Di balik kaca film hitam

Mobil sedan mewah itu meluncur pelan keluar dari gerbang mansion. Di kursi belakang, suasana begitu hening. Gia duduk mepet ke arah pintu, matanya menatap keluar jendela, sementara Ares duduk di sisi lain dengan tablet di tangannya, tampak sibuk dengan pekerjaan.

​Namun, fokus Ares sebenarnya tidak pada laporan keuangan di layarnya. Ia bisa melihat pantulan wajah Gia di kaca jendela. Gadis itu terlihat sangat kecil dan rapuh di dalam mobil yang luas ini.

​"Gia!" panggil Ares tiba-tiba.

"I-iya, Tuan?" Gia tersentak kecil.

"Tuan? Bukannya tadi kau memanggilku Mas?" Ares menaikkan sebelah alisnya.

"Maaf kalau tadi saya lancang Tuan. S-saya hanya tidak tau harus bagaimana ketika bersikap di depan Nyonya" Suara Gia terdengar begitu kecil seperti cicak yang terinjak kaki besar Ares.

​Ares meletakkan tabletnya. Ia mengamati jari-jari Gia yang saling bertautan dengan gelisah.

"Maafkan ucapan Mama tadi. Dia memang keras, tapi dia akan melunak kalau kamu tidak menunjukkan rasa takut padanya. Dan satu lagi, aku lebih suka kamu memanggilku seperti tadi!"

​Gia menoleh pelan, menatap mata tajam pria di sampingnya.

"Saya mengerti, Emm..Mas. Saya tahu posisi saya di rumah ini memang sulit. Saya hanya... tidak ingin menjadi beban!"

​Ares menghela napas panjang. Ia bergerak mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Bau parfum maskulin yang elegan kembali menyapa indra penciuman Gia, membuatnya sedikit pening namun juga merasa nyaman.

​"Kau bukan beban!" Ucap Ares rendah. Ia meraih tangan Gia, membuka kepalan tangan gadis itu yang kaku, lalu mengusap telapak tangannya dengan ibu jari.

"Aku yang memilih untuk melanjutkan pernikahan ini. Jadi, mulai sekarang, berhenti merasa seperti orang asing!"

​Gia merasakan getaran aneh di dadanya saat kulit mereka bersentuhan.

"Kenapa Mas membela saya di depan Nyonya tadi? Padahal semalam Mas bilang kita hanya... transaksi."

​Ares terdiam sejenak. Matanya menatap dalam ke arah mata Gia, seolah mencari sesuatu di sana.

​"Karena kamu istri Mas!" Jawab Aresta tegas.

Meleleh sudah hati Gia. Siapa yang tak melambung tinggi ketika mendapatkan sikap manis dari pria tampan dan kaya raya seperti Ares. Tapi Gia kembali disadarkan dengan kenyataan. Dia saat ini duduk bukan pada posisinya, melainkan di posisi Siska yang dia tempati.

Dia juga ingat ketika Ares memanggilnya sayang di depan Mamanya tadi. Gia menganggap itu adalah sebagian dari sandiwara yang sedang mereka mainkan sejak di altar kemarin.

"Siapa pun yang memakai nama Ardiansyah adalah tanggung jawabku. Tidak ada yang boleh merendahkanmu, bahkan Mama sekalipun!"

​Ares kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit. Ia meletakkannya di telapak tangan Gia.

​"Gunakan ini. Beli apa pun yang kamu suka. Mas tidak akan melarangnya!" Perintahnya.

​"Tapi Mas. Saya tidak butuh, saya bisa bekerja dan mendapatkan uang sen..."

​"Gia!" Potong Ares, jemarinya kini berpindah ke dagu Gia, mengangkatnya sedikit agar mereka bertatapan langsung.

"Mas tidak suka dibantah. Kamu tidak perlu bekerja lagi sekarang. Belajarlah menjadi istri seorang Aresta Ardiansyah. Kamu harus terbiasa dengan ini semua, karena mulai hari ini, itu adalah duniamu!"

​Wajah Gia memerah sempurna. Jarak mereka sangat dekat, ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Ares di kulit wajahnya. Untuk sesaat, Gia lupa bahwa pria ini sedang patah hati karena kakaknya. Yang ia lihat hanyalah seorang pria yang sangat protektif dan penuh wibawa.

​"Terima kasih, Mas!" Bisik Gia lirih.

​"Satu lagi," tambah Ares saat mobil hampir sampai di depan butik mewah.

"Jangan pernah berpikir untuk lari. Mas sudah kehilangan satu mempelai, Mas tidak akan membiarkan yang kedua hilang juga!"

​Gia tertegun. Kalimat itu terdengar seperti janji, tapi juga seperti peringatan bahwa ia kini telah terikat sepenuhnya pada pria bernama Aresta ini.

