Sains Adalah Pedangnya

Jam dinding kayu jati di dinding berdetak berat.

Pukul 02.00 dini hari.

Suara jangkrik dan kodok dari arah kolam teratai di halaman belakang terdengar bersahut-sahutan, menciptakan simfoni malam khas pedesaan Yogyakarta yang seharusnya menenangkan.

Namun bagi Sekar, malam ini terasa mencekik.

Udara di dalam kamar itu berbau minyak urut dan bedak dingin, aroma khas wanita paruh baya tradisional.

Sumber aroma itu sedang berbaring di atas dipan kayu kecil di sudut ruangan, hanya berjarak tiga meter dari ranjang Sekar.

Bu Sasmi.

Wanita itu tidak tidur di kamar tamu. Dengan alasan "menjaga keselamatan calon keluarga keraton", dia bersikeras tidur sekamar dengan Sekar.

Alasan yang konyol.

Sekar tahu, ini adalah bentuk surveillance 24 jam. Panoptikon modern tanpa CCTV, hanya bermodal mata tua yang tajam dan telinga yang sensitif.

Sekar berbaring miring memunggungi Bu Sasmi. Matanya terbuka lebar dalam kegelapan.

Punggungnya masih terasa pegal akibat latihan duduk selama enam jam hari ini.

Namun, bukan nyeri otot yang membuatnya terjaga.

Tanda lahir berbentuk bulir padi di jari manis tangan kirinya terasa panas. Berdenyut.

Itu sinyal alarm biologis.

“Stok menipis,” batin Sekar, menganalisis inventaris dalam ruang spasialnya.

Di dalam Ruang Spasial, tanaman melon varietas Golden Aroma yang dia tanam tiga minggu lalu sudah memasuki masa panen puncak. Kadar Brix pasti sudah mencapai angka 18%.

Jika tidak dipanen malam ini, fermentasi alami akan dimulai.

Melon-melon itu akan membusuk, meledak, dan mengotori tanah hitam dengan etanol.

Masalahnya, dia tidak bisa masuk.

Sekar memejamkan mata, memusatkan pendengaran.

Suara napas Bu Sasmi terdengar teratur.

Inhale dalam, exhale panjang dengan sedikit bunyi 'ngik' di ujungnya.

Indikasi mild obstruction pada saluran napas atas. Tidur nyenyak fase Non-Rapid Eye Movement.

Ini kesempatannya.

Sekar menyentuh tanda lahir di jarinya dengan ibu jari.

“Masuk.”

Sensasi tarikan gravitasi itu selalu sama.

Seperti jatuh dari gedung tinggi, lalu mendarat di atas tumpukan bulu angsa.

Detik berikutnya, Sekar sudah berdiri di atas tanah hitam yang gembur.

Udara di sini jauh lebih segar, kaya akan oksigen murni yang dihasilkan oleh fotosintesis tanaman super-subur.

Tidak ada bau minyak urut. Hanya aroma tanah basah, vanila, dan manisnya buah matang.

Sekar menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru astralnya dengan energi.

Di hadapannya, hamparan tanaman melon merambat pada lanjaran bambu.

Buah-buahnya menggelantung berat, berwarna kuning keemasan, memancarkan cahaya redup yang magis.

“Oke, mode kerja cepat,” gumam Sekar.

Dia tidak punya banyak waktu.

Rasio waktu di sini memang menguntungkan, 1 jam di sini \= 6 menit di dunia nyata, tapi dia tidak boleh mengambil risiko.

Sekar berlari kecil ke gubuk peralatan.

Dia mengambil keranjang rotan dan gunting pangkas.

Snip. Snip. Snip.

Tangannya bergerak cekatan, memotong tangkai buah dengan presisi bedah.

Dia menyisakan 2 cm tangkai berbentuk huruf T, standar estetika untuk melon grade premium.

Satu keranjang penuh.

Dua keranjang.

Keringat mulai membasahi keningnya.

Adrenalin memacu fokusnya.

Dia bekerja mungkin selama dua jam waktu ruang spasial.

Membersihkan lahan, menabur benih baru, dan meminum seteguk Air Spiritual dari mata air untuk memulihkan kelelahan mentalnya.

Rasanya segar.

Seperti minum air kelapa muda yang didinginkan, tapi dengan aftertaste mint yang membersihkan pikiran.

Sekar merasa bugar kembali.

Lelah fisiknya di dunia nyata seolah tidak pernah ada.

"Cukup untuk hari ini," putusnya.

