BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan

Kamu Yuan tidak bodoh. Setelah menghajar Wang Hu dan anjing-anjingnya, dia tidak kembali ke gubuk penjaga di tepi lembah. Tempat itu terlalu terbuka.

Dia menyeret tubuhnya yang lelah namun penuh adrenalin ke bagian dalam Lembah Kuburan Senjata, ke sebuah gua alami yang tersembunyi di balik air terjun kecil yang tercemar karat. Di sini dia akan memeriksa “hadiah” yang ditinggalkan musuh-musuhnya.

Di dalam gua yang lembap, diterangi oleh jamur lumut yang berpendar redup, Ye Yuan duduk bersila. Di hadapannya terbentang tiga kantong kain kusam. Itu adalah Kantong Penyimpanan (Storage Bag) tingkat rendah milik Wang Hu dan dua kacungnya.

"Mari kita lihat seberapa kaya anjing peliharaan Li Feng," gumam Ye Yuan.

Dia membuka kantong milik dua murid kacung terlebih dahulu. Isinya mengecewakan. Hanya ada beberapa keping emas—yang tidak berguna bagi pemiliknya—dan roti kering yang sudah keras. Namun, di kantong Wang Hu, mata Ye Yuan berbinar.

"Lima Batu Roh tingkat rendah, satu botol Pil Penyembuh Luka, dan... sebuah buku teknik bela diri dasar?"

Batu Roh adalah mata uang sekaligus sumber energi bagi yang kuat. Bagi murid luar miskin seperti Ye Yuan, mendapatkan satu batu saja butuh kerja keras tiga bulan. Lima batu adalah kekayaan kecil!

Tanpa membuang waktu, Ye Yuan meminum satu butir Pil Penyembuh Luka. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, meredakan nyeri di otot-ototnya yang dipaksa bekerja melebihi batas tadi.

Selanjutnya, dia mengambil satu Batu Roh. Batu itu seukuran jempol, berwarna putih susu dan memancarkan pendaran lembut.

"DenganSutra Hati Pedang Asura, seberapa cepat aku bisa menyerap ini?"

Ye Yuan memejamkan mata. Dia mengaktifkan teknik pernapasannya.

Wuuush!

Jika murid biasa menyerap energi Batu Roh seperti meminum air dengan sedotan, Ye Yuan menyerapnya seperti jeda menelan lautan. Pusaran hitam di Dantian-nya berputar gila-gilaan. Batu Roh di tangannya bergetar, lalu direbut kembali, dan akhirnya hancur menjadi debu putih hanya dalam waktu lima menit!

Ye Yuan membuka matanya, terkejut. "Lima menit?! Biasanya butuh satu malam penuh untuk menyerap satu batu!"

Efisiensi teknikAsuraini mengerikan. Energi murni itu langsung konversi menjadi Qi tajam yang memperkuat fondasi Ranah Pengumpulan Qi Tingkat miliknya Empat.

Ye Yuan melirik pedang tepat di sebelahnya. Pedang itu tampak diam, tetapi Ye Yuan bisa merasakan “kepuasan” samar darinya. Pedang itu telah meminum darah Wang Hu, dan sebaliknya, ia memberikan pemahaman pertarungan yang lebih tajam kepada Ye Yuan.

"Kau lapar, kan?" Ye Yuan mengelus bilah pisau kasar itu. "Tenang saja. Satu bulan lagi adalah Ujian Sekte Luar. Akan ada banyak darahmu di sana."

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, suasana di kediaman mewah Li Feng jauh dari kata tenang.

MALA!

Sebuah vas bunga porselen mahal hancur berkeping-keping di lantai. Li Feng berdiri dengan wajah merah padam, dadanya naik turun menahan amarah.

Di depannya, dua murid Kacung tergeletak dengan tubuh gemetar. Di saat darurat di belakang mereka, Wang Hu terbaring pingsan dengan bahu yang hancur total dan wajah yang bengkak tak berbentuk.

"Kalian bilang..." suara Li Feng rendah tapi berbahaya, "Si Sampah Ye Yuan... yang melakukan ini?"

