Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut

Angin musim gugur di Puncak Awan Putih selalu membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun bagi Ye Yuan, tatapan merendahkan dari ratusan murid di lapangan latihan terasa jauh lebih membekukan daripada badai salju mana pun.

Pagi itu, Matahari baru saja merangkak naik, menyinari pelataran batu giok putih milik Sekte Pedang Surgawi yang megah. Kabut tipis masih menyelimuti patung pendiri sekte yang menjulang tinggi di tengah alun-alun, seolah-olah patung itu pun enggan melihat kejadian memalukan yang sedang berlangsung di bawah kakinya.

Di tengah panggung ujian yang dikelilingi oleh para tetua dan murid inti, Ye Yuan berdiri mematung. Telapak tangannya menempel pada Batu Pengukur Roh—sebuah artefak hitam setinggi dua meter yang berfungsi mengukur bakat kultivasi seseorang.

Hening.

Biasanya, batu itu akan memancarkan cahaya. Merah untuk bakat rendah, Kuning untuk menengah, Biru untuk jenius, dan Emas untuk mereka yang diberkati surga. Namun, saat Ye Yuan meletakkan tangannya, batu itu tetap hitam pekat. Tidak ada getaran. Tidak ada cahaya. Bahkan tidak ada sedikit pun reaksi energi spiritual (Qi).

"Bakat... Kosong," suara Penatua Penguji terdengar datar, namun gemanya memantul keras di dinding tebing, menghancurkan sisa harga diri Ye Yuan. "Dantian retak, meridian tersumbat. Tidak ada harapan untuk berkultivasi seumur hidup."

Hembusan napas kecewa, disusul gelak tawa, meledak dari kerumunan murid-murid di bawah panggung.

"Lihat itu! Sudah kuduga, si anak pungut itu hanya membuang-buang nasi sekte!"

"Tiga tahun dia di sini sebagai murid percobaan, dan hasilnya nol besar? Bahkan anjing penjaga gerbang pun memiliki sedikit Qi!"

"Hei, Ye Yuan! Lebih baik kau turun gunung dan jadi petani ubi saja!"

Ye Yuan menarik tangannya perlahan. Jari-jarinya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa malu dan amarah yang tertahan di dadanya. Wajahnya yang tirus namun tampan tetap datar, meski rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat. Ia berusia tujuh belas tahun, usia di mana seorang kultivator seharusnya sudah menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat dasar. Namun dia? Dia masih selemah manusia biasa.

Ia membungkuk hormat secara kaku kepada Penatua Penguji, sebuah etika yang dipaksakan, lalu berbalik turun dari panggung. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah kakinya diikat dengan rantai besi ribuan jin.

"Tunggu," sebuah suara angkuh menghentikan langkahnya.

Dari barisan murid inti, seorang pemuda berjubah sutra biru melangkah maju. Di pinggangnya tergantung pedang dengan sarung bertahta permata. Itu adalah Li Feng, putra seorang tetua dan jenius yang baru saja menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat lima.

Li Feng tersenyum miring, menghalangi jalan Ye Yuan. "Ye Yuan, kau tahu aturannya, bukan? Murid percobaan yang gagal dalam ujian usia tujuh belas tahun harus diusir dari sekte. Tapi... karena ayahku berhati baik, dia menyarankan agar kau tidak langsung diusir."

Ye Yuan mengangkat wajahnya, menatap mata Li Feng yang penuh cemoohan. "Apa maumu, Li Feng?"

"Sekte membutuhkan tenaga kerja untuk membersihkan Lembah Kuburan Senjata," kata Li Feng dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar. "Tempat itu penuh dengan aura pedang liar (Sword Intent) sisa-sisa senjata rusak. Bagi kultivator, aura itu mengganggu. Tapi bagi sampah tanpa Qi sepertimu? Kau tidak akan merasakan apa-apa. Kau bisa menjadi pemulung di sana sampai kau mati karena keracunan besi."

