BAB 4: Asura yang Kelaparan

Satu bulan berlalu dalam sekejap mata bagi dunia luar, namun bagi Ye Yuan di dalam Lembah Kuburan Senjata, waktu terasa melambat, meluncur di antara rasa sakit dan kegila

Lembah itu kini sunyi. Terlalu sunyi.

Bahkan angin pun segan berhembus. Rumput-rumput pembohong yang tadinya tumbuh di sela-sela pedang kini berbaring menguning. Ribuan pedang yang tertancap di tanah kehilangan kilaunya sama sekali. Karat mereka merontok menjadi debu merah, meninggalkan batang-batang besi rapuh yang hancur hanya dengan sentuhan jari.

Sutra Hati Pedang Asurabukan sekadar teknik improvisasi. Itu adalah teknikpemangsa.

Di tengah mengembang debu besi itu, seorang pemuda berdiri telanjang dada. Rambut hitamnya yang panjang kini terurai liar, menutupi sebagian wajah yang kotor. Tubuhnya tidak lagi kurus seperti sebulan lalu. Otot-ototnya padat dan keras seperti dipahat dari granit, dipenuhi garis-garis bekas luka kecil yang sudah sembuh—tanda bahwa kulitnya terus-mengalami robek dan beregenerasi

Wuuussh!

Ye Yuan membuka matanya. Tidak ada l

"Tingkat Enam," bisiknya serak.

Dalam satu bulan, dia melompati dua tingkat lagi. Dari Tingkat Empat ke Tingkat Enam Ranah Pengumpulan Qi. Kecepatan ini tidak masuk akal. Di Sekte Pedang Surgawi, pencapaian ini biasanya memakan waktu dua tahun bagi murid berbakat!

Nlapar.

Bukan lapar akan nasi, tapi lapar akan energi. Pedang patah di y bergetar pelan, mengirimkan sinyal rasa haus yang sama. Pedang-ped

"Kita butuh mangsa yang lebih hidup," gumam Ye Yuan sambil menampar gagang pedangnya.

Tiba-tiba, tel

Grrr...

Ye Yuan menggemparkan. Sepasang mata merah menyala dalam kegelapan.

Seekor serigala setinggi manusia dewasa melangkah keluar. Tapi ini bukan serigala biasa. Bulunya kaku seperti kawat tembaga, dan cakar-cakarnya berkilau seperti pisau belati

Serigala Besi Hantu.Binatang buas Tingkat Satu Puncak (setara dengan Kultivator Qi Tingkat 7).

Makhluk ini biasanya memakan besi mentah, tapi aroma darah segar dari tubuh Ye Yuan—darah yang kini kaya akan energi—telah memancingnya keluar dari sarang.

"Makanan datang sendiri," Ye Yuan memancarkan, menampilkan gigi putihnya yang kontras dengan wajah kotornya.

Serigala itu tidak menunggu aba-aba.

SWUSH!

Ia menerjang dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan. Cakar besinya mengarah lurus ke leher Ye Yuan. Udara berdesing tajam

Ye Yuan tidak menghindar. Dia justru melangkah maju menyambut serangan itu.

"Mati!"

Tangannya lurus pedang patah dari punggung. Gerakannya kasar, tanpa teknik indah, murni mengandalkan insting membunuh

TRAAANG!

Cakar serigala bertemu dengan bilah pedang hitam. Percikan api muncrat.

Serigala itu melolong kaget. Cakarnya, yang mampu menyelamatkan baju zirah baja, justru merebut kembali saat memegang pedang rongsokan itu. Berat pedang Ye Yuan yang tidak wajar membuat momentum serigala itu

"Kau pikir kau keras? Coba rasakan ini!"

Otot lengan Ye Yuan menegangkan. Pembuluh darahnya menonjol. Dia tidak menarik pedangnya, tapi justru menekannya lebih kuat ke baw

Pedang patah itu tiba-tiba memancarkan aura merah darah.

Sutra Asura: Hisap!

Bilah pedang itu menempel pada cakar serigala seperti lintah. Serigala itu menjerit ngeri saat merasakan energi kehidupannya ditarik paksa melalui kontak fisik itu. Bulu tembaganya

CRASH!