B-benar, Tuan Muda Li! salah satu kacung menjawab terbata-bata, tidak berani mengangkat wajah. "Dia...dia seperti setan! Kekuatannya tiba-tiba melonjak! Dia mematahkan pedang besi kami dengan tangan kosong! Dia pasti sudah mencapai Tingkat Empat!"

"Tingkat Empat? Mustahil!" Li Feng menendang meja di depannya hingga terbalik. "Halaman ini batu penguji menunjukkan dia nol besar! Bagaimana mungkin sampah tanpa Dantian bisa melompat ke Tingkat Empat dalam setengah hari?! Apa kalian sedang mengarang cerita karena gagal menjalankan tugas?!"

"Sumpah demi Langit, Tuan Muda! Kami tidak berbohong! Matanya... matanya bersinar ungu! Dan dia menggunakan pedang patah berkarat yang sangat berat!"

Li Feng membayangkannya. Dia menatap Wang Hu yang sedang mendesah. Luka di bahu Wang Hu sangat mengerikan—tulang selangkanya hancur menjadi bubuk, seolah dipukul oleh palu raksasa, bukan ditebas pedang.

Hanya seseorang dengan kekuatan fisik monster yang bisa melakukan ini.

Otak licik Li Feng mulai berputar. Jika Ye Yuan benar-benar menyembunyikan kekuatannya selama ini, maka dia berbahaya. Jika sekte tahu ada murid yang bisa melompat ke Tingkat Empat dalam sehari, para Tetua pasti akan berebut mengangkatnya menjadi murid.

"Tidak... dia tidak boleh bangkit," desis Li Feng. "Ayahku sudah mengatur agar dia dibuang. Jika dia kembali dan bersinar, ayah posisiku dan aku akan terancam."

Li Feng menoleh ke arah pelayan pribadinya yang berdiri di sudut ruangan, seorang pria tua bungkuk dengan licik.

"Paman Gui, haruskah aku mengirim pembunuh bayaran malam ini?" tanya Li Feng.

Pria tua itu menggeleng pelan. "Jangan, Tuan Muda. Wang Hu sudah gagal. Jika Ye Yuan mati misterius malam ini, kualitasnya akan mengarah langsung ke Anda. Sekte melarang pembunuhan sesama murid di luar arena."

"Lalu aku harus membiarkan sampah itu hidup?!"

"Hanya sebentar," Paman Gui tersenyum, menampilkan gigi kuningnya. "Satu bulan lagi adalahUjian Hidup-Mati Tahunan. Di sana, semua murid luar wajib bertarung untuk memperebutkan posisi murid dalam. Di atas panggung itu... kematian adalah hal yang lumrah. Kecelakaan bisa terjadi."

Mata Li Feng berbinar tajam. "Benar. Di panggung resmi, aku bisa membunuh dengan dijanjikan sendiri di depan semua orang. Aku akan menghancurkan tulang-tulangnya satu per satu."

Li Feng melemparkan kantong koin ke arah dua kacung yang masih tergeletak. "Bawa Wang Hu ke tabib. Pastikan dia menutup mulut. Dan sebarkan berita ke seluruh sekte..."

Li Feng .

"Katakan bahwa Ye Yuan telah menemukan teknik iblis sesat dan menjadi gila di Lembah Kuburan Senjata. Buat semua orang membencinya sebelum dia bahkan naik ke panggung."

Kembali di gua lembap.

Ye Yuan bersin tiba-tiba. Dia menggosok hidungnya. "Pasti ada yang membicarakanku."

Dia tidak peduli. Fokusnya sekarang hanya satu: Menjadi lebih kuat.

Batu Roh sudah habis. Pil sudah ditelan. Sekarang, dia harus mengandalkan sumber daya utama di tempat ini: Ribuan pedang rusak.

Ye Yuan berdiri sambil memegang pedang patahnya. Dia berjalan keluar gua, menuju tumpukan pedang tua yang paling padat aura besinya.

"Sutra Hati Pedang Asura, Tahap Satu: Tubuh Baja," gumamnya.

Dia menusukkan pedang patahnya ke tanah.

Ye Yuan mulai berlatih. Bukan pengamatan diam, tapi latihan fisik. Dia mengayunkan pedang seberat lima puluh kilogram itu ribuan kali.

Satu.Keringat mendengarkan.

Seratus meristem.Otot menjerit.

