Nyonya Ardiansyah

Suasana gereja mendadak sunyi senyap saat pendeta mengucapkan kalimat yang dinanti.

"Mempelai pria dipersilakan membuka penutup wajah mempelai wanita dan menciumnya sebagai tanda ikatan suci!"

​Jantung Gia serasa berhenti berdetak. Ini dia, saat dimana penyamarannya terbongkar. Saat dimana kemarahan seorang Ardiansyah akan meledak dan menghancurkan keluarganya, terutama dirinya.

​Tangan Ares yang besar dan hangat bergerak perlahan. Jemarinya menyentuh pinggiran kain veil yang tipis. Sementara Gia memejamkan mata rapat-rapat, siap untuk dihina atau bahkan diusir dari altar itu. Gia akan menjadikan hari ini adalah hari paling buruk sepanjang dia puluh tahun hidupnya.

​Srett....

​Kain putih itu tersingkap. Cahaya lampu kristal langsung menerpa wajah Gia yang polos. Kecantikannya yang alami, dengan bulu mata yang basah karena sisa tangis dan bibir yang bergetar, terpampang nyata di depan mata Ares.

​Suara kasak-kusuk mulai terdengar dari barisan kursi keluarga. Mereka mulai menyadari ada yang berbeda dengan pengantin perempuan.

"Lho, itu bukan Siska!"

"Siapa gadis itu? Itukan anak haram Tuan Hilman?"

"Berani sekali mereka menipu keluarga Ardiansyah!"

​Hilman dan Sarah yang ada di barisan depan pucat pasi, tubuh mereka kaku ketakutan. Mereka menunggu ledakan amarah Ares dan keluarganya. Sarah lupa kalau banyak pasang mata yang menyaksikan pernikahan itu dan mereka semua bisa menjadi percikan api bagi keluarga Ardiansyah yang sedang menyiapkan bom waktu kemudian meledak begitu saja.

​Namun, Aresta Ardiansyah tetap bergeming. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata cokelat Gia yang ketakutan. Alih-alih mundur atau berteriak, Ares justru maju selangkah, memperpendek jarak hingga Gia bisa mencium aroma parfum maskulin yang menenangkan dari tubuh pria itu.

​Ares menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Gia.

​"Jangan menunduk!" Bisiknya rendah dan sangat intim.

"Mulai detik ini, kamu adalah istriku. Tidak ada yang boleh melihatmu sebagai pengecut!"

​Ares kemudian berbalik menatap para tamu undangan dengan tatapan tajam yang seketika membungkam seluruh ruangan. Auranya begitu mengintimidasi hingga bisik-bisik itu hilang ditelan bumi. Suasana hening seketika, tatapan Ares sepertinya berhasil mengintimidasi begitu banyak tamu di ruangan itu.

​Ia kembali menatap Gia, lalu dengan lembut tangan besarnya meraih dagu gadis itu, mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. Di depan ratusan pasang mata, Ares mengecup kening Gia dengan sangat lama dan penuh takzim, sebuah tanda kepemilikan yang sah.

​"Terima kasih sudah berdiri di sini untukku, Gia!" Ucap Ares cukup keras agar terdengar oleh barisan depan, terutama Hilman dan Sarah.

​Gia terpaku. Pria itu menyebut namanya dengan lantang seolah tidak terjadi apa-apa saat ini. Ares seolah sudah tahu kalau dia bukan Siska. Tapi yang membuat Gia bingung, kenapa Ares justru melindunginya.

Semua tamu undangan masih kebingungan, mereka terus bertanya-tanya meski bibir mereka tak bisa bersuara karena dibungkam dengan tatapan tajam dari mata elang milik Ares.

🌹🌹🌹

​Perjalanan menuju mansion Ardiansyah terasa sangat panjang bagi Gia. Ia duduk merapat ke pintu mobil, merasa tidak pantas berada di dalam Rolls Royce mewah itu bersama pria sehebat Ares Ardiansyah.

​"Tuan..." Suara Gia mencicit.

​Ares yang sedang menutup tablet kerjanya menoleh. Ia melonggarkan sedikit dasinya, menanggalkan kesan kaku di altar tadi.

​"Ya, Gia?"

​"Kenapa Anda tidak marah? Anda tahu saya bukan Kak Siska. Keluarga saya... kami sudah menipu Anda!" Gia meremas jemarinya yang pucat.

​Ares menatap jemari kecil itu, lalu tanpa ragu ia meraih tangan Gia dan menggenggamnya di atas pangkuannya. Genggaman yang posesif namun lembut.

​"Aku tidak suka barang bekas, Gia!" Ucap Ares tenang.