Ye Yuan memanfaatkan kepanikan binatang itu. Di

Kepala serigala itu terpisah dari tubuhnya. Darah menyembur, tapi

Ye Yuan berdiri terengah-engah. Bukan karena lelah, tapi karen

"Tingkat Tujuh..." Ye Yuan merasakan dinding penghalang di dalam tubuhnya retak sedikit. Dia hampir menerobos lagi, tapi dia menahannya. Pondasi yang terlalu cepat d

Dia menatap serigala itu. Dia merobek paha serigala itu, membakarnya sebentar dengan api berukuran kecil, dan mengelilinginya dengan lahap. Daging binatang buas penuh dengan kacang

Hari ini adalah hari terakhirnya di lembah. Besok adalah Turnamen Hidup-Mati.

Ye Yuan berdiri, mengikat rambutnya dengan kain sobekan. Dia mengambil pedang patahnya, membungkusnya kembali dengan kain luluh agar tidak terlalu mencolok, lalu berjalan menuju jalan keluar lembah.

Setiap bahasa

Gerbang Utama Bangjo Luar, Pagi Hari.

Suasana di alun-alun sekte sangat meriah. Ratusan murid berkumpul. Bendera-bendera berkibar. Di tengah alun-alun, sebuah panggung batu raksasa telah didirikan.

Di papan pengumuman, daftar nama peserta turnamen terpampang. Nama-nama favorit seperti Li Feng, Zhang Wei, dan Zhao Yu dielu-el

"Hei, lihat daftar paling bawah," bisik seorang murid sambil menunjuk papan. "Ye Yuan? Apakah sampah itu mendaftar?"

"Hahaha! Dia pasti sudah gila. Kudengar dia mentransmisikan ilmu sesat di Lemba

"Benar, Li Feng bilang dia melihat Ye Yuan memakan bangkai tikus dan menyembah setan besi. Orang itu sudah tidak waras."

"Sayang sekali. Padahal wajahnya lumayan tampan dulu. Sekarang dia hanya orang gila yang akan mati di ronde pertama."

Tiba-tiba, pemakaman di gerbang selatan terbelah. Suara tawa dan percakapan perlahan mati, digantikan oleh bisik-bisik ketakutan dan rasa

Seorang pemuda masuk.

Pakaiannya compang-camping, hampir seperti kain pel. Baunya seperti campuran karat besi, darah kering, dan hutan pembohong. Rambutnya berantakan. Di punggungnya, terikatnya sebuah benda panjang yang dibungkus kain kusam.

Itu Ye Yuan.

Tapi nya...nya

Dia berjalan lurus menuju meja pendaftaran, mengabaikan semua orang.

Petugas pendaftaran, seorang murid senior, menutup hidungnya dengan halus. "Nama?"

"Ye Yuan."

Petugas itu

"Kau terlambat, Sampah. Pendaftaran hampir ditutup. Dan lagipula, kau yakin mau ikut? Ini panggung hidup-mati. Tidak ada yang akan menolongmu kalau kau menangis nanti."

"Hei, Ye Yuan!"

Suara yang familiar terdengar dari atas panggung VIP.

Li Feng berdiri di sana, dikelilingi para penjilatnya. Dia mengenakan jubah sutra putih bersih yang kontras dengan penampilan kumuh Ye Yuan

Li Feng tersenyum lebar, senyum palsu yang penuh racun. "Aku senang kau masih hidup, Saudara Ye. Aku khawatir kau mati keracunan di lubang sampah itu. Aku sudah menyiapkan 'sambutan hangat' untukmu

Ye Yuan mendongak perlahan. Dia menatap Li Feng tepat di matanya.

Sudut bibir Ye Yuan sedikit terangkat.

"Terima kasih, Li Feng," suara Ye Yuan tenang, tapi menggema dengan jelas di seluruh bagian

Deg!

Jantung Li Feng berdetak kencang sesaat. Ancaman itu... terasa nyata.

"Omong besar!" teriak salah satu pengikut Li Feng. "Tunggu saja sampai kau naik ke panggung!"

Gong besar berbunyi.

BOOOONG!

Suara

Wasit menggelegar

"Turnamen Hidup-Mati Sekte Luar... DIMULAI! Pertarungan Pertama: Ye Yuan melawan... Zhao Gang!"

Sorak sorai meledak. Zhao Gang adalah pria bertubuh raksasa yang menggunakan palu gada. Dia dikenal sebagai "Si Pemecah Tengkorak". Li Feng tersenyum licik. Dia yang mengatur undian ini. Zhao Gang adalah salah satu anak buahnya yang paling brutal, berada di Tingkat Lima Puncak.

Ye Yuan melangkah naik ke panggung batu.