Dia meletakkan hasil panen di gudang penyimpanan, zona vakum waktu di mana benda tidak akan busuk.

Sekar menatap pintu keluar visualisasinya.

“Keluar.”

Gelap kembali menyergap.

Sekar membuka matanya di atas ranjang paviliun.

Dan saat itulah, teror yang sebenarnya dimulai.

Dia tidak bisa bergerak.

Tubuhnya terasa seberat beton. Jari-jarinya kaku. Kelopak matanya terasa seperti direkatkan dengan lem super.

Sleep Paralysis? Tidak, ini berbeda.

Otak Sekar, kesadarannya, sudah bangun sepenuhnya, waspada, dan tajam.

Tapi sistem saraf motoriknya masih offline total, gap yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.

Dia mendengar suara langkah kaki terseret.

Srek. Srek.

Bu Sasmi bangun.

Jantung Sekar berdegup kencang, tapi dia tidak merasakan detak itu di dadanya.

Dadanya hening. Terlalu hening.

"Mbak Sekar?" suara serak Bu Sasmi terdengar dari jarak dekat.

Sekar ingin menjawab.

Dia ingin sekadar berdeham atau mengubah posisi tidur untuk menunjukkan bahwa dia sedang tidur normal, tapi sinyal dari korteks motorik tidak sampai, atau belum sampai ke otot.

Analisis Cepat: Saat kesadaranku berada di Ruang Spasial, tubuh fisikku masuk ke mode hibernasi ekstrem.

Kondisi ini ditandai dengan Bradikardia, detak jantung melambat drastis. Hipotonia, hilangnya tonus otot. Dan Hipoventilasi, napas yang sangat dangkal.

Bagi orang awam, kondisi ini tidak terlihat seperti tidur.

Ini terlihat seperti mati.

Atau koma.

Cahaya senter menyilaukan menembus kelopak mata Sekar yang tertutup.

Bu Sasmi menyalakan senter ponselnya, mengarahkannya tepat ke wajah Sekar.

Sekar bisa merasakan hawa panas tubuh Bu Sasmi mendekat.

Wanita tua itu membungkuk.

"Napasnya..." bisik Bu Sasmi.

Nadanya curiga bercampur panik.

Tangan kasar Bu Sasmi terulur, menyentuh leher Sekar. Mencari denyut nadi karotis.

Sekar berteriak dalam diam.

Ayo, tubuh bodoh! Bangun!

Pompa adrenalin!

Detik terasa seperti abad.

Di dalam ruang spasial, waktu berjalan cepat. Tapi rupanya transisi kembali ke tubuh fisik membutuhkan waktu "reboot" sistem saraf sekitar 10-15 detik.

Dan 15 detik itu adalah celah keamanan fatal.

Jika Bu Sasmi menyadari nadinya berdetak di bawah 40 bpm, detak per menit dan napasnya nyaris tak terdeteksi, besok pagi seluruh Keraton akan gempar.

GKR Dhaning akan mengirim tim medis istana. Mereka akan mengambil darahnya. Mereka akan menemukan anomali.

Rahasia Ruang Spasial akan terbongkar bukan karena sihir, tapi karena diagnosis medis:

Mati Suri Berulang.

Ujung jari Bu Sasmi menekan arteri leher Sekar.

Satu... Dua...

Sekar mengerahkan seluruh kekuatan tekadnya untuk memicu respons fight or flight.

Dia membayangkan bahaya. Dia membayangkan wajah ibunya yang menangis.

SENTAK!

Sistem saraf simpatik akhirnya merespons.

Sebuah kejutan listrik biologis menjalar dari batang otak ke seluruh tubuh.

"Hah!"

Sekar tersentak bangun dengan kasar.

Tubuhnya mengejang seperti orang yang baru saja lolos dari mimpi buruk jatuh ke jurang.

Dia membuka mata lebar-lebar, langsung menatap wajah Bu Sasmi yang hanya berjarak lima sentimeter.

Bu Sasmi melompat mundur saking kagetnya.

Ponselnya nyaris terlempar.

"Astaghfirullah!" pekik Bu Sasmi, memegangi dadanya.

Sekar terengah-engah.

Kali ini sungguhan.

Jantungnya memompa keras, mencoba mengejar ketertinggalan oksigen.

Keringat dingin membasahi punggungnya.

"Bu... Bu Sasmi?" suara Sekar parau, lemah, dan gemetar. Akting yang sempurna karena didukung kondisi fisik yang shock.

