Bab 4

Begitu pintu tertutup di belakangnya, dunia Arsy seolah langsung berubah. Suara bising di luar menghilang, digantikan oleh bunyi alat medis yang berdetak monoton.

Bip… bip… bip…

Suara itu terdengar asing, dingin, dan menakutkan. Pandangan Arsy langsung tertuju pada satu sosok di tengah ruangan.

Ayahnya.

Pak Rahman terbaring tak berdaya di atas ranjang IGD. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang Arsy ingat. Wajahnya pucat, nyaris tak berwarna. Selang oksigen terpasang di hidungnya, naik turun mengikuti napas yang tampak berat dan tidak teratur. Di dadanya menempel beberapa elektroda yang tersambung ke monitor jantung. Di satu tangannya terpasang infus. Kabel-kabel dan selang medis menjalar ke berbagai arah, membuat tubuh ayahnya tampak seperti terikat oleh mesin-mesin asing.

Membuat Arsy menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Ayah…” bisiknya nyaris tak bersuara.

Matanya terasa panas. Air mata langsung menggenang, tapi ia memaksa dirinya untuk tidak menangis keras. Dadanya naik turun dengan cepat. Napasnya bergetar. Ia berdiri terpaku di dekat pintu, seolah kakinya kehilangan tenaga untuk berdiri lebih lama.

Ini ayahnya.

Ayah yang selalu terlihat kuat. Ayah yang jarang mengeluh. Ayah yang selalu berdiri paling depan saat hidupnya terasa sulit. Dan sekarang, pria itu terbaring lemah, bergantung pada alat-alat medis hanya untuk bernapas. Arsy melangkah pelan mendekati ranjang itu. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Hatinya sakit. Kepalanya penuh dengan rasa bersalah yang menekan tanpa ampun.

Ia berdiri di sisi ranjang ayahnya. Menatap wajah orang tuanya lebih dekat. Garis-garis kelelahan tampak jelas. Bibir ayahnya sedikit kering. Dahi yang biasanya terasa hangat kini terlihat dingin dan pucat. Dadanya bergerak naik turun pelan, seolah setiap tarikan napas membutuhkan usaha yang besar. Arsy kembali menutup mulutnya, kali ini dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar. Air mata akhirnya jatuh, menetes satu per satu ke lantai putih rumah sakit.

“Ayah…” suaranya pecah. Lirih. Hampir tak terdengar.

Ia mencoba bertahan. Mencoba berdiri. Tapi semakin lama menatap ayahnya, semakin runtuh pertahanannya. Kakinya gemetar hebat. Lututnya terasa lemas. Pandangannya buram oleh air mata.

Dan akhirnya, Arsy tak kuat lagi. Ia jatuh berlutut di samping ranjang ayahnya. Suara lututnya yang menyentuh lantai terdengar pelan, namun cukup untuk mengguncang hatinya sendiri. Tangis yang tadi ditahannya pecah begitu saja. Sesenggukan keluar dari dadanya karena tak bisa dibendung lagi.

Arsy mengulurkan tangannya perlahan, ragu-ragu, seolah takut menyentuh. Namun pada akhirnya, Arsy mengambil satu tangan ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangan itu terasa dingin dan auh lebih dingin dari yang ia ingat. Arsy menggenggamnya dengan kedua tangannya. Jarinya gemetar. Ia menunduk, lalu mencium punggung tangan ayahnya dengan penuh sesenggukan.

“Ayah…” Arsy mencium tangan itu sekali lagi. “Maafin Arsy…”

Tangisnya semakin kencang. Kepalanya menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan ayahnya.

“Maafin Arsy, Yah…” suaranya bergetar hebat. “Arsy nggak bisa jadi anak yang baik untuk ayah, Arsy selalu bikin ayah sedih dan kecewa.”

Air matanya jatuh membasahi tangan ayahnya. Arsy buru-buru mengusapnya, seolah takut air matanya akan menyakiti ayahnya.

“Maafin Arsy, ayah. Arsy nggak kuat lihat keadaan ayah yang seperti ini.” lanjut Arsy dengan terbata-bata. “Arsy nggak sanggup lihat Ayah kayak gini.”

Ingatan-ingatan itu menyerbu Arsy tanpa ampun. Wajah ayahnya yang marah dan kecewa saat mengetahui pengkhianatan Radit. Momen ayahnya yang memegangi dadanya sebelum akhirnya ambruk. Semua itu berputar di kepala Arsy dan membuat rasa bersalahnya semakin menghimpit.

“Kalau Arsy lebih peka dan tahu semua pengkhianatan yang dilakukan Radit, Ayah nggak akan dalam kondisi seperti ini.” Arsy terisak. “Ini salah Arsy, Yah…”

Arsy menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan itu, tapi air matanya terus mengalir.

“Ayah selalu bilang Arsy harus jadi anak yang kuat, anak yang sabar, anak yang nggak gampang nyerah…” Arsy tersenyum getir di sela tangisnya. “Tapi sekarang Arsy nggak kuat, Yah… Arsy takut…”

Tangannya semakin erat menggenggam tangan ayahnya, seolah takut tangan itu akan menghilang jika dilepas.

“Jangan tinggalin Arsy, Yah…” pintanya lirih. “Arsy cuma punya Ayah, Arsy belum siap hidup sendirian…”

Tangis Arsy mereda perlahan, berganti dengan isak yang lebih pelan namun menyayat. Ia mengusap wajahnya, mencoba menarik napas dalam-dalam, meski dadanya masih terasa sesak. Perlahan, Arsy mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap wajah ayahnya lagi.

