Bab 3

“Apa?” Arsy menatap perawat itu dengan mata membelalak. “Tapi saya anaknya. Saya cuma mau menemani Ayah saya.”

Perawat itu tersenyum tipis dan mencoba untuk tetap bersikap ramah meski situasinya genting.

“Kami perlu ruang dan fokus penuh untuk menangani kondisi beliau. Mohon tunggu di luar.”

“Tapi—” suara Arsy bergetar. “Ayah saya sendirian di dalam.”

“Dokter dan tim medis akan menangani beliau sebaik mungkin,” jawab perawat itu dengan tegas tapi pelan. “Percayakan pada kami.”

Pintu itu mulai ditutup perlahan.

“Ayah!” Arsy tanpa sadar berteriak. Tangannya terulur, seolah ingin meraih ayahnya untuk terakhir kali. “Ayah, Arsy di sini! Ayah jangan takut!”

Namun pintu itu tetap menutup rapat, memisahkan Arsy dari satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Suara pintu yang tertutup itu terdengar begitu jelas di telinga Arsy. Ia berdiri terpaku di depan pintu IGD. Matanya menatap kosong tulisan di pintu itu, seolah berharap tulisan itu bisa memberinya jawaban. Tubuhnya gemetar. Kakinya terasa lemas. Arsy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan mencoba menahan tangis yang kembali naik ke tenggorokan.

“Ya Allah…” bisiknya lirih. “Hamba mohon tolong selamatkan ayahku.”

Di balik pintu itu, suasana jauh dari kata tenang. Pak Rahman terbaring di atas ranjang IGD dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Monitor jantung berbunyi ritmis, tapi nadanya tak stabil. Angka-angka di layar naik turun, membuat dahi para dokter dan perawat berkerut tegang.

“Tekanan darahnya turun,” ucap salah satu perawat.

“Siapkan obat jantung,” sahut dokter dengan suara tegas. “Kita harus cepat.”

Seorang dokter pria paruh baya berdiri di sisi ranjang Pak Rahman. Tangannya dengan cekatan memeriksa respon pupil mata, tekanan darah, dan denyut nadi.

“Serangan jantungnya cukup berat,” kata dokter pada timnya. “Ada indikasi penyumbatan serius.”

“Apakah pasien ini memiliki riwayat penyakit, dokter?” tanya perawat lain.

“Anaknya bilang ada riwayat penyakit jantung,” jawab dokter itu. “Kita stabilkan dulu. Pasang infus tambahan.”

Suara alat-alat medis semakin ramai. Beberapa perawat bergerak cepat, memasang infus, menyiapkan obat, dan mencatat setiap perubahan kecil pada monitor. Wajah Pak Rahman tetap pucat. Dadanya naik turun tidak beraturan. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski ruangan itu terasa dingin oleh pendingin udara.

“Kita harus berusaha secepat mungkin,” ucap dokter itu lagi. “Waktu sangat menentukan.”

Sementara itu, di luar ruang IGD, Arsy mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir di lorong depan IGD. Langkahnya cepat, tak tentu arah. Tangannya saling meremas, sesekali mencengkeram jilbabnya sendiri. Setiap beberapa detik, ia berhenti tepat di depan pintu IGD. Menempelkan telinganya dan berharap bisa mendengar suara ayahnya. Tapi yang terdengar hanya suara samar alat-alat medis dan langkah kaki perawat.

“Ayah…” bisiknya lagi. “Ayah yang kuat, ya. Jangan tinggalkan Arsy sendirian di dunia ini. Arsy hanya punya ayah disini dan Arsy belum siap untuk kehilangan ayah.”

Arsy kembali berjalan mondar-mandir lalu berhenti untuk menatap pintu. Ia mengusap air matanya sebentar lalu berjalan lagi. Waktu terasa berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu menit. Setiap menit terasa seperti satu jam. Arsy duduk sebentar di bangku besi di depan IGD. Namun tak sampai satu menit, ia kembali berdiri. Duduk membuat pikirannya semakin liar.

Bagaimana jika ayahnya tidak bangun lagi?Bagaimana jika ini terakhir kalinya ia mendengar suara ayahnya? Bagaimana jika semua ini benar-benar salahnya?

“Ini salah aku,” gumam Arsy sambil menutup wajah. “Semua ini salah aku.” Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar hebat. “Kalau saja aku lebih cepat mengetahui pengkhianatan yang dilakukan Radit, kalau saja aku bisa dengan cepat menyadari semuanya… Ayah pasti tidak akan mengalami semua ini.”

Pikiran Arsy kemudian melayang ketika ia mengingat wajah ayahnya yang pucat sebelum ambruk. Tatapan ayahnya yang penuh luka dan kecewa. Dan rasa bersalah itu menghantam Arsy bertubi-tubi. Arsy kembali berdiri. Langkahnya semakin cepat, hampir berlari kecil menyusuri lorong pendek itu dan membuat seorang perawat sempat menegurnya.

“Maaf mbak, mohon duduk dan tenang, ya.”

Namun Arsy hanya mengangguk singkat tanpa benar-benar mendengarkan. Kakinya terus bergerak. Jantungnya berdegup tak karuan.

Tak lama kemudian, pintu IGD akhirnya terbuka. Arsy yang sedang berjalan langsung berhenti mendadak. Napasnya tercekat. Matanya membelalak saat melihat seorang dokter keluar dari ruang IGD. Dokter itu melepas masker dari wajahnya. Wajahnya tampak serius, lelah, dan tidak membawa kabar baik.

Arsy langsung berlari kecil menghampirinya.

“Dok… Dokter!” suaranya bergetar. “Ayah saya gimana, Dok? Ayah saya baik-baik aja, kan?”

Dokter itu menatap Arsy beberapa detik. Tatapan itu membuat dada Arsy semakin sesak.