Tawa kembali meledak. Lembah Kuburan Senjata adalah tempat pembuangan akhir bagi pedang-pedang gagal atau rusak milik para murid dan tetua. Tempat itu suram, berbahaya karena longsoran logam, dan dijauhi oleh semua orang. Mengirim seseorang ke sana sama saja dengan membuangnya ke tempat sampah.

Ye Yuan mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangan. Darah menetes, tapi rasa sakit fisik itu membantunya tetap sadar. Dia tidak punya tempat untuk pulang. Dia yatim piatu yang dipungut oleh mendiang guru yang kini sudah tiada. Jika dia turun gunung tanpa kemampuan bela diri, dia hanya akan menjadi mangsa bandit atau binatang buas.

"Aku terima," jawab Ye Yuan, suaranya serak.

"Bagus!" Li Feng menepuk bahu Ye Yuan dengan keras, menyalurkan sedikit Qi yang menyengat bahu Ye Yuan seperti jarum panas. Ye Yuan meringis tapi tidak berteriak. "Pergilah, Sampah. Jangan kotori pemandangan di Puncak Awan Putih lagi."

Sore harinya, Ye Yuan sudah menyeret langkahnya menuju bagian belakang gunung, jauh dari paviliun-paviliun indah tempat para murid berlatih. Jalur menuju Lembah Kuburan Senjata dipenuhi semak berduri dan bebatuan tajam. Langit di atas lembah itu selalu tampak kelabu, seolah-olah ribuan pedang yang mati di sana telah menyerap warna matahari.

Sesampainya di bibir lembah, pemandangan di bawah sana membuat napas siapa pun tercekat. Itu bukan lembah biasa. Itu adalah lautan logam. Ribuan, mungkin jutaan pedang menancap di tanah, bertumpuk satu sama lain, atau berserakan seperti tulang belulang raksasa besi. Ada pedang besar, pedang tipis, pedang ganda, tombak, golok—semuanya dalam kondisi cacat. Berkarat, patah, bengkok, atau hancur lebur.

Udara di sini berbau karat dan darah kering. Meskipun Li Feng berkata orang tanpa Qi tidak akan merasakan aura pedang, itu bohong. Begitu Ye Yuan melangkah masuk ke area tumpukan pedang, kulitnya terasa perih, seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk pori-porinya. Sisa-sisa "kehendak" dari pedang-pedang ini—kemarahan pemilik sebelumnya, kekecewaan karena patah, kesedihan karena dibuang—bercampur menjadi aura kebencian yang pekat.

"Jadi ini tempat peristirahatan terakhirku?" gumam Ye Yuan, menendang sebuah gagang pedang tembaga yang sudah hijau karena lumut.

Dia berjalan lebih dalam, mencari gubuk tua yang konon pernah ditinggali penjaga lembah sebelumnya. Namun, semakin dalam dia berjalan, semakin aneh perasaannya. Rasa perih di kulitnya berubah menjadi sensasi panas di dada.

Dug... Dug...

Jantungnya berdetak kencang, tidak berirama.

Ye Yuan berhenti. Dia memegang dadanya, napasnya memburu. "Apa ini? Racun besi?" pikirnya panik. Tapi rasa sakit ini bukan seperti penyakit. Ini seperti... panggilan.

Sebuah dorongan insting yang kuat menariknya ke arah tebing timur lembah, tempat di mana tumpukan pedang paling tua berada. Di sana, pedang-pedangnya sudah hampir tidak berbentuk, menyatu dengan batu dan tanah menjadi gundukan karat.

Ye Yuan mencoba mengabaikannya, tapi kakinya bergerak sendiri. Dia memanjat tumpukan logam tajam itu, mengabaikan goresan-goresan yang merobek celana dan kulit kakisnya. Darah segar menetes dari betisnya, jatuh ke atas tumpukan pedang tua.

Anehnya, darah itu tidak mengering. Darah itu meresap ke dalam sela-sela tumpukan logam, seolah-olah dihisap oleh sesuatu yang lapar di bawah sana.

"Ada sesuatu di sini," bisik Ye Yuan. Matanya menyisir area di depannya.

Di antara dua bongkahan batu hitam raksasa yang membentuk celah sempit, tertancap sebuah benda.

