Warna yang Terbeli oleh Peluh

Pagi itu, Kyra duduk bersila di bawah pohon mangga di halaman samping rumahnya. Di pangkuannya ada sebuah buku gambar tua yang kertasnya sudah mulai menguning. Tangannya bergerak lincah, menggoreskan pensil 2B yang sudah pendek. Ia sedang menggambar siluet barisan pohon bambu yang bergoyang di pinggir sungai.

​"Wuih... itu pohon bambu atau rambut raksasa, Ra? Bagus amat!"

​Suara cempreng itu muncul bersamaan dengan kepala Juno yang melongok dari balik pagar. Ia langsung melompat masuk—seperti biasa—dan duduk di samping Kyra tanpa diundang.

​Kyra sedikit menutup bukunya, malu. "Cuma sketsa pensil. Belum selesai."

​"Bagus kok! Detailnya dapet banget. Kenapa nggak dikasih warna? Pakai cat air yang waktu itu kamu bawa dari kota," tanya Juno sambil mencoba mengintip halaman berikutnya.

​Kyra menunduk, jarinya meraba kotak cat air di sampingnya yang terbuka. Semua wadahnya sudah kering, menyisakan sisa-sisa warna yang pecah. "Habis, Jun. Lagian aku nggak punya uang buat beli yang baru. Ibu... lagi nggak bisa dimintai uang."

​Juno terdiam sejenak. Ia melihat gairah di mata Kyra saat memegang pensil, dan ia benci melihat binar itu meredup hanya karena masalah cat.

​"Ikut aku!" Juno tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Kyra.

​"Ke mana lagi?"

​"Ke toko Om-ku, Mang Ujang. Dia jualan alat tulis sama kebutuhan sekolah di pasar desa. Ayo!"

​Toko Mang Ujang bau harum kertas baru dan aroma kopi hitam. Di salah satu raknya, ada beberapa kotak cat air merk standar. Mata Kyra berbinar melihatnya, namun ia segera menunduk saat melihat label harganya. Bagi Kyra yang sekarang, uang segitu pun terasa sangat jauh.

​"Mang, ada cat air yang paling bagus nggak?" tanya Juno lantang.

​"Ada, Jun. Tapi mahal itu. Kamu emang punya duit?" Mang Ujang curiga.

​Juno nyengir, lalu membisikkan sesuatu ke telinga paman itu. Mang Ujang sempat menggeleng, tapi setelah melihat Kyra yang berdiri lesu di belakang Juno, ia akhirnya menghela napas.

​"Ya sudah. Tapi kalian harus bantu bungkusin snack kiloan buat pesanan hajatan sore ini. Seribu bungkus. Sanggup?"

​"Sanggup banget, Mang! Kyra ini tangannya lincah, biasa pake kuas!" seru Juno semangat.

​Selama tiga jam berikutnya, Kyra dan Juno duduk di gudang belakang toko. Tugas mereka adalah memasukkan kerupuk pedas dan kacang bawang ke dalam plastik kecil, lalu membakarnya dengan lilin agar rapat.

​Kyra awalnya kikuk, tangannya panas terkena uap lilin. Namun Juno selalu menghiburnya. Ia membuat boneka dari plastik snack atau pura-pura tersedak kerupuk hanya untuk membuat Kyra tersenyum. Peluh bercucuran di dahi mereka, tapi Kyra merasa lebih hidup saat bekerja demi sesuatu yang ia cintai.

​"Nih, hadiah buat kerja keras hari ini!" Mang Ujang menyerahkan satu kotak cat air baru dan dua buah kuas.

​Kyra menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Mang."

​Sore harinya, di bawah langit yang mulai berwarna ungu, Kyra meminta Juno duduk di atas bangku kayu tua.

​"Jangan gerak ya, Jun. Aku mau coba cat air barunya," ucap Kyra serius.