Butik mewah di pusat kota itu terasa sangat sunyi dan eksklusif saat Ares dan Gia melangkah masuk. Para pelayan langsung membungkuk hormat menyambut sang CEO Ardiansyah Group.

​"Pilih apa pun yang kamu suka, Gia. Mas akan menunggumu di sana!" Ucap Ares sambil menunjuk sofa kulit di sudut ruangan.

​Gia mulai melihat-lihat deretan gaun indah. Namun, ketenangannya terusik saat suara tawa melengking terdengar dari arah ruang ganti VVIP. Tiga orang wanita sosialita dengan tas bermerek dan perhiasan berkilau keluar dari sana. Mereka adalah teman-teman dekat Siska.

​"Oh, lihat siapa ini?" ucap salah satu dari mereka, yang bernama Fiona. Ia melipat tangan di dada sambil menatap Gia dengan pandangan menghina.

"Bukannya ini adik tiri Siska? Si anak haram yang numpang hidup di rumah Siska?"

​Dua teman lainnya tertawa kecil mendengar temannya menghina status Gia.

"Siska bilang kamu cuma pembantu di rumah mereka. Kenapa kamu bisa ada di butik sekelas ini? Jangan-jangan kamu mau maling ya?"

​Gia berusaha tetap tenang, meski tangannya dingin.

"Saya tidak mau maling, saya di sini sama suami saya!"

​"Suami?" Fiona tertawa lebih keras.

"Maksudmu Tuan Ardiansyah? Jangan mimpi. Semua orang tahu kamu cuma tambal sulam karena Siska pergi. Kamu itu seperti barang tiruan, Gia. Murahan dan tidak punya kelas!"

​Gia menarik napas dalam, mencoba mengingat kata-kata Ares tadi pagi.

"Barang tiruan atau bukan, saya adalah wanita yang berdiri di altar bersama Tuan Ares. Dan di mata hukum, saya adalah Nyonya Ardiansyah. Bukan kalian, dan bukan juga Kak Siska!"

​"Lancang kamu ya!" Fiona mengangkat tangannya, hendak mendorong bahu Gia.

​Namun, sebelum tangan itu menyentuh Gia, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Fiona dengan sangat keras hingga wanita itu meringis kesakitan.

​"Siapa yang kalian sebut murahan?" suara Ares menggelegar di dalam butik, dingin dan mematikan.

​Ketiga wanita itu seketika pucat pasi. Mereka tidak menyadari Aresta memperhatikan sejak tadi.

​"T-Tuan Ardiansyah... kami hanya bercanda!" gagap Fiona.

​Ares melepaskan tangan Fiona dengan kasar, seolah-olah baru saja menyentuh sampah. Ia merangkul pinggang Gia dengan posesif, menariknya merapat ke tubuhnya.

​"Istriku jauh lebih berkelas daripada kalian semua yang menutupi kekurangan diri dengan barang bermerek!"

Ucap Ares tajam. Matanya menatap mereka satu per satu dengan tatapan menghunus.

"Mulai hari ini, aku akan memastikan nama kalian masuk dalam daftar hitam di seluruh relasi bisnis Ardiansyah. Jangan harap kalian bisa menginjakkan kaki di acara sosial mana pun!"

​"Tuan, kami mohon... maafkan kami!" tangis mereka pecah. Di dunia mereka, dikucilkan oleh Ardiansyah berarti kehancuran status sosial.

​"Keluar!" perintah Ares pendek.

​Setelah mereka lari terbirit-birit, Ares berbalik menatap Gia. Ia melihat mata istrinya yang sedikit berkaca-kaca namun terlihat bangga karena berhasil membela diri tadi.

​Ares mengusap pipi Gia dengan lembut untuk menenangkannya.

"Kamu melakukannya dengan baik Gia. Kamu membela dirimu sendiri. Mas bangga padamu!"

​Gia menatap Ares dengan perasaan haru. Baru kali ini ada yang mengapresiasi apa yang Gia lakukan.

"Terima kasih sudah datang tepat waktu, Mas!"

​Ares tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini mencapai matanya.

"Mas akan selalu datang tepat waktu untukmu. Sekarang, ayo kita pilih gaun paling mahal di sini. Mas ingin dunia tahu bahwa istri Mas ini adalah permata yang paling berharga!"