Itu adalah pedang. Atau lebih tepatnya, bangkai pedang.

Bilahnya berwarna hitam pekat, tidak memantulkan cahaya sedikit pun, seolah menyerapnya. Permukaannya kasar, penuh korosi yang mengerikan. Yang paling menyedihkan adalah kondisinya: pedang itu patah tepat di tengah. Ujungnya hilang entah ke mana, menyisakan bilah sepanjang setengah meter dengan tepian bergerigi kasar yang tumpul. Tidak ada ornamen, tidak ada permata, gagangnya hanya dililit kain lusuh yang sudah membusuk.

Dibandingkan dengan sampah pedang lain di lembah ini, pedang hitam patah ini terlihat paling tidak berharga.

Namun, Ye Yuan tidak bisa memalingkan wajahnya. Dia merasa seolah-olah pedang itu sedang menatapnya balik. Kesedihan yang memancar dari benda itu begitu dalam, melampaui kesedihan Ye Yuan sendiri. Itu adalah kesedihan seorang raja yang dikhianati, seorang dewa yang jatuh dari singgasana.

Tanpa sadar, tangan Ye Yuan terulur.

"Jangan sentuh!"

Sebuah teriakan dalam benaknya membuatnya tersentak, tapi itu bukan suara dari luar. Itu adalah intuisinya sendiri yang berteriak bahaya. Tapi rasa ingin tahunya, dan rasa koneksi aneh itu, terlalu kuat.

Jari-jari Ye Yuan menyentuh gagang pedang itu.

ZING!

Dunia di sekitar Ye Yuan seketika berubah.

Suara angin lembah lenyap. Bau karat menghilang. Langit kelabu di atasnya berubah menjadi merah darah. Dia tidak lagi berada di lembah, melainkan di tengah medan perang yang luasnya tak bertepi.

Mayat raksasa setinggi gunung bergelimpangan di sekitarnya. Makhluk-makhluk bersayap emas jatuh dari langit dengan tubuh terbelah. Lautan api membakar cakrawala. Di tengah kehancuran itu, berdiri satu sosok bayangan hitam yang memegang pedang utuh—pedang yang sama dengan yang dipegang Ye Yuan, namun dalam kondisi sempurna.

Bayangan itu mengangkat pedangnya ke arah langit yang dipenuhi jutaan dewa berbaju zirah emas.

"Langit ingin memperbudakku? Maka aku akan mematahkan Langit!"

Suara itu meledak di kepala Ye Yuan seperti guntur.

Detik berikutnya, visi itu hancur berkeping-keping. Ye Yuan terlempar kembali ke realitas, ke Lembah Kuburan Senjata.

"ARGGHH!" Ye Yuan berteriak kesakitan. Telapak tangannya terasa terbakar hebat. Dia mencoba melepaskan gagang pedang patah itu, tapi tangan kanannya merekat kuat, seolah dagingnya menyatu dengan gagang besi itu.

Pedang patah itu mulai bergetar. Karat-karat di permukaannya rontok perlahan, memperlihatkan logam hitam yang memiliki pola-pola merah samar seperti pembuluh darah. Darah dari luka di tangan Ye Yuan disedot dengan rakus oleh pedang itu.

Dia meminum darahku! batin Ye Yuan panik. Aku akan mati kering!

Tubuh Ye Yuan mengejang. Wajahnya pucat pasi. Dia bisa merasakan energi kehidupannya ditarik keluar. Pandangannya mulai kabur. Apakah ini akhir hidupnya? Mati konyol dimakan oleh sebilah besi rongsokan di tempat sampah?

"Tidak..." desis Ye Yuan. "Aku... tidak mau mati di sini..."

Kebenciannya pada nasib, amarahnya pada Li Feng, dan tekadnya untuk membuktikan diri bangkit. Jika pedang ini ingin memakannya, maka dia harus memakan pedang ini balik!

Alih-alih mencoba melepaskan diri, Ye Yuan melakukan hal gila. Dia mempererat genggamannya. Dia memfokuskan seluruh kemauannya, seluruh jiwa raga yang tersisa, untuk menundukkan benda di tangannya.