​Juno berusaha duduk tegak, dadanya dibusungkan, wajahnya dibuat-buat setampan mungkin. Namun baru lima menit, ia sudah pegal. "Ra, masih lama nggak? Hidungku gatal, mau bersin!"

​"Tahan! Sedikit lagi," Kyra tertawa melihat ekspresi Juno yang tersiksa.

​Kyra mulai menyapukan warna. Ia menggunakan warna biru untuk baju kusam Juno, cokelat keemasan untuk kulitnya yang terbakar matahari, dan sedikit warna jingga di bagian mata untuk menggambarkan keceriaan Juno.

​Setelah satu jam, Kyra memutar kanvas kertasnya. "Selesai."

​Juno terpana. Di kertas itu, ia tidak terlihat seperti anak desa yang berantakan. Ia terlihat... gagah, hangat, dan hidup. "Wah... ini beneran aku? Ganteng juga ya aku kalau jadi lukisan."

​Juno menatap lukisan itu dengan sayang. Ia ingin memilikinya. Ia ingin menyimpan bukti bahwa Kyra melihatnya dengan cara seindah itu.

​"Ra... lukisan ini buat aku ya?"

​"Eh? Tapi kan..."

​"Aku mau beli!" Juno merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah benda kayu yang sudah sangat halus karena sering digenggam. Ketapel kesayangannya. Ketapel yang selalu ia banggakan, yang ia gunakan untuk melindunginya dari "hantu sawah".

​"Nih. Tukeran sama ketapelku. Ini harta paling berhargaku. Kalau kamu bawa ini, nggak akan ada yang berani gangguin kamu di desa ini," ucap Juno dengan wajah sangat serius.

​Kyra menatap ketapel itu, lalu menatap Juno. Di dunia Juno yang sederhana, ketapel itu adalah segalanya. Dan dia memberikannya hanya untuk sebuah lukisan di atas kertas murah.

​"Oke," Kyra tersenyum manis, menerima ketapel itu. "Deal."

​Juno memeluk lukisan itu seolah itu adalah benda paling mahal di dunia. "Janji ya, Ra. Suatu saat nanti, lukisanmu bakal ada di gedung-gedung besar. Tapi yang ini... yang ini punya Juno selamanya."

​Kyra mengangguk, tidak tahu bahwa belasan tahun kemudian, lukisan itu memang akan tersimpan di brankas baja milik seorang milyarder, sementara ia sendiri terjebak di rumah tangga yang hampa.