Ye Yuan perlahan membuka ikatan kain di punggungnya. Kain itu jatuh, menampilkan pedang hitam patah yang buruk rupa.

Penonton tertawa melihat senjata itu. "Senjata rongsokan untuk sampah! Pasangan serasi!"

Ye Yuan memegang gagang pedangnya dengan satu tangan, menyentuh lantai batu.

"Maju," kata Ye Yuan singkat.

Zhao Gang meraung marah karena diremehkan. "MATI KAU!"

Raksasa itu melompat tinggi, gadanya menyerang turun dengan kekuatan yang bisa menghancurkan tembok benteng. Bayangan gada menutupi tubuh Ye Yuan.

Semua orang menahan napas, menunggu suara tulang remuk.

Namun, di detik perkiraan itu hampir menyentuh kepalanya, Ye Yuan bergerak.

Tidak ada yang melihat kapan dia membatasi pedangnya. Mereka hanya melihat kilatan hitam melengkung ke atas.

Sreeet!

Hening.

Zhao Gang mendarat di belakang Ye Yuan. Dia masih berdiri tegak, memegang gadanya

"Hah? Meleset?" tanya seorang penonton.

Tiba-tiba, gada besi di tangan Zhao Gang terbelah dua dengan rapi. Potongannya halus seperti cermin.

Detik berikutnya, garis merah tipis muncul di dada Zhao Gang, memanjang dari bahu kiri hingga pinggang kanan.

"A... Apa..." Zhao Gang mencoba bicara, tapi darah menyembur keluar.

BRUK!

Tubuh raksasa itu mengeruk ke lantai, mandi darah.

Ye Yuan menyentakkan pedangnya sekali untuk membuang darah yang menempel, lalu menyarungkannya kembali ke punggung. Dia bahkan tidak menyangk ke arah lawannya yang tumbang

Mata Li Feng di tribun VIP memelotot hampir keluar. Seluruh alun-alun sunyi senyap, seolah-olah leher mereka semua dicekik secara bersamaan.

Ye Yuan menatap ke arah Penatua Wasit yang masih bengong.

"Selanjutnya," kata Ye Yuan datar.

Di saat itulah, seluruh sekte sadar:

Sampah yang mereka tertawakan... telah kembali sebagai Dewa Kematian.

[Bersambung ke Bab 5]

Terpopuler

Comments

Muh Nasrun

Muh Nasrun

Kenapa cepat sekali lihai ya, baru 1 bln berlatih sdh spai tingkat 7.

2026-05-07

0

Bersyukurlah

Bersyukurlah

ada kata hutan pembohong segala...

2026-04-13

0

angin kelana

angin kelana

sekali tebas..