"Kenapa... kenapa Ibu ada di atas saya?"

Bu Sasmi mengatur napasnya yang memburu. Matanya menatap Sekar dengan tatapan aneh. Selidik.

"Njenengan..." Bu Sasmi menelan ludah.

"Njenengan tadi tidak bernapas. Saya panggil tidak menyahut. Badan Njenengan dingin sekali seperti mayat."

Sekar memijat pelipisnya, berpura-pura pusing. Otak jeniusnya berputar cepat menyusun alibi logis.

"Saya... saya punya Tekanan Darah Rendah saat tidur nyenyak, Bu," dusta Sekar dengan istilah medis yang terdengar meyakinkan.

"Kadang kalau terlalu lelah, saya tidur seperti orang pingsan. Efek samping kelelahan saraf."

Sekar menatap Bu Sasmi dengan mata sayu yang dibuat-buat.

"Maaf kalau membuat Ibu kaget. Apa saya ngelindur?"

Bu Sasmi masih menatapnya curiga.

Tapi penjelasan "tekanan darah rendah" dan fakta bahwa Sekar baru saja menjalani penyiksaan fisik seharian cukup masuk akal baginya.

Lagipula, sekarang dada Sekar naik turun dengan jelas.

Kulitnya mulai memerah kembali. Hangat kehidupan sudah kembali.

"Lain kali kalau tidur jangan seperti orang mati," gerutu Bu Sasmi, menyembunyikan rasa takutnya sendiri.

"Bikin jantungan orang tua saja."

Wanita itu mematikan senter ponselnya dan kembali ke dipannya dengan langkah menghentak kesal.

"Tidur lagi. Besok jam 4 pagi sudah harus bangun. Kita belajar jalan pakai kain jarik," perintah Bu Sasmi dari kegelapan.

Sekar berbaring kembali.

Dia menarik selimut sampai ke dagu.

Di balik selimut, tangannya mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan.

Itu tadi terlalu dekat.

Sekar menyadari kesalahan kalkulasinya.

Ruang Spasial memang memberinya keuntungan waktu dan sumber daya.

Tapi mekanisme masuk-keluarnya memiliki lagging fisik yang berbahaya jika ada pengamat.

Dia tidak bisa terus-menerus "mati suri" di malam hari. Bu Sasmi bukan orang bodoh. Sekali dua kali mungkin dianggap kelelahan.

Tapi jika setiap malam dia terlihat seperti mayat?

Wanita tua itu pasti akan melapor ke Dhaning bahwa Sekar mempraktikkan ilmu hitam atau punya penyakit mematikan.

Keduanya sama-sama berbahaya.

Sekar menatap langit-langit kamar yang gelap.

Dia butuh privasi mutlak.

Dia butuh pintu kamar yang terkunci dari dalam, di mana tidak ada satu orang pun, bahkan Bu Sasmi, yang boleh masuk.

Tapi bagaimana caranya mengusir "anjing penjaga" resmi yang ditugaskan oleh Putri Raja?

Sekar tersenyum tipis dalam kegelapan. Dingin.

Jika sains adalah pedangnya, maka medis adalah perisainya.

Dia butuh penyakit.

Bukan penyakit sembarangan, tapi penyakit orang kaya. Penyakit modern yang terdengar rumit, membutuhkan ketenangan total, dan sulit dibuktikan secara fisik oleh orang awam.

Insomnia Kronis dengan Hipersensitivitas Sensorik.

"Bu Sasmi," batin Sekar, matanya berkilat tajam.

"Besok, Njenengan akan memohon untuk tidur di luar."

Terpopuler

Comments

🌸nofa🌸

🌸nofa🌸

atau lain kali saat memanen di kamar mandi saja. eh tapi boleh gak sih kalau di kamar mandi sekitar 20 sampai 30 menit? mencurigakan tdk ya?🤔