"Kakakmu kabur karena dia tidak menghargai komitmen ini. Tapi kamu? Kamu gemetar ketakutan tapi tetap berdiri di sana demi keluargamu. Aku lebih suka pengantin yang memiliki hati, bukan sekadar nama di atas kertas!"

​Ares mendekatkan wajahnya, membuat Gia menahan napas.

"Mulai malam ini, kamu tidak perlu lagi melayani Papa dan Mama tirimu itu. Kamu adalah Nyonya Ardiansyah. Mintalah apa pun, maka aku akan memberikannya untukmu. Mengerti?"

​Gia hanya bisa mengangguk pelan, air mata haru mulai menggenang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah kepergian Ibunya, ada seseorang yang berdiri di depannya sebagai pelindung, bukan sebagai majikan.

Mansion Ardiansyah di malam hari tampak seperti istana dalam dongeng, namun bagi Gia, setiap sudutnya terasa asing dan mengintimidasi. Setelah acara resepsi yang kaku, ia kini berdiri di tengah kamar utama yang luasnya hampir sama dengan ruang keluarga di rumah Papanya.

​Harum aroma lilin terapi dan bunga lili putih memenuhi ruangan. Di atas ranjang king size dengan sprei sutra abu-abu, gaun pengantinnya yang berat terasa seperti beban yang mencekik lehernya.

​Cklek....

​Pintu terbuka. Ares masuk dengan langkah tegap. Ia sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam.

​Gia menunduk dalam, tangannya meremas ujung gaunnya.

"Tuan..."

​Ares berhenti beberapa langkah di depannya. Ia menatap gadis yang kini resmi menjadi istrinya. Gadis yang tampak begitu kecil dan rapuh di tengah kemewahan ini.

​"Kamu tidak perlu gemetar begitu!" Suara Ares berat dan rendah.

"Aku tidak akan memakanmu!"

​Gia mendongak sedikit, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca karena kelelahan dan rasa takut.

"Maaf, Tuan. Saya... saya hanya merasa ini semua seperti mimpi buruk yang tidak nyata!"

​Ares tertegun sejenak melihat kejujuran di mata Gia. Kebanyakan wanita akan melakukan apa saja untuk berada di posisi ini, tapi gadis ini justru menyebutnya mimpi buruk.

​"Dengar, Gia!"

Ares mendekat, membuat Gia secara refleks menahan napas.

"Pernikahan ini adalah transaksi untuk menyelamatkan muka keluargaku dan menolong ekonomi keluargamu. Aku tidak mengharapkanmu menjadi istri yang sempurna. Cukup jalankan peranmu di depan publik, dan kau akan mendapatkan apa pun yang kamu mau"

​"Termasuk kebebasan saya?" Gia bertanya dengan begitu percaya diri.

​Ares menyipitkan mata. Ia meraih dagu Gia dengan jemarinya, memaksa gadis itu menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Gia bisa mencium aroma maskulin bercampur kayu cendana dari tubuh Ares.

​"Kebebasanmu adalah milikku sekarang!" Ucap Ares dingin, namun jemarinya mengusap kulit pipi Gia dengan lembut, sebuah tindakan yang membingungkan.

"Mandilah. Pakai pakaian yang sudah disiapkan di ruang ganti. Aku akan tidur di sofa malam ini!"

"Di sofa? Tapi ini kamar Anda, Tuan!" Gia terperangah karena keputusan Ares itu.

​"Aku tidak akan memaksa satu ranjang denganmu kalau kamu memang belum mengijinkannya!" jawab Ares pendek sebelum berbalik menuju balkon.

​Saat Gia melangkah menuju kamar mandi, ia tidak menyadari bahwa Ares diam-diam memperhatikannya dari pantulan kaca. Ada sesuatu dari keteguhan hati gadis itu yang membuat dinding es di hati sang Tuan Besar sedikit retak.

​Malam itu, di bawah langit-langit mansion yang megah, dua orang asing tidur dalam satu ruangan yang sama. Yang satu terjaga karena rasa bersalah pada masa lalu, dan yang satu lagi terjaga karena ketakutan akan masa depan.