2026-02-28

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
2 BAB 2: Kilatan Hitam di Bawah Cahaya Bulan
3 BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan
4 BAB 4: Asura yang Kelaparan
5 BAB 5: Bayangan Ular dan Mata Para Tetua
6 BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
7 BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
8 BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
9 BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
10 10: Tarian Darah di Hutan Hitam
11 BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan
12 BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
13 BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu
14 BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular
15 BAB 15: Api Roh Penempa Pedang
16 BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
17 BAB 17: Kota Tanpa Hukum dan Nyonya Merah
18 BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima
19 BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
20 BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
21 BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir
22 BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
23 BAB 23: Kota Abu dan Jenderal Tanpa Kepala
24 BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
25 BAB 25: Penyatuan Kembali: Naga Hitam Bangkit
26 BAB 26: Gema Gurun dan Cincin Gagak Api
27 BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
28 BAB 28: Gerbang Dua Warna dan Kota Tanpa Tuan
29 BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang
30 BAB 30: Kekacauan di Aula Emas
31 BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam
32 BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
33 BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
34 BAB 34: Leluhur yang Terlupakan dan Anjing yang Menggigit Tuan
35 BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula
36 BAB 36: Cincin Leluhur dan Lautan Tanpa Ujung
37 BAB 37: Hujan Ikan Gergaji dan Pesona Racun
38 BAB 38: Dermaga Awan Putih dan Token Teratai Es
39 BAB 39: Paviliun Besi Gila dan Palu Dewa Petir
40 BAB 40: Koloseum Berdarah dan Satu Hantaman Besi
41 BAB 41: Kilat Hitam Melawan Gunung Besi
42 BAB 42: Matahari Terbenam dan Jarum Kematian
43 BAB 43: Pegunungan Pedang Patah dan Kota Tanpa Hukum
44 BAB 44: Gerbang Kabut Darah dan Kunci Kembar
45 BAB 45: Roh Pedang Tanpa Wajah dan Ladang Besi
46 BAB 46: Formasi Mata Panah dan Tiga Raja Roh
47 BAB 47: Perebutan Takhta dan Gagang Naga Hitam
48 BAB 48: Kota Kristal dan Token yang Dipertanyakan
49 BAB 49: Api Neraka Turun dan Kekalahan Sang Tuan Muda
50 BAB 50: Satu Pedang Melawan Neraka
51 BAB 51: Kabut Hijau dan Pengorbanan Darah
52 BAB 52: Altar Tengkorak dan Tamu dari Benua Tengah
53 BAB 53: Pedang Suci Melawan Pedang Terlarang
54 BAB 54: Luka Cahaya dan Kota Tanpa Bayangan
55 BAB 55: Danau Hijau dan Bayangan Pedang Tak Terlihat
56 BAB 56: Zirah Naga Hitam dan Sumpah Setia
57 BAB 57: Kota Suci di Atas Awan dan Penyamaran Sang Iblis
58 BAB 58: Tangan Kiri yang Memegang Angin
59 BAB 59: Puncak Pencuci Pedang dan Mata Roh yang Hilang
60 BAB 60: Runtuhnya Puncak Suci dan Mata Kehancuran
61 BAB 61: Penyeberangan Laut Hitam dan Topeng Iblis
62 BAB 62: Kota Tulang Hitam dan Tantangan Banteng Gila
63 BAB 63: Pilar Langit dan Tatapan Sang Putri
64 BAB 64: Pelukan Maut dan Pencurian di Gudang Tulang
65 BAB 65: Sayap Kelelawar di Bawah Bulan Merah
66 BAB 66: Pulau Cahaya Terlarang dan Sayap Putih
67 BAB 67: Tanah Es Abadi dan Detak Jantung Dunia
68 BAB 68: Gerbang Langit Runtuh dan Ultimatum Sang Raja
69 BAB 69: Formasi Tujuh Bintang dan Langkah Kematian
70 BAB 70: Sapu Tua dan Daun Musim Gugur
71 BAB 71: Istana Emas dan Ritual Pemanggilan Dewa
72 BAB 72: Lembah Tanpa Matahari dan Sungai Arwah
73 BAB 73: Sabit Pencabut Nyawa dan Tulang yang Tak Bisa Patah
74 BAB 74: Menara Babel dan Boneka Darah
75 BAB 75: Puncak Menara dan Dewa yang Terluka
76 BAB 76: Kelahiran Kembali Raja Pedang dan Runtuhnya Sayap Perak
77 BAB 77: Langit yang Retak dan Armada Emas
