Bab 1

Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu dengan tubuh sedikit membungkuk. Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian, wajahnya tampak pucat, dan langkahnya tidak lagi setegap dulu. Namun sorot matanya—mata yang selama ini selalu memandang Arsy dengan penuh kasih, kini dipenuhi kebingungan. Pria paruh baya itu tak lain adalah ayah Arsy.

Pak Rahman Syahira.

Sejak tadi, dari dalam rumah, ia mendengar suara pertengkaran. Awalnya ia mengira hanya kesalahpahaman kecil. Namun satu kalimat yang diucapkan Radit barusan, yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Arsy terdengar terlalu jelas untuk diabaikan oleh pak Rahman.

“Ada apa ini?” tanya pak Rahman yang suaranya terdengar lemah, tapi tegas.

Semua mata termasuk para tetangga yang sejak tadi pura-pura sibuk langsung tertuju padanya. Arsy membeku.

“Ayah…” lirihnya. Suaranya bergetar hebat.

Pak Rahman melangkah turun dari teras. Pandangannya beralih dari Arsy ke Radit, lalu ke Nadira yang berdiri sedikit di belakang Radit. Wajah Nadira tampak panik, sementara Radit justru memasang ekspresi datar seperti sebelumnya.

Pak Rahman berhenti tepat di depan Radit.

“Apa yang barusan kamu katakan, Radit?” tanya pak Rahman pelan, namun penuh tekanan. “Ayah dengar kamu bilang ingin membatalkan pernikahan?”

Radit tidak langsung menjawab. Ia menoleh sebentar ke arah Arsy, lalu kembali menatap Pak Rahman.

“Iya, Pak,” jawab Radit akhirnya. “Saya mau membatalkan pernikahan saya dengan Arsy.”

Pak Rahman merasakan tenggorokannya tercekat setelah mendengar sendiri permintaan Radit yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Arsy.

“Radit, apa yang kamu katakan ini? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?” tanya pak Rahman yang kali ini sedikit lebih keras. “Pernikahan itu bukan main-main. Apalagi pernikahan kalian tinggal hitungan hari. Undangan sudah disebar. Keluarga besar sudah tahu.”

Radit menghela napas, seperti orang yang sedang dijatuhi nasihat yang menurutnya tidak lagi penting.

“Saya sadar apa yang saya katakan ini, pak.”

Pak Rahman menggeleng pelan, mencoba mencerna semua yang ia dengar.

“Apa alasannya?”

Arsy menatap ayahnya dengan matanya yang basah. Hatinya menjerit ingin menghentikan semua ini. Ia tidak sanggup melihat ayahnya berdiri di tengah keributan seperti ini, ayah yang seharusnya ia jaga, bukan ia lukai. Namun Radit justru membuka mulutnya lagi.

“Saya sudah nggak menginginkan pernikahan ini, Pak.”

Pak Rahman terdiam beberapa detik.

“Kamu… kamu pasti bercanda, kan?” tanyanya pelan. “Radit tolong katakan padaku kalau semua ini tidak benar?”

Radit menggeleng.

“Tidak pak, saya tidak sedang bercanda.”

“Kamu ini calon suami Arsy,” suara Pak Rahman mulai bergetar. “Anak saya. Kamu datang ke rumah ini, melamar dengan baik-baik. Kamu berjanji akan menjaga dan menikahi dia.”

Radit menoleh sebentar ke arah Nadira, lalu kembali menatap Pak Rahman.

“Tolong maafkan saya, Pak. Saya nggak pernah mencintai Arsy.”

Kalimat itu membuat Arsy menutup mulutnya dengan tangan. Tangisnya pecah tanpa suara. Sementara pak Rahman membeku.

“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Saya menerima pernikahan ini dulu karena permintaan orang tua saya,” lanjut Radit tanpa ragu. “Bukan karena saya mencintai Arsy.”

Wajah Pak Rahman semakin pucat.

“Lalu sekarang?” tanyanya lirih.

“Saya mencintai perempuan lain,” jawab Radit. “Dan perempuan itu adalah Nadira.”