"Kau pikir kau siapa?!" teriak Ye Yuan dengan sisa tenaga terakhirnya. "Kau hanya sepotong besi patah! Dan aku adalah tuanmu!"

BOOM!

Ledakan energi tak kasat mata menyapu lembah. Ribuan pedang di sekitar mereka bergetar serentak, menimbulkan suara dengungan logam yang memekakkan telinga, seolah-olah mereka sedang bersujud pada rajanya yang telah bangun dari tidur panjang.

Arus energi panas—bukan Qi biasa, tapi sesuatu yang jauh lebih purba, ganas, dan tajam—mengalir balik dari pedang ke tubuh Ye Yuan. Energi itu menyerbu masuk melalui lengan kanannya, menghantam meridiannya yang tersumbat.

Rasa sakitnya seribu kali lipat lebih parah daripada saat tulangnya patah. Ye Yuan merasa seperti ada magma cair yang dipaksa masuk ke dalam pembuluh darahnya yang sempit.

"AAAAAAARRRGGGHHH!"

Dantian-nya yang retak dan dianggap sampah, dihantam oleh energi hitam itu. Alih-alih hancur, energi itu justru mengisi retakan-retakan tersebut, bertindak seperti lem perekat yang menyatukan kembali kepingan Dantian-nya dengan fondasi yang jauh lebih kokoh dan gelap.

Meridian yang tersumbat? Diterobos paksa! Kotoran-kotoran di dalam tubuhnya didorong keluar melalui pori-pori kulit dalam bentuk cairan hitam berbau busuk.

Proses itu berlangsung selama satu jam penuh yang terasa seperti satu abad penyiksaan neraka.

Ketika semuanya berakhir, Ye Yuan jatuh berlutut, terengah-engah. Keringat dan kotoran menutupi tubuhnya. Namun, matanya... matanya kini berbeda. Ada kilatan tajam di pupil matanya, setajam mata pedang.

Dia melihat ke tangannya. Pedang patah itu kini terlepas dari tumpukan batu. Beratnya luar biasa, mungkin sekitar seratus kilogram, tapi Ye Yuan bisa mengangkatnya dengan satu tangan seolah-olah hanya mengomel kayu.

Meskipun masih terlihat patah dan hitam kusam, Ye Yuan bisa merasakan "detak jantung" samar-samar dari dalam website itu. Sebuah koneksi telah terbentuk. Pedang itu kini menjadi bagian dari jiwa.

Tiba-tiba, serangkaian tulisan kuno melayang di dalam pemikiran, membentuk sebuah manual teknik pemetaan yang belum pernah tersebar di Benua Roh Azure.

[Sutra Hati Pedang Asura - Tingkat Pertama: Tubuh Pedang Baja]

Ye Yuan tertegun. Dia mencoba menggenggam tangan kirinya.Krak!Udara di dalam genggamannya meletup. Tenaga fisiknya... ini bukan tenaga manusia biasa. Tanpa menggunakan Qi pun, kekuatan ototnya telah melonjak drastis.

Dia mencoba mengalirkan energi ke Dantian-nya. Pusaran kecil kini berputar di sana. Bukan berwarna putih jernih seperti menyalakan aliran lurus, tapi berwarna abu-abu gelap dengan kilatan petir ungu.

“Ranah Pengumpulan Qi…Tingkat Tiga?” Ye Yuan pemandangan tak percaya. "Hanya dalam satu jam?"

Butuh waktu tiga tahun bagi murid berbakat biasa untuk mencapai tingkat tiga. Li Feng butuh lima tahun untuk mencapai tingkat lima. Dan Ye Yuan, apakah sampahnya melonjak tiga tingkat dalam satu sakit?

Dia menatap pedang patah di tangannya. Dia mengusap bilah pisau bergerigi itu dengan lembut.

"Kau dibuang karena kau rusak. Aku dibuang karena aku cacat," bisik Ye Yuan, senyum tipis yang dingin terukir di bibir. "Kita adalah pasangan yang cocok."

Dia mengangkat pedang itu setinggi-tingginya, mengarahkannya ke arah Puncak Awan Putih yang terlihat jauh di atas tebing.