78 BAB 78: Jenderal Emas dan Hujan Darah di Langit
79 BAB 79: Perpisahan di Ujung Salju dan Mata Badai
80 BAB 80: Jatuh ke Neraka Bintang dan Rantai Budak
81 BAB 81: Arena Bintang dan Darah Pertama
82 BAB 82: Pesta Darah dan Chimera Bermata Tiga
83 BAB 83: Jenderal Besi dan Runtuhnya Panggung
84 BAB 84: Penjara Kegelapan Abadi dan Rantai Jiwa
85 BAB 85: Sipir Besi dan Jantung Mekanis
86 BAB 86: 12 Rasul Darah dan Jantung yang Berhenti Berdetak
87 BAB 87: Runtuhnya Kota Bintang dan Jantung Besi
88 BAB 88: Padang Hantu dan Pedang Tanpa Suara
89 BAB 89: Tembok Cahaya dan Mata Dewa yang Buta
90 BAB 90: Akademi Bintang Putih dan Kakak yang Hilang
91 BAB 91: Gerbang Bintang dan Nafas Sang Penelan
92 BAB 92: Menelan Langit dan Penyatuan Takdir
93 BAB 93: Lautan Bintang Pecah dan Pemulung Angkasa
94 BAB 94: Naga Void yang Tunduk dan Tombak Gadis Kecil
95 BAB 95: Pasir Bintang dan Pangeran Titan
96 BAB 96: Bayangan Darah dan Pemburu dari Langit
97 BAB 97: Sabit Darah dan Eksekusi Sang Inkuisitor
98 BAB 98: Hujan Meteor Emas dan Penebas Bintang
99 BAB 99: Planet Dewa dan Peluru Emas Raksasa
100 BAB 100: Kaisar Bintang dan Takhta Kehancuran
101 BAB 101: Bentrokan Dua Dewa dan Runtuhnya Langit
102 BAB 102: Tangan Langit Ke-9 dan Jurang Asal Mula
103 BAB 103: Hujan Darah Hangat dan Lahirnya Jiwa Chaos
104 BAB 104: Gerbang Nirvana dan Pendekar Satu Lengan
105 BAB 105: Kota Nirvana dan Darah di Cawan Giok
106 BAB 106: Istana Nirvana dan Tetesan Darah Sang Penguasa
107 BAB 107: Lautan Awan Tembaga dan Pendaratan Keras
108 BAB 108: Tungku Bintang Sekarat dan Sembilan Ribu Pukulan Palu Dewa
109 BAB 109: Tiga Algojo Langit dan Tebasan Tanpa Suara
110 BAB 110: Kota Takhta Langit dan Garis Kematian
111 BAB 111: Rantai Primordial dan Benturan Dua Konsep
112 BAB 112: Runtuhnya Langit Ke-9 dan Tarian Dewa Sejati
113 BAB 113: Lengan Kehampaan dan Takhta yang Kosong
114 BAB 114 : Matinya Para Pencipta dan Asura Penelan Kosmos
115 BAB 115: Takhta yang Kosong dan Legenda Sang Asura Bertangan Satu
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
2
BAB 2: Kilatan Hitam di Bawah Cahaya Bulan
3
BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan
4
BAB 4: Asura yang Kelaparan
5
BAB 5: Bayangan Ular dan Mata Para Tetua
6
BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
7
BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
8
BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
9
BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
10
10: Tarian Darah di Hutan Hitam
11
BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan
12
BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
13
BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu
14
BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular
15
BAB 15: Api Roh Penempa Pedang
16
BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
17
BAB 17: Kota Tanpa Hukum dan Nyonya Merah
18
BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima
19
BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
20
BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
21
BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir
22
BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
23
BAB 23: Kota Abu dan Jenderal Tanpa Kepala
24
BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
25
BAB 25: Penyatuan Kembali: Naga Hitam Bangkit
26
BAB 26: Gema Gurun dan Cincin Gagak Api
27
BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
28
BAB 28: Gerbang Dua Warna dan Kota Tanpa Tuan
29
BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang
30
BAB 30: Kekacauan di Aula Emas
31
BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam
32
BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
33
BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
34
BAB 34: Leluhur yang Terlupakan dan Anjing yang Menggigit Tuan
35
BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula
36
BAB 36: Cincin Leluhur dan Lautan Tanpa Ujung
37
BAB 37: Hujan Ikan Gergaji dan Pesona Racun
38
BAB 38: Dermaga Awan Putih dan Token Teratai Es
39