Seribu.Telapak tangannya melepuh, pecah, lalu sembuh kembali oleh pedang energi.

Setiap kali dia mengayun, pedang patah itu menyedot sedikit "sari pati" dari pedang-pedang rongsokan di sekitarnya. Karat di pedang-pedang lain bertambah tebal, sementara pedang di tangan Ye Yuan semakin hitam pekat dan berkilau dingin.

Malam itu, Lembah Kuburan Senjata tidak tidur. Suara deru angin dari tebasan pedang Ye Yuan menjadi lagu pengantar tidur bagi para pedang hantu.

Satu bulan lagi.

Ye Yuan bersumpah, saat dia keluar dari lembah ini, dia tidak akan lagi menjadi "sampah". Dia akan menjadi mimpi buruk bagi mereka yang pernah mencapainya.

[Bersambung ke Bab 4]

Poin Ringkas Bab Ini:

Penjarahan:Ye Yuan dapat 5 Batu Roh (sumber daya penting) dan menyadari kecepatan pukulannya yang tidak wajar.

Intrik Musuh:Li Feng tidak langsung menyerang lagi, tapi merencanakan pembunuhan "legal" di turnamen sekte bulan depan.

Terpopuler

Comments

Aman Wijaya

Aman Wijaya

awalnya berat pedang rusak 100 kg waktu akan diayunkan buat latihan menyusut jadi 50 kg mantab Thor perlu dikoreksi 🙏🙏🙏

2026-02-26

2

Bersyukurlah

Bersyukurlah

kamu ye yuan gmn Thor , bahasa nya di perbaiki lah Thor...