“Mereka menyebut kita sampah, kawan,” katanya pada pedang itu. "Mari kita menunjukkan pada mereka... bagaimana rasanya ditebas oleh sampah."

Ye Yuan menyarungkan pedang patah itu di punggungnya menggunakan kain luluh sebagai tali pengikatnya. Dia berdiri tegak, membiarkan angin lembah menerpa wajahnya yang kini bersih dari keraguan. Matahari mulai terbenam, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti raksasa di belakang punggung Ye Yuan.

Perjalanan sang Penakluk Langit baru saja dimulai. Dan langkah pertama akan dipenuhi dengan darah mereka yang pernah menghinanya.

[Bersambung ke Bab 2)

Terpopuler

Comments

Nanik S

Nanik S

Kau patah dan Aku Cacat.... 👍

2026-02-22

2

angin kelana

angin kelana

nice👍

2026-02-26

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
2 BAB 2: Kilatan Hitam di Bawah Cahaya Bulan
3 BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan
4 BAB 4: Asura yang Kelaparan
5 BAB 5: Bayangan Ular dan Mata Para Tetua
6 BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
7 BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
8 BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
9 BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
10 10: Tarian Darah di Hutan Hitam
11 BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan
12 BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
13 BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu
14 BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular
15 BAB 15: Api Roh Penempa Pedang
16 BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
17 BAB 17: Kota Tanpa Hukum dan Nyonya Merah
18 BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima
19 BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
20 BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
21 BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir
22 BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
23 BAB 23: Kota Abu dan Jenderal Tanpa Kepala
24 BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
25 BAB 25: Penyatuan Kembali: Naga Hitam Bangkit
26 BAB 26: Gema Gurun dan Cincin Gagak Api
27 BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
28 BAB 28: Gerbang Dua Warna dan Kota Tanpa Tuan
29 BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang
30 BAB 30: Kekacauan di Aula Emas
31 BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam
32 BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
33 BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
34 BAB 34: Leluhur yang Terlupakan dan Anjing yang Menggigit Tuan
35 BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula
36 BAB 36: Cincin Leluhur dan Lautan Tanpa Ujung
37 BAB 37: Hujan Ikan Gergaji dan Pesona Racun
38 BAB 38: Dermaga Awan Putih dan Token Teratai Es
39 BAB 39: Paviliun Besi Gila dan Palu Dewa Petir
40 BAB 40: Koloseum Berdarah dan Satu Hantaman Besi
41 BAB 41: Kilat Hitam Melawan Gunung Besi
42 BAB 42: Matahari Terbenam dan Jarum Kematian
43 BAB 43: Pegunungan Pedang Patah dan Kota Tanpa Hukum
44 BAB 44: Gerbang Kabut Darah dan Kunci Kembar
45 BAB 45: Roh Pedang Tanpa Wajah dan Ladang Besi
46 BAB 46: Formasi Mata Panah dan Tiga Raja Roh
47 BAB 47: Perebutan Takhta dan Gagang Naga Hitam