Nama itu jatuh seperti palu godam di dada pak Rahman. Pak Rahman tanpa sadar mundur selangkah ke belakang. Dadanya terasa sesak. Napasnya mendadak pendek. Ia menoleh ke arah Nadira—perempuan yang selama ini sering datang ke rumahnya, yang sering ia sambut dengan ramah karena mengira dia sahabat baik putrinya.

“Kamu?” gumam Pak Rahman, nyaris tak percaya.

Nadira menunduk. Tangisnya pecah setelah bertemu dengan pak Rahman.

“Maafkan saya, Om…”

Pak Rahman menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dunia di sekitarnya seperti berputar. Ia lalu menoleh ke arah Arsy, putrinya. Arsy berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya basah oleh air mata, bahunya naik turun menahan tangis. Tatapan Arsy kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sakit hingga akhirnya kehabisan tenaga.

Dan semua itu disaksikan oleh tetangga-tetangga mereka. Pak Rahman merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat.

“Arsy…” panggilnya lirih.

Arsy menoleh dan membuat mata mereka bertemu. Di mata putrinya, Pak Rahman melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, kehancuran. Dan saat itu, rasa sakit di dadanya tiba-tiba datang tanpa peringatan.

“Ah—”

Pak Rahman refleks memegangi dada kirinya.

Napasnya terhenti sesaat. Pandangannya menggelap.

“Ayah?” Arsy panik.

Pak Rahman mencoba berdiri tegak, tapi lututnya melemah. Rasa nyeri itu semakin kuat, menjalar hingga ke lengan dan rahangnya.

“Ayah, kenapa?” suara Arsy mulai meninggi.

Pak Rahman terhuyung.

“Pak Rahman!” teriak salah satu tetangga yang saat ini tengah menghampiri pak Rahman.

Namun tubuh Pak Rahman sudah lebih dulu ambruk ke tanah.

“AYAH!”

Arsy berlari secepat yang ia bisa. Ia berlutut di samping ayahnya dan memeluk tubuh pria itu yang kini terbaring tak bergerak.

“Ayah bangun, Ayah… tolong bangun…” tangis Arsy pecah. “Ayah jangan buat Arsy takut, Ayah… Arsy mohon…”

Tangan Arsy gemetar saat mengguncang bahu ayahnya. Sekeliling mereka mendadak riuh. Tetangga-tetangga berteriak panik. Seseorang menyuruh memanggil ambulans. Yang lain berlari masuk ke rumah untuk mengambil minyak kayu putih untuk diberikan kepada pak Rahman. Sementara Radit berdiri terpaku di tempatnya.

Keributan di depan rumah itu belum sepenuhnya reda ketika tubuh Pak Rahman sudah terbaring tak sadarkan diri di atas tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Arsy masih berlutut di samping ayahnya, kedua tangannya menggenggam erat tubuh pria yang sejak kecil menjadi dunianya itu.

“Ayah… Ayah dengar Arsy, kan?” panggil Arsy dengan parau. Dadanya naik turun tak beraturan. “Ayah jangan gini, Ayah… tolong…”

Namun Pak Rahman tetap diam. Matanya terpejam. Wajahnya semakin pucat, bahkan bibirnya terlihat kebiruan. Rasa panik mulai menjalar di dada Arsy seperti api yang membakar pelan tapi pasti. Tangannya terlihat gemetar saat memeriksa detak jantung ayahnya. Tapi yang ia rasakan hanya rasa dingin yang perlahan menjalar.

“Kenapa ambulansnya belum datang?” teriak seseorang di antara kerumunan tetangga.

“Sudah ditelepon! Katanya lagi di jalan!” sahut yang lain.

Arsy sudah tidak peduli lagi pada suara-suara itu. Dunia saat itu seperti menyempit hanya berisi dirinya dan ayahnya yang tergeletak lemah. Lalu, di tengah kekacauan itu, Arsy teringat satu hal. Radit.

Dengan napas tersengal, Arsy mengangkat kepalanya. Matanya yang basah langsung menemukan sosok Radit yang masih berdiri tak jauh dari mereka. Lelaki itu berdiri dengan tangan terlipat di dada, ekspresinya datar, seolah semua yang terjadi bukan urusannya. Dan di sampingnya ada Nadira, Sahabat yang dulu sering berbagi suka dan duka bersamanya. Sesuatu di dalam dada Arsy pecah.