2026-04-13

0

angin kelana

angin kelana

lanjuuuttt

2026-02-27

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
2 BAB 2: Kilatan Hitam di Bawah Cahaya Bulan
3 BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan
4 BAB 4: Asura yang Kelaparan
5 BAB 5: Bayangan Ular dan Mata Para Tetua
6 BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
7 BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
8 BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
9 BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
10 10: Tarian Darah di Hutan Hitam
11 BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan
12 BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
13 BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu
14 BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular
15 BAB 15: Api Roh Penempa Pedang
16 BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
17 BAB 17: Kota Tanpa Hukum dan Nyonya Merah
18 BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima
19 BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
20 BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
21 BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir
22 BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
23 BAB 23: Kota Abu dan Jenderal Tanpa Kepala
24 BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
25 BAB 25: Penyatuan Kembali: Naga Hitam Bangkit
26 BAB 26: Gema Gurun dan Cincin Gagak Api
27 BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
28 BAB 28: Gerbang Dua Warna dan Kota Tanpa Tuan
29 BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang
30 BAB 30: Kekacauan di Aula Emas
31 BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam
32 BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
33 BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
34 BAB 34: Leluhur yang Terlupakan dan Anjing yang Menggigit Tuan
35 BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula
36 BAB 36: Cincin Leluhur dan Lautan Tanpa Ujung
37 BAB 37: Hujan Ikan Gergaji dan Pesona Racun
38 BAB 38: Dermaga Awan Putih dan Token Teratai Es
39 BAB 39: Paviliun Besi Gila dan Palu Dewa Petir
40 BAB 40: Koloseum Berdarah dan Satu Hantaman Besi
41 BAB 41: Kilat Hitam Melawan Gunung Besi
42 BAB 42: Matahari Terbenam dan Jarum Kematian
43 BAB 43: Pegunungan Pedang Patah dan Kota Tanpa Hukum
44 BAB 44: Gerbang Kabut Darah dan Kunci Kembar
45 BAB 45: Roh Pedang Tanpa Wajah dan Ladang Besi
46 BAB 46: Formasi Mata Panah dan Tiga Raja Roh
47 BAB 47: Perebutan Takhta dan Gagang Naga Hitam
48 BAB 48: Kota Kristal dan Token yang Dipertanyakan
49 BAB 49: Api Neraka Turun dan Kekalahan Sang Tuan Muda
50 BAB 50: Satu Pedang Melawan Neraka
51 BAB 51: Kabut Hijau dan Pengorbanan Darah
52 BAB 52: Altar Tengkorak dan Tamu dari Benua Tengah
53 BAB 53: Pedang Suci Melawan Pedang Terlarang
54 BAB 54: Luka Cahaya dan Kota Tanpa Bayangan
55 BAB 55: Danau Hijau dan Bayangan Pedang Tak Terlihat
56 BAB 56: Zirah Naga Hitam dan Sumpah Setia
57 BAB 57: Kota Suci di Atas Awan dan Penyamaran Sang Iblis
58 BAB 58: Tangan Kiri yang Memegang Angin
59 BAB 59: Puncak Pencuci Pedang dan Mata Roh yang Hilang
60 BAB 60: Runtuhnya Puncak Suci dan Mata Kehancuran
61 BAB 61: Penyeberangan Laut Hitam dan Topeng Iblis
62 BAB 62: Kota Tulang Hitam dan Tantangan Banteng Gila
63 BAB 63: Pilar Langit dan Tatapan Sang Putri
64 BAB 64: Pelukan Maut dan Pencurian di Gudang Tulang
65 BAB 65: Sayap Kelelawar di Bawah Bulan Merah
66 BAB 66: Pulau Cahaya Terlarang dan Sayap Putih
67 BAB 67: Tanah Es Abadi dan Detak Jantung Dunia
68 BAB 68: Gerbang Langit Runtuh dan Ultimatum Sang Raja
69 BAB 69: Formasi Tujuh Bintang dan Langkah Kematian
70 BAB 70: Sapu Tua dan Daun Musim Gugur
71 BAB 71: Istana Emas dan Ritual Pemanggilan Dewa
72 BAB 72: Lembah Tanpa Matahari dan Sungai Arwah
73 BAB 73: Sabit Pencabut Nyawa dan Tulang yang Tak Bisa Patah
74 BAB 74: Menara Babel dan Boneka Darah
75 BAB 75: Puncak Menara dan Dewa yang Terluka
76 BAB 76: Kelahiran Kembali Raja Pedang dan Runtuhnya Sayap Perak
77 BAB 77: Langit yang Retak dan Armada Emas