48 BAB 48: Kota Kristal dan Token yang Dipertanyakan
49 BAB 49: Api Neraka Turun dan Kekalahan Sang Tuan Muda
50 BAB 50: Satu Pedang Melawan Neraka
51 BAB 51: Kabut Hijau dan Pengorbanan Darah
52 BAB 52: Altar Tengkorak dan Tamu dari Benua Tengah
53 BAB 53: Pedang Suci Melawan Pedang Terlarang
54 BAB 54: Luka Cahaya dan Kota Tanpa Bayangan
55 BAB 55: Danau Hijau dan Bayangan Pedang Tak Terlihat
56 BAB 56: Zirah Naga Hitam dan Sumpah Setia
57 BAB 57: Kota Suci di Atas Awan dan Penyamaran Sang Iblis
58 BAB 58: Tangan Kiri yang Memegang Angin
59 BAB 59: Puncak Pencuci Pedang dan Mata Roh yang Hilang
60 BAB 60: Runtuhnya Puncak Suci dan Mata Kehancuran
61 BAB 61: Penyeberangan Laut Hitam dan Topeng Iblis
62 BAB 62: Kota Tulang Hitam dan Tantangan Banteng Gila
63 BAB 63: Pilar Langit dan Tatapan Sang Putri
64 BAB 64: Pelukan Maut dan Pencurian di Gudang Tulang
65 BAB 65: Sayap Kelelawar di Bawah Bulan Merah
66 BAB 66: Pulau Cahaya Terlarang dan Sayap Putih
67 BAB 67: Tanah Es Abadi dan Detak Jantung Dunia
68 BAB 68: Gerbang Langit Runtuh dan Ultimatum Sang Raja
69 BAB 69: Formasi Tujuh Bintang dan Langkah Kematian
70 BAB 70: Sapu Tua dan Daun Musim Gugur
71 BAB 71: Istana Emas dan Ritual Pemanggilan Dewa
72 BAB 72: Lembah Tanpa Matahari dan Sungai Arwah
73 BAB 73: Sabit Pencabut Nyawa dan Tulang yang Tak Bisa Patah
74 BAB 74: Menara Babel dan Boneka Darah
75 BAB 75: Puncak Menara dan Dewa yang Terluka
76 BAB 76: Kelahiran Kembali Raja Pedang dan Runtuhnya Sayap Perak
77 BAB 77: Langit yang Retak dan Armada Emas
78 BAB 78: Jenderal Emas dan Hujan Darah di Langit
79 BAB 79: Perpisahan di Ujung Salju dan Mata Badai
80 BAB 80: Jatuh ke Neraka Bintang dan Rantai Budak
81 BAB 81: Arena Bintang dan Darah Pertama
82 BAB 82: Pesta Darah dan Chimera Bermata Tiga
83 BAB 83: Jenderal Besi dan Runtuhnya Panggung
84 BAB 84: Penjara Kegelapan Abadi dan Rantai Jiwa
85 BAB 85: Sipir Besi dan Jantung Mekanis
86 BAB 86: 12 Rasul Darah dan Jantung yang Berhenti Berdetak
87 BAB 87: Runtuhnya Kota Bintang dan Jantung Besi
88 BAB 88: Padang Hantu dan Pedang Tanpa Suara
89 BAB 89: Tembok Cahaya dan Mata Dewa yang Buta
90 BAB 90: Akademi Bintang Putih dan Kakak yang Hilang
91 BAB 91: Gerbang Bintang dan Nafas Sang Penelan
92 BAB 92: Menelan Langit dan Penyatuan Takdir
93 BAB 93: Lautan Bintang Pecah dan Pemulung Angkasa
94 BAB 94: Naga Void yang Tunduk dan Tombak Gadis Kecil
95 BAB 95: Pasir Bintang dan Pangeran Titan
96 BAB 96: Bayangan Darah dan Pemburu dari Langit
97 BAB 97: Sabit Darah dan Eksekusi Sang Inkuisitor
98 BAB 98: Hujan Meteor Emas dan Penebas Bintang
99 BAB 99: Planet Dewa dan Peluru Emas Raksasa
100 BAB 100: Kaisar Bintang dan Takhta Kehancuran
101 BAB 101: Bentrokan Dua Dewa dan Runtuhnya Langit
102 BAB 102: Tangan Langit Ke-9 dan Jurang Asal Mula
103 BAB 103: Hujan Darah Hangat dan Lahirnya Jiwa Chaos
104 BAB 104: Gerbang Nirvana dan Pendekar Satu Lengan
105 BAB 105: Kota Nirvana dan Darah di Cawan Giok
106 BAB 106: Istana Nirvana dan Tetesan Darah Sang Penguasa
107 BAB 107: Lautan Awan Tembaga dan Pendaratan Keras
108 BAB 108: Tungku Bintang Sekarat dan Sembilan Ribu Pukulan Palu Dewa
109 BAB 109: Tiga Algojo Langit dan Tebasan Tanpa Suara