Ia bangkit berdiri dengan gerakan kasar, meninggalkan ayahnya yang kini dijaga oleh beberapa tetangga. Langkahnya goyah, tapi kemarahan menopang tubuhnya.

Terpopuler

Comments

Inooy

Inooy

Ya Allah, jauhkan aq dr pria kaya Radit!!!

emosiku naik k ubun2 nih gara2 pria bernama Radit,,kamu bener2 g punya hati Radiiitt..satu suku tuh ama s Nadira, udh tau Radit mo nikah ama Arsy..dengan TIDAK tau malu dn TIDAK merasa bersalah kamu terima Radit jd pacar kamu..sahabat macam mana kamuuu!! 😤
lagian y Diit, klo kamu g mencintai Arsy, datang kek k ayah nya Arsy ngomong baik2 utk tidak meneruskan pernikahan kamuu..ini malah mutusin d depan umum, sembari bawa pacar kamu..yg notabene sahabat nya Arsy,,laki g punya hati ama otak kamu, Diit..udh nyakitin Arsy sedemikian rupaa 😤😡😡🤯

2026-07-22

0

Farida Dalle

Farida Dalle

untung ketahuan sebelum pernikahan, udahlh Arsy, cowok modelan Radit gak usah ditangisi, lelaki kurang ajar dan tak berperasaan, sabar nnti dipertemukan dg jodoh yg baik,yg cinta mati sm kamu

2026-08-09

0

Ade Bunda86

Ade Bunda86

Radit sama Nadira jahat banget ...pasti nantinya GK bakal bahagia..

2026-05-18

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 1
3 Bab 2
4 Bab 3
5 Bab 4
6 Bab 5
7 Bab 6
8 Bab 7
9 Bab 8
10 Bab 9
11 Bab 10
12 Bab 11
13 Bab 12
14 Bab 13
15 Bab 14
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Bab 71
73 Bab 72
74 Bab 73
75 Bab 74
76 Bab 75
77 Bab 76
78 Bab 77
79 Bab 78
80 Bab 79
81 Bab 80
82 Bab 81
83 Bab 82
84 Bab 83
85 Bab 84
86 Bab 85
87 Bab 86
88 Bab 87
89 Bab 88
90 Bab 89
91 Bab 90
92 Bab 91
93 Bab 92
94 Bab 93
95 Bab 94
96 Bab 95
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Bab 99
101 Bab 100
102 Bab 101
103 Bab 102
104 Bab 103
105 Bab 104
106 Bab 105
107 PROMO NOVEL BARU JATUH CINTANYA SEORANG PENDOSA
108 PROMO NOVEL BARU DIBUANG SUAMI DILAMAR PRESDIR TAMPAN
109 PROMO NOVEL BARU ISTRI BAYANGAN TUAN ADHITAMA
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1
3
Bab 2
4
Bab 3
5
Bab 4
6
Bab 5
7
Bab 6
8
Bab 7
9
Bab 8
10
Bab 9
11
Bab 10
12
Bab 11
13
Bab 12
14
Bab 13
15
Bab 14
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Bab 71
73
Bab 72
74
Bab 73
75
Bab 74
76
Bab 75
77
Bab 76
78
Bab 77
79
Bab 78
80
Bab 79
81
Bab 80
82
Bab 81
83
Bab 82
84
Bab 83
85
Bab 84
86
Bab 85
87
Bab 86
88
Bab 87
89
Bab 88
90
Bab 89
91
Bab 90
92
Bab 91
93
Bab 92
94
Bab 93
95
Bab 94
96
Bab 95
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Bab 99
101
Bab 100
102
Bab 101
103
Bab 102
104
Bab 103
105
Bab 104
106
Bab 105
107
PROMO NOVEL BARU JATUH CINTANYA SEORANG PENDOSA
108
PROMO NOVEL BARU DIBUANG SUAMI DILAMAR PRESDIR TAMPAN
109
PROMO NOVEL BARU ISTRI BAYANGAN TUAN ADHITAMA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!