Terpopuler

Comments

Mamah Dini11

Mamah Dini11

aduh meleleh hatiku thor , ada lgi gk yg seperti ares buat anakku 🤭😄😄😄 rasa pengn doong punya mantu kayak. ares , kmu keren ares , mulai sekarang jgn takut ya gia ares ada bersamamu jgn selalu berpikiran siska yg pantas itu salah gi kamu yg pantas jdi pendamping suamimu , semangat gia

2026-06-19

0

Agunk Setyawan

Agunk Setyawan

keren cerita novel kakak gak pernah gagal sukses kak👍💪💪

2026-02-19

2

vitrienoor99

vitrienoor99

gia, kamu harus membuka hatimu buat Ares, dia benar-benar melindungi kamu

2026-02-19

0

lihat semua
Episodes
1 Ganti mempelai
2 Nyonya Ardiansyah
3 Dia istriku yang Sah
4 Di balik kaca film hitam
5 Di bawah temaram lampu tidur
6 Debut yang menegangkan
7 Bukan cinta, tapi butuh
8 Siksaan di ruang tengah
9 Perhatian yang tersembunyi
10 Kopi dan rahasia kecil
11 Rahasia kecil Ares
12 Partner kriminal
13 Tamu yang mengusik ketenangan
14 Gia-ku
15 Restu di balik mangkuk bubur
16 Pameran seni
17 Ambisi Ares di balik kemewahan
18 Antara warna dan desah napas
19 Rasa di balik hujan
20 Rahasia di balik meja makan
21 Bayang-bayang di balik cermin
22 Distraksi indah Sang CEO
23 Goresan pertama
24 Di antara helai rambut
25 Posesif di hari pertama
26 Perhatian yang tak terlihat
27 Kedatangan sang pelindung
28 Perjamuan di ujung senja
29 Ujian di balik kanvas
30 Kanvas rahasia dan debar yang tertahan
31 Malam yang begitu panjang
32 Masalah baru
33 Keberadaan Siska
34 Diantara prahara
35 Jaring laba-laba Siska
36 Labirin kebohongan
37 Logika Sang singa
38 Dinding pemisah
39 Kembali seperti semula
40 Karya luar biasa
41 Mulai terancam
42 Retakan dalam Kepercayaan
43 Retakan yang menganga
44 Semakin rumit
45 Jarak tak kasatmata
46 Penyesalan Ares
47 Tak punya harga diri
48 Hukuman
49 Penebusan di bawah langit Desa
50 Rahasia di Balik Gaun Lebar
51 Masih tetap pelindungmu
52 Menjagamu
53 Bubur kampung
54 Sekdes kurang update
55 Saran Pak sekdes
56 Bunga Desa
57 Mulai melunak
58 Periksa kandungan
59 Kepergian Ares
60 Rindu
61 Menjemput Gia
62 Menampar Andi
63 Di bawah langit malam pedesaan
64 Surga dunia
65 Kembali pulang
66 Mansion Ardiansyah
67 Harapan dibawah langit malam
68 Kedatangan Hilman
69 Air mata diatas pengampunan
70 Mahkota pelindungku
71 Mahar Rasa Bersalah ( Karya baru )
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Ganti mempelai
2
Nyonya Ardiansyah
3
Dia istriku yang Sah
4
Di balik kaca film hitam
5
Di bawah temaram lampu tidur
6
Debut yang menegangkan
7
Bukan cinta, tapi butuh
8
Siksaan di ruang tengah
9
Perhatian yang tersembunyi
10
Kopi dan rahasia kecil
11
Rahasia kecil Ares
12
Partner kriminal
13
Tamu yang mengusik ketenangan
14
Gia-ku
15
Restu di balik mangkuk bubur
16
Pameran seni
17
Ambisi Ares di balik kemewahan
18
Antara warna dan desah napas
19
Rasa di balik hujan
20
Rahasia di balik meja makan
21
Bayang-bayang di balik cermin
22
Distraksi indah Sang CEO
23
Goresan pertama
24
Di antara helai rambut
25
Posesif di hari pertama
26
Perhatian yang tak terlihat
27
Kedatangan sang pelindung
28
Perjamuan di ujung senja
29
Ujian di balik kanvas
30
Kanvas rahasia dan debar yang tertahan
31
Malam yang begitu panjang
32
Masalah baru
33
Keberadaan Siska
34
Diantara prahara
35
Jaring laba-laba Siska
36
Labirin kebohongan
37
Logika Sang singa
38
Dinding pemisah
39
Kembali seperti semula
40
Karya luar biasa
41
Mulai terancam
42
Retakan dalam Kepercayaan
43
Retakan yang menganga
44
Semakin rumit
45
Jarak tak kasatmata
46
Penyesalan Ares
47
Tak punya harga diri
48
Hukuman
49
Penebusan di bawah langit Desa
50
Rahasia di Balik Gaun Lebar
51
Masih tetap pelindungmu
52
Menjagamu
53
Bubur kampung
54
Sekdes kurang update
55
Saran Pak sekdes
56
Bunga Desa
57
Mulai melunak
58
Periksa kandungan
59
Kepergian Ares
60
Rindu
61
Menjemput Gia
62
Menampar Andi
63
Di bawah langit malam pedesaan
64
Surga dunia
65
Kembali pulang
66
Mansion Ardiansyah
67
Harapan dibawah langit malam
68
Kedatangan Hilman
69
Air mata diatas pengampunan
70
Mahkota pelindungku
71
Mahar Rasa Bersalah ( Karya baru )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!