Episodes
1 Gelas yang Retak
2 Malaikat Berkaos Kusam
3 Embun dan Tawa yang Hilang
4 Tempe Tepung dan Jeritan di Balik Pintu
5 Warna yang Terbeli oleh Peluh
6 Darah Suci dan Petualangan di Bukit
7 Lencana OSIS dan Sepeda Ontel
8 Satria FU dan Pengakuan yang Terdesak
9 Kanvas, Keringat, dan Janji yang Dewasa
10 Cokelat yang Meleleh dan Sangkar Jakarta
11 Luka yang Salah Alamat
12 Sang Penjaga di Balik Bayangan
13 Bukan Sekadar Hiasan 21+
14 Sisa Merah dan Harga Sebuah Nyawa
15 Komoditas di Mata Predator
16 Perdagangan di Ruang VIP
17 Menghapus Jejak Najis
18 Runtuhnya Kerajaan Pasir
19 Kanvas Cinta dan Kebohongan yang Runtuh
20 Tamu dari Masa Lalu
21 Di Bawah Langit yang Sama
22 Sang Pewaris Palsu dan Permata Safir
23 Aroma Kesetiaan dan Minyak Angin
24 Mahkota untuk Sang Penyintas
25 Puing-Puing Sagara dan Sumpah Berdarah
26 Ketapel Kayu dan Air Mata Ibu
27 Cincin Safir dan Tawa yang Kembali
28 Kehancuran di Changi dan Malam Tanpa Akhir 21+
29 Mahkota di Atas Puing-Puing Keangkuhan 21+
30 Pagi Pertama di Istana Allegra
31 Rahasia di Balik Kanvas
32 Galeri Rahasia dan Fitnah di Karpet Merah
33 Hadiah di Atas Bara Dendam
34 Pelarian ke Surga Biru
35 Rahasia Rahim
36 Kabar Surgawi dari Samudra
37 Pasir Pantai dan Perintah Kematian
38 Sumpah Ketapel dan Pesta Sang Pewaris
39 Darah, Air Mata, dan Semangkuk Bakso
40 Kembalinya Sepasang Legenda Sukamaju
41 Mandi di Sungai dan Nostalgia Masa Kecil
42 Batas Kesabaran sang Allegra
43 Seragam Otoritas dan Rujak Pedas
44 Kesaksian Sang Ratu dan Histeria di Balik Jeruji
45 Tangisan di Ruang Gelap dan Istana Kecil Sang Pewaris
46 Cemburu pada Perut Sendiri
47 Tamu dari Negeri Kabut
48 Benteng Allegra dan Sabotase yang Gagal
49 Antara Sirine dan Tangisan Pertama
50 Ketapel Warisan dan Cinta di Rumah Kaca
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Gelas yang Retak
2
Malaikat Berkaos Kusam
3
Embun dan Tawa yang Hilang
4
Tempe Tepung dan Jeritan di Balik Pintu
5
Warna yang Terbeli oleh Peluh
6
Darah Suci dan Petualangan di Bukit
7
Lencana OSIS dan Sepeda Ontel
8
Satria FU dan Pengakuan yang Terdesak
9
Kanvas, Keringat, dan Janji yang Dewasa
10
Cokelat yang Meleleh dan Sangkar Jakarta
11
Luka yang Salah Alamat
12
Sang Penjaga di Balik Bayangan
13
Bukan Sekadar Hiasan 21+
14
Sisa Merah dan Harga Sebuah Nyawa
15
Komoditas di Mata Predator
16
Perdagangan di Ruang VIP
17
Menghapus Jejak Najis
18
Runtuhnya Kerajaan Pasir
19
Kanvas Cinta dan Kebohongan yang Runtuh
20
Tamu dari Masa Lalu
21
Di Bawah Langit yang Sama
22
Sang Pewaris Palsu dan Permata Safir
23
Aroma Kesetiaan dan Minyak Angin
24
Mahkota untuk Sang Penyintas
25
Puing-Puing Sagara dan Sumpah Berdarah
26
Ketapel Kayu dan Air Mata Ibu
27
Cincin Safir dan Tawa yang Kembali
28
Kehancuran di Changi dan Malam Tanpa Akhir 21+
29
Mahkota di Atas Puing-Puing Keangkuhan 21+
30
Pagi Pertama di Istana Allegra
31
Rahasia di Balik Kanvas
32
Galeri Rahasia dan Fitnah di Karpet Merah
33
Hadiah di Atas Bara Dendam
34
Pelarian ke Surga Biru
35
Rahasia Rahim
36
Kabar Surgawi dari Samudra
37
Pasir Pantai dan Perintah Kematian
38
Sumpah Ketapel dan Pesta Sang Pewaris
39
Darah, Air Mata, dan Semangkuk Bakso
40
Kembalinya Sepasang Legenda Sukamaju
41
Mandi di Sungai dan Nostalgia Masa Kecil
42
Batas Kesabaran sang Allegra
43
Seragam Otoritas dan Rujak Pedas
44
Kesaksian Sang Ratu dan Histeria di Balik Jeruji
45
Tangisan di Ruang Gelap dan Istana Kecil Sang Pewaris
46
Cemburu pada Perut Sendiri
47
Tamu dari Negeri Kabut
48
Benteng Allegra dan Sabotase yang Gagal
49
Antara Sirine dan Tangisan Pertama
50
Ketapel Warisan dan Cinta di Rumah Kaca

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!