78 BAB 78: Jenderal Emas dan Hujan Darah di Langit
79 BAB 79: Perpisahan di Ujung Salju dan Mata Badai
80 BAB 80: Jatuh ke Neraka Bintang dan Rantai Budak
81 BAB 81: Arena Bintang dan Darah Pertama
82 BAB 82: Pesta Darah dan Chimera Bermata Tiga
83 BAB 83: Jenderal Besi dan Runtuhnya Panggung
84 BAB 84: Penjara Kegelapan Abadi dan Rantai Jiwa
85 BAB 85: Sipir Besi dan Jantung Mekanis
86 BAB 86: 12 Rasul Darah dan Jantung yang Berhenti Berdetak
87 BAB 87: Runtuhnya Kota Bintang dan Jantung Besi
88 BAB 88: Padang Hantu dan Pedang Tanpa Suara
89 BAB 89: Tembok Cahaya dan Mata Dewa yang Buta
90 BAB 90: Akademi Bintang Putih dan Kakak yang Hilang
91 BAB 91: Gerbang Bintang dan Nafas Sang Penelan
92 BAB 92: Menelan Langit dan Penyatuan Takdir
93 BAB 93: Lautan Bintang Pecah dan Pemulung Angkasa
94 BAB 94: Naga Void yang Tunduk dan Tombak Gadis Kecil
95 BAB 95: Pasir Bintang dan Pangeran Titan
96 BAB 96: Bayangan Darah dan Pemburu dari Langit
97 BAB 97: Sabit Darah dan Eksekusi Sang Inkuisitor
98 BAB 98: Hujan Meteor Emas dan Penebas Bintang
99 BAB 99: Planet Dewa dan Peluru Emas Raksasa
100 BAB 100: Kaisar Bintang dan Takhta Kehancuran
101 BAB 101: Bentrokan Dua Dewa dan Runtuhnya Langit
102 BAB 102: Tangan Langit Ke-9 dan Jurang Asal Mula
103 BAB 103: Hujan Darah Hangat dan Lahirnya Jiwa Chaos
104 BAB 104: Gerbang Nirvana dan Pendekar Satu Lengan
105 BAB 105: Kota Nirvana dan Darah di Cawan Giok
106 BAB 106: Istana Nirvana dan Tetesan Darah Sang Penguasa
107 BAB 107: Lautan Awan Tembaga dan Pendaratan Keras
108 BAB 108: Tungku Bintang Sekarat dan Sembilan Ribu Pukulan Palu Dewa
109 BAB 109: Tiga Algojo Langit dan Tebasan Tanpa Suara
110 BAB 110: Kota Takhta Langit dan Garis Kematian
111 BAB 111: Rantai Primordial dan Benturan Dua Konsep
112 BAB 112: Runtuhnya Langit Ke-9 dan Tarian Dewa Sejati
113 BAB 113: Lengan Kehampaan dan Takhta yang Kosong
114 BAB 114 : Matinya Para Pencipta dan Asura Penelan Kosmos
115 BAB 115: Takhta yang Kosong dan Legenda Sang Asura Bertangan Satu
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
2
BAB 2: Kilatan Hitam di Bawah Cahaya Bulan
3
BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan
4
BAB 4: Asura yang Kelaparan
5
BAB 5: Bayangan Ular dan Mata Para Tetua
6
BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
7
BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
8
BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
9
BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
10
10: Tarian Darah di Hutan Hitam
11
BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan
12
BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
13
BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu
14
BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular
15
BAB 15: Api Roh Penempa Pedang
16
BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
17
BAB 17: Kota Tanpa Hukum dan Nyonya Merah
18
BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima
19
BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
20
BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
21
BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir
22
BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
23
BAB 23: Kota Abu dan Jenderal Tanpa Kepala
24
BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
25
BAB 25: Penyatuan Kembali: Naga Hitam Bangkit
26
BAB 26: Gema Gurun dan Cincin Gagak Api
27
BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
28
BAB 28: Gerbang Dua Warna dan Kota Tanpa Tuan
29
BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang
30
BAB 30: Kekacauan di Aula Emas
31
BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam
32
BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
33
BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
34
BAB 34: Leluhur yang Terlupakan dan Anjing yang Menggigit Tuan
35
BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula
36
BAB 36: Cincin Leluhur dan Lautan Tanpa Ujung
37
BAB 37: Hujan Ikan Gergaji dan Pesona Racun
38
BAB 38: Dermaga Awan Putih dan Token Teratai Es
