamat Datang Kembali, Mawar
65
Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66
Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67
Visualisasi Ketakutan Massal
68
Kau Menantangku di Ranah Sains
69
Jadikan Aku Suamimu
70
Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71
Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72
Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73
Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74
Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75
Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76
Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77
Malam Midodareni
78
The Poisoner's Poison
79
Gending Itu Adalah Pertanda
80
Terlihat Seperti Dongeng
81
Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82
Jatuhnya Sang Raja
83
Arsitektur Kebohongan Rangga
84
Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85
Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86
Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87
Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88
Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89
Satu Gerakan Motorik Terakhir
90
Merobek Batasan Dinding Dimensi
91
Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92
Persetan dengan Sains
93
Aku Bukan Sekar Wening
94
Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95
CPR Spiritual
96
Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97
Ia Diterima
98
Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99
Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100
Menabuh Genderang Perang
101
Sisa-sisa Kehancuran
102
Ia Telah Dibuang
103
Runtuhnya Nyali Mawar
104
Duel Tanpa Sihir
105
Penyesalan Dhaning
106
Pembersihan Istana
107
Penawar Sang Ayah
108
Eksekusi Mati
109
Sang Putri Sulung Pergi
110
Lengser Keprabon
111
Penobatan yang Hampa
112
Sang Ratu Ilmuwan
113
Harga Sebuah Dimensi
114
Bulan Madu di Dimensi Lain
115
Keajaiban Fisiologis
116
Kekhawatiran Sang Profesor
117
Penurunan Ketergantungan
118
Warisan Kertas Sang Ratu
119
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120
119. Titik Nol
121
120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122
121. Hujan di Luar Musim
123
122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124
123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125
124. Sangat Murni
126
125. Rumah Kita - TAMAT
127
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!