Embun dan Tawa yang Hilang

Desa Sukamaju, 15 Tahun Lalu.

​Pukul lima pagi di desa bukan hanya tentang jam, tapi tentang suara. Suara ayam jantan yang saling bersahutan, debu jalanan yang masih lembap oleh embun, dan... suara kerikil yang menghantam kaca jendela.

​Tuk. Tuk.

​Kyra tersentak dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia mengerang pelan, menarik selimut tipisnya sampai ke telinga. Namun, suara itu tidak berhenti.

​Tuk. Tuk. PRANG!

​"Aduh!" Sebuah suara pekikan tertahan terdengar dari luar.

​Kyra segera menyibakkan kelambu dan membuka jendela kayunya dengan kasar. Di bawah sana, di remang subuh yang masih berkabut, Juno berdiri dengan wajah meringis sambil memegang dahi. Di tangan kirinya ada ketapel, dan di tangan kanannya ada kantong plastik hitam.

​"Kamu gila ya?!" bisik Kyra setengah berteriak. "Kalau kena kaca gimana?"

​"Eh, Anak Kota sudah bangun!" Juno langsung nyengir lebar, mengabaikan dahinya yang memerah. "Lagian kamu lama banget. Aku sudah lumutan di sini nungguin kamu. Buruan turun, keburu mataharinya malu-malu terus sembunyi lagi."

​"Aku nggak mau ikut," tolak Kyra ketus. "Ini masih gelap, Juno."

​"Nggak ada alasan! Cepat turun atau aku panjat pohon mangga ini terus masuk lewat jendela!" ancam Juno dengan nada yang terdengar sangat meyakinkan.

​Kyra mendengus kesal, namun ia tetap meraih jaket rajutnya. Ia tahu, berdebat dengan Juno adalah kesia-siaan. Laki-laki itu punya stok energi yang lebih banyak daripada stok logikanya.

​Kyra berjalan mengekor di belakang Juno. Jalanan setapak itu dikelilingi rimbunnya pohon bambu yang bergoyang tertiup angin pagi. Kyra berjalan dengan sangat hati-hati, memegangi ujung jaketnya agar tidak terkena semak belukar.

​"Juno, pelan-pelan... kakiku sakit," keluh Kyra saat kakinya yang terbiasa di atas lantai marmer harus menanjak gundukan tanah.

​Juno berhenti, berbalik, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Lemah banget sih. Sini, pegang tanganku."

​Juno mengulurkan tangannya yang kasar. Kyra ragu sejenak, namun saat ia hampir tergelincir, ia refleks menyambar lengan Juno. Tangan itu terasa panas, kontras dengan udara subuh yang menggigit.

​"Nah, gitu dong. Jangan dilepas, nanti kamu nyemplung ke parit, ribet aku nolonginnya," ucap Juno santai, namun ia menggenggam jemari Kyra dengan mantap, menuntunnya melewati jalan setapak.

​Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, suara gemericik air mulai terdengar. Juno menyingkap semak belukar yang tinggi dengan satu tangan.

​"Tadaaa! Selamat datang di Kerajaan Juno!"

​Kyra terpaku. Di depannya membentang sungai kecil dengan air seputih kristal yang mengalir tenang di atas batu-batu kali yang licin. Di ufuk timur, semburat cahaya keemasan mulai membelah langit biru tua, memantul di permukaan air yang bergoyang pelan.

​"Bagus kan?" tanya Juno, matanya menatap Kyra, bukan menatap pemandangan itu. "Lebih bagus dari mal di Jakarta, kan?"

​Kyra tidak menjawab. Ia hanya berjalan perlahan menuju tepi sungai, terpesona oleh kejernihan airnya. "Ini... bersih banget."

​"Bersihlah! Aku yang jaga. Kalau ada yang berani kencing di sini, langsung aku ketapel anunya!" celetuk Juno asal bunyi.

​Kyra refleks menoleh dengan wajah memerah. "Juno! Jorok banget sih!"

​"Hahaha! Becanda, Ra. Sini, lepas sepatumu. Rasain airnya," Juno sudah lebih dulu melepas sandal jepitnya dan masuk ke air yang setinggi betis. "Segerrr banget! Kayak minum es kelapa siang-sehari!"

​Kyra menggeleng ragu. "Dingin, Juno. Nanti aku masuk angin."

​"Aelah, baru juga air sungai, bukan air es. Sini! Kalau nggak mau, aku tarik ya?"