39
BAB 39: Paviliun Besi Gila dan Palu Dewa Petir
40
BAB 40: Koloseum Berdarah dan Satu Hantaman Besi
41
BAB 41: Kilat Hitam Melawan Gunung Besi
42
BAB 42: Matahari Terbenam dan Jarum Kematian
43
BAB 43: Pegunungan Pedang Patah dan Kota Tanpa Hukum
44
BAB 44: Gerbang Kabut Darah dan Kunci Kembar
45
BAB 45: Roh Pedang Tanpa Wajah dan Ladang Besi
46
BAB 46: Formasi Mata Panah dan Tiga Raja Roh
47
BAB 47: Perebutan Takhta dan Gagang Naga Hitam
48
BAB 48: Kota Kristal dan Token yang Dipertanyakan
49
BAB 49: Api Neraka Turun dan Kekalahan Sang Tuan Muda
50
BAB 50: Satu Pedang Melawan Neraka
51
BAB 51: Kabut Hijau dan Pengorbanan Darah
52
BAB 52: Altar Tengkorak dan Tamu dari Benua Tengah
53
BAB 53: Pedang Suci Melawan Pedang Terlarang
54
BAB 54: Luka Cahaya dan Kota Tanpa Bayangan
55
BAB 55: Danau Hijau dan Bayangan Pedang Tak Terlihat
56
BAB 56: Zirah Naga Hitam dan Sumpah Setia
57
BAB 57: Kota Suci di Atas Awan dan Penyamaran Sang Iblis
58
BAB 58: Tangan Kiri yang Memegang Angin
59
BAB 59: Puncak Pencuci Pedang dan Mata Roh yang Hilang
60
BAB 60: Runtuhnya Puncak Suci dan Mata Kehancuran
61
BAB 61: Penyeberangan Laut Hitam dan Topeng Iblis
62
BAB 62: Kota Tulang Hitam dan Tantangan Banteng Gila
63
BAB 63: Pilar Langit dan Tatapan Sang Putri
64
BAB 64: Pelukan Maut dan Pencurian di Gudang Tulang
65
BAB 65: Sayap Kelelawar di Bawah Bulan Merah
66
BAB 66: Pulau Cahaya Terlarang dan Sayap Putih
67
BAB 67: Tanah Es Abadi dan Detak Jantung Dunia
68
BAB 68: Gerbang Langit Runtuh dan Ultimatum Sang Raja
69
BAB 69: Formasi Tujuh Bintang dan Langkah Kematian
70
BAB 70: Sapu Tua dan Daun Musim Gugur
71
BAB 71: Istana Emas dan Ritual Pemanggilan Dewa
72
BAB 72: Lembah Tanpa Matahari dan Sungai Arwah
73
BAB 73: Sabit Pencabut Nyawa dan Tulang yang Tak Bisa Patah
74
BAB 74: Menara Babel dan Boneka Darah
75
BAB 75: Puncak Menara dan Dewa yang Terluka
76
BAB 76: Kelahiran Kembali Raja Pedang dan Runtuhnya Sayap Perak
77
BAB 77: Langit yang Retak dan Armada Emas
78
BAB 78: Jenderal Emas dan Hujan Darah di Langit
79
BAB 79: Perpisahan di Ujung Salju dan Mata Badai
80
BAB 80: Jatuh ke Neraka Bintang dan Rantai Budak
81
BAB 81: Arena Bintang dan Darah Pertama
82
BAB 82: Pesta Darah dan Chimera Bermata Tiga
83
BAB 83: Jenderal Besi dan Runtuhnya Panggung
84
BAB 84: Penjara Kegelapan Abadi dan Rantai Jiwa
85
BAB 85: Sipir Besi dan Jantung Mekanis
86
BAB 86: 12 Rasul Darah dan Jantung yang Berhenti Berdetak
87
BAB 87: Runtuhnya Kota Bintang dan Jantung Besi
88
BAB 88: Padang Hantu dan Pedang Tanpa Suara
89
BAB 89: Tembok Cahaya dan Mata Dewa yang Buta
90
BAB 90: Akademi Bintang Putih dan Kakak yang Hilang
91
BAB 91: Gerbang Bintang dan Nafas Sang Penelan
92
BAB 92: Menelan Langit dan Penyatuan Takdir
93
BAB 93: Lautan Bintang Pecah dan Pemulung Angkasa
94
BAB 94: Naga Void yang Tunduk dan Tombak Gadis Kecil
95
BAB 95: Pasir Bintang dan Pangeran Titan
96
BAB 96: Bayangan Darah dan Pemburu dari Langit
97
BAB 97: Sabit Darah dan Eksekusi Sang Inkuisitor
98
BAB 98: Hujan Meteor Emas dan Penebas Bintang
99
BAB 99: Planet Dewa dan Peluru Emas Raksasa
100
BAB 100: Kaisar Bintang dan Takhta Kehancuran
101
BAB 101: Bentrokan Dua Dewa dan Runtuhnya Langit
102
BAB 102: Tangan Langit Ke-9 dan Jurang Asal Mula
103
BAB 103: Hujan Darah Hangat dan Lahirnya Jiwa Chaos
104
BAB 104: Gerbang Nirvana dan Pendekar Satu Lengan
105
BAB 105: Kota Nirvana dan Darah di Cawan Giok
106
BAB 106: Istana Nirvana dan Tetesan Darah Sang Penguasa
107
BAB 107: Lautan Awan Tembaga dan Pendaratan Keras
108
BAB 108: Tungku Bintang Sekarat dan Sembilan Ribu Pukulan Palu Dewa
109
BAB 109: Tiga Algojo Langit dan Tebasan Tanpa Suara
110
BAB 110: Kota Takhta Langit dan Garis Kematian
111
BAB 111: Rantai Primordial dan Benturan Dua Konsep
112
BAB 112: Runtuhnya Langit Ke-9 dan Tarian Dewa Sejati
113
BAB 113: Lengan Kehampaan dan Takhta yang Kosong
114
BAB 114 : Matinya Para Pencipta dan Asura Penelan Kosmos
115
BAB 115: Takhta yang Kosong dan Legenda Sang Asura Bertangan Satu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!