“Ayah…” suaranya kini lebih pelan dan pasrah. “Kalau selama ini Arsy banyak bikin salah, banyak bikin Ayah sedih, tolong maafin Arsy ya, Yah.” Arsy mengusap punggung tangan ayahnya dengan ibu jarinya, gerakan pelan dan penuh kasih. “Arsy belum bisa jadi anak yang bisa ayah banggakan…” katanya pelan. “Arsy belum bisa balas semua pengorbanan Ayah, dan belum bisa bikin Ayah tenang.”

Air mata kembali jatuh, tapi kali ini Arsy tak lagi berusaha menghapusnya.

“Kalau Ayah masih dikasih waktu sama Allah,” lanjutnya lirih. “Arsy janji bakal berubah… Arsy janji bakal jadi anak yang lebih baik, anak yang lebih nurut dan bisa membahagiakan ayah.” Arsy terdiam sejenak. Dadanya naik turun. Lalu ia menunduk dan masih menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

“Ya Allah… Hamba mohon tolong beri Ayah hamba kesembuhan.” Tangis Arsy kembali pecah, yang kali ini bercampur dengan kepasrahan. “Kalau masih ada umur untuk Ayah…” lanjutnya. “Kalau masih ada kesempatan untuk hamba berbakti, tolong panjangkan usia Ayah hamba.” Arsy mengusap wajahnya dengan punggung tangannya, lalu kembali menunduk.

“Hamba ikhlas, Ya Allah, hamba pasrah.” katanya lirih. “Apa pun keputusan-Mu, tapi tolong beri hamba kekuatan.”

Arsy menempelkan keningnya ke tepi ranjang ayahnya, matanya terpejam. Tangannya masih menggenggam tangan ayahnya erat, seolah doa itu mengalir lewat sentuhan. Di dalam ruang IGD itu, waktu terasa berjalan lambat. Hanya ada suara alat medis, isak tangis Arsy, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan hati yang remuk. Arsy tak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Ia tak tahu apakah esok ia masih bisa mendengar suara ayahnya yang memanggil namanya atau tidak. Tapi satu hal yang ia tahu, di detik itu, ia telah menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.

Dengan cinta, penyesalan dan harapan yang tersisa.

Lorong IGD kembali sunyi setelah doa Arsy perlahan mereda. Di dalam ruangan itu, seorang anak perempuan masih berlutut di sisi ranjang ayahnya, menggenggam tangan yang tak lagi hangat seperti dulu. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, ribuan kilometer dari tempatnya berdiri, takdir sedang bergerak mendekat.

Langit malam di atas awan tampak gelap kebiruan. Sebuah pesawat pribadi membelah udara dengan anggun, stabil, dan nyaris tanpa suara. Di dalam kabin kelas eksekutif yang luas dan mewah itu, suasananya tenang. Lampu temaram menyala lembut. Aroma khas kabin bercampur dengan wangi maskulin mahal yang samar.

Terpopuler

Comments

Titee Hidayah

Titee Hidayah

airmataku nggak berhenti ini /Sob//Sob//Sob/

2026-05-25

0

Khumaira Nur Rahma

Khumaira Nur Rahma

Alhamdulillah akhirnya Syakil muncul juga

2026-02-12

0

Ima Kristina

Ima Kristina

Gak kebayang jika berada diposisi Arsy.....

2026-07-27

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 1
3 Bab 2
4 Bab 3
5 Bab 4
6 Bab 5
7 Bab 6
8 Bab 7
9 Bab 8
10 Bab 9
11 Bab 10
12 Bab 11
13 Bab 12
14 Bab 13
15 Bab 14
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Bab 71
73 Bab 72
74 Bab 73
75 Bab 74
76 Bab 75
77 Bab 76
78 Bab 77
79 Bab 78
80 Bab 79
81 Bab 80
82 Bab 81
83 Bab 82
84 Bab 83
85 Bab 84
86 Bab 85
87 Bab 86
88 Bab 87
89 Bab 88
90 Bab 89
91 Bab 90
92 Bab 91
93 Bab 92
94 Bab 93
95 Bab 94
96 Bab 95
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Bab 99
101 Bab 100
102 Bab 101
103 Bab 102
104 Bab 103
105 Bab 104
106 Bab 105
107 PROMO NOVEL BARU JATUH CINTANYA SEORANG PENDOSA
108 PROMO NOVEL BARU DIBUANG SUAMI DILAMAR PRESDIR TAMPAN
109 PROMO NOVEL BARU ISTRI BAYANGAN TUAN ADHITAMA
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1
3
Bab 2
4
Bab 3
5
Bab 4
6
Bab 5
7
Bab 6
8
Bab 7
9
Bab 8
10
Bab 9
11
Bab 10
12
Bab 11
13
Bab 12
14
Bab 13
15
Bab 14
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Bab 71
73
Bab 72
74
Bab 73
75
Bab 74
76
Bab 75
77
Bab 76
78
Bab 77
79
Bab 78
80
Bab 79
81
Bab 80
82
Bab 81
83
Bab 82
84
Bab 83
85
Bab 84
86
Bab 85
87
Bab 86
88
Bab 87
89
Bab 88
90
Bab 89
91
Bab 90
92
Bab 91
93
Bab 92
94
Bab 93
95
Bab 94
96
Bab 95
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Bab 99
101
Bab 100
102
Bab 101
103
Bab 102
104
Bab 103
105
Bab 104
106
Bab 105
107
PROMO NOVEL BARU JATUH CINTANYA SEORANG PENDOSA
108
PROMO NOVEL BARU DIBUANG SUAMI DILAMAR PRESDIR TAMPAN
109
PROMO NOVEL BARU ISTRI BAYANGAN TUAN ADHITAMA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!