​"Jangan!" Kyra mundur, tapi Juno sudah lebih dulu menyentakkan air dengan kakinya.

​Byurr!

​Air dingin mengenai wajah dan baju Kyra. Kyra tersentak, napasnya tertahan karena kaget. "Juno! Basah tahu! Ini jaket kesukaanku!"

​"Hahaha! Biarin! Biar kamu nggak kayak patung lilin terus. Nih, rasain lagi!" Juno kembali mencipratkan air menggunakan telapak tangannya dengan semangat.

​"Juno, berhenti! Aku balas ya!" Kyra yang awalnya kesal, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang meledak di dadanya. Rasa sesak yang ia bawa dari Jakarta seolah terangkat. Ia melepas sepatunya, melemparnya ke rumput, dan langsung terjun ke sungai.

​Byurr! Byurr!

​"Ambil ini! Rasakan pembalasanku!" teriak Kyra. Ia mencipratkan air sekuat tenaga ke arah Juno.

​"Waduh! Anak Kota mengamuk! Ampun, Gusti!" Juno tertawa sambil mencoba menghindar, namun ia sengaja membiarkan dirinya terkena air agar Kyra terus menyerangnya.

​Di sanalah, di tengah aliran sungai yang sejuk, Kyra akhirnya melepaskan segalanya. Ia tertawa. Tawa yang sangat keras, lepas, dan murni. Ia tertawa sampai perutnya sakit dan matanya menyipit.

​Juno mendadak berhenti bergerak. Ia berdiri mematung di tengah sungai, membiarkan bajunya basah kuyup. Ia menatap Kyra yang sedang tertawa sambil menyeka air di wajahnya.

​Dalam cahaya pagi yang keemasan, dengan rambut yang berantakan dan tawa yang begitu merdu, Kyra terlihat luar biasa cantik. Juno merasa jantungnya berdegup dengan irama yang sangat aneh. Lebih kencang daripada saat ia lari dikejar anjing tetangga.

​"Kenapa diam?" tanya Kyra, masih dengan sisa tawanya. "Takut ya?"

​Juno menelan ludah. Ia menatap mata Kyra yang kini akhirnya kembali memiliki binar kehidupan.

​"Ra..." suara Juno mendadak rendah.

​"Kenapa?"

​"Ternyata kalau kamu ketawa... dunia jadi nggak membosankan ya," gumam Juno jujur. "Cantik. Kamu cantik banget kalau begini."

​Pipi Kyra merona, kali ini bukan karena dingin, tapi karena tatapan Juno yang begitu intens. Ia menunduk, memainkan air dengan kakinya. "Gombal."

​"Nggak gombal! Sumpah demi ketapel kesayanganku!" Juno mengangkat dua jarinya. "Mulai sekarang, aku nggak mau liat kamu sedih lagi. Kalau kamu mau nangis, bilang aku. Biar aku yang bikin kamu ketawa lagi. Kayak tadi."

​Kyra menatap Juno, laki-laki desa yang berisik dan konyol itu, yang baru saja memberikan hal yang tidak bisa diberikan ayahnya maupun kakaknya: ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

​"Makasih ya, Juno," bisik Kyra tulus.

​"Sama-sama, Anak Kota. Tapi sekarang... ayo naik! Sebelum kamu beneran biru-biru gara-gara kedinginan!" Juno menarik tangan Kyra kembali ke daratan, membawa seberkas cahaya matahari yang mulai menghangatkan hati mereka berdua.