110 BAB 110: Kota Takhta Langit dan Garis Kematian
111 BAB 111: Rantai Primordial dan Benturan Dua Konsep
112 BAB 112: Runtuhnya Langit Ke-9 dan Tarian Dewa Sejati
113 BAB 113: Lengan Kehampaan dan Takhta yang Kosong
114 BAB 114 : Matinya Para Pencipta dan Asura Penelan Kosmos
115 BAB 115: Takhta yang Kosong dan Legenda Sang Asura Bertangan Satu
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
2
BAB 2: Kilatan Hitam di Bawah Cahaya Bulan
3
BAB 3: Panen Pertama dan Amarah di Puncak Awan
4
BAB 4: Asura yang Kelaparan
5
BAB 5: Bayangan Ular dan Mata Para Tetua
6
BAB 6: Pedang yang Menolak Tunduk
7
BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
8
BAB 8: Tamu Tak Diundang di Puncak Para Dewi
9
BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
10
10: Tarian Darah di Hutan Hitam
11
BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan
12
BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
13
BAB 13: Lorong Niat Pedang dan Boneka Perunggu
14
BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular
15
BAB 15: Api Roh Penempa Pedang
16
BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
17
BAB 17: Kota Tanpa Hukum dan Nyonya Merah
18
BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima
19
BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
20
BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
21
BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir
22
BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
23
BAB 23: Kota Abu dan Jenderal Tanpa Kepala
24
BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
25
BAB 25: Penyatuan Kembali: Naga Hitam Bangkit
26
BAB 26: Gema Gurun dan Cincin Gagak Api
27
BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
28
BAB 28: Gerbang Dua Warna dan Kota Tanpa Tuan
29
BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang
30
BAB 30: Kekacauan di Aula Emas
31
BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam
32
BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
33
BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
34
BAB 34: Leluhur yang Terlupakan dan Anjing yang Menggigit Tuan
35
BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula
36
BAB 36: Cincin Leluhur dan Lautan Tanpa Ujung
37
BAB 37: Hujan Ikan Gergaji dan Pesona Racun
38
BAB 38: Dermaga Awan Putih dan Token Teratai Es
39
BAB 39: Paviliun Besi Gila dan Palu Dewa Petir
40
BAB 40: Koloseum Berdarah dan Satu Hantaman Besi
41
BAB 41: Kilat Hitam Melawan Gunung Besi
42
BAB 42: Matahari Terbenam dan Jarum Kematian
43
BAB 43: Pegunungan Pedang Patah dan Kota Tanpa Hukum
44
BAB 44: Gerbang Kabut Darah dan Kunci Kembar
45
BAB 45: Roh Pedang Tanpa Wajah dan Ladang Besi
46
BAB 46: Formasi Mata Panah dan Tiga Raja Roh
47
BAB 47: Perebutan Takhta dan Gagang Naga Hitam
48
BAB 48: Kota Kristal dan Token yang Dipertanyakan
49
BAB 49: Api Neraka Turun dan Kekalahan Sang Tuan Muda
50
BAB 50: Satu Pedang Melawan Neraka
51
BAB 51: Kabut Hijau dan Pengorbanan Darah
52
BAB 52: Altar Tengkorak dan Tamu dari Benua Tengah
53
BAB 53: Pedang Suci Melawan Pedang Terlarang
54
BAB 54: Luka Cahaya dan Kota Tanpa Bayangan
55
BAB 55: Danau Hijau dan Bayangan Pedang Tak Terlihat
56