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Hei.... Mas Adit ngpain kesini, dicariin Anga lho.... 🤭

2026-02-25

0

astr.id_est 🌻

astr.id_est 🌻

udah di vote ya thor... lanjuttt 😍😍😍

2026-02-18

0

Shee_👚

Shee_👚

kak santi, ini panggilan nya satu aja deh biar g bingun kalau menurut aku. maaf ya kak🙏

2026-02-22

1

lihat semua
Episodes
1 Ganti mempelai
2 Nyonya Ardiansyah
3 Dia istriku yang Sah
4 Di balik kaca film hitam
5 Di bawah temaram lampu tidur
6 Debut yang menegangkan
7 Bukan cinta, tapi butuh
8 Siksaan di ruang tengah
9 Perhatian yang tersembunyi
10 Kopi dan rahasia kecil
11 Rahasia kecil Ares
12 Partner kriminal
13 Tamu yang mengusik ketenangan
14 Gia-ku
15 Restu di balik mangkuk bubur
16 Pameran seni
17 Ambisi Ares di balik kemewahan
18 Antara warna dan desah napas
19 Rasa di balik hujan
20 Rahasia di balik meja makan
21 Bayang-bayang di balik cermin
22 Distraksi indah Sang CEO
23 Goresan pertama
24 Di antara helai rambut
25 Posesif di hari pertama
26 Perhatian yang tak terlihat
27 Kedatangan sang pelindung
28 Perjamuan di ujung senja
29 Ujian di balik kanvas
30 Kanvas rahasia dan debar yang tertahan
31 Malam yang begitu panjang
32 Masalah baru
33 Keberadaan Siska
34 Diantara prahara
35 Jaring laba-laba Siska
36 Labirin kebohongan
37 Logika Sang singa
38 Dinding pemisah
39 Kembali seperti semula
40 Karya luar biasa
41 Mulai terancam
42 Retakan dalam Kepercayaan
43 Retakan yang menganga
44 Semakin rumit
45 Jarak tak kasatmata
46 Penyesalan Ares
47 Tak punya harga diri
48 Hukuman
49 Penebusan di bawah langit Desa
50 Rahasia di Balik Gaun Lebar
51 Masih tetap pelindungmu
52 Menjagamu
53 Bubur kampung
54 Sekdes kurang update
55 Saran Pak sekdes
56 Bunga Desa
57 Mulai melunak
58 Periksa kandungan
59 Kepergian Ares
60 Rindu
61 Menjemput Gia
62 Menampar Andi
63 Di bawah langit malam pedesaan
64 Surga dunia
65 Kembali pulang
66 Mansion Ardiansyah
67 Harapan dibawah langit malam
68 Kedatangan Hilman
69 Air mata diatas pengampunan
70 Mahkota pelindungku
71 Mahar Rasa Bersalah ( Karya baru )
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Ganti mempelai
2
Nyonya Ardiansyah
3
Dia istriku yang Sah
4
Di balik kaca film hitam
5
Di bawah temaram lampu tidur
6
Debut yang menegangkan
7
Bukan cinta, tapi butuh
8
Siksaan di ruang tengah
9
Perhatian yang tersembunyi
10
Kopi dan rahasia kecil
11
Rahasia kecil Ares
12
Partner kriminal
13
Tamu yang mengusik ketenangan
14
Gia-ku
15
Restu di balik mangkuk bubur
16
Pameran seni
17
Ambisi Ares di balik kemewahan
18
Antara warna dan desah napas
19
Rasa di balik hujan
20
Rahasia di balik meja makan
21
Bayang-bayang di balik cermin
22
Distraksi indah Sang CEO
23
Goresan pertama
24
Di antara helai rambut
25
Posesif di hari pertama
26
Perhatian yang tak terlihat
27
Kedatangan sang pelindung
28
Perjamuan di ujung senja
29
Ujian di balik kanvas
30
Kanvas rahasia dan debar yang tertahan
31
Malam yang begitu panjang
32
Masalah baru
33
Keberadaan Siska
34
Diantara prahara
35
Jaring laba-laba Siska
36
Labirin kebohongan
37
Logika Sang singa
38
Dinding pemisah
39
Kembali seperti semula
40
Karya luar biasa
41
Mulai terancam
42
Retakan dalam Kepercayaan
43
Retakan yang menganga
44
Semakin rumit
45
Jarak tak kasatmata
46
Penyesalan Ares
47
Tak punya harga diri
48
Hukuman
49
Penebusan di bawah langit Desa
50
Rahasia di Balik Gaun Lebar
51
Masih tetap pelindungmu
52
Menjagamu
53
Bubur kampung
54
Sekdes kurang update
55
Saran Pak sekdes
56
Bunga Desa
57
Mulai melunak
58
Periksa kandungan
59
Kepergian Ares
60
Rindu
61
Menjemput Gia
62
Menampar Andi
63
Di bawah langit malam pedesaan
64
Surga dunia
65
Kembali pulang
66
Mansion Ardiansyah
67
Harapan dibawah langit malam
68
Kedatangan Hilman
69
Air mata diatas pengampunan
70
Mahkota pelindungku
71
Mahar Rasa Bersalah ( Karya baru )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!