Episodes
1 Gelas yang Retak
2 Malaikat Berkaos Kusam
3 Embun dan Tawa yang Hilang
4 Tempe Tepung dan Jeritan di Balik Pintu
5 Warna yang Terbeli oleh Peluh
6 Darah Suci dan Petualangan di Bukit
7 Lencana OSIS dan Sepeda Ontel
8 Satria FU dan Pengakuan yang Terdesak
9 Kanvas, Keringat, dan Janji yang Dewasa
10 Cokelat yang Meleleh dan Sangkar Jakarta
11 Luka yang Salah Alamat
12 Sang Penjaga di Balik Bayangan
13 Bukan Sekadar Hiasan 21+
14 Sisa Merah dan Harga Sebuah Nyawa
15 Komoditas di Mata Predator
16 Perdagangan di Ruang VIP
17 Menghapus Jejak Najis
18 Runtuhnya Kerajaan Pasir
19 Kanvas Cinta dan Kebohongan yang Runtuh
20 Tamu dari Masa Lalu
21 Di Bawah Langit yang Sama
22 Sang Pewaris Palsu dan Permata Safir
23 Aroma Kesetiaan dan Minyak Angin
24 Mahkota untuk Sang Penyintas
25 Puing-Puing Sagara dan Sumpah Berdarah
26 Ketapel Kayu dan Air Mata Ibu
27 Cincin Safir dan Tawa yang Kembali
28 Kehancuran di Changi dan Malam Tanpa Akhir 21+
29 Mahkota di Atas Puing-Puing Keangkuhan 21+
30 Pagi Pertama di Istana Allegra
31 Rahasia di Balik Kanvas
32 Galeri Rahasia dan Fitnah di Karpet Merah
33 Hadiah di Atas Bara Dendam
34 Pelarian ke Surga Biru
35 Rahasia Rahim
36 Kabar Surgawi dari Samudra
37 Pasir Pantai dan Perintah Kematian
38 Sumpah Ketapel dan Pesta Sang Pewaris
39 Darah, Air Mata, dan Semangkuk Bakso
40 Kembalinya Sepasang Legenda Sukamaju
41 Mandi di Sungai dan Nostalgia Masa Kecil
42 Batas Kesabaran sang Allegra
43 Seragam Otoritas dan Rujak Pedas
44 Kesaksian Sang Ratu dan Histeria di Balik Jeruji
45 Tangisan di Ruang Gelap dan Istana Kecil Sang Pewaris
46 Cemburu pada Perut Sendiri
47 Tamu dari Negeri Kabut
48 Benteng Allegra dan Sabotase yang Gagal
49 Antara Sirine dan Tangisan Pertama
50 Ketapel Warisan dan Cinta di Rumah Kaca
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Gelas yang Retak
2
Malaikat Berkaos Kusam
3
Embun dan Tawa yang Hilang
4
Tempe Tepung dan Jeritan di Balik Pintu
5
Warna yang Terbeli oleh Peluh
6
Darah Suci dan Petualangan di Bukit
7
Lencana OSIS dan Sepeda Ontel
8
Satria FU dan Pengakuan yang Terdesak
9
Kanvas, Keringat, dan Janji yang Dewasa
10
Cokelat yang Meleleh dan Sangkar Jakarta
11
Luka yang Salah Alamat
12
Sang Penjaga di Balik Bayangan
13
Bukan Sekadar Hiasan 21+
14
Sisa Merah dan Harga Sebuah Nyawa
15
Komoditas di Mata Predator
16
Perdagangan di Ruang VIP
17
Menghapus Jejak Najis
18
Runtuhnya Kerajaan Pasir
19
Kanvas Cinta dan Kebohongan yang Runtuh
20
Tamu dari Masa Lalu
21
Di Bawah Langit yang Sama
22
Sang Pewaris Palsu dan Permata Safir
23
Aroma Kesetiaan dan Minyak Angin
24
Mahkota untuk Sang Penyintas
25
Puing-Puing Sagara dan Sumpah Berdarah
26
Ketapel Kayu dan Air Mata Ibu
27
Cincin Safir dan Tawa yang Kembali
28
Kehancuran di Changi dan Malam Tanpa Akhir 21+
29
Mahkota di Atas Puing-Puing Keangkuhan 21+
30
Pagi Pertama di Istana Allegra
31
Rahasia di Balik Kanvas
32
Galeri Rahasia dan Fitnah di Karpet Merah
33
Hadiah di Atas Bara Dendam
34
Pelarian ke Surga Biru
35
Rahasia Rahim
36
Kabar Surgawi dari Samudra
37
Pasir Pantai dan Perintah Kematian
38
Sumpah Ketapel dan Pesta Sang Pewaris
39
Darah, Air Mata, dan Semangkuk Bakso
40
Kembalinya Sepasang Legenda Sukamaju
41
Mandi di Sungai dan Nostalgia Masa Kecil
42
Batas Kesabaran sang Allegra
43
Seragam Otoritas dan Rujak Pedas
44
Kesaksian Sang Ratu dan Histeria di Balik Jeruji
45
Tangisan di Ruang Gelap dan Istana Kecil Sang Pewaris
46
Cemburu pada Perut Sendiri
47
Tamu dari Negeri Kabut
48
Benteng Allegra dan Sabotase yang Gagal
49
Antara Sirine dan Tangisan Pertama
50
Ketapel Warisan dan Cinta di Rumah Kaca

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!