BAB 56: Zirah Naga Hitam dan Sumpah Setia
57
BAB 57: Kota Suci di Atas Awan dan Penyamaran Sang Iblis
58
BAB 58: Tangan Kiri yang Memegang Angin
59
BAB 59: Puncak Pencuci Pedang dan Mata Roh yang Hilang
60
BAB 60: Runtuhnya Puncak Suci dan Mata Kehancuran
61
BAB 61: Penyeberangan Laut Hitam dan Topeng Iblis
62
BAB 62: Kota Tulang Hitam dan Tantangan Banteng Gila
63
BAB 63: Pilar Langit dan Tatapan Sang Putri
64
BAB 64: Pelukan Maut dan Pencurian di Gudang Tulang
65
BAB 65: Sayap Kelelawar di Bawah Bulan Merah
66
BAB 66: Pulau Cahaya Terlarang dan Sayap Putih
67
BAB 67: Tanah Es Abadi dan Detak Jantung Dunia
68
BAB 68: Gerbang Langit Runtuh dan Ultimatum Sang Raja
69
BAB 69: Formasi Tujuh Bintang dan Langkah Kematian
70
BAB 70: Sapu Tua dan Daun Musim Gugur
71
BAB 71: Istana Emas dan Ritual Pemanggilan Dewa
72
BAB 72: Lembah Tanpa Matahari dan Sungai Arwah
73
BAB 73: Sabit Pencabut Nyawa dan Tulang yang Tak Bisa Patah
74
BAB 74: Menara Babel dan Boneka Darah
75
BAB 75: Puncak Menara dan Dewa yang Terluka
76
BAB 76: Kelahiran Kembali Raja Pedang dan Runtuhnya Sayap Perak
77
BAB 77: Langit yang Retak dan Armada Emas
78
BAB 78: Jenderal Emas dan Hujan Darah di Langit
79
BAB 79: Perpisahan di Ujung Salju dan Mata Badai
80
BAB 80: Jatuh ke Neraka Bintang dan Rantai Budak
81
BAB 81: Arena Bintang dan Darah Pertama
82
BAB 82: Pesta Darah dan Chimera Bermata Tiga
83
BAB 83: Jenderal Besi dan Runtuhnya Panggung
84
BAB 84: Penjara Kegelapan Abadi dan Rantai Jiwa
85
BAB 85: Sipir Besi dan Jantung Mekanis
86
BAB 86: 12 Rasul Darah dan Jantung yang Berhenti Berdetak
87
BAB 87: Runtuhnya Kota Bintang dan Jantung Besi
88
BAB 88: Padang Hantu dan Pedang Tanpa Suara
89
BAB 89: Tembok Cahaya dan Mata Dewa yang Buta
90
BAB 90: Akademi Bintang Putih dan Kakak yang Hilang
91
BAB 91: Gerbang Bintang dan Nafas Sang Penelan
92
BAB 92: Menelan Langit dan Penyatuan Takdir
93
BAB 93: Lautan Bintang Pecah dan Pemulung Angkasa
94
BAB 94: Naga Void yang Tunduk dan Tombak Gadis Kecil
95
BAB 95: Pasir Bintang dan Pangeran Titan
96
BAB 96: Bayangan Darah dan Pemburu dari Langit
97
BAB 97: Sabit Darah dan Eksekusi Sang Inkuisitor
98
BAB 98: Hujan Meteor Emas dan Penebas Bintang
99
BAB 99: Planet Dewa dan Peluru Emas Raksasa
100
BAB 100: Kaisar Bintang dan Takhta Kehancuran
101
BAB 101: Bentrokan Dua Dewa dan Runtuhnya Langit
102
BAB 102: Tangan Langit Ke-9 dan Jurang Asal Mula
103
BAB 103: Hujan Darah Hangat dan Lahirnya Jiwa Chaos
104
BAB 104: Gerbang Nirvana dan Pendekar Satu Lengan
105
BAB 105: Kota Nirvana dan Darah di Cawan Giok
106
BAB 106: Istana Nirvana dan Tetesan Darah Sang Penguasa
107
BAB 107: Lautan Awan Tembaga dan Pendaratan Keras
108
BAB 108: Tungku Bintang Sekarat dan Sembilan Ribu Pukulan Palu Dewa
109
BAB 109: Tiga Algojo Langit dan Tebasan Tanpa Suara
110
BAB 110: Kota Takhta Langit dan Garis Kematian
111
BAB 111: Rantai Primordial dan Benturan Dua Konsep
112
BAB 112: Runtuhnya Langit Ke-9 dan Tarian Dewa Sejati
113
BAB 113: Lengan Kehampaan dan Takhta yang Kosong
114
BAB 114 : Matinya Para Pencipta dan Asura Penelan Kosmos
115
BAB 115: Takhta yang Kosong dan Legenda Sang Asura Bertangan Satu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!