BAB 39: Paviliun Besi Gila dan Palu Dewa Petir
40
BAB 40: Koloseum Berdarah dan Satu Hantaman Besi
41
BAB 41: Kilat Hitam Melawan Gunung Besi
42
BAB 42: Matahari Terbenam dan Jarum Kematian
43
BAB 43: Pegunungan Pedang Patah dan Kota Tanpa Hukum
44
BAB 44: Gerbang Kabut Darah dan Kunci Kembar
45
BAB 45: Roh Pedang Tanpa Wajah dan Ladang Besi
46
BAB 46: Formasi Mata Panah dan Tiga Raja Roh
47
BAB 47: Perebutan Takhta dan Gagang Naga Hitam
48
BAB 48: Kota Kristal dan Token yang Dipertanyakan
49
BAB 49: Api Neraka Turun dan Kekalahan Sang Tuan Muda
50
BAB 50: Satu Pedang Melawan Neraka
51
BAB 51: Kabut Hijau dan Pengorbanan Darah
52
BAB 52: Altar Tengkorak dan Tamu dari Benua Tengah
53
BAB 53: Pedang Suci Melawan Pedang Terlarang
54
BAB 54: Luka Cahaya dan Kota Tanpa Bayangan
55
BAB 55: Danau Hijau dan Bayangan Pedang Tak Terlihat
56
BAB 56: Zirah Naga Hitam dan Sumpah Setia
57
BAB 57: Kota Suci di Atas Awan dan Penyamaran Sang Iblis
58
BAB 58: Tangan Kiri yang Memegang Angin
59
BAB 59: Puncak Pencuci Pedang dan Mata Roh yang Hilang
60
BAB 60: Runtuhnya Puncak Suci dan Mata Kehancuran
61
BAB 61: Penyeberangan Laut Hitam dan Topeng Iblis
62
BAB 62: Kota Tulang Hitam dan Tantangan Banteng Gila
63
BAB 63: Pilar Langit dan Tatapan Sang Putri
64
BAB 64: Pelukan Maut dan Pencurian di Gudang Tulang
65
BAB 65: Sayap Kelelawar di Bawah Bulan Merah
66
BAB 66: Pulau Cahaya Terlarang dan Sayap Putih
67
BAB 67: Tanah Es Abadi dan Detak Jantung Dunia
68
BAB 68: Gerbang Langit Runtuh dan Ultimatum Sang Raja
69
BAB 69: Formasi Tujuh Bintang dan Langkah Kematian
70
BAB 70: Sapu Tua dan Daun Musim Gugur
71
BAB 71: Istana Emas dan Ritual Pemanggilan Dewa
72
BAB 72: Lembah Tanpa Matahari dan Sungai Arwah
73
BAB 73: Sabit Pencabut Nyawa dan Tulang yang Tak Bisa Patah
74
BAB 74: Menara Babel dan Boneka Darah
75
BAB 75: Puncak Menara dan Dewa yang Terluka
76
BAB 76: Kelahiran Kembali Raja Pedang dan Runtuhnya Sayap Perak
77
BAB 77: Langit yang Retak dan Armada Emas
78
BAB 78: Jenderal Emas dan Hujan Darah di Langit
79
BAB 79: Perpisahan di Ujung Salju dan Mata Badai
80
BAB 80: Jatuh ke Neraka Bintang dan Rantai Budak
81
BAB 81: Arena Bintang dan Darah Pertama
82
BAB 82: Pesta Darah dan Chimera Bermata Tiga
83
BAB 83: Jenderal Besi dan Runtuhnya Panggung
84
BAB 84: Penjara Kegelapan Abadi dan Rantai Jiwa
85
BAB 85: Sipir Besi dan Jantung Mekanis
86
BAB 86: 12 Rasul Darah dan Jantung yang Berhenti Berdetak
87
BAB 87: Runtuhnya Kota Bintang dan Jantung Besi
88
BAB 88: Padang Hantu dan Pedang Tanpa Suara
89
BAB 89: Tembok Cahaya dan Mata Dewa yang Buta
90
BAB 90: Akademi Bintang Putih dan Kakak yang Hilang
91
BAB 91: Gerbang Bintang dan Nafas Sang Penelan
92
BAB 92: Menelan Langit dan Penyatuan Takdir
93
BAB 93: Lautan Bintang Pecah dan Pemulung Angkasa
94
BAB 94: Naga Void yang Tunduk dan Tombak Gadis Kecil
95
BAB 95: Pasir Bintang dan Pangeran Titan
96
BAB 96: Bayangan Darah dan Pemburu dari Langit
97
BAB 97: Sabit Darah dan Eksekusi Sang Inkuisitor
98
BAB 98: Hujan Meteor Emas dan Penebas Bintang
99
BAB 99: Planet Dewa dan Peluru Emas Raksasa
100
BAB 100: Kaisar Bintang dan Takhta Kehancuran
101
BAB 101: Bentrokan Dua Dewa dan Runtuhnya Langit
102
BAB 102: Tangan Langit Ke-9 dan Jurang Asal Mula
103
BAB 103: Hujan Darah Hangat dan Lahirnya Jiwa Chaos
104
BAB 104: Gerbang Nirvana dan Pendekar Satu Lengan
105
BAB 105: Kota Nirvana dan Darah di Cawan Giok
106
BAB 106: Istana Nirvana dan Tetesan Darah Sang Penguasa
107
BAB 107: Lautan Awan Tembaga dan Pendaratan Keras
108
BAB 108: Tungku Bintang Sekarat dan Sembilan Ribu Pukulan Palu Dewa
109
BAB 109: Tiga Algojo Langit dan Tebasan Tanpa Suara
110
BAB 110: Kota Takhta Langit dan Garis Kematian
111
BAB 111: Rantai Primordial dan Benturan Dua Konsep
112
BAB 112: Runtuhnya Langit Ke-9 dan Tarian Dewa Sejati
113
BAB 113: Lengan Kehampaan dan Takhta yang Kosong
114
BAB 114 : Matinya Para Pencipta dan Asura Penelan Kosmos
115
BAB 115: Takhta yang Kosong dan Legenda Sang Asura Bertangan Satu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!