“Kamu keluarga Pak Rahman Syahira?” tanya dokter itu.

“Iya, Dok. Saya anaknya.” jawab Arsy yang membuat dokter itu mengangguk pelan.

“Kondisi ayah kamu saat ini…” dokter itu berhenti sejenak, seperti mencari kata yang tepat. “Masih dalam kondisi kritis.”

Kalimat itu langsung membuat kaki Arsy lemas.

“Kritis…?” Arsy mengulang lirih. “Maksud dokter gimana?”

Dokter itu menarik napas dalam.

“Ayah kamu mengalami serangan jantung yang cukup fatal. Penyumbatannya cukup berat, dan kami sedang berusaha menstabilkan kondisinya.”

Dunia Arsy seperti runtuh seketika. Kata fatal bergema di kepalanya. Berulang-ulang.

“Fatal…” bibirnya bergetar. “Jadi… Ayah saya—”

“Kami masih berusaha semaksimal mungkin,” potong dokter itu cepat. “Tapi kamu harus siap dengan segala kemungkinan.”

Kalimat itu menjadi pukulan terakhir yang membuat Arsy benar-benar hancur. Air matanya jatuh dengan deras. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terhuyung, hampir jatuh jika tidak segera berpegangan pada dinding rumah sakit.

“Ya Allah…” isaknya pecah. “Ayah…”

Tangannya menutup mulut, menahan tangis yang semakin keras. Dadanya terasa sakit. Napasnya pendek-pendek. Di hadapannya, dokter itu berdiri dengan wajah serius dan mencoba untuk menenangkan perasaannya.

"Tolong kuatkan perasaan anda mbak, saat ini kita hanya bisa memasrahkan semuanya kepada sang pencipta. Kalau tidak ada yang mau ditanyakan lagi, saya permisi dulu." Ucap dokter sebelum meninggalkan Arsy untuk menangani pasiennya yang lain.

Pintu ruang IGD itu kembali terbuka dengan bunyi pelan yang nyaris tak terdengar, tapi bagi Arsy, suara itu seperti membuka gerbang menuju kenyataan yang paling ia takuti.

“Silakan, Mbak. Tapi jangan lama-lama,” ucap seorang perawat dengan suara pelan, sambil sedikit membuka pintu dan memberi isyarat agar Arsy masuk.

Arsy mengangguk pelan. Tangannya terlihat gemetar saat menyentuh gagang pintu. Untuk sesaat, ia ragu. Kakinya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk melangkah lebih jauh. Dadanya terasa sesak. Napasnya pendek-pendek. Ia takut. Takut melihat apa yang menunggunya di balik pintu itu.

Namun pada akhirnya, Arsy tetap melangkah masuk.

Terpopuler

Comments

Umi Maryam

Umi Maryam

Radit kamu laki2 gak punya harga diri laki2 pengecut ,kalau emang ga cinta kenapa ga dari awal goblok ,semoga allah balas kekejaman kamu dg cepat ,

2026-05-24

0

Ani

Ani

dasar mereka aja yang gak tau diri.. kalau gak mencintai ya jangan nunggu undangan disebar baru dibatalkan... 😡😡😡😡👊👊👊👊

2026-03-16

0

𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪

𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪

ikutan mewek 😭😭 yakinlah suatu saat mereka berdua yg mengkhianatimu akan dpt karmanya

2026-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 1
3 Bab 2
4 Bab 3
5 Bab 4
6 Bab 5
7 Bab 6
8 Bab 7
9 Bab 8
10 Bab 9
11 Bab 10
12 Bab 11
13 Bab 12
14 Bab 13
15 Bab 14
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Bab 71
73 Bab 72
74 Bab 73
75 Bab 74
76 Bab 75
77 Bab 76
78 Bab 77
79 Bab 78
80 Bab 79
81 Bab 80
82 Bab 81
83 Bab 82
84 Bab 83
85 Bab 84
86 Bab 85
87 Bab 86
88 Bab 87
89 Bab 88
90 Bab 89
91 Bab 90
92 Bab 91
93 Bab 92
94 Bab 93
95 Bab 94
96 Bab 95
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Bab 99
101 Bab 100
102 Bab 101
103 Bab 102
104 Bab 103
105 Bab 104
106 Bab 105
107 PROMO NOVEL BARU JATUH CINTANYA SEORANG PENDOSA
108 PROMO NOVEL BARU DIBUANG SUAMI DILAMAR PRESDIR TAMPAN
109 PROMO NOVEL BARU ISTRI BAYANGAN TUAN ADHITAMA
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1
3
Bab 2
4
Bab 3
5
Bab 4
6
Bab 5
7
Bab 6
8
Bab 7
9
Bab 8
10
Bab 9
11
Bab 10
12
Bab 11
13
Bab 12
14
Bab 13
15
Bab 14
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Bab 71
73
Bab 72
74
Bab 73
75
Bab 74
76
Bab 75
77
Bab 76
78
Bab 77
79
Bab 78
80
Bab 79
81
Bab 80
82
Bab 81
83
Bab 82
84
Bab 83
85
Bab 84
86
Bab 85
87
Bab 86
88
Bab 87
89
Bab 88
90
Bab 89
91
Bab 90
92
Bab 91
93
Bab 92
94
Bab 93
95
Bab 94
96
Bab 95
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Bab 99
101
Bab 100
102
Bab 101
103
Bab 102
104
Bab 103
105
Bab 104
106
Bab 105
107
PROMO NOVEL BARU JATUH CINTANYA SEORANG PENDOSA
108
PROMO NOVEL BARU DIBUANG SUAMI DILAMAR PRESDIR TAMPAN
109
PROMO NOVEL BARU ISTRI BAYANGAN TUAN ADHITAMA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!