2026-02-09

2

gina altira

gina altira

beneran harus muter otak, klo bukan Profesor pasti udah nangess nih

2026-02-10

1

fredai

fredai

kemarin2 kok gga berasa ya 😭
apa karena ga ada orang gitu

2026-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2 Memutus Sinyal Rasa Sakit
3 Sains Adalah Pedangnya
4 Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5 Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6 Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7 Penindasan Struktural
8 Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9 The Lotus Effect
10 Rahasianya Hampir Terbongkar
11 Pembunuh Karakter
12 Inkuisisi Abad Pertengahan
13 Dia Kalah
14 Hadiahnya Saya Kembalikan
15 Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16 Media Murashige & Skoog
17 Prediksi Terkonfirmasi
18 Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19 Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20 Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21 Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22 Apple To Apple
23 Nikmati Saja Peranmu
24 Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25 Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26 Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27 Itu Mati Raga
28 Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29 Aku Akan Membakarmu dengan Data
30 Satu Musuh Tumbang
31 Badai Akan Datang
32 Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33 Teroris Lingkungan
34 Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35 Dia Punya Kesempatan Kedua
36 Kotak Pandora Beraroma Neraka
37 Kita Hanya Menyediakan Cermin
38 Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39 Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40 Disandera oleh Sekarung Beras
41 Fenomena Layu Geni
42 Misi Penyelamatan Pangan
43 Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44 Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45 Bagaimana Jika
46 Alibi Ilmiah
47 Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48 Post-treatment Monitoring
49 Terlalu Bersih
50 Menikahlah Denganku
51 Kartu As Biologis
52 Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53 Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54 Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55 Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56 Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57 Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58 Tidurlah dengan Tenang Wening
59 Dia Bukan Manusia
60 Sesuatu yang Lain
61 Teror Psikologis Perlahan Merayap
62 Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63 Fenomena Loyalitas Emosional
64 Selamat Datang Kembali, Mawar
65 Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66 Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67 Visualisasi Ketakutan Massal
68 Kau Menantangku di Ranah Sains
69 Jadikan Aku Suamimu
70 Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71 Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72 Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73 Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74 Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75 Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76 Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77 Malam Midodareni
78 The Poisoner's Poison
79 Gending Itu Adalah Pertanda
80 Terlihat Seperti Dongeng
81 Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82 Jatuhnya Sang Raja
83 Arsitektur Kebohongan Rangga
84 Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85 Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86 Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87 Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88 Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89 Satu Gerakan Motorik Terakhir
90 Merobek Batasan Dinding Dimensi
91 Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92 Persetan dengan Sains
93 Aku Bukan Sekar Wening
94 Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95 CPR Spiritual
96 Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97 Ia Diterima
98 Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99 Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100 Menabuh Genderang Perang
101 Sisa-sisa Kehancuran
102 Ia Telah Dibuang
103 Runtuhnya Nyali Mawar
104 Duel Tanpa Sihir
105 Penyesalan Dhaning
106 Pembersihan Istana
107 Penawar Sang Ayah
108 Eksekusi Mati
109 Sang Putri Sulung Pergi
110 Lengser Keprabon
111 Penobatan yang Hampa
112 Sang Ratu Ilmuwan
113 Harga Sebuah Dimensi
114 Bulan Madu di Dimensi Lain
115 Keajaiban Fisiologis
116 Kekhawatiran Sang Profesor
117 Penurunan Ketergantungan
118 Warisan Kertas Sang Ratu
119 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120 119. Titik Nol
121 120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122 121. Hujan di Luar Musim
123 122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124 123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125 124. Sangat Murni
126 125. Rumah Kita - TAMAT
127 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar
2
Memutus Sinyal Rasa Sakit
3
Sains Adalah Pedangnya
4
Orang Sakit Kok Aneh-aneh
5
Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
6
Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
7
Penindasan Struktural
8
Kain Ini Akan Mengguncang Dunia
9
The Lotus Effect
10
Rahasianya Hampir Terbongkar
11
Pembunuh Karakter
12
Inkuisisi Abad Pertengahan
13
Dia Kalah
14
Hadiahnya Saya Kembalikan
15
Menemukan Lawan Catur yang Sepadan
16
Media Murashige & Skoog
17
Prediksi Terkonfirmasi
18
Menyamar Menjadi Sesuatu yang Indah dan Menggoda
19
Hukum Alam Tidak Pernah Ingkar Janji
20
Bunga Itu Adalah Ijazahnya
21
Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
22
Apple To Apple
23
Nikmati Saja Peranmu
24
Memenangkan Perang Tanpa Menembakkan Satu Peluru Pun
25
Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
26
Menghentakkan Seluruh Tekadnya
27
Itu Mati Raga
28
Wonten Getaran Ingkang Nembus Sukma
29
Aku Akan Membakarmu dengan Data
30
Satu Musuh Tumbang
31
Badai Akan Datang
32
Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
33
Teroris Lingkungan
34
Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir
35
Dia Punya Kesempatan Kedua
36
Kotak Pandora Beraroma Neraka
37
Kita Hanya Menyediakan Cermin
38
Mereka Baru Saja Membangunkan Monster yang Sebenarnya
39
Tidak Menjadi Pahlawan yang Naif
40
Disandera oleh Sekarung Beras
41
Fenomena Layu Geni
42
Misi Penyelamatan Pangan
43
Wabah Itu Kini Telah Menemukan Inang Manusianya yang Pertama
44
Waktu Arya Hanya Tersisa Seratus Delapan Puluh Menit
45
Bagaimana Jika
46
Alibi Ilmiah
47
Ancaman Yang Jauh Lebih Nyata
48
Post-treatment Monitoring
49
Terlalu Bersih
50
Menikahlah Denganku
51
Kartu As Biologis
52
Tanpa Ridho Saya, Pernikahan Kalian Adalah Zina
53
Mengantarkan Bukti Kematian Perdatanya Sendiri
54
Ayah Miskin yang Dizalimi Calon Mantu Sultan
55
Semakin Keras Hukum Menghantamnya Besok
56
Telah Cacat Moralnya Secara Permanen
57
Sekadar Keberhasilan Prosedur Membuang Limbah Beracun
58
Tidurlah dengan Tenang Wening
59
Dia Bukan Manusia
60
Sesuatu yang Lain
61
Teror Psikologis Perlahan Merayap
62
Ancaman Keamanan Tingkat Satu
63
Fenomena Loyalitas Emosional
64
Selamat Datang Kembali, Mawar
65
Harga Raga Untuk Sebuah Wahyu
66
Mengonsolidasikan Pasukan Bregada Paling Elit
67
Visualisasi Ketakutan Massal
68
Kau Menantangku di Ranah Sains
69
Jadikan Aku Suamimu
70
Titah Resmi yang Mengguncang Seluruh Pelosok Negeri
71
Terlalu Mudah Ditebak Oleh Kalkulasi Probabilitas
72
Akan Merobek Topeng Jenius Sekar Wening
73
Darah Murni Kita Akan Tetap Berkuasa
74
Manifestasi dari Mimpi Buruk Masa Lalunya
75
Penolakan Otomatis dari Energi Murni Dimensi Lain
76
Menggunakan Filosofi Alam yang Logis Untuk Membungkam Arogansi
77
Malam Midodareni
78
The Poisoner's Poison
79
Gending Itu Adalah Pertanda
80
Terlihat Seperti Dongeng
81
Ada Sesuatu yang Sangat Salah
82
Jatuhnya Sang Raja
83
Arsitektur Kebohongan Rangga
84
Hukum Negara Dibungkam Oleh Hukum Rimba
85
Hancurnya Kewarasan Sang Putri Sulung
86
Menemukan Loophole Fatal Dalam Sistem Monarki
87
Variabel Konyol yang Menentang Logika Pelestarian Diri Manusia
88
Fondasi Kewarasannya Mendadak Lumpuh Total
89
Satu Gerakan Motorik Terakhir
90
Merobek Batasan Dinding Dimensi
91
Saat Ia Paling Membutuhkan Mukjizat
92
Persetan dengan Sains
93
Aku Bukan Sekar Wening
94
Aku Tidak Pernah Jatuh Cinta Pada Sekar Wening
95
CPR Spiritual
96
Entitas yang Telah Mengalahkan Kematian
97
Ia Diterima
98
Momen Haru Itu Tidak Bertahan Lama
99
Anomali Itu Benar-benar Terjadi
100
Menabuh Genderang Perang
101
Sisa-sisa Kehancuran
102
Ia Telah Dibuang
103
Runtuhnya Nyali Mawar
104
Duel Tanpa Sihir
105
Penyesalan Dhaning
106
Pembersihan Istana
107
Penawar Sang Ayah
108
Eksekusi Mati
109
Sang Putri Sulung Pergi
110
Lengser Keprabon
111
Penobatan yang Hampa
112
Sang Ratu Ilmuwan
113
Harga Sebuah Dimensi
114
Bulan Madu di Dimensi Lain
115
Keajaiban Fisiologis
116
Kekhawatiran Sang Profesor
117
Penurunan Ketergantungan
118
Warisan Kertas Sang Ratu
119
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
120
119. Titik Nol
121
120. Sembilan Bulan yang Tidak Pernah Tenang
122
121. Hujan di Luar Musim
123
122. Membilas Habis Dinding Rasionalitasnya
124
123. Gusti Raden Mas Erlangga Manggala Wirabhumi
125
124. Sangat Murni
126
125. Rumah Kita - TAMAT
127
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
128
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
129
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
130
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
131
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
132
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!